Aliran Jabariyah dan Qadariyah, Apa Itu?

Salikun.com – Makalah tentang Aliran Jabariyah dan Qadariyah; Pengertian, Perbedaan, Sejarah, Tokoh dan Pemikirannya

Jabariyah

Pengertian Jabariyah

Menurut bahasa kata Jabariyah berasal dari akar kata jabara yang mengandung arti memaksa. Sedangkan menurut istilah, Jabariyah adalah suatu aliran atau paham yang berpendapat bahwa manusia itu di dalam perbuatan terpaksa (majbur) artinya perbuatan manusia itu pada hakikatnya adalah perbuatan Allah azza wa jalla.[1]

Menurut Imam Abdul Karim As Syahrastani, Aliran Jabariyah adalah menghilangkan perbuatan hamba secara hakikat dan menyandarkan perbuatan tersebut hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.

Dalam istilah bahasa Inggris paham Jabariyah disebut juga sebagai Fatalism atau Predestination¸ yaitu paham yang menyatakan bahwa perbuatan manusia telah ditentukan sejak semula oleh qada dan qadar Allah ta’ala.[2]

Dari pengertian aliran Jabariyah diatas, maka manusia betul-betul tidak mempunyai kemerdekaan hakiki dalam menentukan kehendak dan melakukan perbuatan, tetapi apa yang dilakukan manusia itu tak lain adalah sebuah paksaan.[3]

Baca juga : Khawarij, Aliran yang Menganggap Pelaku Dosa Besar itu Kafir

Sejarah Aliran Jabariyah

Paham Jabariyah pertama kali diperkenalkan oleh Ja’d bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm bin Shafwan dari Khurasan. Dalam perkembangan selanjutnya paham Jabariyah juga dikembangkan oleh tokoh lainnya seperti Al Husain bin Muhammad an Najjar dan Dhirar bin Amr.

Mengenai kemunculan paham Al-Jabar ini, para ahli sejarah pemikiran mengkajinya melalui pendekatan geokultural bangsa Arab. Diantara ahli yanf dimaksud adalah Ahmad Amin. Ia menggambarkan bahwa kehidupan bangsa Arab yang dikungkung oleh gurun pasir Sahara memberikan pengaruh besar ke dalam cara hidup mereka. Ketergantungan mereka kepada alam Sahara yang ganas telah memunculkan sikap penyerahan diri terhadap alam begitu besar.

Dalam situasi yang demikian masyarakat Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginannya sendiri. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Akhirnya mereka banyak bergantung pada kehendak alam. Hal ini membawa mereka kepada sikap fatalism.

Namun, sebenarnya munculnya perdebatan takdir hingga tumbuhnya benih faham Jabariyah ini sudah muncul sejak zaman nabi, yaitu dapat terlihat dalam peristiwa sejarah berikut ini.

  1. Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah takdir Allah. Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut, agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat takdir.
  2. Khalifah Umar bin Khattab pernah menangkap seseorang yang ketahuan mencuri. “Allah telah menentukan aku untuk mencuri”. Mendengar ucapan itu, Umar langsung marah dan menganggap orang itu telah berdusta kepada Allah. Maka Umar menghukumnya dengan 2 jenis hukuman. Pertama, hukuman potong tangan karena mencuri. Kedua, hukuman cambuk karena menggunakan dalil takdir untuk membenarkan perbuatan buruknya.[4]
  3. Khalifah Ali bin Abi Thalib sesai perang Siffin ditanya oleh seorang tua tentang qadar Allah terkait pahala dan siksa. Orang tua tersebut bertanya, “Bila perjalanan (menuju perang siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Allah maka tak ada pahala sebagai balasannya.” Maka Ali menjawab bahwa qadha dan qadar bukanlah paksaan Allah. Ada pahala dan siksa sebagai balasan amal perbuatan manusia. Sekiranya qadha dan qadar itu merupakan paksaan, maka batallah pahala dan siksa, gugur pulalah janji dan ancaman Allah, serta tidak ada celaan Allah atas pelaku dosa dan pujiannya bagi orang yang baik.[5]
  4. Pada pemerintahan Daulah Bani Umayyah, pandangan tentang Al Jabar semakin mencuat ke permukaan.  Yaitu pada masa Abdullah bin Abbas melalui suratnya, memberikan reaksi keras kepada penduduk Syria yang diduga berpaham Jabariyah.[6]

Dari fase penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa bibit paham Jabariyah telah muncul pada periode awal Islam. Tetapi baru dipelajari dan bahkan menjadi sebuah ideologi pada masa pemerintahan Daulah Bani Umayyah.

Diantara sumber pegangan aliran Jabariyah adalah sejumlah ayat Al Quran berikut ini

  • Surat Ash Saffat ayat 96
  • Surat Al Anam ayat 111
  • Surat Al Anfal ayat 17
  • Surat Al Insan ayat 30
  • Surat Al Hadid 22

Mereka keliru dalam memahami ayat Al Quran tersebut, sebab tidak mengkompromikan dengan ayat dan hadits yang lainnya.

jabariyah

Tokoh-Tokoh Jabariyah dan Alirannya

Menurut Abdul Karim As Syahrastani dalam buku AL Milal wa Nihal paham Jabariyah terbagi menjadi 2 bentuk. Yaitu paham Jabariyah ekstrem dan paham Jabariyah yang lebih moderat.

Diantara tokoh dari paham aliran Jabariyah ekstrem atau al Jabariyah al Khalish adalah

  • Jahm bin Shofwan

Jahm bin Shofwan adalah orang Khurasan yang kemudian tinggal di kota Kuffah. Ia seorang orator sekaligus sebagai sekertaris Harits bin Surais, seorang mawali yang menentang pemerintahan Bani Umayah di Khurasan.

Jahm bin Sofwan inilah orang yang disebut-sebut sebagai pendiri kelompok Jabariyah.

Saat memberontak kepada Bani Umayyah, Jahm dan beberapa kawannya berhasil ditangkap dan dibunuh pada tahun 131 H oleh pemerintah Bani Umayyah.

  • Ja’ad bin Dirham

Ja’ad bin Dirham adalah orang Damaskus Syria. Ia adalah seorang muslim yang dibesarkan dalam lingkungan orang Kristen yang senang membicarakan persoalan Teologi.

Semula ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan Pemerintahan Bani Umayyah tetapi setelah nampak pemikirannya yang kontrofersial maka Bani Umayyah mengeluarkannya. Kemudai Al Ja’ad bin Dirham lari ke Kufah dan di sana bertemu dengan Jahm bin Shofwan. Darinyalah ia banyak belajar ilmu kalam dan menjadi kepercayaan Jahm bin Shofwan.

Dalam paham Jabariyah yang eksterm ini mengatakan bahwa manusia dipandang tidak mempunyai kemampuan, kehendak dan hak memilih. Karena seluruh tindakannya tidak terlepas dari aturan, skenario dan kehendak Allah. Tindakan baik dan buruk manusia adalah berasal dari Allah.

Faham kemutlakan bahwa manusia mutlak diatur Allah dan tidak memiliki kehendak untuk memilih ini, maka memiliki konskuensi bahwa dosa manusia pun atas kehendak Allah dan seolah Allah tidak adil jika ia menyiksa pelaku dosa tersebut.

Seiring perkembangan waktu, Jabariyah menjadi lebih moderat (al jabariyah al mutawasith) dengan dikembangkannya golongan ini oleh 2 tokoh selanjutnya.

  • Husain bin Muhammad an Najjar

Ia adalah tokoh dan penerus golongan Jabariyah. Ia wafat pada tahun 230 H.

  • Dhirar bin Amr

Ia adalah tokoh Jabariyah yang sering disebut sebagai Ad Dhirar. Dalam paham Jabariyah moderat ini mengatakan bahwa Allah lah yang mencipatak perbuatan manusia baik itu perbuatan yang positif ataupun negatif. Tetapi dalam melakukan perbuatan itu manusia mempunyai bagian.

Daya yang diciptakan dalam diri manusia oleh Allah mempunyai efek sehingga manusia mampu melakukan perbuatan tersebut.

Letak perbedaan dan kesalahan Jabariyah al Mutawasith ini adalah masih menetapkan kemampuan pada manusia tetapi qudrat (kemampuan) itu tidak mempunyai efek atas perbuatannya alias tetap dari Allah.

Kaum Jabariyah Moderat ini juga berpemahaman bahwa perbuatan manusia itu seolah dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu Allah sendiri dan manusia sendiri secara bersamaan. Jadi ada 2 pelaku dalam 1 perbuatan manusia.

Kaum Jabariyah periode kedua ini dalam masalah takdir dan kasb hampir mirip dengan pemahaman ahlussunnah wal jamaah, sehingga mereka disebut sebagai Jabariyah Mutawasith.

Adapun Ahlussunnah wal jamaah berpemahaman mengimani taqdir Allah yang baik dan buruk. Manusia bisa memilih antara iman dan kafir tetapi masing-masing memiliki konskuensi seperti yang Allah janjikan dan ancamkan. Mereka mengimani adanya balasan yang baik dan buruk serta tempat setelahnya berupa surga atau neraka. Dan Allah adalah maha adil dan sama sekali tidak mendzalimi manusia.

Doktrin dan Ajaran Jabariyah

Diantara ajaran Jabariyah adalah

  1. Manusia tidak mempunyai kemampuan, kehendak dan hak memilih untuk berbuat. Hal ini karena seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak terlepas dari aturan, skenario, dan kehendak Allah.[7]
  2. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa karena ia tidak punya daya sendiri, kehendak dan pilihan pribadi. Tetapi perbuatan itu dipaksakan oleh sang Khaliq atas dirinya. Oleh karena itu manusia dikatakan berbuat bukan dalam arti yang sebenarnya, tetapi dalam arti majazi atau kiasan. Ibaratnya manusia hanyalah wayang yang digerakkan saja dan tidak bisa memilih.
  3. Surga dan neraka tidaklah kekal sebab semua itu adalah makhluk, sementara yang kekal hanya Allah saja.
  4. Iman adalah ma’rifat dan hanya pembenaran dalam hati saja, tanpa perbuatan.
  5. Al Quran adalah makhluk, karena Allah Maha Suci dari segala sifat dan keseruapaan manusia seperti berbicara mendengar dan melihat. Sebab selain Allah adalah makhluk
  6. Allah tidak dapat dilihat di akhirat dengan indra mata manusia.
qadariah kemampuan

Qadariyah

Pengertian Qadariyah

Qadariyah berasal dari akar kata bahasa arab yaitu qadara yang artinya kemampuan dan kekuatan.[8] Adapun menurut isitilah Aliran Qadariyah adalah ajaran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan alias semua perbuatan manusia itu mutlak dari manusia sendiri.

Kaum Qadariyah memahami bahwa perbuatan manusia itu dibuat oleh manusia sendiri, ia bisa berbuat atau meninggalkan perbuatannya itu atas kehendaknya sendiri. Jadi, kebebasan berbuat itu adalah wujud mutlak dari manusia sendiri tanpa ada campur tangan Tuhan.

Dalam buku Teologi Islam, Harun Nasution menegaskan bahwa Kaum Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunya qudroh  (kemampuan) untuk melaksanakan kehendak dan bukan dari Tuhan. Maka dalam hal ini mereka berkebalikan dengan pemahaman aliran Jabariyah.

Para pengikut Qadariyah sebenarnya tidak senang disebut sebagai kaum Qadariyah. Mereka menamakan dirinya Ahli Adil wat Tauhid.

Adil yang mereka maksud adalah karena mereka tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa Allah menakdirkan orang berbuat dosa lalu Allah menyiksa orang itu. Namun yang adil adalah manusia bebas berkuasa penuh atas perbuatannya.

Adapun tauhid yang dimaksud adalah menganggap bahwa Allah itu Esa, satu tanpa ditambah sifat apa-apa. Sebab menurut mereka jika Allah memiliki sifat maka Allah itu tidak Esa lagi, karena mereka memahami sifat itu adalah makhluk yang berbeda dengan Khaliq. Apalagi jigak dikatakan bahwa Allah itu Qadim, sebab jika demikian kata mereka sifat Allah itu sama dengan ZatNya sendiri.

Sejarah Aliran Qadariyah

Para Ulama’ Ahli teologi berbeda pendapat mengenai sejarah awal kemunculan kelompok ini.

Menurut Ahmad Amin, sebagian ahli sejarah aqidah menyebut bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad al Juhani dan Ghilan ad Dimasyqi. Ma’bad adalah seorang yang pada awalnya berguru kepada Hasan al Bashri. Adapun Ghilan adalah seorang orator yang berasal dari Damaskus dan ayahnya menjadi maula Utsman bin Affan.

Sementara menurut Ibnu Nabatah dalam Syarh al Uyun menjelaskan bahwa yang pertama kali memunculkan paham Qadariyah adalah orang Irak yang semula beragama Kristen kemudian masuk Islam dan balik lagi ke agama Kristen. Dari orang inilah Ma’bad dan Ghilan mengambil paham.

Berbeda lagi dengan Abu Zahra dalam Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam menyebut bahwa pada masa akhir pemerintahan Khulafaur Rasyidin dan masa pemerintahan Bani Umayyah, kaum Muslimin membincangkan masalah Qada dan Qadar. Sebagian mereka yaitu penganut paham Jabbariyah menafikan adanya kehendak manusia dalam melakukan perbuatannya. Sebagian lagi berpaham Qadariyah yang meyakini perbuatan manusia adalah kehendak sendiri dan semuanya terlepas dari kehendak Allah.

perbedaan qadariyah jabariyah

Tokoh Qadariyah

Tokoh utama dari Qadariyah adalah Ma’bad al Juhani dan Ghailan al Dimasyqi. Kedua tokoh inilah yang disebut-sebut pertama kali mempersialkan tentang Qadar. Semasa hidupnya, Ma’bad pernah berguru dengan Hasan al Bashri, sebagaimana Washil bin Atha’, tokoh Mu’tazilah. Sedangkan Ghailan, semula tinggal di Damaskus. Ia seorang ahli pidato sehingga banyak orang yang tertarik dengan kata-kata dan pendapatnya.

Kedua tokoh Qadariyah ini mati terbunuh saat masa pemerintahan Bani Umayyah. Ma’bad al Juhani terbunuh dalam pertempuran melawan Gubernur Bani Umayyah tahun 80. Dalam dunia politik, ia mendukung Gubernur Sajistan Abdurrahman Al Asyat yang terus memusuhi Bani Umayyah.

Sedangkan Ghailan al Dimasyqi dihukum mati pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik (105-125H). Hukuman mati itu dijatuhkan kepadanya karena terus menyebarkan paham Qadariyah yang juga bersinggungan dengan pemerintah setempat. Bahkan sejak masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ia telah lama menyebarkan pemikirannya ini, sehingga Umar menekannya. Namun ia tetap menyiarkan aliran ini hingga Umar bin Abdul Aziz wafat dan digantikan oleh Yazid II. Baru pada masa Hisyam bin Abdul Malik, kegiatan Ghilan terhenti dengan eksekusi hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya.


Doktrin Ajaran Qadariyah

Diantara doktri pemikiran Qadariyah yang menyimpang adalah sebagai berikut.

  • Allah tidak menciptakan amal perbuatan manusia. Manusia sendirilah yang menciptakan segala amal perbuatannya dan oleh karenanya manusia akan memperoleh balasan baik berupa surga dari hasil amalan baiknya. Begitu pula dengan perbuatan buruk yang mengarah kepada Neraka, itu mutlak usaha manusia.
  • Kaum Qadariyah mengatakan bahwa Allah itu Esa dalam arti Allah tidak memiliki sifat-sifat Azali seperti ilmu, qudroh, hayat, mendengar dan melihat. Sebab menurut mereka sifat itu adalah makhluk, jadi jika mengatakan bahwa Allah itu memiliki sifat berkonskuensi bahwa Allah bersekutu atau sejajar dengan makhluk.
  • Kaum Qadariyah berpendapat bahwa akal manusia mampu mengetahui mana yang baik dan buruk walaupun Allah tidak menurunkan agama kepada mereka. Sebab, segala sesuatu memiliki sifat yang menyebabkan baik dan buruk.
  • Orang yang berdosa besar itu tidak kafir dan tidak mukmin, tetapi mereka fasik dan kekal di neraka. Pemahaman ini mirip-mirip dengan pemahaman Mu’tazilah.

Diantara ayat-ayat yang ditafsirkan mereka untuk mendukung pemahamannya ini adalah

  • Ali Imran 165
  • An Nisa’ 111
  • Ar Ra’ad 11
  • Al Kahfi 29

Perbedaan Qadariyah dan Jabariyah

Diantara perbedaan antara Qadariyah dengan Jabariyah adalah sebagai berikut

  • Pendiri aliran ini berbeda. Qadariyah diinisiasi oleh Ma’bad al Juhani sementara Jabariyah dipelopori oleh Jahm bin Sofwan. Keduanya muncul pada abad 2 H.
  • Qadariyah memahami bahwa perbuatan manusia itu mutlak dari manusia, sedangkan Jabariyah menyebut bahwa perbuatan manusia itu mutlak dari Allah ‘azza wa jalla.

Persamaan Qadariyah dan Jabariyah

  • Qadariyah dan Jabariyah adalah aliran yang sama-sama ekstrem dalam memahami qada dan qadarnya Allah.
  • Keduanya menyebarkan aliran sesat yang bersebrangan dengan pemahaman Ahlussunnah wal jamaah.
  • Keduanya sama-sama memusuhi Bani Umayyah meskipun dengan motif yang berbeda.
  • Keduanya muncul pada abad kedua hijriah, dan berusahan mengumpulkan masa untuk mendukung pemikirannya.

[1] Taib Abdul Muin dalam buku Ilmu Kalam

[2] Abudin Nata dalam buku Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf

[3] ibid

[4] Ali Mustafa Al Ghurabi dalam Tarikh Al Firaq al Islamiyah

[5] ibid

[6] Hawaidy dalam Dirasat fi Ilmi Kalam wal Falsafah Al Islamiyah

[7] Al Amidi dalam Ghayatul Maram fi Ilmil Kalam

[8] Luwis Ma’luf dalam Al Munjid