Muraqabah, Hati yang Mengerti Kedekatan Allah

muraqabah

Salikun.com – Muraqabah, Hati yang Mengerti Kedekatan Allah

Arti Muraqabah

Muraqabah (مراقبة) berasal dari kata raqaba (رقب) yang artinya adalah menjaga atau mengawasi. Jadi muraqabah artinya selalu menghadirkan perasaan diawasi.

Muraqabah adalah seorang hamba yang senantiasa mengetahui dan meyakini pengawasan Allah azza wa jalla terhadap lahir dan batinnya. Upayanya untuk melanggengkan pengetahuan dan keyakinan inilah yang disebut muraqabah. Jadi muraqabah merupakan buah dari pengetahuannya bahwa Allah selalu mengawasinya, melihatnya dan mendengar semua ucapannya.

Muraqabah mencakup dalam 2 hal yaitu ketaatan dan kemaksiatan. Muraqabah dalam ketaatan adalah ikhlas dalam menjalankan seluruh perintah Allah ‘azza wa jalla. Sedangkan muraqabah dalam kemaksiatan adalah dengan taubat, sesal dan berhenti dari melakukannya.

Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah menyatakan, “Apabila seorang manusia yang lemah menyadari bahwa Rabbnya jalla wa ‘ala berada di dekatnya, bahwa Dia mengawasi semua ucapan, perbuatan dan niatnya, niscaya lunaklah hatinya dan dia akan takut kepada Allah ta’ala  serta mengihsankan amalnya karena Allah semata.”

Jadi, Muraqabah artinya memurnikan batin dan lahir hanya karena Allah ‘azza wa jalla semata. Hal inilah yang disampaikan oleh Ibrahim al Khawwash, salah seorang ulama salaf.

Dalil Tentang Muraqabah

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah bagaimanapun keadaanmu, dan ikutilah perbuatan yang buruk itu dengan perbuatan baik niscaya dapat menghapusnya, dan berakhlaklah kepada manussia dengan akhlak yang terpuji.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Di sini Nabi mengajarkan kepada kita bahwa seorang hamba mestilah bermuraqabah kepada Allah dalam diam, saat bergerak, Ketika berbicara dan kala bertindak, kapan pun dan di mana pun. “Bertawalah kepada Allah bagaimanapun keadaanmu

Beliau pun juga bersabda, seolah menjadi sinyal hadist tentang muraqabah, “Barangsiapa di antara kalian bisa menyembunyikan amal shalih yang dikerjakannya, maka hendaklah dia melakukannya.

Dari sini dapat disimpulakan bahwa pengertian muraqabah itu adalah seorang mukmin menyibukkan diri dengan pandangan dan pengawasan Allah saja, bukannya pandangan orang lain demi sanjungan dan pujan dari mereka.

Sementara dalam kitab Riyadhus Shalihin bab muraqabah, Imam Nawawi menukil hadist yang berkaitan dengan muraqabah dengan hadist Jibril tentang ihsan. Yaitu sabda Nabi ‘alaihis sholatu wa salam, Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.

Dengan mendatangkan rasa muraqabah inilah seorang mencapai derajat ihsan, dan ibadah kita kepada Allah akan menjadi semakin khusyu’.

Para Ulama dan Makna Muraqabah

Dzun Nun al mishri berkata, “Pertanda muraqabah adalah mengutamakan apa-apa yang diturunkan Allah, menganggap besar yang dianggap besar Allah dan menganggap kecil yang dianggap kecil oleh Allah.”

Ketika Al Muhasibi ditanya tentang muraqabah, beliau menjawab, “Awalnya adalah mengertinya hati akan kedekatan Rabb ‘azza wa jalla.

Al Hasan al Bashri bertutur, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak saat akan beramal, jika dia hendak melakukannya karena Allah dia melanjutkannya dan jika karena selain Dia, maka dia menundanya.”

Ibnul Qayyim al jauziyah menulis, “Semestinya seseorang itu bermuraqabah sebelum beramal dan selama beramal; apakah hawa nafsunya yang mendorongnya untuk melakukannya ataukah hanya Allah ta’ala yang mendorongnya secara khusus. Jika yang mendorongnya adalah Allah, dia melanjutkannya dan jika tidak, dia meninggalkannya. Inilah ikhlas.”

muraqabah artinya

Contoh dari Salafus Shalih

Para sahabat Rasul telah menorehkan tinta cahaya pada lembaran sejarah tentang murawabah dan tasa takut mereka kepada Allah.

Dalam Fathul Baari Al Hafidz Ibnu Hajar al asqalani menyebutkan bahwa Ibnu Abi Mulaikah bercerita, “Abu Bakar as siddiq pernah ditanya tentang satu ayat di dalam Kitabullah. Maka beliau menjawab, ‘Bumi mana yang aku pijak, langit mana yang kujadikan atap, ke mana aku bisa pergi dan apa yang harus aku perbuat jika aku mengatakan sesuatu dari Kitabullah dengan selain yang dikehendaki-Nya?’”

Dalam Siyar al khulafa’ Imam Adzhabi menuturkan bahwa Abdullah bin Amir bin Rabiah bercerita, “Aku pernah melihat Umar bin Khattab memungut sebatang jerami dari tanah lantas berkata, ‘Duhai sekiranya aku adalah sebatang jerami ini, FUhai, sekiranya aku bukan apa-apa. Duhai sekiranya ibuku tak pernah melahirkanku.’”

Dalam Tarikh at Thobari Imam Thobari menyebutkan bahwa Bara’ bin Ma’rur menyampaikan suatu hari Umar bin Khattab keluar rumah menuju mimbar. Waktu itu dia sedang sakit. Seseorang menyarankan untuk meminum madu tertentu, dan madu itu ada di Baitulmal. Lantas Umar berkata, “Jika kalian mengizinkan aku akan mengambilnya. Namun jika tidak, maka itu haram atasku.”

Suatu hari seseorang memanggil Abdullah bin Umar, “Wahai sebaik-baik manusia putra sebaik-baik manusia!” maka Ibnu Umar menukas, “Aku bukan sebaik-baik manusia dan bukan putra sebaik-baik manusia. Hanyasanya aku adalah seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku mengharapkan rahmat Allah dan takut kepada AdzabNya. Demi Allah jika kalian terus memuji seseorang, niscaya kalian membinanasakannya.”

Cara Melaksanakan Muraqabah

Diantara hal-hal yang dapat memudahkan diri kita untuk bermuraqabah kepada Allah ‘azza wa jalla adalah

  • Mengenal Allah lewat asma’ (nama-nama) dan sifatNya (sifat Allah). Jika kita mengerti bahwa Allah adalah Ar Raqib (Maha Mengawasi), Al Hasib (Maha Menghisab), Asy Syahid (Maha Mengawasi), Al Bashir (Maha Melihat), maka akan membuat kita selalu merasakan pengawasan Allah dimanapun dan kapanpun.
  • Berteman dan bergaul dengan orang-orang yang shalih. Mendekati orang shalih dapat mengingatkan kita dengan akhirat. Oleh karenanya wasiat dari Nabi adalah, “Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang beriman, dan janganlah memakan makananmu keculi dengan orang yang bertawa.
  • Khawatir meninggal dalam keadaan suul khotimah (akhir hidup yang jelek). Sungguh orang-orang terdahulu dari salafus shalih selalu merasa was-was dari hal ini sehingga rasa kantuk mereka hilang dan segera beribadah kepada Allah.
  • Membayangkan kenikmatan surge dan kesengsaraan neraka. Dengan merenungkan hal ini nisacaya muraqabatullah ini bisa hadir di sisi orang beriman.

Jalan Terdekat Menuju Tazkiyatun Nafs atau Tasawuf

Allah ta’ala telah menjadikan tazkiyatun nafs (penyujian jiwa) sebagai sesuatu yang urgen, dan untuknyalah Rasulullah diutus di muka bumi ini. Hal ini sebagaimana difirmankan olehNya di dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 164.

Allah ta’ala juga menjelaskan bahwa yang masuk surge hanyalah yang memiliki jiwa yang suci, bersih dan baik. Hal ini disebutkan dalam Al Quran surat Az Zumar 73.

Dari sinilah Nabi meninggikan nilai tazkiyatun nafs atau tasawwuf[1] (dalam arti menjernihkan diri). Beliau bersabda,

“Ada 3 perkara barangsiapa yang mengerjakannya sungguh telah merasakan manisnya iman: (1) Siapa yang beribadah kepada Allah yang Esa dan sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah, dan (2) memberikan zakat hartanya sebagai upaya membersihkan jiwanya…. .” (HR Al Baihaqi)

Dalam Riwayat Al Baihaqi ada tambahan, seseorang bertanya kepada beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam, “apa yang dimaksud tazkiyatun nafs?” Beliau menjawab, “Hendaknya seseorang mengerti bahwa Allah bersamanya, bagaimana pun keadaannya.”

Para ulama menjelaskan bahwa maksudnya Allah bersamanya adalah ilmunya meliputi semua tempat.

Abdullah bin Umar radhiyallahuanhuma berkata, “Seorang hamba tidak akan mendapati iman yang nyata sampai dia mengerti bahwa Allah ta’ala melihatnya. Maka dia tidak akan melakukan suatu perbuatan secara sembunyi-sembunyi (dalam maksiat), yang hal itu akan membuatnya dipermalukan pada hari Kiamat.”


[1] Tasawuf secara Bahasa berasal dari kata shofi yang artinya jernih. Menjernihkan diri dari kemaksiatan dan kotoran hati.