Inilah Pedihnya Sakaratul Maut, Dirasakan juga Oleh Nabi dan Malaikat

sakaratul maut, ilustrasi

Salikun.comInilah Pedihnya Sakaratul Maut, Dirasakan juga Oleh Nabi dan Malaikat

Sakaratul Maut

Allah subhaanahu wata’ala menyebutkan bahwa sebelum manusia meninggal dunia akan ada proses sakaratul maut yang mengiringi. Allah ta’ala berfirman dalam surat Qaaf 19

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ ٱلْمَوْتِ بِٱلْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenarnya, itulah hal yang kamu sekalian selalu lari darinya.” (QS Qaaf 19)

Baca juga : kematian, Bolehkan diminta untuk Disegerakan Saat Sedang tertimpa Musibah Berat ?

Imam al Qurtubi menyebutkan bahwa sakaratul maut itu artinya kesusahan saat akan meninggal dunia. Dan prosesi ini dialami oleh semua makhluk Allah dengan jinis tingkatan makhluk yang berbeda-beda. Allah ta’ala berfirman dalam Ali Imran 185

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ

Setiap jiwa pasti merasakan kematian.

Saat Nabi Muhammad Merasakan Sakaratul Maut

Ketika Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam akan meninggal dunia, beliau merasakan sakaratul maut. Di dekat Nabi ada sebuah bejana berisi air, maka beliau memasukkan tangannya ke dalam air dan mengusapkan ke wajahnya seraya berkata,

لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ

“Tidak ada tuhan selain Allah, sesungguhnya kematian itu diiringi dengan sakarat”

Kemudian beliau menengadahkan atau menegakkan tangannya dan berkata lagi

مع الرَّفِيقِ الأَعْلَى

“Bersama ar Rafiq al A’la (Allah subhaanah)” (HR Al Bukhari)

Baca juga : Doa Mujarab Diberi Kesembuhan dan Terapi Ruqyah Mandiri

Setelah melihat proses sakaratul maut Nabi sallallahu’alaihiwasallam, Maka Aisyah (yang saat Nabi mengalami sakarat, ia berada disampingnya) pernah mengatakan

ما أَغْبِطُ أحدًا بهَوْنٍ موتٍ بَعْدَ الذي رَأَيتُ مِنْ شدَّة مَوْت رسول الله -صلى الله عليه وسلم

“Aku tidak bisa berharap akan adanya keringanan maut, setelah melihat sendiri beratnya proses kematian Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam.” (HR Tirmidzi, shahih)

Sakaratul Maut Menghampiri Para Nabi

Bahkan dahsyatnya sakarat ini pernah dikisahkan, suatu ketika Nabi Isa ‘alaihissalam pernah menghidupkan orang yang mati ribuan tahun sebelum beliau yaitu dari kalangan putra Nabi Nuh ‘aliaissalam. Orang yang dihidupkan itu bernama Sam bin Nuh.[1]

Setelah Sam hidup kembali, terlihat uban di jenggotnya padahal uban belum ada kecuali dimiliki pertama oleh Ibrahim alaihissalam. Sam mengatakan, “Aku mendengar seruan berbangkit yang aku kira itu adalah kiamat dan membuat rambut dan jenggotku memutih.” Lalu Sam bin Nuh mengatakan bahwa ia meninggal sekitar 4000 tahun yang lalu tapi hingga saat itu dihidupkan ia masih merasakan sakitnya sakaratul maut.[2]

Beratnya saat sakarat ini juga dirasakan oleh kalimullah Musa ‘alaihissalam, saat Allah berfirman kepadanya,

يا موسى كيف وجدت الموت ؟
 قال : وجدت نفسي كشاة تسلخ بيد القصاب وهى حية

“Hai Musa bagaimanakah rasanya mati itu?” maka Nabi Musa menjawab, “Saya rasakan diriku seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup oleh tukang jagal.”[3]

Bahkan dahsyatnya kematian ini juga dirasakan Ibrahim ‘alihissalam sebagaimana disebutkan dalam kisah Israiliyat.

كسفود محمى جعل في صوف رطب ثم جذب

“Bagaikan batang besi pemanggang daging yang dipanaskan kemudian dimasukkan kedalam benang wol yang basah lalu ditarik.”

Abu Bakar Ibnul Arabi mengakatan bahwa sakitnya sakaratul maut tidak hanya dirasakan oleh manusia saja, tetapi juga dirasakan oleh malaikat yang diwafatkan Allah ta’ala kelak. Bahkan malaikat pencabut nyawa pun juga menerima rasa sakit yang luar biasa, saat Allah ta’ala mencabut nyawanya.

وعزتك لو علمت من سكرة الموت ما أعلم ما قبضت نفس مؤمن

Demi keagungan Mu, kalau aku tahu pedihnya sakaratul maut seperti yang aku rasakan ini maka aku tidak ingin mencabut nyawa orang beriman.[4]

Sahabat Amr bin Ash saat akan meninggal dunia, ditanya oleh anaknya tentang beratnya sakarat yang tengah ia rasakan. Maka ia menjawab

يا بني والله كأن جنبي في تخت , وكأني أتنفس من سم إبرة , وكأن غصن شوك يجذب من قدمي إلى هامتي

Wahai anakku, demi Allah, seakan-akan lambungku terhimpit lemari, seolah aku bernafas melalui lubang jarum, dan seakan ada dahan berduri yang ditarik dari kedua telapak kakiku sampai ke ujung kepalaku.[5]

Inilah Pedihnya Sakaratul Maut, Dirasakan juga Oleh Nabi dan Malaikat

Mengapa Para Nabi dan Orang Shalih juga Merasakan Sakaratul Maut?

Para ulama’ menyebutkan bahwa Ibroh dari proses sakaratul maut yang juga dirasakan oleh Nabi setidaknya ada dua hal

Agar semua orang tahu betapa pedihnya Kematian

Bentuk pedihnya sakaratul maut ini adalah perkara batin yang tidak tampak di hadapan manusia.  Mungkin ada yang menyangka bahwa seolah mati itu gampang dirasakan oleh banyak orang dan tampak tenang-tenang saja saat proses meninggal padahal yang tahu rasanya adalah orang yang meninggal. Maka dengan diperlihatkan rasa kematian kepada orang yang paling jujur di dunia ini yaitu Nabi, orang-orang akan mengambil ibrah bahwa memang benar proses kematian itu amat sangat berat.

Keutamaannya Semakin Tinggi

Kedua, barangkali ada yang bertanya mengapa orang sholeh juga ikut merasakan sakitnya ?  maka jawabnya adalah hal ini agar keutamaan mereka semakin tinggi dengan cobaan itu, sebab mereka akan menghadap Allah ta’ala. Cobaan itu diberikan untuk meninggikan derajat mereka. Nabi bersabda

أن أشد الناس بلاء في الدنيا الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل

Sesungguhnya orang yang paling besar ujiannya di dunia adalah para nabi kemudia orang yang semisalnya dan yang semisalnya (orang sholih). (HR Bukhari)

Kisah dan Ibrah tentang Kematian

Dikisahkan bahwa Harun ar Rasyid ketika menderita sakit keras, maka seorang dokter dari Thus datang kepadanya dan memeriksa tubuhnya. Dokter itu meminta Harun kencing dan memasukkan air seninya ke dalam botol, ia juga meminta orang yang sehat memasukkan air seninya di botol lain. Saat meneliti air seni Harun, sang dokter mengatakan, “katakan kepada pemilik air seni ini agar ia menuslis wasiat, sesungguhnya kekuatannya telah memudar dan bangunan fisiknya mulai runtuh.”

Setelah mengetahui kondisinya itu Harun ar Rasyid memilih kain kafan yang ia inginkan, lalu ia meminta digalikan kuburan di dekat tempat tidurnya saat itu. Ia terus memandangi liang lahat itu dan berkata, “Hartaku sudah tidak berguna dan kekuasaanku telah hilang.” Malam itu juga Harun ar Rasyid meninggal dunia. Ia telah merasakan hawa sakarat itu sebelumnya dan mempersiapkan hal yang disiapkan, semoga Allah merahmatinya.

Dalam kisah lain disebutkan oleh Imam Qurtubi rahimahullah, ada dua orang lelaki bertengkar memperebutkan sebidang tanah. Maka Allah ta’ala menjadikan sebuah batu bata di dekat tembok pertengkaran itu mampu berbicara. Batu bata itu berkata,

“Hai kalian berdua mengapa bertengkar ? Ketahuilah dulu aku adalah seorang raja selama seribu tahun, lalu aku mati dan menjadi tanah. Aku tetap menjadi tanah selama seribu tahun lamanya, kemudian datanglah seorang pengrajin tembikar dan mengambilku untuk dijadikan bejana. Aku dipakai sampai diriku pecah dan kembali jadi tanah liat selama sekian tahun. Hingga tiba saatnya aku diambil oleh pengrajin batu bata dan ia mencetakku menjadi batu-bata dan digunakan menjadi tembok seperti ini. Lalu untuk apa kalian bertengkar dan apa sejatinya yang kalian rebutkan ?”


[1] Kisah ini juga disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya.

[2] https://islamqa.info/ar/answers/271403/هل-احيا-عيسى-عليه-السلام-باذن-الله-سام-بن-نوح

[3] Kisah israiliyat ini disebutkan oleh al Marwazi dalam al janaiz

[4] Disebutkan dalam sirojul muridin, oleh Ibnul Arabi

[5] Kisah ini disebutkan oleh Imam Dzahabi dalam siyar a’lam nubala’