Khauf dan Roja’, Dua Sayap Ibadah Kepada Allah

khauf roja'

Dalam perjalanan kepada Allah, hati itu diibaratkan sebagai seekor burung. Cinta merupakan kepalanya, khauf (takut) dan roja’ (harap) adalah merupakan dua sayapnya. Selagi kepala dan dua sayap normal, maka burung itu bisa terbang dengan baik. Jika kepala putus ia akan mati, jika kedua sayapnya yang putus maka ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Pengertian Khauf

Apa itu khauf?

Arti khauf adalah takut. Takut terhadap sesuatu yang diyakini dapat merenggut kesadaran, kesehatan, kesenangan, kebebasan atau kenyamanannya.

Setiap orang pasti memliki sifat takut ini, sebab dalam setiap aspek kehidupan seringkali hadir sifat ini dalam berbagai kondisi yang ada.

Posisi Khauf dalam Ibadah

Khauf (خوف) merupakan amalan penting yang bermanfaat bagi hati. Perasaan ini merupakan keharusan bagi setiap orang beriman. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Ai Imran 175,

“Karenanya janganlah takut kepada mereka, namun takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang beriman.” (QS Ali Imran 175)

Diantara hadist yang menunjukkan tentang khauf adalah hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Tirmidzi berikut ini.

Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, aku pernah bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, Allah berfirman, ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (Al Mukminun 60)’ apakah mereka itu orang yang berzina, minum khamer dan mencuri?”

Maka Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bukan, wahai putri Ash Shidiq, tetapi dia orang yang puasa, shalat, dan mengeluarkan sedekah, sedang dia takut amalnya tidak diterima.”

Al Hasan Al Basri berkata, “Demi Allah, mereka itu adalah orang yang melakukan berbagai macam ketaatan dan berusaha untuk itu, sedang mereka takut amalnya tertolak. Sesungguhnya orang Mukmin itu menghimpun kebajikan dan ketakutan, sedangkan orang munafik menghimpun kejahatan dan rasa aman.”

Khauf, Khasyah, Rahbah, Raghbah, Haibah, Wajal

Kata khauf tidak jauh makananya dengan kata wajal, khasyah, rahbah, haibah, sekalipun mungkin ada sedikit perbedaan pada perincian atau penyertaannya. Ada yang berpendapat khauf artinya kegundahan hati dan gerakannya karena ingat sesuatu yang ditakuti. Ada pula yang mengartikan khauf dengan upaya hati untuk menghindar dari datangnya sesuatu yang tidak disukainya, saat ia merasakannya.

Sedangkan khasyah lebih khusus daripada khauf. Khasyah adalah milik orang-orang yang memiliki pengtahuan tentang Allah (ma’rifat). Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Fathir 28.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama’).” (QS Fathir 28)

Maka dalam definisi ini Khasyah adalah khauf yang disertai dengan ma’rifat kepada Allah. Maka dari itu Nabi pernah bersabda.

اني أتقاكم لله و أشدكم له خشية

Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah diantara kalian, dan aku adalah orang yang paling takut kepadaNya.

Sedangkan rahbah (رهبة) mencari peluang untuk lari dari sesuatu yang tidak disukai. Kebalikannya adalah raghbah (رغبة) yaitu gerakan hati untuk mencari sesuatu yang diinginkan.

Wajal artinya hati yang menggigil dan bergetar karena mengingat orang yang ditakuti kekuasaan dan hukumannya atau saat melihatnya. Haibah artinya ketakutan yang disertai pengagungan dan penghormatan, yang biasanya juga disertai rasa cinta, karena penghormatan merupakan pengagungan yang disertai rasa cinta.

ilustrasi khauf

Khauf merupakan sifat orang mukmin secara umum, Khasyah  merupakan sifat orang mukmin yang berilmu dan memilki ma’rifat. Haibah merupakan sifat orang yang mencintai, sedangkan ijlal merupakan sifat orang yang mendekatkan diri.

Seberapa banyak ilmu dan ma’rifat yang dimilikinya, maka sebanyak itu pula khauf dan khasyahnya mendominasi. Oleh karenanya Nabilah orang yang paling berilmu dan berma’rifat sehingga paling khauf dan khasyah kepada Allah ta’ala.

لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلاً ولبكيتم كثيراً، وما تلذذتم بالنساء على الفرش، ولخرجتم إلى الصعدات تجأرون إلى الله

Sekiranya kalian mengetahui apa yang kuketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa, banyak menangis, tidak bercumbu dengan istri di atas tempat tidur dan kalian akan keluar ke atas bukit untuk memohon pertolongan kepada Allah.

Orang yang mempunyai sifat khauf lebih suka melarikan diri atau menahan diri, sedangkan orang yang memilki sifat khasyah lebih suka berlindung kepada ilmu. Perumpamaan diantara keduanya seperti orang yang sama sekali tidak mengerti ilmu kedokteran dan seorang dokter yang andal. Orang yang pertama mengandalkan pertahanan dan upaya melarikan diri, sedangkan orang yang kedua mengandalkan ilmu dan pengetahuannya tentang penyakit dan obatnya.

Abu Hafsh berkata, “Khauf merupakan cemeti Allah untuk menggiring orang yang meninggalkan pintu-Nya. Khauf juga merupakan pelita di dalam hati, yang dengannya dia bisa melihat kebaikan dan keburukan. Setiap orang yang engkau takuti tentu akan engkau hindari, kecuali Allah azza wa jalla. Orang yang takut, lari dari Rabbnya namun juga menuju Rabbnya.”

Abu Utsman berkata, “Khauf yang benar adalah menghindari dosa secara lahir dan batin.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Khauf yang terpuji adalah yang menghalangimu dari hal yang diharamkan Allah.”

Pengarang Manazilus Sairin menyebutkan bahwa khaum memiliki tiga derajat.

  • Khauf terhadap hukuman, yaitu khauf yang ditunjang iman hingga menjadi benar. Ini khaufnya orang-orang awwam. Khauf ini muncul karena mempercayai ancaman, ingat kesalahan diri dan memperkirakan akibat yang ada.
  • Khauf terhadap tipu daya saat sadar dan yang bisa mengganggu kesenangan hatinya. Maka khaufnya ini akan hadir saat ada yang merampas kesenagannya atau kesadarannya.
  • Ini merupakan khaufnya orang-orang khusus, yang praktis tidak lagi mempunyai khauf selain dari haibah karena pengagungan. Ini merupakan derajat paling tinggi dalam khauf.

Dalam perjalanan kepada Allah, hati itu diibaratkan sebagai seekor burung. Cinta merupakan kepalanya, khouf (takut) dan roja’ (harap) adalah merupakan dua sayapnya. Selagi kepala dan dua sayap normal, maka burung itu bisa terbang dengan baik. Jika kepala putus ia akan mati, jika kedua sayapnya yang putus maka ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Tapi orang-orang salaf lebih suka memperhatikan kesehatan sayap khauf (rasa takut) daripada sayap roja’ (harapan). Namun pada saat (akan) keluar dari dunia mereka lebih memprioritaskan sayap harapan daripada sayap takut.

Hal ini juga merupakan pendapat dari Abu Ismail, pengarang Manazilus Sairin, dia berkata, “Rasa takut harus lebih menguasai hati. Jika harapan yang lebih menguasainya, maka ia akan rusak.”

Ulama’ yang lain berkata, “Yang paling sempurna adalah menyelaraskan harapan dan rasa takut serta memperbanyak cinta. Sebab cinta itu ibarat kendaraan, harapan ibarat dorongan, rasa takut ibarat sopir dan Allah lah yang menghantarkan ke tujuan dengan karunia-Nya.”

Sholat Khauf

Shalat khauf adalah shalat dalam keadaan takut akan bahaya atau dalam suasana genting seperti perang dan lainnya. Shlat khuaf ini terkait dengan tata caranya saja yang berbeda, adapaun jenis shalatnya maka yang sering dilakukan adalah shalat wajib lima waktu.

Tata cara shalat khouf (jika shalat 2 rokaat) adalah dengan bersama-sama imam di rokaat pertama kemudian diselesaikan rokaat keduanya sendiri-sendiri. kemudian datang kelompok kedua dibelakang imam (imam masuk rokaat dua) mereka ikut imam rokaat pertama dan menyelesaikan rokaat kedua sendiri, baru kemudian salam bersama dengan imam di rokaat kedua itu.

Itulah pengertian tentang shalat khauf dan tata caranya pada masa keadaan perang. Dan hal ini dicontohkan langsung oleh Nabi saat beliau menghadapi orang-orang kuffar.

pengertian roja roja'

Pengertian Roja’

Roja’ adalah harapan atau mengharap sesuatu. Dalam Islam, roja’ ini adalah salah satu sikap yang harus dimiliki seseorang manakan beribadah kepada Allah ta’ala.

Hal ini sebaimana firman Allah dalam surat Al Isra’ 57, “…… siapa diantara mereka yang lebih dekat kepada Allah dan mengharap rahmatNya serta takut akan adzab Nya.

Ibnul Qayyim al Jauziyah menyebut bahwa iman itu memiliki 3 sendi utama yaitu cinta, takut dan harap.

Roja’ merupakan ayunan langkah yang membawa hati ke tempat Sang Kekasih, yaitu Allah azza wa jalla dan kampung akhirat. sebagian ulama menyebut artinya adalah kepercayaan tentang kemurahan Allah dan janjiNya.

Roja’ dan Tamanni

Perbedaan antara roja’ (harapan) dan tamanni (angan-angan) adalah bahwa tammi lebih kepada bentuk angan-angan disertai kemalasan pelakunya dan tidak sungguh-sungguh dalam berusaha. Sedangkan roja’ (harapan) itu haruslah disertai dengan usaha dan tawakkal.

Contoh yang bisa membedakan tentang keduanya adalah seperti berikut. Tamanni adalah seperti seorang yang berangan-angan mempunyai sepetak tanah yang dapat dia tanami sesuatu dan hasilnya bisa dipetik. Sedangkan roja, maka seperti seorang yang memilki sepetak tanah dan ia tanami dengan tanaman, lalu ia berharap akan tumbuh tanaman yang baik.

Oleh karenanya para ulama’ sepakat bahwa roja’ itu tidak dianggap sah kecuali disertai dengan usaha.

Perilaku Roja dalam Ibadah

Roja’ itu ada 3 macam, dua diantaranya terpuji sedangkan yang satu tercela.

  • Harapan seorang agar dapat taat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, lalu dia mengharap akan pahalanya, disertai dengan ketaatan kepadaNya.
  • Seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat dan mengharap ampunan Allah, kemurahan dan kasih sayangNya.
  • Orang yang melakukan kesalahan dan mengharap rahmat Allah namun tanpa disertai dengan usaha untuk berubah dan kemauan kuat. Maka ini sesuatu yang menipu dan harapan yang dusta.

Ahmad bin Ashim pernah ditanya, “Apakah tanda roja’ pada diri hamba itu ?” Dia menjawab, “Jika dia dikelilingi kebaikan, maka dia mendapat ilham untuk bersyukur, sambil mengharap kesempurnaan nikmat dari Allah di dunia dan akhirat. kemudian dia juga mengharap kesempurnaan ampunanNya di akhirat kelak.”

Dalam dunia tazkiyatun nafs atau tasawuf, roja’ dianggap merupakan kedudukan yang paling lemah jika dibandingkan dengan ma’rifat, cinta, ikhlas, jujur, tawakal, muraqabah, khauf dan selainnya.

Hal itu karena roja’ merupakan sikap bergantung kepada pahala dan karunia Allah. Padahal yang dikehendaki Allah dari hamba ialah agar hamba itu memenuhi hak Allah dengan hukum keadilan Nya. Maka ini seolah suatu hal yang saling berkebalikan.

Meski demikian sikap roja’ adalah sikap mulia untuk menuju Allah ‘azza wa jalla. Dan hal ini dicontohkan dengan begitu baik oleh Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman dalam surat Al Ahzab 21.

Sungguh telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang roja’ (mengharap) rahmat Allah dan Hari Akhir, serta ia banyak berdzikir kepada Allah. (Al Ahzab 21)

Secara umum, roja’ (harapan) merupakan susuatu yang amat penting bagi seorang yang berjalan kepada Allah dan orang yang memilki ma’rifat. Sebab seorang hamba tidak akan lepas dari dosa yang dia mengharap kepada Allah agar diampuni. Ia juga tidak akan lepas dari amalan sholih yang dia harap agar diterima oleh Allah azza wa jalla.