Perintah dan Larangan Allah; Syarah Hadits Arbain 9

Perintah dan Larangan Allah, Syarah Hadits Arbain 9

Salikun.com – Perintah dan Larangan Allah, Syarah Hadits Arbain 9

Perintah dan larangan Allah ta’ala itu jelas dan disebutkan langsung dalam Al Quran. Tetapi ada redaksi hadits yang unik yaitu ketika Nabi bersabda, Apa saja yang kami larang maka jauhilah. Dan apa saja yang kami perintahkan kepadamu maka kerjakan semampumu. Berikut hadits lengkap dari Arbain Nawawi nomer 9.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ . رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apa saja yang kami larang maka jauhilah. Dan apa saja yang kami perintahkan kepadamu maka kerjakan semampumu. Karena sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah karena banyak bertanya dan menyelisihi para Nabi mereka.” (HR Bukhari Muslim)

Sekilas Tentang Hadits Nomer 9; Perintah dan Larangan Allah

Para ulama’ pada umumnya menganjurkan seorang muslim menghafal dan memperhatikan dengan seksama hadits ini. sebab terkandung banyak manfaat dan dasar-dasar agama Islam. Imam Ibnu Hajar al Haitami berkata,

وهو حديث عظيم من قواعد الدين وأركان الإسلام، فينبغي حفظه والاعتناء به

Hadits Ini adalah hadits agung yang termasuk dari kaedah-kaedah penting agama dan rukun Islam. Maka hendaklah dihafal dan diperhatikan seksama.[1]

Baca juga : Jangan Marah maka Bagimu Surga

Hadits ini berbicara tentang komitmen seorang muslim dalam beragama, hendaklah ia mengamalkan nilai-nilai Islam semaksimalnya. Melaksanakan perintah agama dan menjauhi apa yang dilarang.

Perawi Hadits 9 Arbain Nawawi; Biografi Abdurrahman bin Sakhr

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ

Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

Abdurrahman bin Sakhr ad dausy adalah nama asli dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat Nabi yang cerdas dan paling banyak meriwayatkan hadtis bahkan dalam waktu singkat 3 tahun.

Ketekunannya dalam mempelajari ilmu islam tak lantas membuatnya hanya duduk dan meninggalkan medan tempur. Tetapi ia juga ikut serta dalam jihad bersama Nabi dan umat Islam. Tercatat beliau pernah ikut perang Khaibar, perang Tabuk, perang Mut’tah dan perang-perang lainnya.

Beliau adalah ahli hadits dan ulama’nya para sahabat. Dan beliau juga adalah seorang Mujahid fie sabilillah yang rela memperjuangkan islam meski harus mengorbankan nyawa. Semoga Allah senantiasa memberi ridho Nya kepada sahabat Nabi ini.

At Tahammul wal ‘ada, Perbedaan Sighat Lafadz Hadits

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ

Aku (Abu Hurairah) mendengar Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Dalam hadits ini, Abu Hurairah menerima hadits dari Nabi memakai sighat sama’ yaitu sami’tu (aku mendengar). Lafadz sama’ ini adalah sighat yang paling tinggi dalam ilmu hadits. Lebih tinggi dari sighat ‘an dan lainnya.

Lafadz ini disebut sebagai tahammul al ada’ yaitu jalan menerima hadits. Jika hadist ini didapat oleh sahabat dari Nabi, maka tidak terlalu bermasalah.

Tetapi jika perawi setelahnya ada yang memakai lafadz sami’tu atau haddatsani atau ‘an dan lainnya maka derajatnya menjadi berbeda. Seperti Lafadz sami’tu lebih tinggi dari lafadz  ‘an.

Asbabul Wurud, Sebab Hadits ini Ada

Hadits ini termasuk hadits yang akhi-akhir muncul yaitu saat khutbah wada’. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa suatu ketika Nabi berpidato dihadapan kaum muslimin, dan bersabda, “Wahai manusia, sungguh Allah telah mewajibkan kalian untuk haji, maka berhajilah.”

Maka ada seorang yang bertanya, “Apakah setiap tahun ya Rosulullah?” Maka nabi pun diam, kemudian mengulangi sabdanya hingga 3 kali.

Kemudian Rosulullah bersabda, “Kalau seandainya aku jawab iya, pasti akan diwajibkan hal itu. Dan sungguh kalian tidak akan mampu.” “Apa yang saya diamkan (tidak dibahas) biarkanlah. Karena sungguh yang menghancurkan umat sebelum kalian adalah dengan banyaknya pertanyaan dan menyelisihi nabi mereka. Jika aku telah memerintahkan kepada kalian dengn sesuatu maka lakukanlah semampumu. Dan jika aku telah larang kalian dari sesuatu maka jauhilah.” (HR Muslim)

Dalam sebuah riwayat disebutkan oleh Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa lelaki yang bertanya kepada Nabi itu bernama Aqra’ bin Habis radhiyallahu ‘anhu.

Perintah dan Larangan Allah, Syarah Hadits Arbain 9

Tinggalkan Larangan Allah, dan Jauhi Sejauhnya

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ

Apa saja yang kami larang kepada kalian maka jauhilah.

Lafadz larangan dalam Al Quran dan Sunnah umumnya memiliki 2 konskuensi hukum yaitu makruh dan haram.

Larangan Allah yang hukumnya Makruh

Larangan yang bersifat makruh ini adalah larangan yang ada dalilnya tetapi tidak kuat. Sehingga hukumnya tidak sampai kepada haram.

مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا ، فَإِنَّ الْمَلائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ

“Barangsiapa yang makan bawang merah, bawang putih, dan bawang kurrats maka janganlah mendekati masjid. Sebab malaikat itu terganggu dengan bau sebagaimana manusia yang lain terganggu.” (HR Muslim)

Larangan makan bawang atau petai atau jengkol ini berlaku saat akan ke masjid. Jadi siapa saja yang memakan tumbuhan itu sebelum ke masjid, hukumnya adalah makruh tetapi tidak sampai kepada derajat haram.

Jika ia terlanjur memakannya saat masuk adzan, maka sholat di rumah lebih baik daripada sholat di masjid. Namun andaikan bau itu bisa segera dihilangkan -dengan model sikat gigi yang ada sekarang-, maka sebab hukumnya telah hilang dan pergi ke masjid menjadi lebih afdhal.

Secara hukum fiqih, makruh berarti jika dihindari mendapat pahala tetapi bila dilakukan tidak berdosa. Jadi tidak sampai kepada hukum haram yang berakibat dosa jika dilanggar.

Larangan Allah yang hukumnya haram

Larangan haram adalah larangan yang dengan tegas jika dilanggar, pelakunya diancam dengan hukuman di dunia dan di akhirat.

Contoh larangan tegas dalam Islam adalah larangan minum-minuman keras, makan harta riba, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan dan lainnya.

Allah ta’ala berfirman dalam surat Ali Imron ayat 130

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian memakan riba, dengan berlipat ganda. Bertaqwalah kepada Allah agar kalian beruntung.

Larangan memakan riba ini bersifat mutlak haram, karena dengan tegas Allah ta’ala melarangnya. Dan juga ada ancaman barangsiapa memakan riba maka ibarat ia mendeklarasikan perang kepada Allah ta’ala.

Keterpaksaan, Membolehkan Larangan untuk Dilanggar

Kita mengetahui bahwa adanya larangan Allah itu untuk dijauhi. Tetapi Syariat Islam memberi kelonggaran saat kondisi-kondisi tertentu yang sulit. Dalam istilah fiqih hal ini disebut sebagai rukhsoh (keringanan saat kondisi terdesak/tidak normal).

Munculnya Kaedah Rukhsoh Tentang Perintah dan Larangan Allah

Para ulama’ yang merumuskan kaedah rukhsoh ini berdalil dengan firman Allah ta’ala dalam surat Al Baqarah 173.

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya yang dilarang oleh Allah adalah darah, daging babi, dan binatang yang tidak disebut nama Allah. Tetapi barangsiapa yang dalam kondisi terpaksa, padahal ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah maha pengampun dan penyayang.”

Sehingga dalam rukhsoh ada kaedah ushul fiqh berbunyi

الضرورة تبيح المحظورات

“Kondisi terpaksa itu menyebabkan dibolehkannya hal yang terlarang.”

Contohnya adalah orang yang tersesat di hutan, tidak menemui makanan kecuali babi. Andaikan ia tidak makan kemudian mati, maka mengambil rukhsoh untuk makan babi adalah dibolehkan untuk menjaga nyawanya.

Perintah dan Larangan Allah, Syarah Hadits Arbain 9

Kaedah dan Batasan Rukhsoh Pada Perintah dan Larangan Allah

Namun para ulama’ memberi batasan jika rukhsoh itu diterapkan. Sebab dikhawatirkan terlalu menganggap enteng urusan sehingga dikhawatirkan jatuh pada lubang kesalahan.

Para ulama’ membatasi terpaksa itu jika mengancam nyawa, terancam kehilangan anggota tubuh dan menyebabkan tidak mampu hidup dalam kondisi normal. Sehingga ada kaedah dalam ushul fiqih berbunyi.

الضرورة تقدر بقدرها

“Darurat itu disesuaikan dengan kadarnya.”

Kaedah ini berasal dari firman Allah ta’ala surat Ali Imrah 173

غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ

“…Tidak sengaja (tidak menginginkan) dan tidak melampaui batas….”

Jadi kebolehan memakan yang haram atau perbuatan haram lainnya itu sekedar untuk menjaga nyawanya. Tidak boleh melampaui batas atau berlebihan dari itu. Jika nyawa sudah terselamatkan maka kondisi bisa berubah menjadi normal lagi.

Komitmen dan Taat pada Perintah Allah

وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Dan apa saja yang kami perintahkan kepadamu maka kerjakan semampumu.

Redaksi perintah dalam Al Quran dan Sunnah terbagi menjadi 2 hukum. Yaitu perintah yang hukum fiqihnya disifati sunnah dan perintah yang disifati wajib.

Perintah Allah yang bersifat Sunnah

Perintah yang sifatnya sunnah ini adalah perintah yang model lafadznya tidak kuat dalam penekanannya. Atau perintah ini di lain waktu bersebrangan dengan dalil perbuatan lain maka hukumnya tidak lagi wajib, namun sunnah.

Sunnah secara hukum fiqih berarti jika dilakukan mendapat pahala, tetapi jika ditinggalkan tidak berdosa. Contoh dari perintah yang bersifat sunnah adalah sabda Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam

صلوا قبل المغرب ، صلوا قبل المغرب” ثم قال : “لمن شاء

“Sholatlah sebelum maghrib, sholatlah sebelum maghrib.” Kemudian beliau bersabda, “Bagi siapa yang menginginkan.” (HR Bukhari)

Dalam hadits diatas Nabi memerintahkan shalat sebelum maghrib, tetapi kemudian seolah Nabi menasakh perintah itu dengan perkataan selanjutnya, hanya bagi yang menginginkan. Jadi hukum perintahnya bersifat sunnah, bukan wajib.

Perintah Allah yang bersifat wajib

Perintah yang bersifat wajib adalah perintah yang jika dikerjakan mendapat pahala, tetapi bila ditinggalkan akan mendapat dosa.

Ciri-ciri lafadz dalam perintah yang sifatnya wajib ini bisanya dengan kalimat yang tegas dan disertai ancaman yang keras di dunia dan di akhirat.

Contohnya adalah perintah untuk mendirikan shalat 5 waktu, Rosulullah bersabda Muadz bin Jabal saat hendak berdakwah ke Yaman.

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ

Ajarilah mereka bahwa Allah ta’ala telah mewajibkan bagi mereka shalat 5 waktu, sehari semalam. (HR Bukhari)

Perintah diatas sepakat seluruh ulama’ bahwa shalat 5 waktu itu hukumnya wajib. Bahkan dalam redasi lain, disebutkan ancaman nyata bagi yang meninggalkan shalat wajib.

Beban dalam Syariat, Diimbangi dengan Kemudahan

Bahwa ada beban dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan itu hal yang wajar. Tetapi tetap perlu dilakukan, sehingga ada istilah taklif dalam Islam. Namun beban itu diukur sesuai kadar kemampuan. Sehingga Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda

فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“kejakanlah ia semampu kalian”

Dan juga ada firman Allah ta’ala dalam surat Al Baqoroh 185

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kalian kemudahan, dan tidak menghendaki kesukaran.”

Contoh dari dalil diatas adalah bagi mereka yang kesulitan menjalankan puasa karena sakit, maka Islam membolehkan baginya berbuka dan tidak berpuasa di hari itu. Sehingga kaedah ulama’ ushul fiqih dalam hal ini adalah

المسقة تجلب التيسير

“Kesulitan itu menyebabkan kemudahan.”

Kewajiban yang Tidak Boleh Ditinggalkan Semuanya Meski Sulit

Saat Nabi mengatakan dalam haditsnya

وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Dan apa saja yang kami perintahkan kepadamu maka kerjakan semampumu.

Maka para ulama’ menyimpulkan dalam kaedah

المعسور لا يسقط بالمعسور

Kewajiban yang mudah tidak bisa dihilangkan dengan bagian yang sulit.

Maksudnya adalah dalam satu kondisi tertentu, seorang yang terhalang dari kewajiban tidak lantas meninggalkannya penuh. Tetapi tetap harus mengerjakan semampunya dan sedapatnya.

Hal ini bukan berarti seorang tidak melakukan perintah dan mendekati larangan Allah, tetapi sebab hukumnya berbeda,

Contoh saat seseorang tidak bisa shalat dengan berdiri sempurna karena sakit, maka ia tetap harus shalat dalam keadaan duduk dan seterusnya.

Perintah Mendahulukan yang Wajib daripada yang Sunnah

Dewasa ini banyak kita temui orang-orang yang begitu kuat dalam menjalankan hal-hal yang sunnah, tetapi meremehkan hal yang sifatnya haram. Ada orang yang banyak melakukan kewajiban dan sunnah seperti bersedekah dan berinfak tetapi ia lalai dengan banyak mencari harta dari jalur ribawi.

Jadi intinya adalah melakasnakan perintah Allah yang wajib meninggalkan larangan Allah itu lebih baik daripada mengerjakan seribu sunnah Nabi yang hukumnya sunnah.

Sahabat Aisyah radhiyallahu’anha mengatan

من سره أن يسبق الدائب المجتهد ؛ فليكف عن الذنوب

Barangsiap yang ingin menjadi orang yang lebih utama dari ahli ibadah yang bersungguh-sungguh, maka hendaklah meninggalkan dosa.

Abdullah ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

لرد دانق من حرام أفضل من إنفاق مائة ألف في سبيل الله

“sungguh dijauhkan dari beberapa dirham haram lebih baik daripada infaq 100 ribu dirham di jalan Allah.”

Ungkapan para sahabat di atas mengindikasikan bahwa mendahulukan yang wajib serta meninggalkan yang haram lebih baik daripada ratusan atau ribuan ibadah sunnah.

Ketika Mencegah Kerusakan Lebih Didahulukan daripada Mengambil Manfaat

Para ulama’ merumuskan hukum fiqih sebagai berikut

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Mencegah keburukan lebih didahulukan daripada mendapat manfaat

Maksudnya adalah jika ada satu perkara namun memiliki nilai manfaat dan mafsadat. Maka didahulukan menghindari perkara itu daripada harus melakukan.

Salah satu contoh adalah saat sedang terjadi wabah mematikan di suatu tempat kemudian ada kewajiban shalat berjamaah[2] di masjid tempat wabah itu. Maka menangguhkan shalat berjamaah demi menghindari wabah lebih diutamakan daripada datang ke masjid.

Tolak Ukur Mafsadat dan Manfaat Terkait Perintah dan Larangan Allah

Namun para ulama’ memberi tolak ukur pada maslahat dan mafsadat yang dimaksud. Yaitu hanya pada perkara yang merupakaan kebiasaan lazim yang jika dilakukan mendapat madharat.

Hal ini juga ditimbang dari seberapa besar mafsadat dan manfaatnya. Jika mafsadat lebih kecil daripada manfaatnya, maka diutamakan manfaatnya.

Contoh dalam hal ini adalah berbohong demi menyelesaikan permusuhan antara 2 orang. Maka dalam hal ini lebih baik berbohong daripada jujur tetapi justru permusuhan antara 2 orang muslim semakin panjang dan meluas.

umat terdahulu

Penyebab Kehancuran Orang Terdahulu

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

Karena sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah karena banyak bertanya dan menyelisihi para Nabi mereka

Dalam hadits ini, Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa 2 perkara yang mengakibatkan umat terdahulu hancur adalah karena sering bertanya dan menyelisihi para Nabi.

Banyak Bertanya

Larangan banyak bertanya ini maksudnya adalah suatu pertanyaan yang bila dijawab justru memberatkan konskuensinya apalagi yang ditanya adalah Nabi. Sehingga para sahabat yang dikenal generasi pembelajar pun, banyak berfikir ulang saat akan memberi pertanyaan kepada Nabi. Sebab yang dikhawatirkan adalah munculnya perintah yang justru memberatkan.

Adapun bagi orang-orang badui atau yang diluar Madinah, dimana wahyu tidak langsung turun kepada mereka maka Rosulullah memberi keringanan. Jadi larangan banyak bertanya ini dikhususkan untuk pertanyaan kepada Nabi. Adapun kepada selain Nabi apalagi dalam rangka memperdalam Islam, pertanyaan boleh diungkapkan.

Kekhususan ini disebutkan dalam riwayat Muslim

أقمت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بالمدينة سنة؛ ما يمنعني من الهجرة إلا المسألة كان أحدنا إذا هاجر لم يسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن شيء،

Saya tinggal bersama Rosulullah di Madinah selama satu tahun. Tidak ada yang menghalangiku dari bepergian kecuali karena ingin bertanya dan mendapat jawaban Nabi. Sebab jika kita sudah pergi maka tidak bisa lagi bertanya kepada Rosulullah.

Macam Pertanyaan dan Berlakunya Hukum Fiqih

Pertanyaan itu ada beberapa macam sesuai hukum fiqih. Ada yang bersifat perintah Allah dan ada yang bersifat larangan Allah.

Secara hukum fiqih terbagi menjadi fardhu ‘ain, fardhu kifayah, Mandub, haram, makruh dan lainnya.

  • Pertanyaan fardhu ‘ain

Yaitu pertanyaan yang hendaknya diajukan terkait dengan masalah hukum agama. Seperti bersuci, shalat, puasa, zakat, jual beli dan lainnya. Hal ini sesuai dengan kebutuhan mukallaf atau orang yang bertanya. Saat harta sudah banyak maka ia harus belajar dan bertanya tentang zakat, rinciannya dan kewajibannya.

  • Pertanyaan Fardhu Kifayah

Yaitu pertanyaan yang jika telah diaujukan sesorang gugurlah kewajiban bagi yang lainnya. Hal ini seperti pertanyaan untuk mendalami masalah fiqih yang lebih dalam, atau tafsir yang lebih dalam lagi. Maka hukumnya adalah fardhu kifayah.

Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Abbas, saat ditanya keluasan ilmunya padahal ia termasuk sahabat yang masih kecil. Ia mengatakan

إني أعطيت لسانا سئولا , وقلبا عقولا

Aku dikarunia oleh Allah, lisan yang selalu bertanya dan hati yang selalu berfikir.

  • Pertanyaan yang hukumnya sunnah

Yaitu pertanyaan yang bersinggungan dengan hal-hal sunnah. Atau hal yang tidak wajib tetapi dibutuhkan sebagian orang.

  • Pertanyaan yang hukumnya haram

Yaitu pertanyaan yang hukumnya haram. Seperti mengajukan pertanyaan yang hanya Allah sajalah urusannya. Seperti ingin mengetui hari kiamat kapan tibanya kepada seseorang.

Atau pertanyaan yang sifatnya mengejek dan menantang. Sebagaimana pertanyaan umat terdahulu kepada Nabi mereka saat menantang diturunkannya mukjizat.

  • Pertanyaan yang hukumnya makruh

Yaitu pertanyaan yang lebih baik ditinggalkan daripada ditanyakan. Seperti menanyakan bagaimana cara shalatnya orang yang ada di Bulan, apakah harus menghadap kiblat dan lainnya.

Hal ini sebagaimana yang terjadi di zaman sahabat. Ada seorang bertanya kepada zaid bin tsabit. Maka Zaid berkata, “apakah sudah terjadi” Maka dijawab, “belum” Maka jawab Zaid,

دعوه حتى يكون

“Biarkanlah hal itu sampai terjadi.”

Menyelisihi Perintah Nabi adalah Larangan yang Haram

Menyelisihi para Nabi adalah membantah mereka. Mengerjakan sesuatu yang bertolak belakang dengan syariat dan menentangnya. Juga bisa berarti memecah diri dari jamaah kaum Muslimin.

Muara dari menyelisihi Nabi ini adalah memperturutkan hawa nafsu. Ingin menang sendiri atau tidak ingin diatur oleh agama. Inilah penyakit yang berbahaya yang menimpa banyak manusia. Ingin bebas, dengan sebebas-bebasnya.

Perselisihan Manhaj dan Perbedaan Pendapat Ulama’

Perselisihan yang dilarang adalah pada hal-hal yang sifatnya pokok dalam agama. Yang barangsiapa menyelisishinya maka dihukumi haram. Bukan dalam masalah fara’ atau cabang.

Contohnya adalah penyelisihan Syiah terkait dengan sahabat Nabi. Mereka menghukumi sahabat Nabi dengan kekafiran. Sementara Ahlussinnah tidak demikian. Perbedaan pendapat yang demikian tidak ditolerir karena sudah menyentuh masalah ushul.

Adapun perbedaan pendapat dalam masalah yang cabang, yang bukan dari ushul, maka sejak sahabatpun sudah ada perbedaan pendapat. Dan Nabi tidak menyalahkan satu pihak pun, sebagaiman kejadian shalat di bani Quraidhah.



[1] Al wafie syarah arbain nawawie, hal 52

[2] Menurut madzhab Hanbali shalat berjamaah adalah wajib, menurut Syafii sunnah muakkad dan menuruti Hanafi adalah fardhu kifayah.