Wafat Berkeringat, Tanda Kematian Baik Bagi Orang Beriman

Keringat, Tanda Kematian Baik Bagi Orang Beriman

Salikun.comKeringat, Tanda Kematian Baik Bagi Orang Beriman

Keringat, Tanda Khusnul Khotimah

Seseorang yang meninggal dalam keadaan beriman kepada Allah ta’ala kemudian ditandai dengan keringat di dahi atau pelipisnya maka ini adalah tanda ia berada dalam khusnul khotimah.

Hal ini didasarkan oleh sabda Nabi sallallahu’alaihi wasallam yang dihasankan oleh Imam Tirmidzi,

المؤمن يموت بعرق الجبين

Seorang mukmin meninggal dengan berkeringat di pelipisnya. (HR Tirmidzi)

Mengapa Keringat Menjadi Tanda Kematian Baik

Para ulama’ berbeda pendapat soal mengapa keringat menjadi tanda kematian baik orang beriman saat meninggal dunia. Sebagian ulama’ menyebutkan bahwa karena orang tersebut masih memiliki dosa-dosa yang tersisa saat di dunia, sehingga dibalas saat meninggal dunia hingga membuat pelipisnya berkeringat.

Sementara ulama’ lainnya menyebutkan bahwa sebabnya adalah rasa malu yang dimiliki orang beriman kepada Allah ta’ala karena dosanya yang masih tersisa. Karena anggota tubuh bagian bawah telah mati, tinggallah aktivitas dibagian atas dan rasa malu itu menghinggapi kedua matanya dan berkeringat di kedua pelipisnya.

Baca juga : Ajal dan Kematian, bolehkah diminta ?

Dosa yang tersisa itu akan dikurangi saat meninggal dunia, sehingga semakin ringanlah langkahnya kelak menghadap Allah ta’ala. Itulah tanda baik bagi orang-orang yang beriman. Adapun berkeringat sebagai tanda baik itu tidak berlaku bagi orang-orang kafir, sebab kekufurannya kepada Allah ta’ala begitu pula tidak berlaku buat orang-orang munafiq atau fasiq.

Tanda Lain Kematian Baik

Selain berkeringatnya pelipis, tanda kematian baik yang lain adalah mengembangnya lubang hidung dan berlinangan air matanya. Sebab itu adalah turunnya rahmat Allah kepadanya. Adapun bagi yang mendengkur kematiannya, memerah/menghitam wajahnya dan berbuih mulutnya maka itu adalah ciri orang suul khotimah. Namun hadist terkait hal ini di dhaifkan oleh al Hafidz Iraqi.[1]

Ketika ada orang beriman yang merasa berat dengan kematian hingga pilipisnya berkeringat maka terhapuslah dosa-dosanya di dunia. Nabi bersabda dalam riwayat abu Nuaim dan dihasankan oleh Al Al bani.

إن نفس المؤمن تخرج رشحا وإن نفس الكافر تسيل كما تخرج نفس الجمار وإن المؤمن ليعمل الخطيئة فيشدد بها عليه عند الموت ليكفر بها وإن الكافر ليعمل الحسنة فيسهل عليه عند الموت ليجزى بها

Sesungguhnya jiwa seorang mukmin itu keluar dengan keringat, sementara jiwa orang kafir mengalir layaknya keledai yang mati. Sesungguhnya seorang mukimin yang berbuat kesalahan maka akan diperberat ketika meninggal dunia agar terhapus kesalahan tersebut. Adapun orang kafir yang berbuat kebaikan selama didunia maka dimudahkan kematiannya dan itu adalah balasan kebaikannya di dunia.

Baca juga : Arti Mimpi Gigi Copot, Benarkah Berarti ada Orang Meninggal dari Kerabat ? Ini Kata Para Ulama’

Maka jika ada pertanyaan mengapa sebagian orang kafir matinya dalam keadaan tenang? Maka jawabnya adalah kebaikannya selama di dunia itu akan dibalas saat proses kematiannya. Dan kebaikannya itu tidak bermanfaat saat ia dalam barzakh dan alam akhirat disebabkan kufurnya ia dengan syariat Allah ta’ala.

Keringat, Tanda Kematian Baik Bagi Orang Beriman

Kematian adalah Kaffarah (Penebus Dosa) bagi setiap Muslim

Kematian adalah salah satu sebab terhapusnya dosa-dosa seorang muslim. Hal ini sebagaimana hadist yang dihasankan oleh Ibnul Arabi, Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam bersabda

الموت كفارة لكل مسلم

Kematian adalah kafarah bagi setiap muslim.

Kaffarah diatas bisa berarti adalah istirahatnya dari rasa sakit yang amat sangat saat di dunia dan diakhiri dengan kematiannya atau bisa juga penebus saat proses sakaratul maut itu dengan dosanya.

Adapun kematian mendadak, maka bagi orang beriman tetaplah disebut sebagai kematian yang baik. Sebab ia akan berjumpa dengan Robbnya, dzat yang ia rindui. Ibnu Abbas menuyebutkan bahwa adalah Nabi Daud alaihissalam adalah nabi yang mendadak meninggal dunia saat hari sabtu.

Sehingga dalam sebuah perkataan disebutkan bahwa

موت الفجأة راحة للمؤمن و اخذة أسف للكافر

Kematian mendakak adalah istirahatnya seorang mukmin dan hukuman menyedihkan untuk orang kafir.[2]

Dalam riwayat Ibnu Mubarak[3], Abu Darda’ radhiyallahuanhu mengatakan

أحب الموت اشتياقاً إلى ربي، وأحب الفقر تواضعاً لربي، وأحب المرض تكفيراً لخطيئتي

Aku suka kematian sebab rinduku kepada Robbku, aku suka kefakiran karena rendah diriku untuk Robbku, dan aku suka sakit karena menghapus dosaku.

Ibroh Sakaratul Maut yang Sulit dan Mudah Bagi Orang Mukmin dan Kafir

Sehingga karenanya tidak heran jika Umar bin khottob mengatakan bahwa jika ada orang beriman yang merasakan sakit saat sakaratul maut namun berbading terbalik dengan keadaan sebagian orang kafir yang tenang saat meninggal.

Hal itu disebabkan akan sakitnya akan mempermudah jalannya ke surga bagi orang beriman dan rasa tenang orang kafir itu akan menenagkannya menuju neraka.

Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu mengatakan

إذا بقي على المؤمن من ذنوبه شيء لم يبلغه بعمله شدد عليه الموت ليبلغ بسكرات الموت و شدائده درجته من الجنة و إن الكافر إذا كان قد عمل معروفا في الدنيا هون عليه الموت ليستكمل ثواب معروفه في الدنيا ثم يصير إلى النار

Apabila masih tersisa dosa orang beriman dan tidak dihapus dengan amalan sholehnya, maka dipersulitlah kematiannya agar merasakan sakaratul maut, agar dengan sakit itu ia mencapai derajat surga. Adapun jika ada orang kafir yang beramal baik selama di dunia, maka diringankan kematiannya agar lengkap balasan dari kebaikan itu di dunia kemudian jalan selanjutnya adalah ke neraka.[4]


[1] Di dhoifkan oleh al Hafidz al Iraqi dalam at takhrij ala ihya’ ulumiddin.

[2] Ungkapan ini bila disebut hadist maka ia adalah hadist dhoif yg diriwayatkan oleh Aisyah. Adapun yang lebih tepat ia disebut bukan hadist.

[3] Disebutkan dalam kitab zuhd, ibnu Mubarok

[4] Atsar umar ini diriwayatkan langsung oleh Zaid bin Aslam, bekas budak Umar.