Syariat Islam, Makna, Hakikat dan Tuntutannya

Syariat Islam, Makna, Hakikat dan Tuntutannya

Salikun.com – Syariat Islam, Makna, Hakikat dan Tuntutannya. Berikut penjelasan detailnya.

Definisi Syariat Adalah

Secara bahasa, syariat adalah berasal dari kata شرع yang memiliki makna memulai atau memahami. Namun juga kadang diartika sebagai شرعة yakni undang-undang, hukum atau ajaran.

Menurut Ibnu Mandzur dalam lisanul arab syariat atau syara’ adalah suatu tempat yang mana air mengalir dan berkumpul di tempat itu. Jadi ada istilah شرعة الماء syiratul maa’ yaitu sumber air yang mana manusia mendatanginya untuk mengambil minum. Kemudian disebut sebagai syariat jika air telah berkumpul penuh, terus dialiri, dan bersifat bening.

Menurut Syaikh Abdul Karim Zaidan, syariah secara umum itu juga bisa berarti madzhab atau metodologi yang lurus.[1]

Pengertian Syariat Islam Adalah

Menurut syaikh Sulaiman al Asyqar, syariat Islam adalah hukum-hukum yang telah Allah gariskan atau tetapkan dalam Al Quran atau hadir kepada kita melalui Nabi Nya dalam as Sunnah. Tanpa dilihat dari segi aqidah, fiqih, akhlak atau adab.[2]

Sementara Athiyah Fayyadh, syariat Islam adalah semua hukum yang Allah bebankan kepada hambanya, baik dijelaskan melalui Al Quran atau melalui Nabinya di dalam as Sunnah.

Baca juga : Meninjau Sholawat Nariyah Menurut Syariat dan Dalilnya

Menurut Imam Al Qurtubi al maliki di dalam Al Jami’ li Ahkamil Quran, syariat adalah agama yang Allah syariatkan kepada seluruh hambaNya.

Dapat disimpulkan bahwa secara harfiah, para ulama’ berbeda pendapat atau tidak satu kata, tetapi secara makna dan umumnya mereka sepakat bahwa syariat adalah ketentuan dari Allah ta’ala yang berlaku untuk hambaNya.

Sebagaimana dijelaskan juga oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Maqasid Syariah. Bahwa manusia tidak akan terlepas dari syariat, bahkan semua hal yang mengantarkan kepada kebaikan hakikatnya itu adalah syariat mulai dari ushul, furu’, aqidah, ibadah, politik dan lainnya.[3]

Beda Syariat dan Fiqih

Menurut Imam Ali bin Hazm dalam Al Ihkam fie Ushul al Ahkam syariat adalah apa saja yang terdapat dalam nash Al Quran dan sunnah. Atau segala perbuatan Nabi baik yang ditetapkan atau didiamkan serta meliputi ijma’ sahabat.

Jadi, yang disebut syariat adalah segala tuntunan dari Allah ta’ala kepada manusia yang meliputi semua hal yaitu aqidah, ibadah, doa, akhlak dan lainnya. Jadi sifatnya adalah lebih umum.

Baca juga : Doa Sayyidul Istighfar, Rajanya Doa Minta Ampuan kepada Allah ta’ala

Adapun pengertian fiqih, menurut Abul Hasan al amidi adalah pengetahuan tentang hukum syariat ‘amaliah (ibadah/muamalah) yang didapat dari dalil-dalil yang spesifik terperinci.

Jadi, yang disebut fiqih adalah semua hal yang berkaitan dengan ibadah dan muamalah yang dikerjakan oleh manusia. Yang mana itinbath hukumnya telah dikaji oleh para ulama’.

Dapat disimpulkan bahwa

Pertama, makna syariat dari objek kajian lebih umum daripada makna fiqih. Jika fiqih berkaitan dengan amaliah seorang hamba, maka syariat berkaitan dengan aqidah atau keyakinan, amaliah (ibadah serta muamalah), juga berkaitan dengan akhlaq manusia.

Kedua, dilihat dari sifat umumnya maka keniscayaan berlaku untuk syariat, sebab syariat itu bersumber dari Allah ta’ala, maka kita hanya menerima selaku hambaNya. Adapun fiqih dalam banyak hukumnya merupakan buah ijtihad para ulama’ yang mengambil sumber dari Al Quran dan Hadits. Maka fiqh didapati banyak perbedaan di dalamnya dan bukanlah keniscayaan. Tetapi perbedaan dalam hal-hal cabang ini dibolehkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.

إِذَا حَكَمَ الحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

Jika seorang mujtahid  berijtihad kemudian benar maka baginya 2 pahala, namun jika ijithadnya salah maka baginya 1 pahala.

Maka fanatik dengan satu pendapat dengan diiringi merendahkan pendapat lainnya adalah jalan yang salah.

Ketiga, syariat Islam bersifat umum dan menyeluruh di semua aspek. Adapun fiqih bersifat lebih spesifik di bidang ibadah dan muamalah.

Contohnya adalah kewajiban shalat yang diperintahkan Allah ta’ala kepada semua hambanya. Maka kewajiban shalat itu adalah syariah, adapun bacaan dari shalat atau pakaian apa yang baiknya dipakai untuk shalat maka itu masuk ranah fiqih.

Keempat, Syariah Islam meliputi bidang fiqih. Segala hal yang diatur di dalam fiqih hingga kemudian menjadi kesepakatan atau perbedaannya terlingkupi dalam syariat.

Sumber Hukum Islam

Terkadang syariat juga bisa diartikan sebagai hukum atau aturan sebagaimana Allah ta’ala berfirman dalam Al Maidah 48

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Setiap umat telah kami tetapkan aturan / hukum dan jalan yang terang.”

Dalam Islam, sumber hukum pokok yang menjadi segala muara dalil ada 2 yaitu Al Quran dan Sunnah. Dari kedua hal inilah segala pedoman dan aturan disandarkan. Dan orisinalitas Al Quran masih terjaga hingga sekarang bahkan hingga kiamat.

Ini menunjukkan bahwa ajaran syariat Islam berlaku di zaman Nabi dan zaman setelahnya. Mampu diterakan dalam sekala keluarga hukum-hukumnya dan bisa juga diterapkan dalam skala yang lebih besar berbentuk negara.

Jika dalil pokok itu ada 2 Al Quran Sunnah, mak turunan dari kedua dalil itu setidaknya ada 8 dalil sebagaimana disebutkan ulama’ ushul fiqih. Dalil itu berupa Ijma’, qiyas, urf, qoul shohabi, saddu dzariah, istihsan, istishab dan maslahah mursalah.

Beda Syariat, Tarekat, Hakikat dan Ma’rifat

Sebagian ulama’ mengatakan bahwa ajaran Islam itu terbagi dalam 4 hal penting yaitu syariat, tarekat, hakekat dan makrifat.

Syariat

Syariat diartikan sebagai seluruh hukum yang dibebankan Rosulullah dari Allah ta’ala kepada manusia. Jadi melaksanakan syariat berarti melaksanakan seluruh perintah Allah ta’ala dan menjauhi segala larangan Allah.

Tarekat

Adapun tarekat adalah melaksanakan seluruh kewajiban dari Allah ta’ala ditambah dengan memalingkan diri dari segala hal yang tidak bermanfaat meskipun hukumnya sunnah. tarekat juga bisa berarti mengutamakan sifat wara’ dan zuhud agar tidak terjatuh dalam kema’siatan kepada Allah ta’ala. Dalam istilah lain tarekat ini adalah amalan tazkiyatun nafs.

Hakikat

Sementara hakikat adalah memahami sesuatu sesuai hakikatnya. Seperti menyelami hakekat ubudiyah seorang hamba kepada Allah ta’ala. Memikirkan secara mendalam tentang perintah Allah ta’ala dan larangan Allah, dengan tujuan agar semakin taat. Buah dari hal ini adalah bertambah yakin dan bertambah semakin tawadhu’.

Makrifat

Makrifat adalah berasal dari kata ma’rifah yang berarti mengetahui sesuatu. Definisi yang paling sederhana adalah apa yang diungkapkan Imam AL Qushairi mengutip pendapat Abdurrahman bin Muhammad. Bahwa makrifat itu membuat tenang hati, sebagaimana ilmu pengetahuan umum membuat tenang akal fikiran.

Maksud Menerapkan Syariat Islam

Adapun maksud dari menerapkan syariat Islam, yang hari ini banyak menjadi perbincangan adalah menerapkan semua hukum Islam baik dalam tataran individual maupun tataran negara.

Penegakan syariat Islam ini hukumnya wajib, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran surat An Nisa’ ayat 65

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

Maka sungguh tidak beriman mereka hingga menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian tidak didapati dalam diri mereka berat hati atas keputusan itu. Mereka menerima spenuhnya.

Maksudnya adalah ciri dari orang beriman itu adalah berhukum dengan apa yang menjadi hukum Nabi nya dan berserah diri terhadap apa yang diputuskan dalam AL Quran.

Allah ta’ala juga berfirman dalam surat Al Maidah 45

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka adalah orang yang dzalim.

Dzalim karena hak hukum dan undang-undang itu hanya Allah ta’ala saja. Tetapi diselewengkan oleh sebagian orang dengan membuang hukum Allah diganti dengan hukum selainnya.

Kewajiban untuk menegakkan Islam secara utuh ini juga disampaikan oleh Imam Fakhruddin Ar Razi. Saat menafsirkan Ayat dari Surat Al Baqoroh 208.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya ia adalah musuhmu yang nyata.” (QS Al Baqoroh 208)

Maka Imam ar Razi rahimahullah pernah berkata

أى دُومُوا عَلَى الإِسْلاَمِ فِيمَا يَسْتَأنِفُوْنَهُ مِنَ العُمْرِ وَلاَ تَخْرُجُوا عَنْهُ وَلاَ عَنْ شَرَائِعِهِ

“Maksudnya adalah tetap konsistenlah kalian dengan islam sejak permulaan umur masuk islam dan janganlah kalian keluar dari Islam serta syariatnya. (Tafsir al Kabir, Imam Fakhruddin ar Razi)



[1] Al muhtar min shihhatil lughah

[2] Disebutkan di dalam al madkhal ila syariah wal fiqh islami, hal 14