Tawadhu’, Sifat Mulia Orang Beriman

sifat tawadhu

Salikun.com – Tawadhu’, Sifat Mulia Orang Beriman

Sesungguhnya nikmat tawadhu’ adalah salah satu nikmat yang paling mulia dan paling agung yang Allah karuniakan kepada hamba-hambanya. Bagian Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dari akhlak ini adalah bagian yang terbesar. Beliau adalah pemimpin orang-orang tawadhu’. Sampai-sampai Ketika beliau mengabarkan kepada kita tentang kedudukan beliau di sisi Allah beliau mengatakan, “wa laa fakhraa (ini bukan untuk berbangga-bangga)” supaya tidak ada orang yang berprasangka bahwa beliau mengatakan hal itu untuk membanggakan diri.

Beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat, ini bukan untuk berbangga-bangga. Di tanganku ada panji pujian, ini bukan untuk berbangga-bangga. Dan tidak ada seorang Nabi pun pada hari itu, Adam maupun selainnyua melainkan berada di bawah naungan panjiku. Akulah orang pertama yang meminta syadaat dan orang pertama yang syafaatnya diterima, ini bukan untuk berbangga-bangga.” (HR Ahmad dan Tirmidzi, shahih)

Seruan dan Dalil dalam Al Quran

Inilah seruan penuh berkah. Seruan untuk tawadhu adalah seruan yang datang dari atas tujuh langit agar kita membawa hati dan ruh kita untuk hidup berakhlak dengan akhlak yang agung ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala dalam surat Al Furqan ayat 63 tentang sifat ibadurrahman.

Baca juga : Muraqabah, sifat mulia yang menyertai tawadhu’

Begitu pula seruan Allah ta’ala dalam surat Asy Syuara ayat 215,

واخفض جناحك لمن اتبعك من المؤمنين

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.

Dalam surat Al Isra’ ayat 37 juga disebutkan firman Allah, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

Hadist Tentang Sikap Tawadhu

Kekasih kita, Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan umatnya untuk bersikap tawadhu’ demi tersebarnya spirit cinta, saling kasih dan rasa sayang diantara umat Islam.

Beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu hadits,

إن الله أوحى إليّ أنْ تواضعوا؛ حتى لا يفخر أحد على أحد ولا يبغي أحد على أحد

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku, hendaklah kalian bertawadhu’ sehingga seseorang tidak merasa bangga atas orang lain dan tidak berbuat lalim kepada orang lain.” (HR Muslim)

Beliau juga bersabda di waktu yang lain, “Carikan untukku orang-orang yang lemah. Sesungguhnya kalian mendapatkan rezeki dan ditolong itu lantaran adanya orang-orang yang lemah di antara kalian.

Anas radhiyallahu ‘anhu bertutur, “Unta Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama ‘Adhba’ tak terkalahkan larinya. Suatu hari seorang badui datang dengan mengendarai seekor untuk yang masih muda. Unta orang badui itu berhasil mengalahkan ‘Adhba’. Hal itu mengganggu perasaan kaum Musllimin di sekitar Nabi. Mereka berkata, “Adhba’ telah dikalahkan.” Maka Rasulullah bersabda: ”

إن حقا على الله أن لا يرفع شيئا من الدنيا إلا وضعه

Adalah merupakan hak Allah, Dia tidak meninggikan sesuatu dari dunia ini melainkan (ada saatnya) Dia menjatuhkannya.” (HR Bukhari)

Dua Jenis Sifat Tawadhu

Sifat Tawadhu’ yang terpuji ada 2 macam yaitu

Pertama, tawadhu’nya seorang hamba saat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Sesungguhnya nafsu itu cenderung untuk mencari sesautu yang menyamankan. Karenanya ada semacam keinginan untuk berlari dari pelaksanaan ibadah dan ada hasrat untuk mencicipi sesuatu yang dilarang. Maka jika seorang hamba telah memosisikan dirinya pada perintah Allah dan menjauhi laranganNya sungguh dia telah bertawadhu’ untuk beribadah.

Kedua, sifat tawadhu seseorang lantaran menyaksikan keagungan Allah dan ketundukannya menyaksikan kebesaran-Nya. Semakin intens ingatan seseorang tentang keagungan Allah dan kemurkaan-Nya kepada siapa saja yang menentang-Nya maka semakin besar pula ketawadhuannya. Dan inilah puncak dari tawadhu’. Jika tawadhu’ jenis kedua ini terwujud maka tawadhu’ yang pertama juga terwujud, namun tidak berlaku sebaliknya.[1]

permisalan tawadhu merunduk
permisalan tawadhu merunduk seperti padi

Contoh Sikap Tawadhu dari Nabi

Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam adalah penghulu dari orang-orang yang bertawadhu’. Beliau mencontohkan gambaran sikap tawadhu’ dengan tinta emas, supaya semua bisa belajar apa dan bagaimana tawadhu’ yang sebenarnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa Nabi pernah bersabda, “Wahai Aisyah, jika aku mau niscaya gunung-gunung emas akan berjalan bersamaku. Barusan ada malaikat mendatangiku. Sungguh tempat ikat pinggannya sebesar ka’bah. Malaikat itu berkata, ‘Sesungguhnya Rabbmu mengirim salam untukmu. Dia berfirman, ‘Jika kamu mau, maka engkau bisa menjadi nabi sekaligus hamba atau menjadi nabi sekaligus raja.’ Maka aku memandang ke arah Jibril. Dia mengisyaratkan kepadaku supaya aku merendahkan diri. Maka kukatakan, ’(Aku ingin menjadi) Nabi yang sekaligus hamba’.’”

Rasulullah juga pernah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu’anha, “Aku makan sebagaimana seorang hamba makan dan aku duduk sebagaimana duduknya seorang hamba.” (HR Abu Ya’la, shahih)

Abdullah bin Amru bin Ash berkata, “Ada yang memberitahu Rasulullah perihal puasaku, maka beliau mengunjungiku. Kuhamparkan untuk beliau bantal dari kulit yang telah disamak dan diberi sabut. Namun, beliau justru duduk diatas tanah dan jadilah bantal itu diantara kami….” (Muttafaq ‘alaih)

Abu Said al Khudri berpetuah, “Kasihilah orang-orang miskin, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah berdoa dengan kalimat, ‘Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai seorang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin dan kumpulkanlah aku dalam golongan orang-orang miskin pada hari kiamat.’” (HR Tabrani, Ibnu Majah)

Anas pernah melewati sekelompok anak kecil. Dia mengucapkan salam kepada mereka, lalu berkata, “Nabi sallallahu ’alaihi wasallam dahulu juga melakukannya.” (HR Bukhari)

Abu Burdah juga pernah bercerita, “Aisyah pernah mengeluarkan sehelai kain dan sarung yang kasar lantas berkata, ‘Ruh Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dicabut saat beliau mengenakan dua helai kain ini.’” (HR Bukhari Muslim)

Urwah bin Zubair menuturkan bahwa seseorang bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anhuma, “Apakah Rasulullah bekerja saat di rumahnya?” Aisyah menjawab, “Ya Rasulullah memperbaiki sandal beliau, menjahit pakaian dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, seperti salah seorang dari kalian di rumahnya.” (HR Al Baghawi, hadits hasan)

Kata Mutiara dan Contoh dari Para Salaf

Para salaf yang shalih pun telah memberikan teladan terbaik dalam sikap tawadhu’. Mereka hidup Bersama sunnah Nabi dan belajar bagaimana bertawadhu dari penghulunya orang-orang yang tawadhu yaitu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Bakar ash Sidiq bertutur, “Kami mendapati kemurahan di dalam takwa, kekayaan di dalam yakin dan kemuliaan di dalam tawadhu’.”

Ali bin Abi Thalib berkata, “Ada tiga perkara yang merupakan pangkal dari tawadhu’. Mengucapkan salam kepada orang-orang yang ditemui, rela dengan posisi di bawah dalam majelis yang mulia dan tidak menyukai riya’ serta sum’ah.”

Abdullah bin Masud berkata, “Barangsiapa tawadhu’ karena Allah disertai kekhusyuan, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya pada hari Kiamat. Barangsiapa congkak diikuti rasa sombong, niscaya Allah akan menjatuhkan martabatnya pada hari Kiamat.”

Abdullah bin Mubarak berkata, “Pangkal tawadhu adalah kamu posisikan dirimu Bersama orang yang nikmat dunianya lebih rendah daripadamu sampai kamu mengerti bahwa tidak ada keutamaan bagimu atasnya dengan duniamu. Dan kamu posisikan dirimu Bersama orang yang nikmat dunianya lebih tinggi darimu sampai kamu membuatnya mengerti bahwa tidak ada keutamaan baginya atasmu dengan dunianya.”


[1] Ar Ruuh, Ibnul Qayyim al Jauziah