Robiul Awal, Bulan Lahir dan Wafatnya Nabi Muhammad

Robiul Awal, Bulan Nabi Lahir dan Wafat

Salikun.com – Termasuk diantara perkara penting yang terjadi pada bulan Robiul Awal adalah lahirnya Sang penutup para Nabi, yaitu Rasulullah Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berikut ini penjelasan detail tentang kemulian bulan robiul awal sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab al Hanbali dalam Lathooiful Ma’aarif.

Maulid Nabi (Kelahiran Nabi Muhammad) dan Kemuliannya

Sesungguhnya kemulian tentang kelahiran Nabi telah disebutkan dalam banyak riwayat yang ada. keutamaannya bahkan telah disebutkan jauh sebelum beliau lahir di dunia ini. Berikut penjelasan detailnya.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Irbad bin Sariyah, dari Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إني عبد الله في أم الكتاب لخاتم النبيين وإن آدم لمنجدل في طينته وسوف أنبئكم بتأويل ذلك: دعوة أبي إبراهيم وبشارة عيسى قومه ورؤيا أمي التي رأت أنه خرج منها نور أضاءت له قصور الشام وكذلك أمهات النبيين يرين

Sesungguhnya aku di sisi Allah (sebagaimana) tertulis dalam ummul kitab[1] adalah penutup para Nabi, dan sungguh Adam ‘alihissalam benar-benar berupa tanah liat (pada masa itu). Dan akan aku kabarkan kepada kalian tentang arti hal itu : bahwa aku adalah doa dari bapakku Ibrahim, dan sebuah bisayroh (kabar gembira) Isa untuk kaumnya, serta mimpi dari ibuku yang melihat bahwa keluar darinya cahaya yang menerangi istana-istana negeri Syam, dan begitu pula ibu-ibu para Nabi juga melihat hal itu. (HR Ahmad dan Hakim, shahih sanadnya menurut Hakim)

Awal Kenabian Muhammad

Dari hadist di atas menunjukkan bahwa kenabian Nabi Muhammad telah tertulis dalam lauhul mahfudz sebelum diciptakannya Adam ‘alaihissalam. Bahkan ketentuan-ketentuan taqdir makhluk telah ditulis sebelum diciptakannya bumi dan langit, sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.

ان الله كتب مقادير الخلائق قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة

Sesungguhnya Allah telah menulis ketentuan-ketentuan makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. (HR Muslim)

Salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi, “Ya Rosulullah, kapan engkau menjadi Nabi?” maka Nabi bersabda, “Sejak Nabi Adam antara ruh dan jasadnya.” (HR Ahmad dan Hakim, isnadnya shahih serta dihasankan Tirmidzi)

Andai Tanpa Muhammad Maka Aku Tidak Menciptamu Wahai Adam

Dalam sebuah hadist yang dishahihkan oleh Imam Hakim, bahwa Nabi Adam melihat nama Muhammad tertulis di atas arsy Allah, dan bahwasannya Allah ‘azza wa jalla  berfirman kepada Adam,

لولا محمد ما خلقتك

“Andaikan tanpa Muhammad maka Aku tidak menciptamu.” (HR Hakim)

Jadi kenabian Muhammad sallallahu’alaihi wasallam telah tertulis sebelum Nabi Adam dan mitsaq perjanjian itu telah diambil, sehingga lahir pada saatnya nanti melalui keturunan Adam ‘alaihissalam.

Bahkan dalam hadist yang diriwayatkan dari Qatadah bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كنت أول النبيين في الخلق وآخرهم في البعث

Aku adalah nabi yang paling pertama dalam penciptaan dan yang paling terakhir diutus. (HR Tabrani)[2]

Termasuk juga diantara dalil bahwa pengambilan mitsaq kerosulan beliau ada pada urutan yang pertama adalah dalam surat Al Ahzab ayat 7

وإذ أخذنا من النبيين ميثاقهم ومنك ومن نوح وإبراهيم وموسى وعيسى ابن مريم وأخذنا منهم ميثاقا غليظا

Dan ingatlah ketika kami mengambil perjanjian dari para nabi, dari dirimu (Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa ibnu Maryam. Dan telah kami ambil dari diri mereka mitsaq gholido (perjanjian yang teguh). (QS Al Ahzab 7)

Dalam ayat ini, penyebutan Nabi di awal sebelum para Rosul ulul azmi yang lain dapat diartikan bahwa beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rosul pertama dalam penciptaan dan perjanjian, namun yang paling akhir diutus untuk umat manusia. Dan beliau lahir dari keturunan Adam ‘alaihissalam.

Dari hadist Irbad bin Sariyah as sulami diatas (hadist pertama) maka Imam Ahmad bin Hanbal berdalil bahwa Rosulullah sallallahu ‘alahi wa sallam sudah bertauhid sejak lahir. Bahkan ada seorang bertanya kepada Imam Ahmad, “Bagaimana pendapatmu jika ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad berada di atas agama kaumnya sebelum beliau diutus menjadi Nabi?” maka jawaban Imam Ahmad, “Itu adalah perkataan buruk, hendaklah orang yang mengatakan hal demikian dijauhi.”

Dan sebagian ulama’ juga berdalil dengan riwayat diatas bahwa beliau sudah menjadi Nabi saat lahir, karena kenabian itu telah berlangsung sejak diambil mitsaq gholidho.

robiul awal maulid nabi

Nubuwah, Bisyaroh dan Cahaya yang Terang

Pertama : Dalam hadist Irbad bin Sariyah di atas disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah pengkabulan doa dari Nabi Ibrahim alaihimussalam. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah ta’ala dalam surat Al Baqarah 127-129 saat sang kholilullah membangun baitul haram bersama Ismail, lalu berdoa, “Ya Allah utuslah untuk mereka (kaum di baitul haram) seorang Rasul dari mereka yang membacakan untuk mereka ayat-ayatMu, mengajarkan kepada mereka al kitab dan hikmah, dan mensucikan diri mereka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Doa dari Nabi Ibrahim ini diijabahi Allah, dan diutuslah Nabi Muhammad dari orang Makkah keturunan Nabi Ismail ‘alaihimussalam. Beliau di utus di tengah bangsa arab yang menyembah patung, emperium persia yang berpaham majusi serta kekaisaran romawi yang beragama nasrani.

Kedua : Adapun maksud bisyaroh dari Nabi Isa bin Maryam adalah kabar gembira yang disampaikan untuk kaumnya pada saat itu, bahwa akan ada Nabi setelahnya. Hal ini sebagaimana termaktub dalam surat As Shaff ayat 6.

Ketiga : Maksud dari mimpi Aminah binti Wahab tentang cahaya adalah bahwa akan hadir melalui rahimnya seorang Nabi yang cahayanya begitu menyilaukan, yaitu Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnu Ishak menyebutkan dalam tarikhnya, mimpi tersebut diceritakan oleh Aminah saat beliau mengandung putranya. Dan diilhamkan kepadanya agar memberikan nama untuknya Muhammad. Dan saat ia lahir hendaklah (Aminah) mengucapkan. “Aku memohon perlindungan untuknya dengan yang Maha Esa dari setiap keburukan yang mendengki.” Namanya dalam Taurat dan Injil adalah Ahmad yang memujinya adalah penduduk langit dan bumi, dan disebut dalam Al Quran adalah Muhammad.

Disebutkan oleh Ibnu Saad dari Al Waqidi dengan riwayat dan sanad yang bermacam-macam, bahwa saat melahirkan Aminah tidak merasa kesulitan untuk mengeluarkan putranya dan kemudian bersama dengan anak tersebut cahaya yang terang, menerangi timur dan barat. Dan diangkatnya anak tersebut dan dihadapkannya ke langit.

Bahkan saat mengandung Nabi, Aminah tidak merasakan kesulitan dan kepayahan sebagaimana orang biasa mengandung anaknya. Dan tidak ada barokah yang lebih besar dari kandungannya. Hal ini diceritakan langsung oleh Halimah Sa’diyah, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Ja’far.

Kejadian terangnya cahaya yang mengiringi kelahiran beliau adalah nyata, hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, dari Usman bin Abul Ash, bahwa ibunya bersaksi melihat kejadian Aminah pada malam melahirkan Rosulullah, “Tidak ada yang aku lihat disekelilingnya kecuali terpancar cahaya, dan aku melihat bintang-bintang di langit mendekat seolah aku ingin mengatakan hampir-hampir jatuh menimpaku.”

Keempat :: Ada sebagian yang bertanya mengapa yang disebutkan dalam hadist ini adalah disinarinya istana-istana Syam? Maka ini menunjukkan keutamaan tersendiri dari Syam. Bahwa negeri Syam akan tersinari kekuasaan nubuwah Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ka’ab berkata, “Sesungguhnya di dalam kitab terdahulu yang membahas Muhammad Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, (tertulis) bahwa kelahirannya di Makkah, tempat hijrahnya di Madinah, kekuasaannya di Syam, dan dari Makkah dimulainya nubuwah Muhammad hingga akhirnya kekuasaannya mencapai Syam. Oleh karenanya ia di isra’ kan hingga ke Baitul Maqdis yang ada di Syam sebagaimana pendahulunya Ibrahim alaihissalam pun juga hijrah ke Syam.”

Sebagian ulama’ salaf berkata, “Tidaklah Allah utus Nabi kecuali dari Syam, andaikan tidak diutus dari Syam maka ia pernah berhijrah hingga ke Syam. Dan di akhir zaman kelak iman dan ilmu itu terpusat di Syam. Sehingga cahaya nubuwah di dalamnya lebih terang daripada seluruh negeri-negeri Islam.”

Selain itu, masih banyak hadist-hadist Nabi yang berbicara tentang kemuliaan Negeri Syam. Bahkan tempat turunnya Nabi Isa pun juga ada di Syam, dan poros perkumpulan kaum Muslimin bermuara di Negeri Syam saat melawan pasukan dajjal.

Tentang Maulud Nabi

Dari Abu Qotadah al anshoi bahwa Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari senin, maka beliau bersabda, “Itulah hari aku lahir dan diturunkan kepadaku kenabian.” (HR Muslim)

Seluruh ulama’ sepakat bahwa hari lahir beliau adalah hari senin sebagaimana kabar dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan penyebutan hari tersebut juga menunjukkan bahwa beliau menyukai hari senin.

Dari hadist diatas, Ibnu Rojab menyimpulkan bahwa kelahiran nabi itu terjadi pada siang hari senin. Hal ini karena hadist Abu Qotadah secara dzohir menunjukkan hal demikian. Sementara sebagian ulama’ lain berpendapat bahwa kelahiran beliau pada saat terbit fajar.

tanda kenabian

Tanda Kenabian dan Penutup Para Nabi

Imam Hakim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Di Makkah ada seorang Yahudi yang sering berkeliling kesana kemari, pada malam disaat Nabi lahir, orang Yahudi ini berseru, ‘Wahai penduduk Quraisy, apakah malam ini ada bayi yang lahir?’ Maka mereka berkata, ‘Kami tidak mengetahuinya.’ Orang Yahudi ini berkata, ‘Pada malam ini telah lahir seorang Nabi terakhir, diantara bahunya ada satu tanda titik yang ditumbuhi beberapa rambut.’ Kemudian mereka mendatangi Yahudi ini dan membawanya kepada ibunda Nabi. Mereka mengatakan, ‘Coba keluarkan anakmu.’ Lalu dikeluarkanlah beliau dan dilihat dari belakang punggunya ada tanda yang dimaksud, orang Yahudi itu lantas terdiam dan berlalu. Maka orang Quraisy berkata setelah itu, ‘Ada apa denganmu?’ Dia menjawab, ‘Demi Allah kenabian itu dari Bani Israil.’”

Dari hadist diatas disimpulkan bahwa tanda kenabian Nabi ada diantara bahunya. Tanda kenabian akhir dari diri beliau telah diketahui Ahli Kitab. Mereka mengetahuinya dari kitab-kitab mereka sendiri. Mereka bahkan mencarinya, namun justru menyembunyikannya.

Apakah Nabi Lahir Sudah Dikhitan ?

Ada beberapa riwayat yang membahas tentang hal ini. Satu riwayat menyebutkan bahwa beliau lahir sudah dalam keadaan dikhitan dan tali pusarnya sudah terputus, bahkan Imam Hakim menyebut riwayat ini sampai pada derajat mutawatir. Sementara menurut ulama’ lain bahwa yang mengkhitan beliau adalah kakeknya.

Adapun Imam Ahmad bersikap tawaquf dalam hal ini. Saat ditanya apakah Nabi lahir dalam keadaan dikhitan? Maka jawab beliau, “Wallahu a’lam, aku tidak tahu. Berkata Abu Bakar Abdul Aziz bin Ja’far dari sahabat kami ia meriwayatkan bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam  lahir dalam keadaan dikhitan dan tali pusarnya telah terputus.” Akan tetapi Imam Ahmad tidak berani mensahihkan hadist ini.

Tanggal, Bulan dan Tahun Nabi Lahir

Adapun bulan kelahiran Nabi, maka para ulama berbeda pendapat tentangnya. Sebagian berpendapat pada bulan Ramadhan, sebagian lagi berpendapat pada bulan Rojab, namun mayoritas ulama’ berpendapat bahwa beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam lahir pada bulan Robiul awal. Bahkan Ibnu Jauzi sampai menyebut seluruh ulama’ sepakat akan hal ini.

Kemudian mereka berbeda pendapat tentang tanggalnya di bulan Robiul Awal tersebut. Sebagian mereka mengatakan lahir hari senin di bulan Robiul Awal, tetapi tidak menyebut tanggalnya. Namun jumhur ulama’ lebih condong kepada menetapkan tanggalnya.

Dari ulama’ yang menetapkan itu terbagi menjadi beberapa pendapat dalam tanggalnya. Perbedaan itu terbagi menjadi 4 pendapat, yaitu tanggal 2, 8, 10 dan 12. Namun mayoritas ulama’ termasuk Ibnu Ishaq menetapkan Senin, 12 Robiul Awal adalah hari dimana beliau lahir.

Adapun tahun kelahiran Nabi, maka semua ulama’ sepakat pada tahun gajah (‘aamul fiil). Namun mereka berbeda pendapat tentang ketepatannya, apakah pada saat penyerangan ka’bah, atau setelahnya? Dan yang paling masyhur menurut para ulama’ adalah 50 hari setelah penyerangan tentara bergajah yang dipimpin Abrahah. Kejadian ini tersirat dalam Al Quran, surat Al Fiil.

Hari Senin, Hari Istimewa, Hari Awal Kenabian

Dari Abu Qotadah al anshoi bahwa Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari senin, maka beliau bersabda, “Itulah hari aku lahir dan diturunkan kepadaku kenabian.” (HR Muslim)

Maksud bahwa kenabian diturunkan pada hari senin adalah bahwa beliau ‘dilantik’ menjadi Nabi pada hari senin. Dalam musnad Imam Ahmad dan Tabrani menyebutkan dari Ibnu Abbas berkata, “Nabi lahir pada hari senin, diutus menjadi Nabi pada hari senin, keluar hijrah  menuju Madinah pada hari senin, masuk Madinah pada hari senin, wafat pada hari senin dan peristiwa meletakkan hajar aswad terjadi pada hari senin.”

Adapun bulan pertama kenabian, maka para ulama’ berbeda pendapat menjadi 3 pendapat yaitu sebagian berpendapat pada bulan Ramadhan, sebagian berpendapat pada bulan Rojab, dan sebagian lagi berpendapat pada Robiul Awal[3].

Wafatnya Rosulullah

Dalam Shahihain disebutkan dari Abu Said al Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar dan bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah antara diberi kesenangan dunia sekehendaknya dan bersama denganNya disisiNya, maka ia lebih memilih berada di sisiNya.” Maka Abu Bakar as Shidiq menangis mendengar hal itu.

Melihat Abu Bakar menangis, para sahabat bertanya mengapa ini? Bukankah jika ada 2 pilihan itu memang seharusnya memilih Allah daripada dunia? Maka para sahabat baru tersadar setelah Abu Bakar mengatakan, bahwa yang dimaksud hamba yang disuruh memilih itu adalah Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa saalm. Bahwa beliau akan segera menuju keharibaan Ilahi, dan Abu Bakar lah orang yang paling tahu dan merasakan isyarat itu.

Kematian adalah suatu hal yang pasti bagi setiap yang hidup. Dan ini berlaku juga bagi para Nabi dan Rosul. Sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat Az Zumar 30.

Sesungguhnya engkau akan mati, dan sesungguhnya mereka pun juga akan mati. (QS Az Zumar 30)

Sesungguhnya Allah ta’ala telah menciptakan Adam dari tanah liat di bumi. Kemudian ditiupkan kepadanya ruh. Maka setelah itu ruh bersama dengan jasad hidup di dunia yang fana ini. Kemudian ada masanya ia dan anak keturunannya akan berpisah lagi antara ruh dan jasad. Jasadnya akan kembali menjadi tanah seperti diciptakannya di awal, kemudian ruhnya akan kembali untuk kedua kalinya di alam yang kekal. Allah berfirman dalam surat Thaha 55

Dari bumi itulah Kami mencipta kamu dan kepadanya kami akan kembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu untuk yang kesekian kalinya. (QS Thaha 55)


[1] Ummul Kitab yang dimaksud dalam hadist ini adalah lauhul mahfudz, sebagaimana disebutkan dalam surat Ar Ra’ad ayat 39.

[2] Disebutkan oleh Ibnu Saad dan lainnya, bahwa hadist ini menurut sebagian ulama marfu’ hingga ke Abu Hurairah namun menurut ulama’ lain ia adalah hadist mursal.

[3] Diantara yang berpendapat bahwa awal kenabian Nabi terjadi pada bulan Robiul Awal adalah Ibrahim al Harby, murid Imam Ahmad.