Ciri Meninggal Baik, Selalu Husnudzon Kepada Allah

Salikun.comCiri Meninggal Baik, Husnudzon Kepada Allah dan Takut atas Dosa

Husnudzon Kepada Allah itu Wajib

Jangan ada seorang pun yang meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan Takut kepada Nya.

Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam bersabda dalam hadits riwayat Al Bukhari

لا يَموتنَّ أحدكم إلا وهو يُحسن الظن بالله – عز وجل

Jangan ada seorangpun dari kamu sekalian yang mati melainkan ia berbaik sangka kepada Allah ‘azzawajalla (HR Al Bukhari)

Baca juga : Berandai-andai ingin menuju kematian, bolehkah ?

Larangan Suudzon Kepada Allah

Sebab ada suatu kaum yang celaka karena mereka berburuk sangka kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat Fushilat 23

وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ ٱلَّذِى ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَىٰكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

“Dan yang demikian itu adalah prasangka kalian yang kalian sangkakan kepada Allah, Dia telah membinasakan kalian, sehingga kalian termasuk dari orang yang merugi.”

Hunudzon Disertai Khawatir dengan Dosa

Dalam hadist hasan yang diriwayatkan Ibnu Majah menyebutkan, Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam pernah menemui seorang pemuda saat menjelang ajalnya. Beliau bertanya, “Apa yang kamu rasakan dari dirimu ?” maka pemuda itu menjawab, “Aku mengharap rahmat Allah ta’ala wahai Rosulullah, namun aku takut akan dosaku.” Maka Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam bersabda

لا يجتمعان في قلبِ عبدٍ في مثلِ هذا الموطنِ إلَّا أعطاه اللهُ ما يرجوه وأمَّنه ممَّا يخافُ

Tidaklah berkumpul dalam hati seorang hamba saat situasi seperti ini, kecuali Allah akan berikan kepadanya apa yang dia harapkan dan Allah amankan dia atas apa yang ia takutkan.

Baca juga : Tuntunan Doa Qunut Subuh, Witir dan Nazilah

Dalam hadits riwayat Ibnu Hibban dan dishohihkan Ibnu Hajar, disebutkan hadist qudsi bahwa Allah subhaanahuwata’ala berfirman

وعزتي لا أجمع على عبدي خوفين ولا أجمع له أمنين ، إذا أمنني في الدنيا أخفته يوم القيامة ، وإذا خافني في الدنيا أمنته يوم القيامة

Demi keagunganku, Aku tidak akan kumpulkan pada diri hambaku 2 ketakutan dan 2 keamanan. Jika ia merasa aman dariKu di dunia maka akan Aku beri rasa takut dia pada hari kiamat. Dan jika dia takut kepadaKu di dunia, maka akan Aku beri rasa aman di hari kiamat.

Cara Berbaik Sangka Kepada Allah ta’ala Saat Menghadapi Maut

Berbaik sangka kepada Allah ta’ala saat menghadapi maut hendaknya diperbesar daripada saat ia sedang dalam kondisi sehat. Yaitu berbaik sangka bahwa Allah ta’ala akan mengampuni dosanya dan merahmati dirinya. Hal itu dilakukan agar ia menjadi golongan yang difirmankan Allah ta’ala dalam hadits qudsi

انا عند ظن عبدي بي فليظن ما يشاء

Aku sesuai dengan prasangka hambaKu kepadaKu, maka biarlah dia bersangka tentang Aku sekehendaknya. (Muttafaq ‘alaihi)

Abdullah ibnu Umar radhiyallahu’anhu mengatakan,

عمود الدين وغاية مجده وذروة سنامة: حسن الظن بالله. فمن مات منكم وهو يحسن الظن بالله: دخل الجنة مدلاً

“Tiang agama, kemulian teragung dan puncak tertinggi adalah husnudzon kepada Allah. Maka barangsiapa diantara kalian mati sedangkan dia husnudzon kepada Allah, dia akan masuk surga dengan manja.” Maksudnya dalam keadaan gembira tanpa rasa takut.

Diantara hal yang dapat dilakukan agar berhusnudzon kepada Allah disaat genting ini adalah

  • Memprioritaskan Husnudzon dan roja’ daripada khouf

Husnudzon dan rasa harap yang tinggi ini pula yang ditekankan oleh seorang tabiin bernama Fudhoil bin Iyadh rahimahullah

الخوفُ أفضلُ مِنَ الرَّجَاءِ مَا دَامَ الرَّجُلُ صَحِيحَاً فَإذا نَزَلَ بِهِ الموتُ فالرَّجَاءُ أَفْضَل

Khouf (rasa takut) itu lebih utama daripada roja’ (rasa harap) ketika seseorang dalam keadaan sehat. Namun jika maut telah datang kepadanya, maka roja’ adalah lebih utama.

  • Mengingat Amal Baiknya Tatkala Sehat dulu

Ibnu Abi Dunya menyebutkan dari Khalifah bin Husain dari Ibrahim, ia berkata

كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُلَقِّنُوا الْعَبْدَ مَحَاسِنَ عَمَلِهِ عِنْدَ مَوْتِهِ لِكَيْ يُحْسِنَ ظَنَّهُ بِرَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dahulu orang-orang suka memberitahukan kepada seseorang yang akan mati tentang amal baiknya tatkala sehat, hal itu dilakukan agar ia husnudzon kepada Allah azza wa jalla.[1]

Sementara itu Zaid bin Aslam seorang tabiin bercerita, ada seseorang didatangkan pada hari kiamat. Lalu dititahkan, “Bawalah orang ini ke neraka.” Orang itu segera bertanya, “Mana shalat dan puasaku ?” Maka Allah ta’ala berfirman,

اليوم أقنطك من رحمتي كما كنت تقنط عبادي من رحمتي

Hari ini Aku putus rahmatKu kepadamu, sebagaimana dahulu kamu memtus rahmatKu atas hambaKu.[2]

Imam al Baihaqi mengatakan Laki-laki tersebut melihat dirinya orang yang baik, ia juga melihat bahwa dirinya akan selamat lantaran amalan ibadahnya. Namun ia lupa bahwa Allah ta;ala maha luas ampunannya. Allah ta’ala mengampuni siapapun yang Ia kehendaki.


[1] Disebutkan oleh Ibnu Abi Dunia dalam kitab al Muhtadhirin

[2] Disebutkan oleh Abu Nuaim dalam hilyah auliya

Add a Comment

Your email address will not be published.