Murjiah, Pengertian, Pemikiran dan Tokohnya

Salikun.comMakalah dan pertanyaan tentang Murjiah, Pengertian, Pemikiran dan Tokohnya. Perbedaan antara murjiah dengan khawarij.

Pengertian Murjiah

Secara bahasa Murjiah memiliki memeberapa arti berikut ini

  • Mengakhirkan atau menangguhkan, hal ini disebutkan dalam Tartib Qamus al Muhith, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah azza wa jalla

قالوا أرجه وأخاه وأرسل في المدائن حاشرين

“Para pemuka itu itu berkata, ‘Beri tangguh ia dan saudaranya serta kirimlah ke perkotaan orang-orang yang akan mengumpulan info ahli sihir.’”

  • Takut, hal ini disebutkan dalam Al Misbahul Munir. Al Azhari menyebut arti takut ini jika bersama dengan huruf nafi’
  • Angan-angan
  • Mengharap, hal ini sebagaimana disebutkan dalam surat An Nisa ayat 104

وترجون من الله مالا يرجون

“Dan kalian mengharapkan dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (QS An Nisa 104)

Baca juga : Awas Khawarij, Inilah Aqidah dan Sejarah Kemunculan Mereka

Adapun secara Istilah, maka para ulama’ mendefinisakan artinya dalam beberapa pengertian berikut.

1. Al Irja’ (perbuatan orang murjiah)artinya adalah mengakhirkan amal dari definisi iman. Hal ini sebagaimana diucapkan oleh Al Baghdadi dalam Syarah Ushul I’tiqad. Menurut Murjiah amal ada dalam posisi kedua setelah iman, dan dia bukan menjadi bagian dari iman itu sendiri.

Dari definisi diatas, maka orang murjiah berpendapat bahwa perbuatan maksiat seseorang seorang muslim tidaklah membahayakan keimananannya (sedikit atau banyak), sebagaimana ketaatan atau kebaikan seseorang tidak bermanfaat bagi orang yang masih berstatus kafir.

2. Irja’ artinya adalah mengakhirkan hukuman kepada pelaku dosa besar sampai datangnya hari kiamat. Jadi orang-orang murjiah itu berpemahaman bahwa pelaku dosa besar tidak mendapat hukuman atau balasan saat di dunia, namun hukumannya diakhirkan hingga hari kiamat.

Definisi ini disampaikan oleh Al Fayumi sebagaimana disebutkan dalam Al Misbahul Munir hal 84.

Sejarah Aliran Murjiah

Pada awal mulanya Irja’ muncul untuk menghadang paham Khawarij yang mengkafirkan Hakamain (dua orang yang memutuskan perkara dalam masalah Ali dan Muawiyah). Maka dalam hal ini irja’ tidak bersangkutan langsung dengan iman, akan tetapi mereka hanya membicarakan tentang perkara dua kelompok yang berperang diantara sahabat.

Dalam sejarah kemunculannya didapatkan bahwa orang yang pertama kali membicarakan masalah Irja’ adalah Al Hasan bin Muhammad bin Hanafiyah (w 99 H). dan setiap orang yang mengisahkan riwayat hidupnya akan menyebutkan masalah irja’ padadiri beliau. Meskipun irja’ dalam titik ini tidaklah terlalu dipermasalahkan.

Ibnu Sa’ad mengatakan bahwa Al Hasan bin Muhammad bin Hanafiyah adalah orang yang pertama kali mengatakan permasalahan irja’. Dikisahkan bahwa Zadzan dan Maisarah datang kepadanya dan langsung mencelanya, lantaran buku yang ditulis Al Hasan tentang irja’, maka Al Hasan berkata, “Sungguh aku lebih suka mati dan aku dalam keadan tidak menulis buku tersebut.” Hal ini menunjukkan bahwa Al Hasan menyesali istilah tersebut.

Sementara menurut Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani bahwa yang dimaksud Irja’ yang dibawa oleh Al Hasan bin Muhammad al Hanafiyah ini adalah Irja’ yang tidak mengeluarkannya dari sifat Ahlussunnah. Bahkan irja’ yang didefinisikan oleh Al Hasan ini tidaklah dicela. Sehingga Ibnu Hajar pernah menulis perkara Irja’ yang tidak berkaitan dengan iman maka tidak menjadikan seseorang tercela.

neo murjiah

Ciri-Ciri Pemikiran dan Aqidahnya

Beberapa ciri murjiah yang paling menonjol adalah

  1. Iman hanya sebatas penetapan dengan lisan atau hanya terbatas di hati saja, tidak meliputi amal seseorang. Dengan kata lain iman hanyalah tashdiq atau iqrar saja tanpa melibatkan taat perbuatan.
  2. Murjiah menganggap bahwa iman tidak bertambah dan tidak berkurang, tidak terbagi. Sehingga orang yang beriman itu sama dan tidak bertingkat derajatnya.
  3. Mereka berpendapat bahwa orang yang meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman tidaklah mempengaruhi imannya.
  4. Mereka membatasi sifat kufur itu hanya pada pengingkaran di hati. Adapun orang yang berbuat kufur dengan amalnya tidaklah dihukumi kufur sampai hatinya benar-benar kufur.
  5. Meyakini bahwa perbuatan dosa besar tidak dihukum di dunia tetapi diakhirkan pada saat hari kiamat nanti.

Adapun menurut Ahlussunnah wal jamaah bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Amal seseorang adalah bagian dari iman itu sendiri, sebab iman adalah perkataan dan perbuatan. Perkataan hati dan lisan adalah iman, amal hati dan amal perbuatan adalah terlingkup dalam iman.

Pada tingkatan yang lebih ekstrem dari murjiah mengatakan bahwa perbuatan kufur atau zindik tidaklah membahayakan keimanan seseorang. Bahkan seorang tersebut tetaplah disebut mukmin kamilul iman (mukmin yang sempurna imannya).

Akibat dari pemikiran ini adalah mereka tidak terlalu menganggap bermasalah orang yang menghina Allah dan RasulNya, karena hampir sama dengan maksiat yang lainnya. Akibat lainnya adalah mereka tidak perduli dengan penegakan syariat Islam dalam lingkup kenegaraan, karena ketaatan yang ada tidaklah dapat menaikkan derajat iman seseorang

Tokoh Aliran Murjiah

Diantara tokoh Murjiah yang disebutkan oleh sebagian ulama’ sebagaimana dalam Syarah Ushul I’tiqad dan Dirasatul Firaq Tim Ulin Nuha.

  1. Ghailan
  2. Jahm bin Shafwan
  3. Abu Tsauban
  4. Yunus As Samari
  5. Husain bin Muhammad an Najjar
  6. Muhammad bin Syabib
  7. Bisyr al Muraisi
  8. Muhammad bin Kiram

Pembagian dan Pecahannya

Imam Ibnul Jauzi al Hanbali dalam Talbis Iblis menyebutkan bahwa Murjiah terbagi menjadi 11 kelompok pemahaman.

  1. At Tarikah, yaitu orang yang mengatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi seorang hamba kepada Allah selain beriman saja. Barangsiapa yang telah beriman dan telah mengenalnya maka dia boleh berbuat sesukanya.
  2. As Saibiah, yaitu mereka yang mengatakan sesungguhnya Allah membuarkan hambaNya untuk berbuat sesukanya.
  3. Ar Raji’ah, yaitu orang yang mengatakan bahwa kami tidak mengatakan taat bagi orang yang taat dan juga tidak menyebut maksiat orang yang berbuat maksiat karena kami tidak mengetahui kedudukan mereka di sisi Allah.
  4. Asy Syakiah, yaitu yang mengatakan sesungguhnya ketaatn itu bukanlah dari iman.
  5. Baihasyiah, dinisbatkan kepada Baihasy bin Haisham, yang mengatakan bahwa iman itu adalah ilmu, barangsiapa yang tidak mengetahui yang hak dan batil, juga tidak tahu tentang halal haram maka dia telah kafir.
  6. Manqushiah, mereka yang mengatakan bahwa Iman itu bertambah tapi tidak bisa berkurang.
  7. Mustatsniah, yaitu yang menafikan atau mengecualikan dalam hal keimanan.
  8. Musyabbihah, yaitu orang yang menyamakan Allah dengan makhluqnya. Mereka mengatakan bahwa Allah punya penglihatan sebagaimana penglihatan makhluknya.
  9. Hasyawiyah, yaitu mereka yang menjadikan hukum hadits semuanya adalah satu. Menurut murjiah hasyawiyah bahwa orang yang meninggalkan sunnah sama halnya dengan meninggalkan hal yang fardhu.
  10. Dzahiriyah, yaitu orang yang hanya memahami nash dari dzahirnya saja dan tidak menggunakan qiyas dalam beribadah.
  11. Bid’iyyah, yaitu orang yang pertama kali memulai bidah pada umat ini.