Apa itu Ahmadiyah? Mengapa Disesatkan Ulama?

Salikun.com – Apa itu Ahmadiyah? Mengapa Disesatkan Ulama? Berikut ini makalah tentang Ahmadiyah, Sejarah, tokoh dan pokok ajarannya.

Sejarah Kemunculan Ahmadiyah

Ahmadiyah adalah jaamaah yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad, ia lahir pada tahun 1835 M dan wafat pada tahun 1908 M. Pada 1889 M dia mendirikan Ahmadiyah di satu desa yang bernama Qadian di daerah Punjab, India. Dari desa itulah disematkan nama agama Qadian Mirza Ghulam Ahmad. Ia mengaku sebagai Mujaddid, Al Masih dan Al Mahdi.[1]

Baca juga : Ibnu Umar Sebut Khawarij Seburuk-buruk Makhluk

Aliran Ahmadiyah masuk ke Indonesia pada tahun 1935, tapi mereka mengklaim diri telah masuk ke negeri ini sejak tahun 1925 M. Dan saat ini sudah mempunyai 300 cabang, terutama di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Barat, Palembang, Bengkulu, Bali, NTB, dan lainnya.[2]

Pusatnya sekarang di Parung Bogor, Jawa Barat, dan telah mempunyai gedung yang mewah. Perumahan para pimpinan/pegawainya berada di atas tanah seluas 15 Ha. Dan terletak di pinggir jalan Raya Jakarta-Bogor melalui Parung.

Jemaat Ahmadiyah Internasional juga telah menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa dunia dan sedang merampungkan penerjemahan Al Quran ke dalam 100 bahasa di dunia. Sedangkan Jemaat mereka yang ada di Indonesia telah menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Indonesia, sunda dan jawa.

Jemaat Ahmadiyah telah memiliki media jaringan televisi global yang bernama MTA (Muslim Television Ahmadiyah) Internasional. Proyek ini dirintis oleh Khalifah mereka yang keempat, Mirza Tahir Ahmad yang mengudara 24 jam dalam beberapa bahasa di dunia. Layanan ini diberikan tanpa memungut biaya. Jemaat mereka telah menyebar ke lebih dari 170 negara di dunia dan populasinya diperkirakan sudah mencapai 80 juta manusia yang telah berbaiat ke dalam jemaat pada tahun 2001.

Terdapat 2 kelompok Ahmadiyah dan keduanya sama-saa mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Al Masih yang dijanjikan oleh Nabi Muhammad. Akan tetapi 2 kelompok tersebut memiliki perbedaan prinsip, yang kemudian dikenal dengan Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore. Sebab perpecahan jemaat tersebut karena perbedaan pandangan.

Menurut Ahmadiyah Qadian bahwa perpecahan mereka karena ketidaksetujuan tokoh Ahmadiyah terhadap pengangkatan Khalifah II, yaitu Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad. Diantaranya Mualvi Muhammad Ali dan Khawajah Kamaluddin. Mereka menghendaki Muhammad Ali menjadi Khalifah Masih II, namun dalam pemilihan khalifah tersebut mereka hanya memperoleh dukungan suara sedikit (minoritas). Karena kekalahan itu, akhirnya mereka memisahkan diri dan pindah ke Lahore dengan membentuk gerakan di bawah pimpinan Mualvi Muhammad Ali, yang diberi nama Anjuman Ishaat Islam.

Menurut kalangan Islam Ahmadiyah Lahore bahwa perpecahan Jemaatnya adalah karena perbedaan pendapat tentang ketokohan Mirza Ghulam Ahmad. Dalam pandangan mereka, Mirza Ghulam Ahmad adalah Mujaddid (pembaharu) dan bukan Nab sebagaimana yang diyakini Jemaat Qodian.

Sekalipin demikian sepertu yang dikatakan Syafii Batuan bahwa sebelum tahun 1914 keyakinan Muhammad Ali dan Khawajah Kamaluddin tetap sama dengan orang Ahmadiyah lain, tentang kenabian dan kerasulan Mirza Ghulam Ahmad.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) berdiri pada tahun 1925. Sedangkan Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia (GAI) berdiri pada tanggal 28 September 1929.

Pendiri Ahmadiyah

Mirza Ghulam Ahmad lahir pada Jumat 15 Februari 1835 dan meninggal pada 26 Mei 1908 di Lahore dan dikuburkan di Qodian India. Di referensi lain kebanyakan menyebutkan kelahiran Mirza Ghulam pada tahun 1839 M.[3] Nabi Mirza oleh kalangan mereka disejajarkan dengan Nabi Isa, Nabi Musa alaihissalam, Nabi Daud alihissalam. Maka dibelakang tulisannya ada gelar juda yaitu Mirza Ghulam Ahmad alaihissalam.

Dr. Muhammad Iqbal, seorang penyair terkenal yang hidup di daerah Mirza Ghulam Ahmad mengatakan, Qadianisme satu organisasi yang berusaha meniptakan golongan baru berdasar kenabian untuk menyaingi kenabian Muhammad.[4]

Ajaran Ahmadiyah muncul pada 23 Maret 1889M di sebuah kota yang bernama Ludhianan di Punjab India, negeri ini oleh Jamaah mereka disebut “Darul Baiat”.[5] Mirza Ghulam Ahmad mengaku berasal dari orang asli yang terhormat, keturunan Persia dan keturunanan Fathimah binti Muhammad dari Ahlul Bait Nabi. Padahal sesungguhnya ia lahir dari keluarga pengkhianat agama dan hidupnya dihabiskan untuk mengabid kepada penjajah Inggris.

ahmadiyah

Tokoh Ahmadiyah

Menurut Jemaat Ahmadiyah bahwa khalifah atau jabatan kekhilafahan harus tetap ada hingga hari kiamat. Dan setelah Mirza Ghulam Ahmad meninggal dunia tahun 1908, kepemimpinannya dilanjutkan oleh orang-orang berikut

  • Hadrat Hakim Maulanan Nuruddin, khalifah Masih I pada 1908-1914
  • Hadrat Alhaj Mirza Basiruddin Mahmood Ahmad, khalifah Masih kedua pada 1914-1965
  • Hadrat Hafiz Mirza Nasir Ahmad, Khalifah Masih III pada tahun 1965-1982.
  • Hadrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifah Masih IV pada tahun 1982-2003.
  • Hadrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifah Masih V pada 2003[6]

Adapun faham Ahmadihyah Lahore tidak mengenal khalifah sebagai pemimpin, akan tetapi seorang Amirlah sebagai pemimpin mereka yaitu antara lain Maulanan Muhammad Ali MA, Maulana Sadruddin, Dr Saed Ahmad Khan, Prof Dr Ashhar Hamid Ph.D, Prof Dr Abdul Karim Saeed.[7]

Ciri Pokok Ajaran dan Kesesatannya

  • Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya Nabi dan Rasul utusan Tuhan.
  • Mirza Ghulam Ahmad mengaku menerima wahyu yang turunnya di India, kemudian wahyu itu dikumpulkan seluruhnya sehingga merupakan kitab suci dan mereka beri nama dengan kitab suci Tadzkirah. Isi kitab Ahmadiyah ini banyak yang bertentangan dengan Al Quran dan memutar balikkan ayat Al Quran. Ayat yang awal di putar ke belakang, ayat yang satu disambung dengan ayat yang lain, sesuai dengan ketentuan Nabi India itu.
  • Mereka meyakini kitab Tadzkirah sama sucinya dengan AL Quran, karena keduanya diturunkan oleh Tuhan
  • Wahyu tetap turun hingga hari kiamat begitu juga dengan Nabi dan Rasul juga diutus hingga hari kiamat juga.
  • Mereka mempunyai tempat suci sendiri yaitu Qadian dan Rabwah serta Mirza tidak pergi Haji ke Mekkah.
  • Mereka mempunyai surga sendiri yang letaknya di Qadian dan Rabwah dan ada sertifikat kapling surga yang dijual kepada jamaahnya dengan harga yang mahal.
  • Wanita Ahmadiyah haram menikahi wanita di luar Ahmadiyah. Tetapi laki-lakinya boleh menikah dengan perempuan yang bukan kelompoknya.
  • Tata cara sholat Ahmadiyah adalah mereka tidak boleh bermakmum di belakang orang yang bukan kelompok mereka.
  • Mereka mempunyai tanggal, bulan dan tahun sendiri yaitu nama bulan mereka adalah 1. Suluh, 2. Tabligh, 3. Aman, 4. Syahadah, 5. Hijrah, 6. Ihsan, 7. Wafa’, 8. Zuhur, 9. Tabuk, 10. Ikha’, 11. Nubuwah, 12. Fatah. Sedang nama tahun mereka adalah Hijri Syamsi (HS).

Perkembangannya

Jemaat Ahmadiyah adalah satu organisasi keagamaan Internasional yang telah tersebar ke lebih dari 195 negara di dunia seperti Afrika, Amerika, Asia, Australia dan Eropa. Saat ini jumlah keanggotaannya di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang. Namun demikian

  • Di Pakistan, parlemen telah mendeklarasikan pengikut Ahmadiyah sebagai non-muslim. Sebab pada tahun 1974 pemerintah Pakistan telah merevisi konstitusinya tentang definisi Muslim, yaitu orang yang meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir. Penganut faham ini masih dibolehkan menjalankan kepercayaan mereka di Pakistan, namun harus mengaku sebagai agama tersendiri di luar Islam.
  • Adapun Ahmadiyah di Indonesia, maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan bahwa Ahmadiyah sebagai aliran sesat semenjak tahun 1980 M, lalu ditegaskan kembali pada fatwa MUI yang dikeluarkan tahun 2005.
  • Di Malaysia dan Brunei Darussalam, Ahmadiyah telah resmi dilarang oleh negara.

NB : Disadur dari buku berjudul Dirasatul Firaq, Mengenal Madzhab Teologi Islam Klasik dan Aliran Sesat Modern di Indonesia. Oleh Tim Ulin Nuha Mahad Aly An Nur.


[1] Ahmadiyah dan Pembajakan Al Quran halaman 196

[2] Capita Selekta halaman 30

[3] Gerakan Keagamaan dan Pemikiran halaman 301

[4] Capita selekta

[5] Ahmadiyah Kepercayaan halaman 11

[6] Mengenal Ajaran halaman 92

[7] Gerakan Keagamaan dan Pemkiran halaman 301