Arti Sebuah Amanah

amanah adalah

Salikun.com – Amanah adalah akhlak para rasul yang paling tampak. Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth dan Syuaib sebagaimana disebut oleh Allah di dalam surat Asy-Syuara, masing-masing mengatakan kepada kaumnnya bahwa, “Sesungguhnya aku ini adalah seorang rasul yang memegang amanah (yang diutus) kepada kalian” (Asy Syuara 107).

Adapun Rasul kita Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum diangkat sebagai rasul, beliau telah dikenal sebagai seorang yang shadiq (jujur) dan amin (memegang amanah, terpercaya) di tengah-tengah kaumnya. Orang-orang memilih beliau sebagai pihak untuk dititipi berbagai barang. Saat beliau berhijrah, beliau meminta Ali bin Abi Thalib supaya mengembalikan barang titipan kepada mereka yang menitipkannya.

Baca juga : Berawal dari Muraqabah, Timbullah Amanah

Dan Jibril alaihissalam adalah Aminul Wahyi (yang dipercaya menyampaikan wahyu). Allah telah menyifatinya dengan sifat itu di dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Ia dibawa turun oleh Ar Ruhul Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (Asy Syuara 192-194).

Arti Amanah

Lafal amanah berasal dari bahasa arab, yang memiliki kosakata dasar amana (أمن) yang berarti percaya. Sehingga amanah artinya adalah bisa dipercaya. Orang yang amanah adalah orang yang dapat menjalankan apa yang telah dibebankan kepadanya dengan sebaik mungkin, dan menempatkannya sesuai dengan haknya.

Para salaf berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan amanah ini secara istilah dan cakupannya. namun, perbedaan pendapat tersebut tidak bersifat kontradiktif (berkebalikan). Mereka hanya berbeda dalam memilih istilah, jadi perbedaan disini bersifat variatif.

Ada yang menjelaskan bahwa amanah adalah barang-barang yang ditipkan oleh orang lain. Ada juga yang mengatakan bahwa amanah terliput dalam pendengaran, pandangan, lisan, tangan, kaki, perut, dan kemaluan.

Imam Al Qurtubi al Maliki mengkompromikan pendapat-pendapat yang ada dengan mengatakan, “Lafal ini meliputi semua kewajiban syar’i. Ibnu Abbas berkata, ‘Ia adalah semua beban (syar’i).’ Inilah pendapat kebanyakan ulama.”

Amanah adalah di saat seorang hamba mampu mengemban taklif (beban syar’i) dalam rangka mengimplementasikan firman Allah ‘azza wa jalla, Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu!” (Al Baqarah 63).

Apa itu Amanah? Apa Cakupannya dalam Kehidupan?

Dus, pengertian amanah dan ruang lingkupnya itu amat sangat luas. Ia meliputi agama, kehormatan, harta, badan, nyawa, pengetahuan, ilmu, kekuasaan, wasiat, persaksian, keluarga anak, pengadilan, pencatatan, penyampaian ucapan, rahasia, surat-surat, pendengaran, penglihatan, indera-indera yang lain dan sebagainya.

Dalil dan Anjuran Berbuat Amanah

Ada begitu banyak dalil dari ayat Al Quran dan hadits tentang amanah. Diantaranya adalah firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 72.

إنا عرضنا الأمانة على السماوات والأرض والجبال

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah itu kepada langit, bumi dan pegunungan…. (QS Al Ahzab 72)

Allah ‘azza wa jalla menawarkan amanah itu kepada langit, bumi, dan gunung dengan penawaran yang sebenarnya, dan mereka mengerti penawaran tersebut. Sebab, Allah telah menjadikan untuk mereka indera dan nalar, meskipun manusia menganggap mereka mati. Ini sebgaimana firman-Nya tentang langit dan bumi dalam surat Al Isra’ ayat 44.

Dan tidak ada sesuatu pun (di jagat raya ini) melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu selian tidak mengerti (cara) tasbih mereka.” (QS Al Isra’ 44)

Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, berkata, “Abu Sufyan menyampaikan kepadaku bahwa Heraclius berkata kepadanya, ‘Aku bertanya kepadamu, apa saja yang diperintahkannya?’ Aku pun menjawab bahwa dia (Muhammad) memerintahkan shalat, jujur, menjaga kehormatan, memenuhi janji dan menunaikan amanah.’ Maka Heraclius berkata, ‘Itu adalah sifat seorang yang nabi.”

Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam tak pernah lelah untuk menganjurkan umatnya untuk selalu amanah. Beliau berjanji akan membawa naik mereka yang beramanah ke dalam jannah Ar Rahman kelak. Beliau bersabda, “Jaminkan untukku enam perkara dari kalian, niscaya aku jaminkan surga untuk kalian, — diantaranya beliau sebutkan –, hendaklah kalian menunaikan amanah jika kamu mendapatkannya.” (HR Ahmad dan Hakim, hasan)

amanah artinya

Nabi bahkan tetap menganjurkan kita berbuat amanah meski lingkungan atau orang-orang yang didekat kita telah meninggalkan amanat dan berbuat khianat. Beliau bersabda, “Tunaikan amanah kepada orang yang memberimu hal itu dan janganlah kamu khianat kepada orang yang mengkhianatimu.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi, shahih)

Beliau sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

لا إيمان لمن لا أمانة له، ولا دين لمن لا عهد له

Tidak ada iman bagi yang tidak beramanah, dan tidak beragama bagi yang tidak menepati janji. (HR Ahmad dan Ibnu Hibban, shahih)

Teladan dan Contoh Perilaku Amanah

Salah satu contoh sikap amanah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu adalah saat menjadi seorang khalifah. Ia sangat berhati-hati dengan jabatan tersebut, bahkan ia sering mengingatkan dirinya agar terus berlaku amanah dengan caranya sendiri. Di dalam Thabaqat Ibnu Saad disebutkan bahwa Umar bin Khattab pernah mendekatkan tangannya ke api seraya berkata, “Wahai putra Khattab, apakah kamu bisa menahan ini?”

Dalam Usudul Ghabah disebutkan bahwa Salim bin Abdullah mengatakan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah memasukkan tangannya ke dalam dubur unta yang  sakit, untuk mengobati lukanya. Ia mengatakan, “Aku khawatir akan ditanya tentangmu!” katanya kepada unta tersebut.

Anas bin Malik menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap umat memiliki Al Amin (orang yang terpercaya) dan sesungguhnya Amin umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al Jarrah.” (Muttafaq ‘alaihi)

Para ulama mengatakan bahwa sifat amanah adalah sifat yang dimiliki oleh Abu Ubaidah dan para sahabat Nabi yang lain. Tetapi Nabi terkadang mengkhususkan sebagian mereka dengan sifat tertentu yang nyaris sempurna ada pada mereka. Mereka pun teristimewa dengan sifat tersebut.

Dalam perang Uhud, saat pasukan pemanah tidak mengindahkan perintah Nabi dengan baik, dan kaum Muslimin terpukul oleh pasukan Quraisy, maka sosok Abu Ubaidah adalah satu diantara beberapa orang yang tetap kokoh bersama Nabi. Hari itu ia berhasil mencabut potongan rantai helm musuh yang melesak mengenai pipi Nabi. Untuk mencabutnya, Abu Ubaidah harus rela kehilangan dua gigi serinya.

Khianat Lawan Kata Amanah

Syaikh Mahmud al Mishri menyebutkan bahwa amanah dapat menyuburkan barokah, sementara khianat akan menghilangkan keberkahan, bahkan kebaikannya juga akan terpupus.

Allah azza wa jalla berfirman dalam hadits qudsi,

أنا ثالث الشريكين ما لم يخن أحدهما الآخر فإذا خانه خرجت من بينهما

Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat, selama salah satu darinya tidak mengkhianati sahabatnya. Jika salah satu berkhianat, maka Aku keluar dari antara keduanya. (HR Abu Daud dan Hakim, Hakim menyebutnya sebagai hadist shahih)

Maksud hadist ini adalah Allah ta’ala memberi berkah dan penjagaan dalam musyarakah antara kedua belah pihak jual beli atau perserikatan selama mereka tidak berkhianat.