Ukhuwah Islamiyah, Satu Perasaan Antar Orang Beriman

Ukhuwah Islamiyah, Satu Perasaan Antar Orang Beriman

Salikun.com – Ukhuwah Islamiyah, Satu Perasaan Antar Orang Beriman Syarah Hadits Arbain nomer 13. Matan hadits itu adalah sebagai berikut

عن أبي حمزة أنس بن مالكٍ رضي الله عنه خادم رسول الله صلى الله عليه وسلم، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه.

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pelayan Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam, dari Nabi sallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sekilas Isi Hadits 13 Arbain Nawawi, Ukhuwah Islamiyah

Hadits ke 13 dari Arbain Nawawi ini berbicara perihal ukhuwah Islamiyah. Bagaimana seorang muslim dituntut untuk mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri. Rela berkorban untuk membantu orang lain sebagaimana ia berkorban untuk dirinya.

Inilah bentuk kemuliaan islam yang sangat menjunjung tinggi nilai sosial diantara masyarakat. Bentuk cinta itu bisa dengan saling menolong antar mereka, menutupi aib sesama, senang bila saudaranya senang dan sedih ketika yang lainnya sedih.

Baca juga : Marah dan Amarah, Bolehkah Diluapkan ?

Imam an Nawawi dalam syarah shohih Muslim[1], menyebutkan Abu Muhammad bin Abu Zaid al qairuwani[2] berkata

جماع آداب الخير يتفرع من أربعة أحاديث

قول النبي صلى الله عليه وسلم: (من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت) متفق عليه

وقوله صلى الله عليه وسلم: (من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه) رواه الترمذي وغيره

وقوله صلى الله عليه وسلم للذي اختصر له الوصية: (لا تغضب) رواه البخاري

وقوله صلى الله عليه وسلم: (لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه) رواه البخاري

Pusara kebaikan dalam hal adab itu ada di 4 hadits

  • Perkataan Nabi Sallallahu’alaihiwasallam, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR muttafaq ‘alaih)
  • Perkataan Nabi Sallallahu’alaihiwasallam, “Termasuk dari tanda kebaikan seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR Tirmidzi)
  • Perkataan Nabi Sallallahu’alaihiwasallam saat ada yang meminta nasehat kepada beliau, “Jangan marah.” (HR Bukhari)
  • Perkataan Nabi Sallallahu’alaihiwasallam, “Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana cinta terhadap dirinya.” (HR Bukhari)
Ukhuwah Islamiyah, Satu Perasaan Antar Orang Beriman

Perawi Hadits 13 Arbain Nawawi, Biografi Anas bin Malik

عن أبي حمزة أنس بن مالكٍ رضي الله عنه خادم رسول الله صلى الله عليه وسلم

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pelayan Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam,

Perawi hadits ini adalah Abu Hamzah Anas bin Malik bin Nadhr bin Dhomdhom al ansori. Ibunya bernama Ummu Sulaim, wanita shalihah yang cerdas dan sangat perhatian terhadap putra-putranya. Anas bin Malik radhiyallahuanhu dititipkan oleh ibunya untuk menjadi pelayan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, saat berusia 10 tahun. Dan sejak Nabi hijrah ke Madinah, ia terus melayani hingga wafatnya Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam.

Baca juga : Syariat dan Fiqih Apakah Beda ?

Barokah dari melayani Nabi ini, beliau termasuk dari 3 sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, setelah Abu Hurairah dan Ibnu Umar. Anas bin Malik termasuk orang istimewa yang mendapat doa khusus dari Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam

اللهم أكثر ماله وولده وأدخله الجنة

“Ya Allah perbanyaklah baginya harta dan anaknya. Serta masukkanlah ia ke surga.” (HR Turmudzi)

Doa Nabi itu terkabul, dan Anas bin Malik termasuk diantara sahabat yang paling banyak hartanya dikalangan orang Ansor. Bisa bertemu dengan anak dan cucunya yang berjumlah 100 orang lebih. Dan Allah panjangkan umurnya hingga 103 tahun.

Kecintaan kepada Nabi itu terus membekas di hatinya bahkan saat ia akan meninggal dunia. Beliau juga berwasiat agar saat wafat, ia dikuburkan dengan tongkat kecil pemberian Nabi beserta gamis yang ia kenakan.

Ukhuwah Islamiyah, Bukti Kesempurnaan Iman

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

dari Nabi sallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.”

Dalam hadits ini, rosulullah sallallahu’alaihi wasallam mengaitkan antara iman dengan rasa saling cinta dan memperdulikan nasib orang lain. Petunjuk Ini menunjukkan bahwa Islam memerintahkan agar selalu bersatu dibawah tuntunan Iman. Sebab kemaslahatan itu dipandang dari sisi dunia dan ukhrawi.

Ukhuwah Islamiyah, Satu Perasaan Antar Orang Beriman

Pembuktian Iman

Iman itu tidak dinilai dari ucapan dan ungkapan saja, tetapi pembuktian dari iman itulah yang ditangkap juga oleh manusia. Dalam hadits ini disebutkan bahwa iman tidak dianggap kokoh kecuali menjadi manusia baik. Baik terhadap sesama dan saling membantu sebagaimana ia senang memanjakan dirinya.

Mencintai orang lain yang mendapat kebaikan, sebagaimana dirinya senang dengan kebaikan. Benci orang lain mendapat keburukan, sebagaimana dirinya benci akan hal itu. Dan sedih melihat kesengsaraan kaum Muslimin yang tertidas di tempat lain sebagaimana jika ia merasakan itu. Hadirnya perasaan inilah yang menjadi dasar iman yang kuat.

Muadz bin jabal pernah bertanya kepada Nabi tentang iman yang paling afdhal. Maka Rosulullah bersabda

أَنْ تُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ، وَتَكْرَهَ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ، وَأَنْ تَقُولَ خَيْرًا أَوْ تَصْمُتَ

Engkau mencintai (kebaikan) untuk manusia seperti engkau cintai dengannya, dan membenci (keburukan) seperti engkau benci dengan hal itu. Dan hendaklah engkau mengatakan yang baik atau dia. (HR Ahmad, hasan lighairi)

Nabi juga bersabda,

فمَن أحَب أن يُزحزَح عن النار ويدخل الجنة ، فلتأتِه منيَّتُه وهو يؤمن بالله واليوم الآخر، وليأتِ إلى الناس الذي يحب أن يؤتى إليه

“Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, hendaklah ia mengazamkan terus hingga mati dalam keadaan iman pada Allah dan hari akhir. Kemudian hendaklah ia mendatangi manusia yang senang didatangi.” (HR Muslim)

Iman dan Persatuan

Orang yang sempurna imannya adalah yang suka agar masyarakat muslim selalu mendapat kebaikan terus menerus. Seolah ada ikatan hati yang nampak, kebahagiaan saudaranya adalah kebahagiannya dan kesedihannya juga merupakan kesedihan yang lain.

تَرَى المُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالحُمَّى           

“Engkau melihat orang beriman itu dalam kasih sayang mereka, kecintaan mereka dan kelemah lembutan mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota sakit, maka seluruh anggota tubuhnya juga merasa demam dan tak bisa tidur.” (HR Bukhari Muslim)

Hindari Hasad, agar Ukhuwah Islamiyah Menguat

Salah satu yang mempengruhi pudarnya ukhuwah islamiyah adalah saling menghasad satu dengan lainnya. Tidak senang saudaranya muslim mendapat kebaikan dan sebaliknya. Orang yang hasad tak mau orang lain melebihinya, justru ia berangan-angan nikmat orang lain sirna darinya.

Rosulullah bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah.

إيَّاكُمْ وَالظَّن فَإِن الظَّن أكذب الحَدِيث وَلَا تجسسوا وَلَا تنافسوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تباغضوا وَكُونُوا عباد الله إخْوَانًا

Jauhilah oleh kalian prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta perkataan. Janganlah saling memata-matai, jangan saling mendahuli (yang buruk), jangan saling meng hasad dan janganlah saling membenci. Namun jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.


[1] Syarah Shohih Muslim, Imam Nawawi (2/379)

[2] Beliau adalah Imamnya madzhab Maliki di Maroko pada zamannya.

Add a Comment

Your email address will not be published.