Doa Mustajab Berawal dari Semua Hal Baik

Salikun.comDoa Mustajab Berawal dari Semua Hal Baik. Berikut adalah hadits ke 10 dari Arbain Nawawi. Hadits tentang berbuat baik sebagai akar terkabulnya doa.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ)  ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ.  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam, “Wahai manusia sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana hal itu juga diperintahkan kepada para RosulNya. Allah berfirman, “Wahai para Rosul makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal sholih, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan.” Ia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang kami anugrahkan kepada kalian.” Kemudian Nabi menyebutkan tentang seorang yang melakukan perjalanan jauh, hingga rambutnya lusuh berdebu. Ia mengangkat tangannya ke arah langit seraya berdoa Yaa Robb Yaa Robb, sementara tempat makan, minum dan bajunya dari barang haram. Kenyangpun juga dari harta haram, maka bagaimana doanya bisa mustajab? (HR Muslim)

Anjuran Berbuat Baik dan Pondasi dari Doa Mustajab

Hadits ini berbicara tentang perintah berbuat kebaikan dan meniatkan segala kebaikan hanya untuk Allah ta’ala. Diantara bentuk kebaikan itu adalah menjaga semua hal baik yang masuk dalam tubuh manusia.

Istilah baik dalam hal makanan ini disebut juga dengan halal. Halal dari sisi makanannya dan halal pula dari sisi cara memperolehnya.

Islam sangat komplek memberi pengajaran kepada manusia. Tidak hanya menyoroti perihal ritual saja, tetapi juga mencakup adab dan akhlak dalam hidup. Perintah memakan makanan yang halal ini bersifat umum dan berlaku bagi mereka yang beriman kepadaNya.

Baca juga : Marah yang dibolehkan dan Marah yang dilarang

Salah satu ibrohnya adalah Allah ta’ala akan menjadikan doa hamba itu mustajab atas sebab menjaga makanan yang masuk dalam tubuhnya. Ini juga mengandung pesan penting, sebab semua ibadah itu muaranya adalah doa kepada Allah ta’ala.

Biografi Perawi Hadits Tentang Doa Mustajab; Abu Hurairah

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

Perawi dari hadits kesepuluh ini adalah Abu Hurairah Abdurrahman ibnu Sakhr ad dausi. Ia adalah sahabat Nabi yang cerdas dan memiliki hafalan yang kuat. Hanya dalam waktu kurang dari 4 tahun ia berhasil menyerap banyak hadits dari Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.

Banyak dari sahabat yang bertanya kepadanya, bagaimana ia dapat mengetahu ribuan hadits itu dan kapan ia mendengar dari Nabi? Dan jika diteliti jumlah hadits yang dihafal Abu Hurairah ini melebihi seluruh sahabat Muhajirin dan Anshar.

Maka Abu Hurairah menjelaskan, “Banyak dari orang Muhajirin disibukkan dengan berdagang di pasar, sementara orang-orang Anshar sibuk dengan pertanian mereka. Adapun saya hanyalah orang miskin yang selalu duduk bersama Nabi. Saya hadir saat yang lainnya absen, dan saya hafal saat banyak orang lupa.”

doa mustajab

Yang Diterima Hanya yang Baik

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

Bersabda Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam, “Wahai manusia sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik.

Sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam ini mencakup semua hal, baik itu perkataan ataupun perbuatan. Juga mencakup seluruh harta benda yang dimiliki seseorang. Bahwa yang diterima oleh Allah ta’ala hanyalah yang baik saja.

Allah tidak menerima harta haram yang dizakatkan kepada orang lain. Jadi jika ada seorang yang melakukan tindak pencurian, suap, korupsi atau kecurangan dalam harta, maka cara mensucikannya adalah dengan mengembalikan harta itu kepada yang berhak. Bukan dengan memanfaatkan harta itu, meski untuk tujuan baik.

Baca juga : Doa Ini Disunnahkan Dibaca Setelah Sholat Tahajud

Sebab tujuan dari kebaikan itu tidak bisa diraih kecuali dengan kebaikan pula. Orang yang memakai harta haram untuk tujuan haji maka jelas hajinya tidak maqbul, sebab wasilahnya dari haram. Jika ia berdoa, tidak didengar jika ia sedekah dari hasil haram tidak diterima amalnya.

Ibnu Rojab al hanbali menjelaskan maksud dari “Allah tidak menerima kecuali yang baik” adalah

فالمؤمن كله طيِّبٌ قلبُه ولسانُه وجسدُه بما سكن في قلبه من الإيمان ، وظهر على لسانه من الذكر ، وعلى جوارحه من الأعمال الصالحة التي هي ثمرة الإيمان

“Seorang mukmin itu adalah orang yang punya iman dalam hatinya, lisannya dan anggota badannya. Kemudian keimanan itu akan tercermin dari lisannya yang banyak berdzikir, anggota tubuhnya yang bergerak untuk beramal sholih yang merupakan buah dari iman.”[1]

Doa Mustajab Didapat dengan Mensucikan Harta Haram

Jika seseorang memiliki harta haram (bagaimanapun cara mendapatkannya) dan ia hendak bertaubat darinya. Maka langkah pertama adalah ia kembalikan harta haram itu kepada pemiliknya. Andaikan ia tidak menemui pemiliknya maka para ulama’ berbeda pendapat mengenai cara mensucikannya.

Menurut seorang tabiin, Atha’ bin Abi Robah bahwa harta itu disedekahkan namun si pemilik harta haram tidak mendapat pahala. Menurut Imam Syafii harta itu disimpan hingga diketahui pemiliknya. Menurut Fudhail bin Iyadh harta itu dimusnahkan, sebab tidak boleh bersedekah dengan hal yang haram.

Namun pendapat yang dipilih oleh Ibnu Rajab adalah disedekahkan namun pahalnya untuk pemilik harta sesungguhnya, karena jika harta terlalu lama disimpan dikhawatirkan hancur atau hilang. Adapun jika dimusnahkan maka itu termasuk perbuatan yang lebih sia-sia.

Agar Doa Mustajab dan Amalan Diterima

وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ)

Dan sungguh Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana hal itu juga diperintahkan kepada para RosulNya. Allah berfirman, “Wahai para Rosul makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal sholih, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan.” Ia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang kami anugrahkan kepada kalian.”

Unsur pertama agar seorang itu baik adalah dari makanannya. Jika makanannya dari yang halal, maka melangkah menuju kebaikan itu dimudahkan dengan izin Allah. Adapun jika yang dikonsumsi masih dari barang haram, maka usaha untuk mendekat kepada hidayah itu akan terasa terjal.

Dalam ayat dan hadits ini jelas, bahwa semua orang yang beriman wajib mengerjakan kebaikan dan beramal shalih. Tidak hanya diperuntukkan bagi Rosul saja tetapi juga meliputi semua orang. Baik itu mereka yang sudah dijamin surga apalagi yang belum ada jaminannya.

Ibnu Abbas pernah membaca ayat dalam surat Al Baqarah ayat 168 di dekat Nabi. Lalu Sa’ad bin Abi Waqash berkata, “wahai Rosulullah, mohonkan kepada Allah agar aku selalu diijabahi doaku.” Maka jawab Nabi

يا سعدُ، أَطِبْ مَطْعَمَكَ؛ تَكُنْ مُستَجابَ الدَّعوةِ. والَّذي نفْسُ محمَّدٍ بيدِهِ, إنَّ العبدَ لَيَقذِفُ اللُّقمةَ الحرامَ في جَوْفِهِ ما يُتَقبَّلُ مِنهُ عَمَلٌ أربعين يومًا, وأيُّما عبدٍ نَبَتَ لحمُهُ مِن سُحْتٍ, فالنَّارُ أَوْلَى بهِ

Ya Sa’ad, perbaiki makananmu maka doamu akan mustajab. Demi dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, sesungguhnya seorang hamba yang memasukkan sepotong makanan haram ke tenggorokannya, maka tidak akan diterima amalnya 40 hari. Dan barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari barang haram, maka nerakalah yang pantas baginya.[2]

Tidak Diterima Atau Tidak Sah ?

Terkadang maksud dari “tidak diterimanya amal” itu berarti tidak sah dan tertolak. Hal ini sebagaimana dalam ucapan Nabi, riwayat dari Muttafaq ‘alaihi

لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ

“Tidak diterima sholat salah seorang diantara kalian jika ia berhadats hingga ia berwudhu.”

Maka orang yang belum berwudhu, sholatnya batal atau tertolak. Ia harus berwudhu dan mengulangi sholatnya itu, meskipun ia tadi dalam kondisi lupa.

Adapun yang dimaksud dari hadits bahwa Allah ta’ala tidak menerima shalat nya hingga 40 hari, itu maksudnya adalah amalnya tidak sempurna tidak ada pahala, tetapi sholatnya dianggap sah.

Begitu juga orang yang berwudhu sempurna tetapi dengan air curian, maka hukum wudhunya sah tetapi kesempurnaan darinya hilang atau tidak mendapat pahala. Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama’ kecuali madzhab Hanbali.

doa mustajab

Syarat Doa Mustajab

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Kemudian Nabi menyebutkan tentang seorang yang melakukan perjalanan jauh, hingga rambutnya lusuh berdebu. Ia mengangkat tangannya ke arah langit seraya berdoa Yaa Robb Yaa Robb, sementara tempat makan, minum dan bajunya dari barang haram. Kenyangpun juga dari harta haram, maka bagaimana doanya bisa mustajab?

Dalam hadits ini setidaknya ada beberapa 4 hal yang perlu dicermati dalam menggapai doa mustajab. Bahkan orang yang memiliki 4 hal ini dia dalam kondisi dekat dengan Allah atau mustajab doanya. Keempat hal itu adalah

  • Perjalanan jauh

Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda

ثلاث دعوات متسجابات لا شك فيهن: دعوة المظلوم، ودعوة المسافر، ودعوة الوالد على ولده

“3 Doa yang mustajab dan tidak tertolak adalah doa orang terdzalimi, doa musafir dan doa orangtua kepada anaknya.” (HR Tirmidzi, hasan)

  • Baju kusut dan kondisi lemah

Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda,

رُبَّ أَشعَثَ أَغْبرَ ذِي طِمْرَينِ مَدفُوعٍ بالأبوابِ لَو أَقسَمَ على اللهِ لأَبَرَّهُ

“Berapa banyak orang yang kusut, bajunya lusuh, dan terhalang pintu[3] andaikan Ia bersumpah atau berdoa kepada Allah niscaya maqbul.” (HR Muslim)

  • Mengangkat tangan

Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda tentang adab berdoa,

إن الله حييٌّ كريمٌ يستحْيي إذا رفعَ الرجلُ إليه يديه أن يرُدَّهما صِفْرًا خائبتين

Sesungguhnya Allah itu Pemalu dan Pemurah, malu jika ada seorang menengadahkan tangannya kemudia kembali dalam keadaan hampa. (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi)

  • Harapan tinggi kepada Allah

Harapan yang besar akan dikabulkan doa adalah modal awal diterimanya doa. Rosulullah bersabda,

إذا قال العبد : يا رب أربعا, قال الله تبارك وتعالى : لبيك عبدي ، سل تعط

Jika seorang hamba berkata, Ya Robb 4 kali, maka Allah ta’ala berfirman, “Aku penuhi hambaKu, dan mintalah niscaya terkabul.”[4]

Jadi orang yang diceritakan oleh Nabi ini sebenarnya punya bekal kuat untuk diijabahi doanya. Tetapi lantaran makanan dan bajunya haram, Maka zat itulah yang jadi sebab terhalangnya doa atau permohonan.


[1] Ibnu Rajab al Hanbali dalam Jamiul Ulum wal Hikam, hal 259

[2] Disebutkan oleh Imam Tabrani dalam Mu’jam al ausath. Ada beberapa catatan dalam sanadnya.

[3] Maksudnya tidak dihiraukan manusia, bahkan andaikan dia butuh kepada orang lain dan mengetuk pintu mereka maka tidak dianggap karena dikira orang rendahan

[4] Hadits ini diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dan Al Bazzar, hadits dhaif