Aliran Mu’tazilah, Sejarah, Pengertian, Ajaran dan Tokohnya

mu'tazilah

Salikun.com – Mu’tazilah, Aliran Sesat yang Mengedepankan Akal. Berikut ini makalah atau journal tentang Mu’tazilah.

Apa itu Mu’tazilah ?

Pengertian Mu’tazilah Secara Bahasa

Kata Mu’tazilah berasalah dari kata bahasa arab ‘azala, ya’tazilu, ‘azlan, wa ‘azalahu, fa’tazala, wa ta’azzala yang artinya adalah menyingkirkan diri atau memisisahkan diri dari sesuatu.

Arti Mu’tazilah Secara Istilah

Dalam sejarah Islam, aliran mu’tazilah adalah sebuah sekte sesat yang mempunyai lima pokok keyakinan (al Ushul al Khomsah).

Kaum mu’tazilah juga meyakini dirinya merupakan kelompok paling moderat diantara dua kelompok yang ekstrem (khawarij dan murjiah) pada masa awal perpecahan umat Islam.

Baca juga : Akar Pemikiran Khawarij, dan Sejarah Kemunculannya

Mereka merasa menjadi kelompok pertengahan antara khawarij yang mudah dalam mengkafirkan dosa besar, dan murjiah yang menganggap pelaku dosa besar tetap sempurna imannya.

Sejarah Munculnya Golongan Mu’tazilah

Di kalangan pakar sejarah terjadi perbedaan pendapat mengenai asal usul penamaan Mu’tazilah. Hal itu disebabkan karena penamaan tersebut erat kaitannya dengan berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di dunia Islam pada masa kelahiran gerakan Mu’tazilah sendiri.

  1. Sebagian ahli sejarah mengungkapkan bahwa penamaan Mu’tazilah berasal dari lawan mereka yaitu Ahlussunnah wal jama’ah (aswaja). Dan ini merupakan pendapat mayoritas peneliti sejarah.
  2. Sebagian pihak lain menyatakan bahwa nama Mu’tazilah berasal dari pengakuan diri mereka sendiri.
  3. Sebagian pihak menyatakan bahwa Mu’tazilah lahir dengan adanya I’tizal siyasi (pengasingan diri dari dunia politik) pada masa awal fitnah (masa kekhilafahan Ali). Sebagain peneliti sejarah menyatakn bahwa Mu’tazilah lahir karena sebab-sebab yang lain.

Meski terjadi perbedaan mengenai kapan munculnya mu’tazilah ini, namun mayoritas ahli sejarah menyebut bahwa penamaan Mu’tazilah berasal dari Ahlussunnah wal Jamaah (point nomer 1).

Sejarawan mengaitkan penamaan tersebut mucul karena perdebatan mengenai hukum pelaku dosa besar antara Imam Hasan al Bashri (senior tabiin) dengan Washil bin Atha’ yang hidup pada masa pemerintahan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik al Umawy.

Saat itu, Imam Hasan al Bashri mempunyai majlis pengajian di Masjid Bashrah. Kemudian datanglah seorang laki-laki masuk dalam pengajian dan bertanya kepada Hasan al Bashri.

“Wahai imam, di zaman kita ini telah timbul kelompok yang mengkafirkan para pelaku dosa besar yaitu kalangan Wa’diyah (khawarij). Kemudian juga timbul kelompok lain yang mengatakan maksiat tidak membahayakan iman sebagaimana ketaatan tidak bermandaat sama sekali bila bersama kekafiran, mereka adalah kelompok Murjiah. Lalu bagaimana sikap kita ?”

Imam Hasan al Bashri terdiam sejanak dan memikirkan jawabannya, namun saat itu murid beliau yang bernama Washil menyela jawaban, “Saya tidak mengatakan pelaku dosa besar itu mukmin secara mutlak dan tidak pula kafir secara mutlak, namun dia berada di suatu posis diantara dua keadaan. Yaitu tidak mukmin dan tidak kafir.”

Jawaban Washil bin Atha’ diatas tentu saja bersebrangan dengan pemahaman ahlussunnah wal jamaah yang mendefinisikan pelaku dosa besar adalah masih mukmin namun imannya berkurang lantaran dosanya.

Maka Imam Hasan al Bashri membantah perkataan Washil bin Atha’ tadi karena tak berlandaskan dalil. Maka Washil kemudian pergi ke salah satu sudut masjid dan keluar dari majlis Hasan al Bashir. Maka sang Imam mengatakan, “ia telah meisahkan diri dari kita (I’tazalnaa).” I’tazalna inilah kata-kata yang memiliki dasar kata sama dengan mu’tazilah.

Sejak saat itu mereka yang mengikuti pemikiran Washil bin Atha’ disebut sebagai Mu’tazilah, yaitu kelompok yang memisahkan diri (menyempal). Jadi bisa dikatakan bahwa pendiri paham Mu’tazilah adalah Washil bin Atha’.

Sementara dalam kitab Al Farqu bainal Firaq, Al Baghdadi menambahkan bawah ciri dari Muktazilah adalah berbeda pemahaman tentang takdir dengan ahlussunnah wal jamaah.

muktazilah

Perkembangan Ajaran Muktazilah

Tumbuhnya Mu’tazilah sebagai sebuah sekte bermula dari keluarnya Washil bin Atha’ dari pengajian Imam Hasan al Bashri. Ia hidup pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan dan Hisyam bin Abdul Malik.

Kemudian pada masa pemerintahan Al Makmun di masa khilafah Abbasiyah, faham Mu’tazilah menjadi aliran yang memegang pereanan penting dalam pemerintahan karena khalifah pada masa itu menganut sekte ini. pada masa itu para pemimpin Mu’tazilah seperti Bisyr al Muraisy, Tsumamah bin Asyras dan Ibnu Abi Du’at menjadi penasehat khalifah Al Makmun.

Kemudian pada saat itu juga muncul fitnah yang terkenal dengan nama fitnah khalqul Quran (Al Quran adalah makhluk) dimana para ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang menolak mengakui bahwa Al Quran adalah makhluk akan dipenjara dan disiksa. Diantara yang mendapat cobaan penyiksaan ini adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Fitnah khalqul quran ini terus berlangsung hingga pemrintahan Al Multashim dan Al Watsiq.

Lalu pada masa khalifah setelahnya 232 H, yaitu khalifah Al Mutawakkil mengubah haluan pemahaman pemerintah menjadi ahlussunnah wal jamaah. Kemudian para ulama’ dibebaskan setelah 14 tahun berjuang keras melawan Mu’tazilah yang memaksakan akidahnya menjadi struktut negara. Dan Muktazilah pun perlahan luntur dalam arus mayoritas ahlus sunnah.

Seratus tahun kemudian (334 H) yaitu pada masa pemerintahan bani Buwaih di Persia, terjadi hubungan yang erat antara golongan Mu’tazilah dengan pemerintah yang berkuasa yang menganut ideologi syiah Rafidhah. Pemimpin Mu’tazilah, Abdul Jabbar, diangkat menjadi qadhi di daerah Ra’I sejak tahun 360 H, atas perintah Shahib bin Ibad menteri Muayid Daulah. Shahib bin Ibad ini menurut Imam adz Dzahabi adalah seorang Syiah Mu’tazilah. Di bawah daulah bani Buwaih inilah Mu’tazilah kembali bisa berkembang di Irak, Iran dan negeri wara’an nahr (negeri dibelakang sungai seperti Uzbekistan, Tajikistan, Kazakhstan dan Turkmenistan).

Tokoh Mu’tazilah dan Contoh Pecahannya

Diantara tokoh tokoh besar Mu’tazilah yang berjasa dalam mengembangkan doktrin aliran Mu’tazilah adalah sebagai berikut

  1. Washil bin Atha’, lahir pada tahun 80 H di Madinah, belajar pada Imam Hasan al Bashri di Bashrah kemudian ia memisahkan diri dari majlisnya (sebagaimana telah diterangkan diatas). Ia meninggal pada tahun 131 H dan telah melakukan 2 bidah dalam bidang aqidah.
  2. Pelaku dosa besar menurut mu’tazilah ada pada manzilah baina manzilatain (diantara 2 kedudukan, tidak mukmin dan tidak kafir)
  3. Mencela keadilan sahabat dengan mengatakan salah satu diantara dua pihak sahabat yang terlibat perang Shiffin adalah Fasiq tanpa menunjuk siapa sahabat itu. Akhirnya ia tidak menerima kesaksian kedua belak pihak yang terlibat dalam perang Siffin. Hal ini disebutkan dalam kitab Tarikh Dzuhuril Bida’.
  4. Amru bin Ubaid Abu Utsman, wafat tahun 144 H. ia lahir di Balkh, hidup di Bashrah dan berguru langsung kepada Washil bin Atha’. Diantara bidah yang nampak dari dirinya adalah menolak hadist yang tidak sesuai dengan akal.
  5. Abu Huzail al ‘Allaf, wafat tahun 235 H. ia seorang pemikir dan ahli kalam Mu’tazilah. Lahir dan belajar di Bashrah kemudian pindah ke Baghdad. Diantara pemahamannya yang menyimpang adalah
  6. Bahwa Allah itu adalah fana tidak kekal. Ketika sudah fana maka Allah tidak mempunyai kemampuan sama sekali.
  7. Allah itu ‘Alim (Maha Mengetahui) dan ilmu Allah adalah Dzat Allah itu sendiri. Demikian dengan seluruh sifat Allah itu adalah Dzat Allah sendiri.
  8. Ibrahim bin Sayar al Nadzam (wafat tahun 231 H). ia adalah murid dari Abu Hudzail al Allaf. Ia seorang tokoh ahli kalam Mu’tazilah. Tumbuh di Bashrah dan tinggal di Baghdad sampai meninggal dunia. Diantara pendapatnya yang menyimpang adalah.
  9. Allah tidak mempunyai sifat qudrah (mampu) atas perbuatan maksiat seorang hamba.
  10. Ia mengingkari sebagian mukjizat nabi seperti membelah bulan dan bertasbihnya kerikil dalam tangan beliau.
  11. Menghujat para sahabat Nabi.
  12. Abu Usman al Jahidz. Lahir dan meninggal dunia di Bashrah. Ia belajar dengan tokoh Mu’tazilah di Bashrah dan Baghdad sehingga menjadi pembesar Mu’tazilah saat itu. Ia terkenal sebagai orang yang cerdas dan kuat dalam berfikir. Dari berbagai pemikirannya itu muncul kelompok Al Jahidziyah.
  13. Bisy bin Mu’tamad (wafat tahun 226 H). seorang pembesar Mu’tazilah pada masa itu, darinya timbul kelompok Mu’tazilah Al Bisyriyyah.
  14. Ma’mar bin Ibad al Silmy (wafat tahun 320 H). ia seorang ulama Mu’tazilah yang paling keras dalam menafikan sifat Allah dan takdir.
  15. Tsumamah bin Asyras al Numairi (wafat tahun 213 H). ia meyakini setiap orang fasiq kekal di neraka. Ia juga merupakan pentolan Mu’tazilah di masa Al Ma’mun, Al Watsiq dan Al Mu’tasim. Dialah yang membujuk Al Ma’mun untuk mengikuti faham Mu’tazilah. Darinya muncul pecahan Mu’tazilah yang bernama Tsumamiyah.
  16. Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad al Hamdany (w 414 H). ia termasuk tokoh Mu’tazilah terbesar dia abad akhir. Ia menjadi qadhi di daerah Ra’I pada masa dinasti Syiah Bani Buwaih. Darinyalah terbukukan ideologi Mu’tazilah.

Doktrin Ajaran Mu’tazilah

Diantara doktrin ajaran Mu’tazilah adalah 5 dasar utama (Al Ushul Al Khomsah) yaitu

  • Tauhid

Diantara perbedaan tauhid antara Mu’tazilah dengan Ahlussunnah wal Jamaah adalah tentang masalah sifat Allah. Orang-orang Mu’tazilah menafikan sifat Allah sementara Ahlussunnah menetapkan sifat Allah.

Menurut Mu’tazilah menetapkan sifat Allah berarti menetapkan banyak dzat yang qadim. Itu artinya menyamakan Allah dengan makhluk dan menetapkan banyak sang Pencipta, sebab bagi mereka sifat Allah itu adalah DzatNya. Konskwensi selanjutnya adalah mereka mengingkar ru’yatullah (melihat Allah) di akhirat dan mengatakan Al Quran itu makhluk, sebab selain Allah adalah makhluk.

  • Al Adlu (Keadilan)

Termasuk perbedaan al ‘adlu antara Mu’tazilah dengen Aswaja adalah mereka menolak takdir buruk karena menetapkannya adalah sama dengan Allah mendzalimi hambaNya. Mereka memahami bahwa jika perbuatan buruk itu diciptakan Allah, kemudian Allah mengadzab mereka atas perbuatan buruk itu berarti Allah dzalim terhadap mereka.

Konskuensi dari pemahaman ini adalah bahwa dalam kekuasaan Allah terjadi hal yang tidak diinginkan dan tidak dimampui oleh Allah. Sehingga seolah Muktazilah mensifati Allah itu lemah. Padahal menurut Ahlussunnah Allah menciptakan takdir baik dan buruk, Allah juga maha kuasa atas semua hal.

  • Infadzul Waid

Infazul waid adalah orang yang berbuat dosa besar bila belum bertaubat sebelum meninggal maka pasti masuk neraka dan kekal, serta orang seperti ini tidak mendapat syafaat.

Dalam kitab Al Mausu’ah al Muyassarah, mereka (Mu’tazilah) berkeyakinan jika Allah mengancam hambaNya dengan suatu ancaman maka Allah wajib menyiksanya dan tidak boleh mengingkarinya, karena Allah tidak mengingkari janji Nya. Konskuensi setelahnya adalah Allah tidak memberi maaf dan ampunan bagi orang yang dikehendaki Nya.

  • Al Manzilah baina Manzilatain

Al Manzilah baina Manzilatain adalah barang siapa yang berbuat dosa besar maka dia tidaklah mukmin dan tidaklah kafir. Ia keluar dari iman, tetapi tidak dalam kekafiran.

  • Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Dr Abdul Majid al Masyabi menjelaskan bahwa penyimpanan Mu’tazilah dalam amar ma’ruf nahi munkar mereka terletak saat menghukumi penguasa yang dzalim maka boleh untuk dilengserkar. Boleh memberontak mereka dengan senjata terhadap pemimpin yang dzalim meskipun tidak kafir.

menuhankan akal mu'tazilah

Pemikiran Lain dari Muktazilah

Diantara perbedaan antara Mu’tazilah dengan Ahlussunnah adalah sebagai berikut

  • Mendahulukan akal atas nash Quran dan Hadist

Dalam Tarikh Madzahib al Islamiyah, Abu Zahrah mengatakan, “Muktazilah adalah sampah dari Ghazwul Fikri ini, dimana manhaj mereka yang salah terwujud dalam menjadikan akal sebagai penentu dalam segala hal. Mereka berlandaskan kepada hal yang masuk akal saja dalam studi mereka. Setiap masalah mereka uji coba dengan akalnya. Apa yang diterima akal mereka terima dan apa yang ditolak akal maka mereka tolak.”

  • Berani Menghujat dan Mengkritik Sahabat.

Tokoh Mu’tazilah, An Nadzam bahkan tidak malu untuk mengatakan para pembesar sahabat tertuama yang berada dalam polemik perang Siffin itu masuk ke dalam neraka.

Sementara Ali al Jubai, tokoh Muktazilah, mengatakan bahwa ia tidak tahu diantara khulafaur rasyidin itu mana yang lebih utama. Ini jelas menyelisihi aqidah ahlussunnah wal jamaah.

Begitu juga dengan Washil bin Atha’ yang pernah menyatakan bahwa ia tidak tahu menahu apakah Utsman yang mendzlimi dan salah atau Utsmanlah  yang didzalimi oleh orang lain. Hal ini disebutkan dalam kitab Mauqiful Mu’tazilah minas Sunnah an Nabawiyah.

  • Mengingkari Hadits Mutawatir

An Nadzam mengatakan bahwa hadits mutawatir bisa saja mengandung kedustaan. Hal ini karena dalil akal saja bisa me nasakh Al Quran dan Sunnah.

Menurut Abu Hudzail al Allaf (tokoh Muktazilah), dalam masalah ghaibiyah, dalil tidak bisa tegak kecuali dengan riwayat 20 orang perawi dan diantara mereka harus ada seorang atau lebih calon penghuni surga. Bumi tak akan pernah kosong dari wali Allah yang ma’shum, tidak pernah berdusta, tidak melakukan dosa besar. Dari pemahaman inilah yang dijadikan hujjah dan bukan orisinilitas hadist mutawatir.

Kesimpulan

Siapa saja yang membaca ideologi faham Mu’tazilah barangkali akan menggeleng-geleng kebingungan dengan permainan logika mereka. Boleh dikata, lima dasar akidah mereka (Al Ushul Khomsah) sudah tidak populer lagi masa kini, keculai pada sebagian orang saja.

Namun yang masih populer hingga saat ini adalah mengedepankan akal mereka dalam membahas masalah akidah, fiqih dan dien secara umum. Dan ini tentunya terlihat dalam pemahaman neo mu’tazilah saat ini.

Bisa dikatakan dasar memilih akal dari nash masih ada pada diri beberapa tokoh di Indonesia ini. Meskipun tidak menamakan diri mereka Mu’tazilah tetapi gaya berfikir mengedepankan rasio diatas nash quran hadits adalah sebuah kesalahan. Padahal menurut ahlussunnah akal itu digunakan untuk membela dalil dan membenarkan nash yang ada.

Sumber Referensi

Al Juhani, Al Mausuah al Muyassarah fil adyan wal madzahib wal ahzab al muashiroh

Tim Ulin Nuha Mahad Aly, Dirasatul Firaq

Muhammad Asy Syahrastani, Al Milal wan Nihal

Ghalib al Iwaji, Firawun Mu’ashirah