Menyelami Ilmu Makrifat dari Kitab Madarijus Salikin

ilmu makrifat

Salikun.com – Mendalami Ilmu Makrifat dari Kitab Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim al jauziyah.

Arti Makrifat

Sebagian orang sering bertanya apa itu makrifat? Apakah itu termasuk Ilmu baru dalam Islam?

Makrifat atau Ma’rifat berasal dari kata عرف  ‘arofa yang artinya mengetahui. Ibnul Qayyim Al Jauziyah menyebutkan di dalam Madarijus Salikin, bahwa ma’rifat adalah pengetahuan yang meliputi sesuatu seperti apa adanya.

Makrifat adalah menghadirkan sesuatu dan penyerupaan ilmiahnya di dalam jiwa atau relung hati.

Makrifat dan Ilmu

Di dalam Al Quran lafadz makrifat kadang disebutkan melalui kata dasar atau turunannya, namun kadang juga disebut dengan kata ilmu. Namun lafal ilmu yang banyak disebutkan dalam Al Quran memilki makna yang relatif lebih luas.

Allah ‘azza wa jalla memilih bagi DiriNya asma Al Ilmu dan segala yang terkait dengannya. Allah mensifati DiriNya dengan Al Alim, Al Allam, ‘alima, ya’lamu dan mengabarkan bahwa Dia memiliki ilmu, tanpa menggunakan lafal ma’rifat. Sebagaimana yang sudah diketahui bersama apa yang dipilih Allah untuk Diri-Nya adalah yang paling sempurna jenis dan maknanya.

Ada perbedaan antara ilmu dan makrifat dari segi maknanya. Ma’rifat berkatian dengan dzat sesuatu sedangkan ilmu berkaitan dengan keadaannya. Sebagai contoh perkataan, “Aku memiliki ma’rifat (a’rifu) tentang ayahmu dan aku mengetahuinya (a’lamu) sebagai orang yang shalih dan berilmu.”

Yang pertama adalah makrifat, sedangkan yang kedua adalah al ilmu. Keduanya sama-sama memiliki arti mengetahui, tetapi berbeda dalam objek maknanya. Kebalikan dari ma’rifat adalah pengingkaran atau tidak mengenal sedangkan kebalikan dari ilmu adalah kebodohan..

Dengan kata lain ma’rifat adalah kehadiran sesuatu dan penyerupaan ilmiahnya di dalam jiwa, sedangkan ilmu merupakan kehadiran keadaan, sifat dan kaitannya di dalam jiwa. Makrifat menyerupai gambaran terhadap hakikat sesuatu dan ilmu menyerupai pembenaran terhadap hakikat itu.

Dalil Ilmu Makrifat

Diantara dalil dari makrifat sebagaimana disebutkan oleh pengarang Manazilus Sairin adalah firman Allah dalam surat Al Maidah 83

وإذا سمعوا ما أنزل إلى الرسول ترى أعينهم تفيض من الدمع مما عرفوا من الحق يقولون ربنا آمنا فاكتبنا مع الشاهدين

Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), maka kamu lihat mereka itu mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui, mereka berkata Ya Robb kami telah beriman maka tulislah kami bersama orang-orang yang  menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan Kenabian Muhammad). (QS Al Maidah 83)

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling bermakrifat kepada Allah azza wa jalla. Beliau bersabda

أنا أعرفكم بالله وأشدكم له خشية

“Aku adalah orang yang paling memiliki ma’rifat tentang Allah diantara kalian dan akulah yang paling takut kepadanya.” (HR Bukhari Muslim)

Dan itu adalah ilmu makrifat tertinggi Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ciri dan Tanda Ma’rifat

Ibnul Qayyim al Jauziyah menyebutkan bahwa sebagian orang ada yang mengatakan, diantara tanda ma’rifat tentang Allah adalah munculnya rasa takut kepada-Nya. Siapa yang ma’rifatnya tentang Allah bertambah, maka bertambah pula rasa takutnya kepada Allah.

Sebagian yang lain mengatakan, “Makrifat mengharuskan adanya ketenangan. Siapa yang ma’rifatnya tentang Allah bertambah, maka bertambah pula ketenangannya.”

Ibnul Qayyim pernah ditanya, “apa tanda makrifat seperti yang diisyaratkan kebanyakan orang?” maka beliau menyebutkan, “Kebersamaan hati dengan Allah. Tanda yang lainnya adalah merasakan kedekatan hati dengan Allah, sehingga dia merasakannya amat dekat dengan dengan Allah.”

Imam As Syibli berkata, “Orang arif (ahli makrifat) tidak memiliki kaitan, orang yang mencintai tidak mengeluh, seorang hamba tidak boleh mengadu, orang yang takut tidak stabil dan tak seorang pun bisa lari dari Allah.”

Maksud dari orang arif (ahli makrifat) tidak memiliki kaitan adalah bahwa ma’rifat yang benar harus mampu memotong segala nilai kaitan dari hati kecuali kepada Allah saja. Sebab keterkaitannya hanya dengan Allah dan inilah maksud ma’rifat kepada Allah azza wa jalla.

Ahmad bin Ashim berkata, “Siapa yang paling memiliki makrifat tentang Allah, maka dia paling takut kepada-Nya.” Perkataan ini seperti sabda Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam

أنا أعرفكم بالله وأشدكم له خشية

“Aku adalah orang yang paling bermakrifat tentang Allah diantara kalian dan akulah yang paling takut kepadanya.” (Muttafaq ‘alaihi)

Sebagian ulama mengatakan siapa yang memiliki ma’rifat tentang Allah, maka hidupnya jernih dan tenang, segala sesuatu takut kepadanya, ia justru tidak takut kepada semua makhluk dan merasakan ketenangan di sisi Allah.