Marah, Sumber Segala Keburukan; Syarah Hadits Arbain 16

Marah, Sumber Segala Keburukan; Syarah Hadits Arbain 16

salikun.com – Marah, Sumber Segala Keburukan

Marah adalah suatu emosi yang timbul secara fisik sehingga mengakibatkan meningkatnya denyut jantung, tekanan adrenalin dan darah.

Berikut Hadits arbain nawawi tentang marah beserta penjelasan lengkapnya.

Marah, Sumber Segala Keburukan

Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu bahwasannya ada seorang berkata kepada Nabi sallallahu’alihiwasallam,”Nasehati aku,” maka beliau bersabda, “Jangan marah” beliau mengulanginya beberpa kali dan berkata, “Jangan marah.” (HR Al Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Ya Rosulullah tunjukkan kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga namun jangan terlalu banyak” maka beliau bersabda, “Jangan marah !”

Al Jurdani berkata, “Sungguh hadits ini amat penting, termasuk dari jawamiulkalim (perkataan singkat namun padat makna), karena mengandung dua kebaikan sekaligus yaitu kebaikan dunia dan akhirat.”[1]

Perawi Hadits 16 Arbain Nawawi Tentang Marah; Abu Hurairah

عن أبي هريرة رضي الله عنه

Dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu

Periwayat dalam hadist ini bernama Abu Hurairah, yang memilik nama asli Abdurrahman bin Sakhr al-azdi ad-dausi. Ia berasal dari kabilah bani Daus di wilayah Yaman.

Baca juga : Arti dan Makna Mendalam Uhibbuka Fillah

Abdullah bin Rafii bertanya kepadanya, “Mengapa engkau memiliki nama kunyah Abu Hurairah?” maka Abu Hurairah berkata, “Aku dahulu bekerja menggembala kambing dan disisiku ada seekor kucing kecil (hurairah). Jika malam tiba aku menaruh kucing itu diatas pohon, dan jika hari telah siang aku ambil kucing itu dan sering bermain dengannya. Sejak saat itu aku diberi kunyah Abu Hurairah (bapaknya kucing kecil).”

Abu Hurairah adalah sahabat nabi yang paling banyak meriwayatkan hadist, dengan urutan sahabat perawi hadist terbanyak berikut.

  • Abu Hurairah meriwayatkan 5374 hadist.
  • Abdullah bin Umar meriwayatkan 2630 hadist
  • Anas bin Malik meriwayatkan 2286 hadist
  • Aisyah binti Abu Bakr meriwayatkan 2210 hadist
  • Abdullah bin Abbas meriwayatkan 1660 hadist
  • Jabir bin Abdillah meriwayatkan 1540 hadist

Ketamakan Sahabat untuk Minta Nasehat

أن رجلًا قال للنبي صلى الله عليه وسلم: أوصني

Bahwasannya ada seorang berkata kepada Nabi sallallahu’alihiwasallam,”Nasehati aku,”

Tidak dijelaskan siapa yang bertanya dalam hadist ini, menurut riwayat Abu Hurairah. Tetapi sebagian ulama’ menyebutkan bahwa orang itu adalah Abu Darda’ karena ada kemiripan hadist dengan yang diriwayarkan oleh Abu Darda’ ketika ia bertanya langsung kepada Nabi, “Ya Rosulullah tunjukkan kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.” maka beliau bersabda, “Jangan marah, maka bagimu surga.”[2]

Sementara ulama’ lain menyebut bahwa yang bertanya adalah Jariyah bin Qudamah. Sebagaimana dalam riwayat Ahmad, bahwa Jariyah bertanya kepada Nabi, “Ya Rosulallah beritahu aku suatu perkataan yang ringkas agar aku bisa hafal.” Beliau bersabda, “Jangan marah.” Beliau mengulai beberapa kali.[3]

Ketidak disebutkannya orang yang bertanya itu sering terjadi di beberapa hadist lainnya.[4] Namun mengetahui siapa penanya hal itu tidaklah terlalu penting, sebab yang bertanya adalah sahabat Nabi yang statusnya adalah ‘udul atau semuanya adil. Sehingga semua riwayat hadistnya tetap dipakai dan digunakan sebagai riwayat yang benar dari Nabi.

Arti sebenarnya dari kalimat “Aushini” adalah wasiatilah aku. Namun ini juga bisa diartikan nasehati aku dengan nasehat penting, yang diminta oleh seseorang.

jangan marah bagimu surga

Jangan Marah dan Jangan Marah

قال: ((لا تغضب))، فردد مرارًا، قال: لا تغضب

Beliau salllallahualaihi wasallam bersabda, “Jangan marah” beliau mengulanginya beberpa kali dan berkata, “Jangan marah.”

Seorang sahabat ini bertanya kepada Nabi tentang persoalan yang sama, dan Nabi pun menegaskan jawabannya dengan kata-kata yang sama yaitu jangan marah. Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa setelah dijawab nabi, si penanya tersebut berkata: “Setelah itu saya memahami, bahwa kemarahan mencakup seluruh kejahatan.”  

Ini menunjukkan bahwa dalam sifat marah itu terkandung banyak keburukan sementara menahannya ada banyak kebaikan yang akan didapatkan oleh seseorang.[5]

Ini adalah pesan dari Nabi agar seorang muslim menahan amarahnya secara umum. Akhlak ini adalah akhlaknya para nabi dan orang-orang shalih yang bersumber dari kitabullah. Pesan ini ditujukan kepada mereka yang menghendaki ingin masuk ke dalam Jannah dengan menahan amarah.

Wasiat Nabi ini juga menunjukkan bahwa beliau tahu kondisi orang yang bertanya. Seolah Nabi mengerti bahwa si penanya adalah orang yang sering marah, sehingga beliau menasehati dengan nasehat yang pas. Di waktu yang lain beliau juga dimintai wasiat nasehat kepada seseorang yang sering berteman dengan teman yang buruk, dan beliau memberi jawaban, “Jangan berteman dengan orang yang jahat,” sebab situasinya mengharuskan jawaban yang berbeda.[6]

Nasehat Nabi ini juga berarti kita harus menjauhkan diri dari hal-hal yang mengundang amarah itu datang. Sebab amarah itu pada umumnya adalah seperti perbuatan haram yang hendaknya dijauhi.

Teladan Menahan Amarah

Teladan yang terbaik dalam masalah ini adalah Nabi kita Muhammad sallalhu’alaihi wasallam. Pernah suatu ketika Zaid bin Sa’nah, sebelum masuk Islam, mendatangi beliau dengan sikap kasar dan menagih hutang yang sebenarnya belum masanya jatuh tempo. Namun beliau menghadapinya dengan tenang dan sabar. Saat itu datanglah Umar dan memarahi Zaid dengan keras. Namun Nabi Muhammad justru melarang Umar dengan sikapnya itu dan mencontohkan adab yang baik serta berkata, “Hai Umar, aku dan dia tidak membutuhkan sikap seperti itu.” Beliau juga bersabda.

تأمرني بحسن الأداء، وتأمره بحسن التقاضي

Lebih baik engkau menyuruhku untuk melunasi hutang dan menyuruhnya untuk menagih hutang dengan baik.

Bahkan beliau memberi uang yang melebihi hutang semula, sebagai imbalan dari hardikan yang diterima dari Umar. Dengan sikap sabar dan tenangnya Nabi itu, Zaid bin Sa’nah masuk Islam karena takjub dengan akhlak Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wasallam.

keutamaan menahan amarah

Keutamaan Menahan Amarah

Dalam riwayat Abu Daud dan dihasankan oleh At Turmudzi disebutkan, Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللهُ سُبحَانَهُ وَتَعَالى عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa yang menahan amarahnya, padahal ia mampu untuk meluapkannya. Maka pada hari kiamat Allah akan memanggil hamba tersebut dihadapan seluruh makhluk -sebagai bentuk kemuliaannya- dan mempersilahkannya untuk memilih bidadari surga yang ia ingainkan.”

Seorang tabiin bernama Hasan al Basri mengatakan

أربعٌ من كُنَّ فيه عصمه الله من الشيطان، وحرَّمه على النار: مَنْ ملك نفسَه عندَ الرغبة، والرهبة، والشهوةِ، والغَضَب

“Ada empat perkara, siapapun yang ada pada dirinya hal tersebut, maka Allah akan menjaganya dari setan dan diharamkan baginya neraka. Yaitu orang yang mampu menguasai dirinya (nafsunya) saat ingin, saat takut, saat birahi bergejolak, dan ketika hendak marah.”

Cara Menghentikan Amarah

Cara menghentikan amarah yang tengah bergejolak ada beberapa tahapan sesuai yang dianjurkan Nabi Muhammad sallalahu’alaihi wasallam, diantaranya adalah

  • Membaca ta’awudh perlindungan dari Syetan (audzubillahi minas syaitonirrojim).
  • Mengubah posisi, jika ia dalam keadaan berdiri maka hendaknya duduk, jika belum hilang hendaknya ia berbaring.
  • Menghentikan bicara dan merenung.
  • Bersegera untuk berwudhu.

Marah Karena Allah

Marah yang buruk adalah marah yang disebabkan karena hawa nafsu dan bukan karena Allah. Adapun jika amarah itu dikarenakan ada ajaran Islam yang dihinakan atau Allah ta’ala sedang diremehkan kedudukannya, maka marah pada saat itu adalah marah yang terpuji.

Dalam riwayat Al Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah sallalahu’alai wasallam adalah seorang yang tidak pernah marah. Namun jika larangan Allah itu dilanggar, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat meredam kemarahannya.

Hukum yang terjadi saat Marah

Apakah hukumnya seorang suami yang dalam keadaan marah menceraikan istrinya ?

Atau apa hukumnya seorang yang mengucapkan kata-kata kufur, saat dalam keadaan marah ?

Maka jawabnya adalah perceraian itu terjadi dan ucapan kufur itu juga berlaku baginya atau dalam artian lain adalah murtad hingga ia bertaubat dan kembali. Dalam hal lain seperti merusak/memecahkan sesuatu maka ia tetap harus menggantinya.


[1] Al wafi, Syekh Dieb al Bugha, hal 110

[2] Jamiul ulum wal hikam, ibnu Rajab, hal 362

[3] Al wafi, Syekh Dieb al Bugha, hal 110

[4] Syarah hadist arbain, ibnu utsaimin, hal 231

[5] Jamiul ulum wal hikam, ibnu Rajab, hal 362

[6] Syarh arbain Nawawi, Ibnu utsaimin, hal 234

Add a Comment

Your email address will not be published.