Budaya Malu, Perasaan Baik yang Dipupuk Para Nabi

Budaya Malu, Perasaan Baik yang Dipupuk Para Nabi

Salikun.com – Budaya Malu, Perasaan Baik yang Dipupuk Para Nabi

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amru Al Ansori Al Badri radhiyallahu ‘anhu berkata, Rosulullah sallallahu ’alaihiwasallam bersabda, “Sesungguhnya perkara yang masih diketahui oleh manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR Al Bukhari)

Malu; Syarah Hadits Arbain 20

Jika dengan memiliki rasa malu itu dapat mencegah segala keburukan yang ada, maka perasaan seperti itulah yang wajib dihadirkan dalam diri seorang muslim.[1] Perasaan seperti itulah yang termasuk dari iman. Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda dalam riwayat al Bukhari, “Malu adalah sebagian dari iman.”

Beliau juga menyatakan bahwa banyak kebaikan dari perasaan ini.

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan”(HR Muttafaq ‘alaihi)

Oleh karenanya Imam An Nawasi menyebutkan bahwa hukum-hukum Islam diperkuat dengan hadist ini.

علي هذا مدار الإسلام

“Di atas hadist inilah berputar (hukum) Islam.”

Baca juga : Sering Marah, Berarti Telah Bercokol dalam Diri Anda Keburukan

Maksudnya adalah terhadap hukum yang sifatnya wajib dan sunnah, maka orang akan malu kalau tidak mengerjakan. Sementara pada hukum haram dan makruh, orang akan malu andai mengerjakan pantangan itu.

Perawai Hadits Arbain 20; Biografi Uqbah bin Amru

عن أبي مسعود عقبة بن عمرو الأنصاري البدري رضي الله عنه قال

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin Amru al ansary al badri radhiyallahu’anhu

Nama lengkapnya adalah Uqbah bin Amru bin Tsa’labah bin Utsairoh al Ansori, tahun kelahirannya hampir mirip dengan sahabat Jabir bin Abdillah dan wafat di umur 40 tahun pada masa Muawiyah menjadi khalifah.[2] Beliau termasuk diantara ulama’ sahabat, yang meriwayatkan banyak hadist Nabi.

Ulama’ berbeda pendapat tentang nama beliau al badri, apakah termasuk sahabat yang ikut dalam perang badar ataukah tidak. Namun riwayat yang paling benar terkait dirinya adalah bahwa beliau tidak ikut dalam perang badar tetapi pernah tinggal di dekat sumur badr sehingga dikenal dengan al badri sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Waqidi. Beliau juga termasuk diantara sahabat yang berbaiat dalam bait ‘aqobah.

Perkara yang Ditekankan Para Nabi

قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى

Rosulullah sallallahu ’alaihiwasallam bersabda, “Sesungguhnya perkara yang masih diketahui oleh manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah

Maksudnya adalah banyak Nabi sebelum Nabi Muhammad yang menyinggung perkara ini, yakni perasaan yang hadir saat hendak melanggar suatu perkara atau meninggalkan hal yang diperintahkan.

Jadi, perkara ini juga bisa disebut Syar’u man qoblana atau syariat umat sebelum kita, yang kemudian dikukuhkan ulang oleh Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wasallam sebagai syariat kita. Oleh karenanya wajib bagi kita untuk menjaga perasaan malu itu dalam diri kita, tentunya dibawah batasan syariat Allah ta’ala.

Selain diartikan sebagai peninggalan Nabi terdahulu, Nubuwah al ula juga bisa diartikan saat awal beliau sallallahu’alaihi wasallam menjadi Nabi.[3] Sehingga termasuk pesan pertama kepada para sahabatnya.

Jika Tidak Malu, Maka Berbuatlah Sesukamu

إذا لم تستح فاصنع ما شئت

Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu

Maksud “berbuatlah sesukamu” dalam hadist ini bukan berarti seseorang dibolehkan berbuat sesuatu semaunya hingga keluar batasan, tetapi itu adalah bentuk celaan dan ancaman.[4] Sebagaimana firman Allah ta’ala

اعملوا ما شئتم انه بما تعملون بصير

“Berbuatlah sesukamu, sesungguhnya Allah maha melihat atas segala yang kalian kerjakan.” (Fushilat 40)

Bukan berarti seorang manusian boleh berbuat sesukanya, karena konskwensi jika ia berbuat sesukanya dan melanggar larangan Allah justru ancamannya besar yaitu adzab yang pedih.

Sebagaimana para ulama’ ushul fiqh telah menjelaskan bahwa terkadang kata perintah dalam teks Al Quran atau Hadist itu tidak diartikan sebagai perintah, namun juga bisa berarti sebaliknya yaitu larangan untuk berbuat sesuatu sebagaimana dalam teks ayat dan hadits diatas.

Jenis Rasa Malu

Perasaan malu yang dimiliki manusia ada 2 jika dilihat dari usaha untuk meraih rasa malu itu.

Pertama : Rasa malu yang sudah ada pada diri seseorang tanpa melakukan usaha. Dalam banyak permasalahan, perasaan yang seperti ini termasuk terpuji, dan masuk dalam akhlak yang baik. Sebab ia akan mencegah dirinya dari berbuat mungkar secara umum.

Jarrah bin Abdillah al ahakimi mengatakan,

تركت الذُّنوب حياءً أربعين سنة، ثمَّ أدركني الورع

“Aku telah banyak meninggalkan dosa selama 40 tahun karena rasa malu, kemudian akupun dianugrahi sifat wara’.”[5]

Kedua : Rasa malu yang diusahakan. Yaitu perasaan yang muncul setelah mengenal Allah ta’ala selaku pencipta Nya. Bahwa Allah ta’ala senantiasa melihatnya dan mencatat seluruh amalnya, sehingga ia tidak berbuat mungkar dan melanggar perintah.

Jika seorang muslim memiliki sifat ini, maka akan dianugrahkan kepadanya manisnya keimanan.

Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda,

الاستحياء مِن الله حقَّ الحياء: أن تحفظ الرَّأس وما وعى، وتحفظ البطن وما حوى، وتتذكَّر الموت والبِلَى، ومَن أراد الآخرة، ترك زينة الدُّنيا، فمَن فعل ذلك، فقد استحيا مِن الله حقَّ الحياء

Sebenar-benar perasaan malu adalah engkau menjaga kepalamu dan apa yang kamu fikirkan, menjaga perutmu dan apa yang ada di dalamnya dan selalu mengingat mati dan cobaan. Dan barangsiapa yang menginginkan akhirat maka ia akan meninggalkan perhiasan dunia. Maka barang siapa mengerjakan itu maka sungguh ia telah malu dengan benar dan sebenar-benarnya. (HR Tirmidzi, hasan)[6]

malu

Andai Rasa Malu Hilang

Jika perasaan malu yang muncul karena naluri telah hilang, begitu juga rasa malu untuk berbuat maksiat telah hilang. Maka tidak ada yang bisa menghalangi sesorang itu untuk menejang larangan Allah. Dan jika itu menghinggapi sekelompok orang, maka masyarakat di tempat itu adalah yang teburuk dalam soal adab dan akhlak karena telah menanggalkan rasa malu dalam diri mereka.

Adakah Malu yang Tercela ?

Rasa malu yang dapat menghilangkan kekejian adalah kebaikan karena dapat menyempurnakan iman sesorang. Namun jika perasaan itu muncul dan berlebihan sehingga sesorang justru malu berbuat baik, maka jenis ini dicela dalam Islam, sebab ia telah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya (dzalim).

Sebagaimana dikatakan oleh para ulama.

الحياء في غير موضعه ضعف

Malu yang bukan pada tempatnya adalah kelemahan.

Jadi keseimpulannya adalah tidak boleh malu dalam hal menyebarkan Islam dan mencari kebenaran, sebab Allah ta’ala berfirman dalam surat Al Ahzab 53

وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ

“Dan Allah tidak malu dari kebenaran.” Al Ahzab 53

Buah dari Rasa Malu

Hasil dari rasa malu yang terpuji akan menghasilkan iffah (menjaga kesucian diri). Selanjutnya Iffah yang terus dilakukan akan menghasilkan sifat wara’ (menjaga diri dan menepati janji).

Iffah atau menjaga muruah inilah yang akan menyingkirkan sifat dusta dalam diri. Sebab muruah tidak akan bercampur dengan kedustaan.

Ahnaf bin Qais pernah mengatakan,

اثنان لا يجتمعان أبدا في بشر: الكذب والمروءة

2 hal yang tidak akan berkumpul pada diri seseorang yaitu dusta dan muruah (menjaga kesucian agama diri).

Jarrah bin Abdillah al ahakimi mengatakan,

تركت الذُّنوب حياءً أربعين سنة، ثمَّ أدركني الورع

“Aku telah banyak meninggalkan dosa selama 40 tahun karena rasa malu, kemudian akupun dianugrahi sifat wara’.”[7]


[1] Al Wafi Syarh Arbain Nawawiyah, Syeikh Mustafa Dieb

[2] http://hadithtransmitters.hawramani.com/ابو-مسعود-البدري-عقبة-بن-عمرو/

[3] Syarh Arbain Nawawiyah, Ibnu Utsaimin

[4] Jamiul Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab, hal 500/1

[5] Jamiul Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab, hal 501/1

[6] https://dorar.net/akhlaq/515/ثانيا:-الترغيب-في-الحياء-في-السنة-النبوية

[7] Jamiul Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab, hal 501/1