Orang Tua Nabi Muslim atau Kafir? Ini Hujjahnya

Salikun.comOrang Tua Nabi Muslim atau Kafir? Ini Hujjah Masing-masing Kelompok

Ada 2 pendapat di kalangan ulama’ menyikapi hal ini. Sebagian ulama’ menyatakan bahwa orang tua nabi dalam keimanan, sementara sebagian ulama’ lainnya menyebut orang tua Nabi tidak dalam keadaaan Iman.

Berikut tanggapan dan hujjah dari masing-masing kelompok.

Orang Tua Nabi Adalah Muslim

Abu Bakar Al Khatib al Baghdadi, Umar bin Syahin, As Suyuti dan Al Qurtubi lebih condong pada pendapat bahwa kedua orang tua Nabi beriman.

Dalilnya adalahAda sebuah hadist yang disebutkan oleh Abu Bakar al khatib al baghdadi dalam As Sabiq wa Lahiq dan disebutkan juga oleh Umar bin Syahin dalam An Nasikh wal Mansukh. Aisyah meriwayatkan, Suatu ketika Rosulullah menunaikan Haji wada’ bersama kaum muslimin. Saat melewati jalan di dekat bukit Hujun Makkah, tiba-tiba beliau menangis maka Aisyah juga ikut menangis kemudian beliau turun dari ontanya dan berkata kepada Aisyah, “berhentilah menangis wahai humairoh.” Kemudian Rosulullah berjalan sendiri di suatu tempat lalu kembali dalam keaadan tersenyum.

Maka Aisyah bertanya kepada beliau, mengapa tadi beliau menangis dan sekarang tersenyum. Maka Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam mengatakan bahwa beliau pergi ke kuburan Ibunya, dan memohon kepada Allah agar menghidupkannya, maka Allah ta’ala menghidupkannya dan kemudian ia hidup dan beriman kepada Nabi Muhammad sallallahu’alaihiwasallam.[1]

Baca juga : Seorang Muslim Hendaknya Ingin minta panjang umur untuk selalu berbuat baik dan bermanfaat

Perbedaan Pendapat Ulama’ Tentang Status Orang Tua Nabi, Muslim atau Kafir

Dalil diatas dibantah oleh sebagian ulama’ diantaranya adalah Ibnu Jauzi bahwa hadist diatas derajatnya masuk dalam hadist palsu. Sementara menurut Imam Muslim orang tua Nabi meninggal tidak dalam keadaan beriman karena ada hadist shahih dimana nabi pernah berkata, sesungguhnya ayahku dan ayahmu ada di neraka.[2]

Namun oleh Imam Al Qurtubi bahwa dihidupkannya orang tua nabi itu terjadi saat haji wada’ jadi hadist Imam Muslim dimansukh dengan hadist yang disebutkan oleh Khatib al Baghdadi.

Namun kemudian dibantah lagi bahwa meninggalnya ibunda Nabi itu ada di Abwa, bukan di Hujun saat nabi meninggalkan Aisyah dan ke kuburan Ibundanya. Jarak Hujun dengan Abwa sendiri berkisar 200km.

Baca juga : Panduan Doa Qunut Lengkap, Latin Arab dan Artinya

Tapi pendapat diatas juga masih bisa dibantah, bila itu terjadi dengan izin Allah jarak 200km itu bukanlah hal yang mustahil ditempuh dalam waktu sesaat. Sebab saat isra’ dari Makkah ke Baitul Maqdis yang berjarak 1400km saja bisa ditempuh dalam waktu hanya berapa menit/jam.

Dihidupkannya kedua orang tua nabi secara akal dan syari bukanlah suatu hal yang mustahil bagi Allah ta’ala untuk Nabi Muhammad. Sebab dahulu di zaman nabi Musa ada seorang bani israel yang dihidupkan kembali untuk mengungkap orang yang membunuhnya. Atau kisah Nabi Isa yang bisa menghidupkan Sam bin Nuh dan orang yang meninggal dunia dengan izin Allah.

Wallahu a’lam

Kemudian hadist yang mirip dengan diatas adalah yang disebutkan oleh Abul Qosim Abdurrahman As suhaili al andalusi dalam kitab Ar Raudh al Unuf, dengan isnad sebagian perawinya majhul. Bahwa Allah ta’ala telah menghidupkan ayah dan ibu nabi dihadapan beliau. Lalu keduanya beriman kepada Allah ta’ala dan mengaku kenabian beliau sallallahu’alaihiwasallam.[3]

Namun pendapat ini dibantah, karena hadist tentang ini dianggap Munkar oleh Ibnu Katsir di dalam Al Bidayah, sebab berlawanan dengan hadist Salamah bin Yazid saat melihat kesedihan sahabat karena ibunya berada dalam neraka, dan Nabi mengatakan bahwa ibuku juga bersama ibu kalian berdua.

Namun pendapat ini dianggap dimansukh oleh sebagian ulama’ sebagaimana bantahan terhadap hadits pertama diatas.

Wallahu a’lam

Adapun menurut pendapat ulama’ yang mengatakan bahwa ayah Nabi di neraka dengan membawa hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, yaitu abi wa abuka fi naar. Dibantah oleh Imam Suyuti bahwa Abi disitu adalah Abu Tholib, sebab nabi dahulu memanggil pamannya dengan sebutan Abah.

Wallahu a’lam

Sebagia ulama’ yang menolak hadist “bahwa ayah dan ibu nabi dihidupkan dan beriman” mebantah dengan ayat Annisa 18. Sehingga ada ungkapan barangsiapa mati dalam keadaan kafir maka imannya setelah dihidupkan kembali tidaklah bermanfaat.

Pendapat diatas dibantah dengan ayat yang menceritakan keadaan kaum Nabi Yunus yang diterima taubatnya padahal mereka sedang dalam adzab Allah.

Namun Kisah Nabi Yunus ini dibantah oleh kelompok lain karena mengqiyaskan sesuatu yang berbeda (qiyas ma’al fariq). Sebab ayah ibu nabi sudah meninggal sementara kaum Nabi Yunus masih hidup.

Sementara menurut Abu Ja’far at Thahawi, bahwa Allah ta’ala pernah mengembalikan matahari kepada Nabi Muhammad padahal matahari itu sempat tenggelam, dan diundur lagi dan hukum-hukum yang ada di dalamnya tetap berjalan. Begitu pula dengan keadaan orang tua Nabi, jadi jika dihidupkan dengan izin Allah juga bisa diterima imannya.

Wallahu a’lam

Apapun itu, Allah ta’ala jualah yang lebih tahu dan bijaksana tentang urusan yang ghaib.

Diringkas dari kitab at tadzkirah, imam qurtubi, halaman 136 -142


[1] Menurut Ibnu Jauzi, hadist ini palsu

[2] Shahih muslim 203

[3] Menurut Ibnu Katsir hadist ini munkar