Aliran Khawarij, Pengertian, Sejarah dan Cirinya

aliran khawarij

Salikun.com – Makalah tentang Aliran Khawarij, Pengertian, Sejarah dan Cirinya

Pengertian Khawarij

Khawarij (bahasa arab : خوارج ) secara bahasa artinya yaitu mereka yang keluar. Khowarij adalah jama’ dari kata khorij yang berarti keluar. Secara etimologi sejarah, kaum Khawarij adalah aliran sesat dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu lalu menolaknya.

Namun realitanya tidaklah harus pas seperti pengertian diatas, sebab tidak semua yang keluar dari pemerintahan Ali disebut Khawarij seperti kelompok Muawiyah bin Abu Sofyan radhiyallahu anhum yang menuntut balas atas pembunuhan khalifah Utsman bin Affan.

Jika demikian lalu apa itu Golongan Khawarij ?

Penamaan khawarij lebih kepada kelompok yang membawa aliran aqidah dan mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar termasuk yang menerima tahkim (arbitrase) antara kelompok sahabat Ali dan sahabat Muawiyah.

Sejarah keluarnya mereka dari pemimpin kaum muslimin yaitu pada zaman Amirul Mukminin Al Khalifatur Rasyid Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika terjadi tahkum (musyawarah 2 utusan). Mereka berkumpul di suatu tempat yang disebut Haura (suatu tempat di daerah Kufah) di daerah yang saat ini ada di Irak Selatan. Oleh sebab itulah kaum khawarij masa itu juga disebut sebagai Al Haruriyah.

Sejarah Khawarij

Para ahli sejarah Islam berbeda pendapat tentang awal munculnya kaum Khawarij, diantara mereka ada yang mengatakan bahwa khawarij telah muncul pada masa Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam yaitu ketika berdirinya Dzul Khuwaisirah untuk menentang dan mengomentari pembagian ghanimah (harta rampasan perang) yang dilakukan oleh Nabi. Dzul Khuwaishirah mengatakan bahwa beliau tidak adil.

Namun, menurut ahli sejarah perbuatan Dzul Khuwaisirah ini tidaklah disebut sebagai firqah khawarij yang berarti kaum khawarij sebab dilakukan sendirian, tetapi bisa dikatakan benih khawarij telah ada pada zaman Nabi melalui diri Dzul Khuwaisiroh. Inilah pendapat dari Ibnu Hazm al dzahiri dan Ibnul Jauzi al hanbali, serta beberapa ulama lain.

Sedangkan pendapat yang dirajihkan dalam hal ini bahwa terbentuknya kelompok khawarij ada pada peristiwa tahkim (arbitrase) antara sahabat Ali bin Abi Thalib dan sahabat Muawiyah bin Abi Sofyan.

Berikut sejarah lengkapnya, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber kutipan.

Pada tahun 37 H Muawiyah, Gubernur Syria melakukan perlawanan terhadap Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Ijtihad perlawanan itu timbul dalam suasana berkabung dan emosi yang meletup-letup karena pembunuhan terhadap Utsman bin Affan.

Pada saat itu, Ali mengeluarkan keputusan pemecatan yang dianggap kurang pas, oleh sebagian sahabat ,karena saat suasana sedang keruh. Yaitu pemecatan terhadap Muawiyah bin Abi Sofyan dari jabatan Gubernur Syria. Dengan dipecatnya Muawiyah, maka kelompok Muawiyah memiliki alasan untuk melawan Ali. Alasan itu adalah menuntut balas atas kematian si pembunuh Utsman dan pemecatan secara sepihak Gubernur Syria yang sangat dicintai rakyatnya yaitu Muawiyah.

Sebelum peperangan meletus, Ali sudah mengirim Jarir bin Abdillah al Bajuli untuk melakukan perundingan dengan Muawiyah bin Abi Sofyan. Tapi perundingan itu tidak berhasil mencegah peperangan karena tuntutan Muawiyah dinilai terlalu berat, sementara pemerintahan Ali belum stabil. Tuntutan itu adalah

  1. Ekstradisi dan penghukuman berat terhadap para pelaku pembunuhan Amirul Mukminin Utsman bin Affan.
  2. Pengunduran diri Ali bin Abi Thalib dari jabatan khilafah dan kemudian dibentuk sebuah syura untuk memilih kholifah yang baru.

Karena tidak berhasil, Ali berusaha lagi mengutus juru runding dari pihaknya kepada Muawiyah. Mereka yang dikirim oleh Ali adalah Syabats bin Aibi at Tamimi, Ali bin Hatim at Thai, Yazid bin Qais dan Ziyad bin Khasafah at Tamimi. Namun sekali lagi perundingan itu gagal.

Kemudian setelah peristiwa perundingan yang gagal itu, pecahlah perang Siffin antara sahabat Ali dengan sahabat Muawiyah. Kedua kubu saling serang hingga berjatuhan korban dari kedua belah pihak. Ketika perang tengah berkecamuk itu akhirnya sahabat Amru bin Ash dari kelompok Muawiyah mengangkat lembaran mushaf Al Quran sebagai isyarat perdamaian antara 2 kelompok (tahkim). Dan akhirnya peperangan terhenti.

Amru bin Ash telah memprediksi bahwa tahkim ini akan diterima oleh sebagian kelompok Ali dan ditolak oleh sebagian mereka. Dan ternyata benar, sebagian mereka menerima namun Ali sendiri sebenarnya menolak, sebab bisa jadi itu adalah bagian dari taktik berperang Muawiyah bin Abi Sofyan.

Sebagian kelompok Ali mengatakan, bukankah mereka mengajak kembali kepada kitabullah, lalu mengapa kita menolak? Maka Ali menjawab, saya memerangi mereka agar tunduk kepada kitabullah, sebab mereka telah menentang perintah Allah. Lalu kemudian muncul ancaman dari sebagain kelompok Ali kepada Ali sendiri yang akan memperlakukan Ali seperti Utsman bin Affan. Mereka yang mengancam itu adalah Mis’ar al Fadki, Zaid bin Husain at Thai serta beberapa orang lainnya.

Setelah kejadian itu, Ali terpaksa mengikuti kehendak sebagain orang dari barisannya tersebut. Al Asyats bin Qais kemudian menawarkan kepada Ali agar dirinya menanyakan maksud Muawiyah mengangkat AL Quran tersebut, dan Ali menyetujuinya.

Muawiyah mengatakan, marilah kita kembali kepada apa yang diperintahkan oleh Allah dalam Al Quran. Kalian utuslah seseorang yang kalian sukai, dan aku juga mengutus seseorang yang aku sukai untuk berunding berdasar kitabullah, kemudian mari kita sepakati hasilnya.

Maka kemudian dari kubu Muawiyah mereka mengutus Amru bin Ash sebagai juru runding mereka. Sementara dari Ali timbul perdebatan antara kelompok yang memaksakan kehendak di awal kepada Ali dengan Ali sendiri. Mereka yang memaksa itu mengusulkan Abu Musa al Asyari sebagai juru runding, padahal Ali menginginkan Abdullah bin Abbas atau Malik al Asytar. Tapi sekali lagi, Ali mengalah kepada orang yang memaksanya itu.

Sebagai catatan, Abu Musa adalah tokoh yang sudah terlibat dalam fase pertama pembebasan Irak baik sebagai jenderal maupun gubernur Irak saat itu. Beliau juga pernah bersebrangan dengan kebijakan Utsman namun justru disukai oleh rakyat Kufah dan akhirnya mendominasi dari gubernur tunjukan Utsman, Said bin Ash. Namun demikian, sebenarnya Ali meragukan loyalitas Abu Musa di barisannya karena Ali sendiri pernah memecat Abu Musa dari jabatannya. Kemudian pada saat itu Abu Musa tidak ada dalam pasukan Ali sebab ia ingin menyendiri di Makkah. Setelah utusan memeberi tahu bahwa dia dipilih sebagai hakam dalam kelompok Ali, maka Abu Musa berkomentar, Inna lillahi wa inna ilaihi roojiun. Tidak diketahui apa maksud dari ucapan Abu Musa pada saat itu. Ringkasnya Abu Musa sangat kenal daerah Irak dan Amru kenal dengan Syria.

Menurut sebagian pakar sejarah Islam, perundingan antara keduabelah pihak itu terjadi di Daumatul Jandal dan berlangsung cukup lama sekitar 6 bulan. Mulai bulan Shafar hingga Ramadhan 37 H. tidak diketahui apa saja yang dirundingkan dalam waktu yang lama tersebut. Namun diantara yang terungkap adalah keberhasilan pihak Amru meyakinkan Abu Musa bahwa Muawiyah sebagai wali Utsman paling berhak dibanding siapun untuk menuntut balas kematian Utsman bin Affan.

Setelah itu, Amru membahas dalam kelompok Ali terdapat para pembunuh Utsman sehingga nampak seolah Ali melindungi mereka. Namun hal itu tidak ditanggapi oleh Abu Musa, justru beliau mengatakan kepada Amru agar membahas hal-hal yang membuat umat Islam menjadi bersatu. Abu Musa mengatakan kepada Amru, Engkau tahu bahwa penduduk Irak (ibukota khilafah islamiyah) tidak menyukai Muawiyah, dan penduduk Syria tidak menyukai Ali bin Abi Thalib. Bukankah lebih baik mereka mundur semua dan kita angkat Abdullah bin Umar?. Amru menyetujuinya namun ia menyodorkan beberapa nama kepada Abu Musa, namun Abu Musa hanya menghendaki Ibnu Umar saja. Akhirnya disepakati menyerahkan musyawarah itu kepada kaum Muslimin.

Setelah perang dan perundingan usai, justru kelompok Al Qurra menentang hasil tahkim itu padahal merekalah yang paling ingin tahkim itu ada dengan mendesak Ali bin Abi Thalib. Menurut mereka tahkim ini salah karena hukum Allah dalam pertikainan ini telah jelas. Bahwa Ali lah yang berada di pihak yang benar. Mereka kemudian menyerukan slogan La hukma illa lillah (tidak ada hukum kecuali hukum Allah). Mereka mendoktri orang-orang yang berada di barisan Ali agar sesuai pemikirannya. Mereka juga mendesak Ali lagi agar mengaku salah karena tunduk kepada hukum manusia dan mengalah padahal dalam posisi benar.

Kalau tuntutan itu dipenuhi Ali, maka kelompok Al Qurra ini akan kembali berperang di kubu Ali, namun Ali menolak sebab sudah menjadi kesepakatan di awal dengan kubu rivalnya. Karena berhukum kepada manusia inilah akhirnya Ali dikafirkan oleh mereka.

Karena tuntutan tidak dipenuhi inilah akhirnya sekelompok yang tidak puas atas keputusan Ali ini akhirnya keluar dari barisan (bahasa arab keluar adalah khoroja خرج ) inilah awal mula mereka disebut khowarij (orang yang keluar dari barisan kaum muslimin). Mereka lalu menuju desa Harura, dekat Kufah. Kemudian mereka dikenal sebagai kelompok al Haruriyah. Mereka lalu membentuk organisasi sendiri dengan tokoh khawarij dan ketuanya yaitu Abdullah bin Wahab ar Rasibi al Azdi.

Menurut As Syahrastani, yang disebut khawarij itu adalah siapa saja yang keluar dari barisan imam yang sah dan disepakati jamaah muslimin, baik itu keluar pada masa sahabat, tabiin atau era setelahnya dari kekhilafahan.

Kebencian mereka terhadap Ali bin Abi Thalib begitu besar, apalagi terhadap kubu Muawiyah bin Abi Sofyan mereka lebih benci lagi. Mereka menghasut orang-orang di sekitar Harura hingga berhasil mengumpulkan massa sebanyak 12.000 orang. Kamp pusat mereka kemudian berpindah di Jukha, dekat sungai Tigris. Kemudian sebagian mereka pindah lagi ke Nahrawan sebanyak 4000 orang dengan pemimpinnya Abdullah bin Wahab ar Rasibi. Awalnya Ali membiarkan mereka, namun seiring berjalan waktu ternyata orang-orang itu justru berbuat kedzaliman dengan memaksakan pendapat kepada setiap orang di daerah mereka. Bahkan putra sahabat Nabi, Abdullah bin Khabab menjadi korban kekejaman khawarij ini.

Diantara ciri ajaran pemikiran mereka pada saat itu adalah pernah menjumpai orang muslim yang tidak sependapat dengan mereka, maka akan dibunuh. Adapun terhadap orang Nasrani, mereka hanya menyerukan, Jagalah janji Nabi kalian. Mereka berlemah lembut kepada orang kafir dan kejam terhadap orang-orang muslim.

Setelah peristiwa itu, Ali membujuk mereka agar kembali di barisan Ali dan tidak membuat keributan. Namun mereka menolaknya, akhirnya Ali mengutus Ibnu Abbas untuk mendakwahi mereka dan ribuan orang bertaubat dari doktrin khawarij itu. Namun masih ada 1800 orang yang tetap bersikukuh mengkafirkan Ali dan Muawiyah serta sahabat yang setuju dengan tahkim tersebut.

Pada akhirnya Ali memerangi mereka di Nahrawan hingga kekalahan diterima oleh kaum Khawarij. Dan tidak tersisa di barisan mereka kecuali 8 orang yang melarikan diri dari perang. Dari 8 orang itulah merka berpencar dan menyebarkan ideologi dan kebencian terhadap Ali dan Muawiyah.

Kemudian setelah itu, orang-orang yang berhasil dibangkitkan kebenciannya oleh khawarij ini menuntut balas kepada Ali dan akhirnya terjadilah pembunuhan terhadap Ali bin Abi Thalib. Ia ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam al Murdi, yang anggota keluarganya terbunuh dalam perang Nahrawan. Percobaan pembunuhan juga terjadi kepada Muawiyah, namun gagal.

Ternyata dari 8 orang yang melarikan diri inilah, orang-orang khawarij bergerilya dengan pemikiran dan ideologinya. Mereka mengumpulkan massa, menghasut orang untuk melawan jamaatul muslimin dan berpindah pindah tempat. Bahkan di masa pemerintahan Muawiyah yang berjalan 20 tahun, beliau tidak mampu menghabisi mereka secara menyeluruh.

kaum khawarij

Pecahan Aliran Khawarij

Dalam perkembangannya, khawarij terpecah menjadi beberapa kelompok, karena seolah sudah menjadi kebiasaan mereka jika terjadi perbedaan maka mudah sekali pecah menjadi kelompok lain.

Para sejarawan berbeda pendapat tentang jumlah mereka, sebagian menyebut mereka terpecah menjadi 20 kelompok. Namun menurut Syaikh Abu Hasan al Asyari kelompok ushul khawarij adalah Azariqah, Ibadiyah, Najdiyah dan Sufriyah. Sementara yang cabang sangatlah banyak sekali.

Tokoh Khawarij

Diantara tokoh khawarij adalah sebagai berikut

  1. Abdullah bin Wahab ar Rasibi, ia adalah pemimpin pertama dari kaum Khawarij. Bersama dengan 12.000 orang yang kecewa dengan tahkim Ali Muawiyah, mereka menjadikan Harura sebagai basis pergerakan mereka. Bahkan Abdullah ar Rasisbi didaulat sebagai “khalifah baru” bagi mereka.
  2. Nafi’ bin Al Azraq, ia termasuk seorang yang selamat dan melarikan diri dari perang Nahrawan. Kemudian ia menghasut orang-orang agar keluar dari Ali dengan baju baru khawarij dengan nama Al Azariqah.
  3. Najdah bin Amir al Hanafi, ia adalah pemimpin sekte Khawarij di Najd. Ia berhasil mengumpulkan beberapa pecahan khawarij dari Abu Fudaik, Rasyid at Tawil dan lainnya. Mereka kecewa dari kepemimpinan Nafi al Azraq.

Doktrin Pemikiran dan Paham Khawarij

  1. Menganggap kafir orang-orang yang bersebrangan dengan mereka. Pada masa lalu mereka mengkafirkan yang tidak sependapat dengan mereka saat perang siffin.
  2. Orang Islam yang melakukan dosa besar seperti berzina, membunuh yang tidak layak maka dianggap sebagai kafir.
  3. Hak khilafah tidak harus dari keturunan Nabi atau dari suku Quraisy dan orang arab pada umumnya.
  4. Menganggap hanya daerahnya saja yang merupakan Darul Islam. Sementara daerah yang melawan mereka adalah Darul Harb.
  5. Dosa kecil yang dilakukan terus menerus dapat menjerumuskan mereka ke dalam dosa besar dan pelakunya divonis musyrik atau murtad.
  6. Mengkafirkan Ali dan Muawiyah serta kaum muslimin pada umumnya.

Hadits Tentang Khawarij

  1. Hadist tentang Dzul Khuwaisirah dan sikap buruk sangka kepada Nabi.

Dzul khuwaisirah mengatakan kepada Nabi saat pembagian ghanimah.

والله إن هذه قسمة ما عدل فيها وما أريد فيها وجه الله

Demi Allah, sesungguhnya ini adalah pembagian yang tidak adil. Dan ini tidak diinginkan untuk mendapat ridho Allah ta’ala. (HR Bukhari)

  • Kaum Khawarij adalah kaum yang sangat ketat dalam ibadahnya bahkan mereka sangat berhati-hati dari dosa dasa. Bahkan mereka menganggap dosa besar pun dapat memurtadkan seseorang dari Islam.

يخرج قوم من أمتي يقرؤون القرآن ليس قراءتكم إلى قراءتهم بشيء، ولا صلاتكم إلى صلاتهم بشيء، ولا صيامكم إلى صيامهم بشيء. يقرؤون القرآن يحسبون أنه لهم وهو عليهم، لا تجاوز صلاتهم تراقيهم، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية

Akan muncul suatu kaum dari umatku yang bacaan quran mereka jika dibandingkan dengan bacaan kalian maka kalian tidak ada apa-apanya. Begitu pula sholat kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan sholat mereka. Puasa mereka lebih rajin daripada kalian. Mereka membaca quran dan menyangka quran akan membela mereka padahal justru memusuhi mereka. Bacaan sholat mereka tidak melampaui tenggorakan mereka. Mereka lepas dari islam sebagaimana anak panah lepas dari busurnya. (HR Muslim)

  • Mereka membunuhi kaum muslimin yang tidak bersalah dan tidak layak dibunuh.

Dari Aisyah Ummul Mukminin dari Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هم شرار أمتي يقتلهم خيار أمتي

Mereka adalah seburuk-buruk umatku yang diperangi oleh sebaik-baik umatku. (HR  Tabrani, hasan)

  • Muda usianya namun bodoh akalnya dalam memahami Islam

Nabi bersabda

يخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقرءون القرآن لا يجاوز تراقيهم يقولون من قول خير البرية يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Akan ada di akhir zaman orang-orang yang muda umurnya namun bodoh pemikirannya (dalam Islam), mereka membaca Al Quran namun tidak melebihi kerongkongan mereka (tidak masuk hati) mereka membawa-bawa perkataan nabi dalam ucapan mereka, mereka terlepas dari agama seperti anak panas terlepas dari busurnya. (HR Bukhari)