Tafakur dan Tadzakur Menurut Ibnul Qayyim

tafakur tadzakur tadabur

Salikun.com – Tafakur dan Tadzakur Menurut Ibnul Qayyim al Jauziyah dalam Madarijus Salikin.

Arti Tafakur dan Tadzakur

Tafakur adalah memikirkan atau mengamati sesuatu, sedangkan tadzakur artinya mengambil pelajaran dari sesuatu. Tadzakur yang menjadi tempat persinggahan hati merupakan pasangan dari inabah (taubat). Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam surat Al Mukmin ayat 13,

وما يتذكر إلا من ينيب

“….Dan tiadalah yang mau mengambil pelajaran kecuali orang yang kembali (kepada Allah).” (QS Al Mukmin 13)

Tadzakkur ini merupakan sifat yang khusus bagi orang-orang yang mau berfikir dan berakal. Hal ini sebagaimana termaktub dalam firman Allah ta’ala surat Ar Ra’ad 19.

Ma’rifat, Buah dari Tafakur dan Tadzakur

Tadzakur dan Tafakur merupakan dua hal yang dapat membuahkan berbagai macam ma’rifat kepada Allah, muraqabah, hakekat iman dan munculnya banyak kebaikan. Orang yang memiliki ma’rifat senantiasa mengembalikan tadzakur kepada tafakkur, dan mengembalikan tafakkur kepada tadzakur, hingga dapat membuka gembok hatinya. Karena makna dua hal ini saling berkaitan satu sama lain.

Baca juga : Jalan Terang Menuju Muraqabah dan Ihsan

Pengarang Manazilus Sa’irin menjelaskan bahwa tadzakur setingkat di atas tafakur. Sebab tafakur merupakan pencarian sedangkan tadzakur merupakan wujud dari pencarian itu. Tadzakur merupakan kata aktiva dari dzikr (mengingat), dan kebalikan dari lupa. Artinya hadirnya gambaran sesuatu yang diingat dan diketahui di dalam hati.

Dalam persoalan ini manusia terbagi menjadi 3 macam

  1. Orang yang hatinya mati dan seakan dia tidak mempunyai hati. Ayat Allah tidak akan menjadi peringatan bagi hati yang seperti ini.
  2. Orang yang mempunyai hati hidup dan siap, namun ia tidak memperhatikan ayat-ayat Allah yang dibaca, yang mengabarkan ayat-ayatNya yang dapat disaksikan, entah karena ayat itu memang tidak sampai kepadanya, karena dia sibuk dengan hal yang lain atau entah karena sebab lainnya. Orang seperti ini hatinya lali entah ke mana dan tidak ada di tempat. Hati ini juga tidak mempan oleh peringatan, sekalipun sebenarnya ia siap.
  3. Orang yang hatinya benar-benar hidup dan siap. Bila ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya, maka ia pun menyimak dengan pendengarannya, menghadikan hatinya, sibuk memahami apa yang didengarnya. Hati yang seperti inilah yang bisa mengambil manfaat dari ayat yang dibaca maupun ayat yang disaksikan (tafakur alam kauniyah).

Orang pertama seperti orang buta yang sama sekali tidak bisa melihat. Orang kedua seperti orang yang dapat melihat, namun arahnya tidak tepat pada sasaran yang mestinya dilihat. Dua orang ini sama-sama tidak bisa melihat Allah. Orang ketifa seperti orang yang dapat melihat dan memusatkan pandangan ke sasarannya, baik dari jarak yang dekat maupun jauh. Inilah orang yang dapat melihat Allah. Mahasuci Allah yang menjadikan kalam-Nya obat penyembuh dari penyakit yang menghimpit dada.

hadits tentang tafakur

Cara Tafakur dan Tadzakur

Pengarang Manazilus Sa’irin menjelaskan bahwa bangunan tadzakur itu ada tiga macam yang menyusunnya :

  1. Mengambil manfaat dari izhah. Maksud izhah disini adalah perintah dan larangan yang kemudian dikenal dengan istilah at targhib wa tarhib. Izhah terbagi dalam dua macam : izhah dengan pendengaran dan penglihatan. Izhah dengan pendengaran berarti mengambil manfaat dari petunjuk dan nasehat yang didengarnya baik itu berupa wahyu atau nasehat untuk kemaslahatan agama dan dunianya. Sedangkan izhah dengan penglihatan yaitu mengambil manfaat dari ayat kauniyah dari tanda kekuasaan Allah dan yang menunjukkan kebenaran agama ini.
  2. Mencari kejelasan lewat pelajaran. Karena tadzakur itu berarti mencermati makna yang diperoleh dengan memikirkan ayat dan pelajaran maka tadzakur ini bisa didapatkan dengan tafakur (memikirkan pelajaran terhadap sesuatu). Sementara tekad untuk melanjutkan perjalanan tergantung pada kekuatan pengetahuan tentang perjalanannya, sebab pengetahuan inilah yang memberi batasan gerak dan tujuan. Jika perasaan terhadap kekasih semakin kuat, maka perjalanan hati pun juga menjadi tegar. Jika pikiran terpusat ke perjalanan ini, maka perasaan juga semakin terarah kepadanya.
  3. Mencari buah pikiran. Ini merupakan masalah yang sangat lembut dan sensitif. Pikiran itu mempunyai dua buah : mendapatkan apa yang dicari secara utuh sebisa mungkin dan berbuat sebagaimana lazimnya untuk memenuhi hak. Kejernihan pikiran dapat dipetik dengan tiga cara : (1) Tidak mengumbar harapan dan angan, (2) menyimak Al Quran dan (3) meninggalkan lima perkara yang merusak hati yaitu tidak banyak ngobrol, tidak mengumbar angan, tidak bergantung kepada selain Allah, sedikit makan dan sedikit tidur.

3 Cara Membangun Tafakur Diri dalam Islam

Kejernihan dalam berfikir terhadap ayat Allah baik berupa quraniyah atau alam kauniyah dapat diperoleh dengan melakukan 3 cara seperti yang disebutkan sebelumnya.

Tidak Mengumbar Harapan

Tidak mengumbar harapan maksudnya menyadari tentang dekatnya perjalanan dunia dan begitu singkatnya waktu kehidupan ini. Ini merupakan perkara yang paling bermanfaat bagi hati, karena yang demikian bisa mendorong seorang hamba untuk mengefektifkan waktu yang terus berlalu seperti awan dan bersegera membalik lembaran hidupnya, menggugah hasratnya menuju akhirat, mendorongnya untuk segera menyentuh garis finish, berzuhud di dunia dan memfokuskan pandangannya hanya kepada akhirat.

Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam surat Yunus 45,

ويوم يحشرهم كأن لم يلبثوا إلا ساعة من النهار

Dan ingatlah akan hari (yang pada saat itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa pada hari itu) seakan tidak pernah tinggal (di dunia) kecuali hanya sesaat saja pada siang hari… (QS Yunus 45)

Tidak mengumbar harapan panjang dari dunia ini diraih dan disandarkan pada 2 hal pemikiran : Pertama, meyakini kefanaan dunia dan perpisahan dengannya. Kedua, kekekalan akhirat dan kepastian bersua dengannya. Kemuddian coba bandingkan keduanya dan tentukan mana yang lebih penting.

Menyimak Al Quran (Tadabbur Al Quran)

Pengertian dari Tadabur atau menyimak Al Quran yaitu memusatkan hati ke makna-maknanya, memusatkan pikiran untuk mengamati dan memikirkannya secara mendalam. Inilah maksud dari diturunkannya Al Quran, dan bukan sekedar membacanya tanpa pemahaman, pendalam dan perhatian. Allah berfirman dalam surat Shad 29

كتاب أنزلناه إليك مبارك ليدبروا آياته وليتذكر أولو الألباب

Itu adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan barakah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang memupnyai pikiran. (QS Shad 29)

Hasan al Bashri berkata, “Al Quran diturunkan agar diperhatikan dan diamalkan. Maka amlkanlah apa yang kalian baca itu.”

Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba di duna dan akhirat serta lebih dekat dengan keselamatan selain dari mendalami dan memperhatikan Al Quran, karena makna-makna ini akan menunjukkan tanda kebaikan serta keburukan dengan segala penyertanya, menunjuki jalan, menyodorkan kunci kebahagiaan dan ilmu yang bermanfaat.

Kebalikan dari itu semua adalah makna-makna Al Quran juga memberi petunjuk dan pengetahuan tentang apa yang diserukan setan, jalan yang menghantark kepadanya, dan akibat dari memenuhi seruan ini.

Makna Al Quran berkisar pada masalah tauhid dan penjelasannya, ilmu tentang Allah dan sifat kesempurnaanNya, pengenalan hak-hak hamba, iman kepada malaikat yang merupakan utusan Allah dalam menangani urusan alam dan apa yang diperintahkan kepada mereka, rincian perintah dan larangan, halal dan haram, prinsip dan lain-lainnya.

tafakur

Lima Perkara Perusak Hati dan Penghalang Tafakur

Adapun lima perkara yang merusak hati adalah banyak bercanda dengan manusia, mengumbar harapan dan angan, bergantung kepada selain Allah, banyak makan dan banyak tidur.

Ketahuilah bahwa hati itu sedang dalam perjalanan kepada Allah ‘azza wa jalla dan kampung akhirat. Jalan yang benar telah ditunjukkan, begitu pula ujian jiwa dan amal, penghambat jalan dapat disingkirkan dengan cahaya petunjuk serta perkara yang dapat menguatkannya.

Lima perkara inilah yang dapat memadamkan cahaya hati, menutupi penglihatan dan menyumbat pendengarannya, melemahkan kekuatanya, dan menggrogoti tekadnya. Siapa yang tidak merasakan semuai ini berarti hatinya tengah mati, sementara luka pada orang yang mati tidak dapat dirasakan olehnya.

Tidak ada kenikmata, kesenangan dan kesempurnaan kecuali dengan mengetahui Allah dan mencintai-Nya, merasa tentram saat menyebut-Nya, senang berdekatan dengan-Nya dan rindu bersua dengan-Nya. Inilah makna surga dunia, sbagaimana dia tahu bahwa kenikmatannya yang hakiki adalah kenikmatan di akhirat dan di surga. Dengan begitu dia mempunya dua surga, surga yang kedua tidak dimasuki sebelum dia memasuki surga yang pertama.

Kami pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

ان في الدنيا جنة من لم يدخلها لن يدخل جنة الاخرة

“Sesungguhnya di dunia ini ada surga, siapa yang tidak memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga di akhirat.”

Sebagian orang bijak berkata,

إنه ليمر بالقلب أوقات

“Hari-hari telah berlalu dan dapat dirasakan dengan hati.”

Maka aku (Ibnul Qoyyim) katakan, “Jika para penghuni surga seperti ini keadaannya, maka tentulah mereka benar-benar dalam kehidupan yang sangat menyenangkan.”

Terlalu Banyak Bergaul dan Bercanda

Terlalu banyak memberi porsi hati dengan sering bercanda dan bergaul dengan manusia dapat menjadi polusi napas bagi bani Adam, sehingga hati dapat menghitam karenanya. Akibat setelahnya adalah memunculkan perselisihan dan beban berat yang dipikul karena bergesekan dengan manusia. Banyak kemaslahatan yang terbuang sia-sia, sibuk dengan urusan mereka, pikiran terpecah untuk memenuhi berbagai macam tuntutan mereka. Dan jika begini terus keadaannya maka apa yang tersisa untuk Allah dan kampung akhirat?

Pergaulan yang didasari cinta dunia dan ambisi ini bisa berubah menjadi permusuhan jika hakekat niat buruk ini terkuak, sehingga menimbulka penyesalan bagi sebagian diantara mereka. Yang lebih celaka lagi jika penyesalan ini baru terasa setelah di akhirat. Allah berfirman dalam surat Zukhruf ayat 67

الاخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو الا المتقين

Teman-teman akrab pada hari itu, sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa. (QS Az Zukhruf 67)

Dalam ayat diatas dikecualikan dari pergaulan ini adalah dengan orang yang bertaqwa. Sebab perbincangan dengan orang bertaqwa itu lebih mendekatkan diri dengan kampung akhirat dan mengingatkan kita dengan jati diri kita di dunia ini. Bergaul dengan mereka adalah kebaikan dan penyeimbang dari kepenatan urusan manusia secara umum.

Bergaul dengan orang yang bertaqwa itu terwujud dengan arti menghadiri dan mempelajari ilmu, menyambut seruan haji, sholat berjamaah, berjihad, dan saling menasehati dalam kebaikan dan taqwa.

angan dan harapan dalam tafakur

Banyak Harapan dan Angan yang Tak Bertepi

Mengarungi lautan harapan dan angan ini hanya dilakukan oleh orang yang bangkrut. Barang para penumpang kapal itu adalah janji setan dan hayalan yang menipu. Gelombang angan dusta dan hayalan hati terus bergulung mempermainkan penumpang.

Angan-angan setiap orang itu berbeda-beda, ada yang ingin memiliki harta yang berlimpah, punya istri yang cantik, kekuasaan yang terhampar dan lain sebagainya. Setiap orang yang berangan-angan seakan dia beruntung untuk mendapatkannya, tetapi ketika tersadar ternyata tangannya hampa dan hanya memegang bantal.

Namun orang yang memiliki tekad kuat, maka angannya berkisar pada ilmu dan iman serta amal sholih yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah ta’ala. Angan dan harapan seperti ini tidaklah dicela, bahkan suatu bentuk niat baik seseorang yang dipuji Nabi. Seperti keinginan seseorang memiliki harta berlimpah yang akan digunakannya untuk berinfak di jalan Allah ‘azza wa jalla. Atau harta itu digunakan untuk menyambung tali silaturahim diantara manusia. Maka inilah angan dan harapan yang berlandaskan ilmu dan keinginan yang mulia.

Bergantung Kepada Selain Allah

Menyandarkan diri kepada selain Allah adalah merupakan perusak hati yang paling besar dan tidak ada yang lebih bahya selain dari hal ini. Jika hati terus bergantung kepada selain Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada susuatu yang dijadikan gantungan dan tambatan hatinya itu. Padahal apa yang dijadikan sebagai gantungan itu dihinakan Allah dan dia tidak mendapatkan maksudnya itu secara sempurna.

Bergantung kepada selain Allah adalah rapuh dan lemah. Mereka ibarat berlindung dari panas dan dingan dengan menggunakan rumah laba-laba, padahal sarang mereka adalah yang paling lemah. Menyandarkan diri kepada selain Allah adalah termasuk akar dari mensekutukan Allah kepada selain-Nya. Hal ini sebagaimana termaktub dalam firman Allah surat Maryam 81-81.

Banyak Makan

Perusak hati yang keempat adalah banyak makan dan berlebih-lebihan. Ada 2 macam terkait dengan jenis makanan ini. Pertama, makanan yang diharamkan oleh Allah baik berupa jenisnya maupun cara mengambilnya. Kedua, makanan yang merusak karena pertimbangan porsi dan jumlahnya yang melebihi batasan meskipun ia disifati makanan halal.

Berlebih-lebihan dalam makan dapat membuat tubuh berat sehingga berat juga untuk beribadah kepada Allah. Akibat lainnya adalah dorongan hawa nafsu yang lebih dominan, dan ini akan membuka jalan bagi setan untuk berbisik disaat penjagaan diri sedang lemah. Sebab setan bisa menyusup ke dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Maka tidak heran jika puasa mampu mempersempit jalur itu.

Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

ما ملأ ابن آدم وعاء شرا من بطنه، بحسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه، فإن كان لابد فاعلاً فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه

Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang bisa menegakkan tulang sulbinya. Jika memang harus memakannya lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk napasnya. (HR Tirmidzi, hadist hasan)

Dikisahkan bahwa Iblis muncul dihadapan Nabi Yahya bin Zakaria alaihimassalam. Beliau bertanya kepada Iblis, “Apakah kamu bisa berbuat sesuatu terhadapku?”

Iblis menjawab, “Tidak, kecuali di suatu malam saat ada makanan yang dihidangkan kepadamu. Lalu aku membuat makanan itu tampak lezat bagimu, sehingga engkau memakannya hingga kenyak, lalu engkau tertidur dan tidak melakukan wirid.”

Maka Nabi Yahya berkata, “Demi Allah, sekali kali aku tidak akan lagi makan hingga kenyang.”

Maka Iblis menyesal dan berkata, “Dan aku demi Allah, sekali kali tidak akan lagi memberi nasehat kepada manusia.”

Banyak Tidur

Diantara hal yang dapat merusak hati adalah banyak tidur. Karena ia dapat membuat badan terasa berat, membuang waktu secara percuma, memunculkan sifat lali dan malas serta hal-hal makruh lainnya.

Sedangkan tidur yang bermanfaat adalah tidur yang diperlukan. Tidur pada awal malam lebih baik dan lebih bermanfaat daripada tidur pada akhir malam. Yang paling banyak bahayanya adalah tidur setelah asar dan pada pagi hari, kecuali jika pada malam harinya digunakan untuk berjaga atau menuntut ilmu.

Yang makruh adalah tidur pagi hari setelah subuh hingga matahari terbit, karena waktu ini memiliki banyak keutamaan. Inilah waktu kuncinya awal siang, waktu turunnya rezeki dan datangnya keberkahan.

** Diringkas dari kitab madarijus salikin baina manazil iyyaka na’budu wa iyya ka nasta’iin dengan sedikit penambahan.