Itsar, Puncak dari Sifat Dermawan

itsar

Sifat Itsar dalam Islam

Itsar adalah mengutamakan kepentingan orang lain. Itsar juga merupakan salah satu konskuensi dari ucapan seseorang saat membaca ayat Allah, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Dalil dianjurkannya itsar adalah surat Al Hasyr ayat 9.

Dan mereka berlaku itsar (mengutamakan orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka membutuhkan (apa yang diberikan itu). Dan siapa yang dilindungi dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Al Hasyr 9)

Jadi itsar dalam islam adalah kebalikan dari sifat kikir. Orang yang mengutamakan orang lain berarti meninggalkan apa yang sebenarnya dia perlukan.

Sedangkan orang kikir adalah orang yang menginginkan apa yang tidak ada di tangannya. Jika sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, maka dia tidak mau mengeluarkannya atau bakhil. Dapat disimpulkan bakhil merupakan hasil dari kikir.

Macam dan Tingkatan Dermawan

Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadist,

إياكم والشح؛ فإنما هلك من كان قبلكم بالشح: أمرهم بالبخل فبخلوا، وأمرهم بالقطيعة فقطعوا، وأمرهم بالفجور ففجروا

Jauhilah olehmu sifat kikir, karena yang menghancurkan umat sebelummu adalah kikir. Sifat kikir itu menyuruh mereka untuk berbuat bakhil, maka bakhillah mereka. Ia memerintah untuk memutus hubungan persaudaraan, maka terputuslah persaudaraan mereka. Dan ia juga menghasung untuk berbuat kejahatan, jadilah mereka berbuat jahat. (HR Ahmad, Abu Daud)

Orang-orang Anshar adalah mereka yang disifati Allah sebagai orang yang itsar sebagaimana dalam surat Al Hasyr. Mereka disifati dengan tingkatan kedermawanan yang paling tinggi. Sebab dermawan itu ada 3 macam dan tingkatan.

  • Sakha’ yaitu miliknya tidak merasa terkurangi dan tidak keberatan untuk mengeluarkannya.
  • Jud yaitu memberikan lebih banyak dari miliknya dan menyisakan sedikit atau menyisakan jumlah yang sama dengan yang dikeluarkannya.
  • Itsar yaitu memberikan semua miliknya kepada orang lain meskipun dia memerlukannya.
itsar adalah

Macam dan Tingkatan Itsar

Menurut pengarang Manazilus Sairin itsar itu ada 3 tingkatan, yaitu :

  • Engkau Lebih mengutamakan manusia dari pada diri sendiri, dalam perkara yang tidak mengusik agamamu, tidak memotong jalanmu dan tidak merusak waktumu. Artinya itsar yang dibolehkan adalah itsar yang bukan dalam masalah akhirat atau ibadah, tetapi dalam masalah dunia atau muamalah.
  • Itsar dalam arti mengutamakan ridha Allah daripada ridha selain-Nya, sekalipun berat cobaannya, berat kesulitannya dan lemah usaha serta badannya.
  • Menisbatkan itsar kepada Allah dan bukan kepada dirimu sendiri. Sebab seringkali, orang yang terjun dalam itsar mengaku memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk melakukan itu. Padahal kekuasaan yang hakiki adalah milik Allah Allah pulalh yang berkuasa atas segala sesuatu. Adapun peran dan usaha kita ini adalah dimampukan oleh Allah azza wa jalla.

Kisah Kedermawanan Salaf

Qais bin Saad bin Ubadah adalah seorang yang paling dermawan diantara orang-orang yang dikenal dermawan. Suatu hari dia jatuh sakit, sementara saudaranya tidak segera menjenguknya. Maka dia menanyakan kemana mereka itu? Ada yang menjawab, bahwa mereka sedang menguruskan hutang orang-orang yang berhutang pada Qais.

Maka Qais berkata, “Semoga Allah menghinakan harta yang telah menghalangi para saudara untuk menjenguk orang yang sakit.” Kemudian ia menyerukan pernyataan, “Siapa yang mempunyai hutang kepada Qais, maka hutangnya dianggap lunas.” Pada sore harinya daun pintu rumah Qais jebol, karena banyaknya orang yang hendak menjenguknya.

Suatu hari orang-orang bertanya kepada Qais, “Apakah engkau tahu orang yang lebih dermawan dari engkau ?”

Qais menjawab, “Ya, ada. suatu kali kami berada di sebuah perkampungan dan kami singgah di rumah seorang wanita. Ketika suaminya tiba, wanita itu berkata, ‘Ada beberapa orang tamu yang singgah di rumahmu.’”

Maka orang itu langsung menghela seekor unta dan menyembelihnya. Dia berkata, “Kalian di sini saja ya.”

Besok harinya, ia kembali menghela onta dan menyembelih lagi. Kami pun berkata, “Onta yang engkau sembelih semalam pun hanya sedikit yang kami makan.”

Maka orang itu berkata, “Aku tidak memberik makan tamu-tamuku yang hanya bermalam saja.”

Kami berada di rumahnya dua atau tiga hari, dan selama itu hujan turun terus menerus. Ketika kami hendak melanjutkan perjalanan, kami tinggalkan uang seratus dinas di rumahnya, dan kami katakan kepada wanita itu, “Sampaikan pamit kami kepada suamimu.” Lalu kami langsung meninggalkannya, karena suaminya tidak sedang di rumah. Pada tengah hari kami mendengar teriakan dari arah belakang, “Berhentilah kalian hai para pengembara terlaknat. Apakah kalian membayar jamuanku?” setelah kami saling berhadapan, dia berkata, “Ambil lagi uang kalian ini, atau lebih baik aku menghujamkan tombakku ini kepada kalian.” Maka kamipun mengambil lagi uang kaim 100 dinar, dan setelah itu orang tersebut balik ke rumahnya.

https://salikun.com/