Doa Masuk Makam atau Kuburan dan Kebolehan Menangis

Doa Masuk Makam atau Kuburan dan Bolehnya Menangis di Dalamnya

Salikun.com – Doa Masuk Makam atau Kuburan dan Bolehnya Menangis di Dalamnya

Sunnah Salam Saat Masuk Makam Muslim

Termasuk diantara adab masuk ke dalam makam kaum muslimin adalah berdoa atau mengucapkan salam kepada mereka. Meskipun jasad mereka mati, tapi sebenarnya mereka hidup dalam dimensi yang berbeda. Mereka mendengarkan ucapan atau doa orang yang masih hidup.

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata,

ما من عبد يمر بقبر رجل كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا عرفه و رد عليه السلام  ‌

Tidaklah seorang hamba melewati kuburan sesorang, yang ia kenal saat di dunia. Kemudian ia mengucapkan salam kecuali orang yang dikuburan tahu dan menjawab salamnya.

Dalam riwayat lain ditambah dengan perkataan seandainya ia tidak mengenal, maka orang yang meninggal dunia hanya menjawab salamnya saja.

Baca juga : Kematian, Boleh diminta ?

Adapun doa atau ucapan yang disunnahkan adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam hadist Aisyah radhiyallahuanha, ia bertanya kepada Nabi Muhammad sallallahu’alaihiwasallam, “Ya Rosulullah, apa yang harus aku ucapkan saat memasuki kuburan ?” maka beliau sallallahu’alaihiwasallam menjawab

السَّلامُ على أهلِ الدِّيارِ من المؤمنينَ والمُسْلمينَ، ويَرْحَمُ اللهُ المُستَقدِمينَ مِنَّا والمُستَأخِرينَ، وإنَّا إن شاءَ الله بكم لَلاحِقونَ

Salam sejahtera (selamat) bagi kalian para penghuni (makam) dari orang-orang beriman dan orang-orang muslim. Semoga Allah merahmati orang yang mendahului kita dan yang datang  setelahnya. Dan kita -jika Allah menghendaki- akan menyusul kalian. (HR Muslim)

Dalam riwayat lain ditambahkan dengan ucapan

أسأَلُ الله لنا ولكم العافِيةَ

“Aku memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kalian.” (shahih, HR Muslim)

Doa Masuk Makam atau Kuburan dan Bolehnya Menangis di Dalamnya

Hukum Menangis di Makam atau Kuburan

Adapun hukum menangis di sisi kuburan adalah boleh, asalkan tidak sampai pada taraf yang berlebihan. Yaitu hingga memperlihatkan keluhan yang melampaui batas. Dalam sebuah hadist shahih muttafaq alaih disebutkan, Nabi melewati seorang perempuan yang menangis di sisi kuburan. Maka beliau bersabda

اتقي الله واصبري

Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah

Dari hadist ini nabi mengingatkan agar si perempuan bertaqwa dan bersabar atas musibah yang menghampirinya. Namun nabi tidak melarang atau memerintahkan untuk berhenti menangis, sebab kesedihan itu memiliki tanda berlinangnya air mata. Sehingga ulama’ menyimpulkan bolehnya hal yang demikian.

Baca juga : Doa Mohon Kesembuhan Sesuai Al Quran dan Sunnah

Selain itu, ibrah dari hadist diatas adalah bolehnya wanita keluar rumah dan berziarah kubur, dan inilah pendapat mayoritas ulama’. Dengan catatan wanita tersebut keluar dalam keadaan terjaga dari fitnah. Yaitu dengan tidak tabarruj dan berhias dengan berlebihan. Sebab yang demikian ini dilarang dalam syariat.

Menangis yang diperbolehkan adalah menangis wajar karena tanda kesedihan. Adapun bentuk tangisan yang berupa jeritan hingga menampar pipi dan menyobek-baju maka ini adalah niyahah. Yakni teriakan keluh kesah yang dilarang oleh para ulama. Hal demikian diancam oleh Nabi sallalhu’alaihiwasallam sebagaimana riwayat Imam Muslim,

أنا بَرِيء مِمَّن حَلَق وسَلَق وخَرَق

Aku berlepas diri terhadap orang yang (bersedih) menjambak-jambak rambut, berguling dan merobek-robek baju. (HR Muslim)

Adapun menangis dengan wajar itu diperbolehkan bahkan termasuk fitrah saat seseorang sedih ditinggal oleh orang yang disayangi. Nabi sallallahu’alaihiwasallam sendiri menangis saat putranya Ibrahim[1] meninggal dunia. Hal ini sebagaimana riwayat Imam Bukhari.

إن العين تدمع، والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يُرْضِى ربنا، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون

Sesungguhnya air mata ini bercucuran, hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan kecuali apa yang Allah ridhoi. Dan sungguh kami atas perpisahan denganmu ini bersedih wahai Ibrahim. (HR Bukhari)


[1] Ibrahim adalah putra Nabi sallallahu’alaihiwasallam yang lahir tahun 8 H di Madinah. Ia wafat saat berusia 18 bulan. Ia adalah anak terakhir Rosulullah dari rahim ummahatul mukminim Maria al Qibtiya

Add a Comment

Your email address will not be published.