Sholawat Nariah dalam Tinjauan Syar’i, [Lengkap Arab, Arti]

Salikun.com – Solawat Nariah dalam Tinjauan Syar’i, [Lengkap Teks Arab, Latin, Arti]

Salah satu sholawat yang populer dan tidak asing di tengah masyarakat adalah sholawat nariyah. Sholawat ini populer di Indonesia dan di beberapa negeri Islam. Bahkan di beberapa masjid juga sering dikumandangkan sholawat ini.

Definisi Sholawat Nariah dan Nama Lainnya

Sholawat Nariah ini juga sering disebut sebagai sholawat tafrijiyah dan sholawat taziyah. Sholawat Taziyah berasal dari kata-kata Taz (kota kelahiran Imam al Tazi, penyusun sholawat ini) dan populer dengan nama ini di negara Mesir dan Afrika.

Baca juga : Doa Sayyidul Istighfar, Puncak dari dzikir minta ampunan

Sementara di Asia banyak mengenalnya dengan Shalawat Nariah. Shalawat ini juga dikenal dengan nama Shalawat Tafrijiyah yaitu bacaan sholawat yang bermanfaat untuk memudahkan kesulitan –bi idznillah-.

Teks Arab dan Arti Sholawat Nariyah

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى آله وصحبه في كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك

Lafal teks latin

Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman, taamman ‘alaa sayyidinaa muhammadin nilladzi, tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil kurobu wa tuqdhoo bihil khawaaiju wa tunaalu bihir roghoibu wa khusnul khowaatimi wa yustasyqol ghomaamu, bi wajhihil kariim, wa ‘alaa aalihi wa sohbihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi’adadin kulli ma’luumin laka.

Artinya

Ya Allah curahkan sholawat dan salam-Mu yang sempurna untuk sayyidina Muhammad, yang dengan sebab beliau (Nabi Muhammad) semua uraian ikatan terlepas, kesusahan dapat dihilangkan, hajat kebutuhan dapat dipenuhi dan hal-hal yang diharapkan dapat diraih, begitu juga dengan khusnul khotimah di akhir hayat. Dan atas sebab berkah wajah beliau (Nabi Muhammad) yang mulia, maka hujanpun turun dan semoga sholawat serta salam terlimpahkan juga untuk keluarga serta sahabatnya, di setiap masa dan disetiap hembusan nafas sebanyak bilangan yang Engkau ketahui jumlahnya.

Sejarah Asal Usul dan Penyusun Sholawat Nariya

Sholawat nariyah disusun oleh ulama’ besar Ahlussunah dari madzhab Maliki, yaitu Imam Abu Salim Ibrahim bin Muhammad bin Ali al Tazi al Wahrani. Beliau adalah seorang ‘alim kharismatik yang dikenal zuhud, sholeh dan mencapai derajat Quthbiyah menurut dalam dunia tasawuf.

Al Tazi di akhir nama beliau itu menunjukkan beliau di lahirkan di kota Tazah, yaitu suatu daerah di Fes, Maghribi (Maroko). Beliau juga dikenal ahli dalam bidang tafsir, hadits, fiqih dan ushul fiqih.

Saat masih usia kecil, beliau banyak mengambil ilmu Al Quran dari Abu Zakariaya Yahya al Waza’I di Fes. Saat melaksanakan haji beliau menerima khirqah, ijazah pemakaian ‘imamah (surban) dalam tradisi shufiyah, dari seorang ulama’ besar di zamannya bernama Syarafuddin ad Da’iy dan juga Syaikh Sholih al Zawawi dengan sanadnya bersambung hingga Abu Madyan.

Setelah matang dalam bidang ilmu syariat dan tasawwuf, Imam Abu Salim Ibrahim at Tazi mengajarkan ilmunya hingga banyak yang menjadi muridnya. Diantara mereka adalah al Hafidz al Tanasi, Imam Sanusi pengarang Ummul Barahin, Syaikh Ahmad Zarruq dan lainnya.

Imam al Tazi wafat di tahun 866 H atau 1461 M. Riwayat dan biografinya dapat dilihat dalam kitab ulama’ madzhab Maliki seperti Nailul Ibtihaj bi Tathriz al Dibaj, syajarah al Nur al Zakiyah fi Thabaqat al Malikiyah dan lainnya.

Peninggalannya yang paling banyak diingat dan digunakan setelah ratusan tahun adalah Shalawat Taziyah atau Sholawat Nariah atau sholawat tafrijiah ini.

Solawat Nariah dalam Tinjauan Syar’i, [Lengkap Arab, Arti]

Penjelasan dan Tinjauan Syar’i tentang Solawat Nariah

Oleh sebagian kelompok orang, sholawat ini terdengar janggal dan dianggap sebagai kalimat kesyirikan. Padahal jika kita jeli dengan membahas kalimat yang ada di dalamnya, niscaya ada korelasinya dengan dalil-dalil sunnah.

Kalimat yang biasanya dipersoalkan kami ringkas dalam 6 hal. Berikut syarah dan tinjauan syar’i dari kalimatnya. Semoga dapat difahami dan menjadi pelajaran bersama.

Kalimat Solawat Nariah 1; Semua Ikatan dan Kesempitan Terlepas

تنحل به العقد

Dengan sebab beliau (Nabi Muhammad) semua uraian ikatan terlepas

Kalimat diatas adalah bentuk tabarruk (mencari barokah) dengan Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam. Maksud ikatan (al ‘uqodu العقد) adalah kesulitan yang menimpa seseorang atau bisa juga diartikan sebagai kekakuan dalam mengucapkan sesuatu, seperti doa Nabi Musa alaihissalam

واحلل عقدة من لساني

“Dan lepaskan kekakuan (dalam berbicara) dari lidahku..” (QS Thaha 27-28)

Maka jika diartikan mengurai ikatan itu adalah mengurai kesulitan dalam berbicara maka hal ini pernah terjadi ketika Nabi menghilangkan kegagapan seorang sahabat dalam berbicara.

Sahabat itu bernama memiliki nama asli Bahir bin Aqrabah, tetapi oleh Nabi Muhammad ia diganti namanya menjadi Basyir bin Aqrabah. Suatu ketika ayahnya pernah mengajaknya menghadap Nabi sallallahu’alaihi wa sallam.

Kondisi Basyir saat itu di lidahnya terdapat kekakuan atau gagap dalam bicara. Maka Nabi meludahi mulut Basyir, sehingga kekakuan itu hilang dan terlepas dari dirinya. Kisah ini ada di dalam hadits Al Bukhari.

وكان في لساني عقدة ، فنفث النبي صلى الله عليه وسلم في في ، فانحلت العقدة من لساني

Dan di lisanku ada kegagaban, maka Nabi meniup/meludahi di mulutku, sehingga kekakuan itu hilang dari lisanku. (HR Bukhari)[1]

Kalimat Solawat Nariah 2; Semua kesusahan dapat dihilangkan

وتنفرج به الكرب

kesusahan dapat dihilangkan, dengan berkah Nabi

Para ulama’ pada umumnya sepakat bahwa barokah dari Nabi Muhammad itu dapat menghilangkan kesusahan yang dialami manusia. Baik sebelum beliau diutus sebagai Rosul maupun kelak pada hari kiamat.

Menurut ulama’ ini juga terkait dengan bab tawasul dengan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara dalilnya adalah

عن ميسرة قال قلت : يا رسول الله متى كنت نبيا ؟ قال لما خلق الله الأرض واستوى إلى السماء فسواهن سبع سموات وخلق العرش : كتب على ساق العرش محمد رسول الله خاتم الأنبياء وخلق الله الجنة التي أسكنها آدم وحواء فكتب اسمي على الأبواب والأوراق والقباب والخيام وآدم بين الروح والجسد فلما أحياه الله تعالى : نظر إلى العرش فرأى اسمي فأخبره الله أنه سيد ولدك فلما غرهما الشيطان تابا واستشفعا باسمي إليه

Dari Maisayaroh al fajr radhiyallaohu ‘anhu berkata, “aku bertanya, Ya Rosulullah kapan engkau menjadi Nabi ?” Maka beliau bersabda, “saat Allah ta’ala menciptakan bumi dan juga menyempurnakan langit dengan 7 tingkatan serta menciptakan ‘arsy. Maka ia menulis di tiang arsy “Muhammad Rosulullah akhir para Nabi”. Allah menciptakan surga yang ditempati Adam dan Hawa, maka ditulislah namaku di pintu-pintu, daun-daun, kubah-kubah dan kemah-kemah. Sementara Adam masih diantara ruh dan jasad. Ketika Allah ta’ala menghidupkan Adam, ia melihat di Arsy ada namaku (Nabi Muhammad) dan Allah ta’ala mengabarkan kepada Adam bahwa ia (Muhammad) adalah penghulu cucumu. Saat Adam terjerumus oleh tipu daya Syetan, ia dan istrinya bertaubat dan minta pertolongan kepada Allah dengan namaku kepadaNya.” (Hadist ini disebutkan Ibnu Jauzi dan Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar menyebutkan sanad hadits ini kuat)[2]

Dari hadits diatas dapat disimpulkan bahwa tawasul Nabi Adam saat bertaubat adalah melalui nama Nabi Muhammad. Dan Allah ta’ala mengabulkan taubatnya dan memudahkan urusannya.

Solawat Nariah dalam Tinjauan Syar’i, [Lengkap Arab, Arti]

Kalimat Solawat Nariah 3; Hajat dan Kebutuhan Terpenuhi

وتقضى به الحوائج

Hajat kebutuhan dapat dipenuhi, atas sebab Nabi Muhammad

Maksudnya adalah Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wasallam bisa menjadi sebab hajat seseorang terpenuhi. Diantara dalilnya adalah hadits Utsman bin Hunaif berikut.

Bahwa ada seorang lelaki tuna netra yang memohon kepada Nabi sallallahu’alaihi wasallam agar didoakan kesembuhan dari kebutaannya. Hadits tersebut dikenal sebagai hadits dharir, yaitu hadits tentang tuna netra yang menginginkan kesembuhan.

Maka jawab Nabi, “Kalau engkau mau, maka akan aku doakan. Tetapi jika kamu mau maka engkau bersabar atas hal ini dan ini lebih baik.” Maka lelaki itu berkata, “doakan agar aku sembuh ya Rosul.” Maka nabi menyuruhnya untuk berwudhu dan menunaikan sholat 2 rokaat, kemudian membaca doa ini.

اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد نبي الرحمة ، يا محمد إني توجهت بك إلى ربي في حاجتي هذه لتقضى لي  اللهم فشفعه في

Allahumma inni asaluka wa atawajjahu ilaika binabiyyika muhammad nabiyyur rohmah, yaa muhammad inni tawajjahtu bika ilaa robbi fii hajati hadzihi li tuqdho lii, Allahumma fasyaffi’u fii

Ya Allah aku memohon kepadaMu dan berrtawasul kepadaMu dengan NabiMu Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad aku bertawasul denganmu kepada Robbu untuk hajatku ini agar dikabulkan (dipenuhi). Ya Allah terimalah pertolongan Nabi untukku. (HR Ahmad, An Nasai, dan Ibnu Khuzaimah)[3]

Maka Utsman bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu mengatakan, bahwa lelaki itu sembuh dan bisa melihat kembali. Bahkan seolah-olah ia tidak pernah buta sama sekali.

Sebagian ulama’ menyebut bahwa hadits ini hanya bisa diamalkan saat Nabi hidup, sebab berkaitan dengan tawasul saat Nabi ada.

Akan tetapi hal ini disanggah oleh ulama’ lainnya, dengan riwayat bahwa di masa khilafah Utsman bin Affan ada sesorang yang ingin bertemu dengan beliau namun kesulitan. Namun kemudian orang tersebut bertemu dengan Utsman bin Hunaif. Oleh Utsman bin Hunaif disarankan agar membaca doa diatas, tak lama kemudian akhirnya ia dipanggil dan permohonannya dikabulkan oleh Khalifah Utsman bin Affan.

Dari hadits dan kisah riwayat sahabat ini dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam bisa menjadi sebab terkabulnya hajat seseorang saat berdoa kepada Allah ta’ala.

Kalimat Solawat Nariah 4; Harapan dan Keinginan Bisa Tercapai

وتنال به الرغائب

Hal-Hal yang Diharapkan Dapat Diraih, Atas Berkah Nabi Muhammad

Semua orang pasti memiliki keinginan dan harapan yang bisa dicapai di dunia dan akhiratnya. Banyak jalan untuk mencapai hal itu, dan salah satunya adalah bertabarruk dan bertawasul kepada Nabi melalui kalimat ini.

Diantara dalil shahih terkait hal ini adalah

عن زينب بنت أبي سلمة قالت: كانت أمي إذا دَخَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يغتسل تقول: ادخلي عليه. فإذا دخلت عليه نضح في وجهي من الماء ويقول: ارجعي

 قالت أم عطاف: ورأيت زينب وهي عجوز كبيرة ما نقص من وجهها شيء

Dari Zainab binti Abi Salamah berkata, adalah ibuku (ummul mukminin ummu salamah) saat Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam mandi, ibuku berkata, “Masuklah kepada beliau” maka saat aku menemui nabi, beliau sallallahu ‘alaihi wasallam memercikkan air ke wajahku, kemudian menyuruhku kembali.

Ummu Athaf (perawi hadits ini) berkata, “Dan aku melihat Zainab padahal umurnya sudah menua tetapi wajahnya awet muda.” (HR Thabrani hadits hasan)[4]

Dari hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan barokah Nabi, putri Ummu Salamah yang bernama Zainab bisa awet muda wajahnya. Dan hal ini adalah yang biasanya diinginkan oleh banyak wanita secara umum.

Solawat Nariah dalam Tinjauan Syar’i, [Lengkap Arab, Arti]

Kalimat Solawat Nariah 5; Memperoleh Husnul Khotimah

وحسن الخواتم

Dan Husnul Khotimah dapat Diraih, dengan barokah Nabi.

Orang-orang beriman pasti menginginkan husnul khotimah yaitu meninggal dalam keadaan baik. Dan salah satu langkah untuk mendapatkannya adalah dengan bertabarruk atau bertawasul dengan Nabi, agar Allah ta’ala mengkaruniakannya kepada kita.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa bangsa Arab di Yaman, Syam dan Iraq dikenal sebagai negara yang paling cepat masuk Islam. Hal ini berkat doa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka.

عن زيد بن ثابت رضي الله عنه قال: نظر رسول الله صلى الله عليه وسلم قِبَل اليمن فقال: اللهم أقبل بقلوبهم، ثم نظر قِبَل الشام فقال: اللهم أقبل بقلوبهم، ثم نظر قِبَل العراق فقال: وبارك لنا في صاعنا ومدنا

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu berkata, Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memandang ke arah Yaman dan bersabda, “Ya Allah datangkanlah mereka dengan hati mereka.” Kemudian beliau memandang ke arah Syam dan bersabda, “Ya Allah datangkanlah mereka dengan hati mereka.” Kemudian beliau memandang ke arah Iraq dan bersabda, “Dan berkahilah kami dalam takaran Sho’ dan Mudd kami.” (HR Ahmad dan Tirmidzi, shahih)

Ibnu Nu’man, seorang ulama’ abad 7 H bercerita dari gurunya Abu Abbad Ahmad bin Muhammad al Jarkhi, yang berkata, “Aku melihat seorang laki-laki dari suku Danawiyah yang dikenal dengan nama Faris Simon al Haijawi, Ia mendatangi sultan al Malik al Kamil ketika Salibis menguasai benteng Dimyath di Mesir. Dan Ia masuk islam melalui sultan itu.”

Ia bercerita bahwa latar belakang keislamannya dahulu terjadi saat ia bertengkar dengan kaumnya orang-orang Danawiyah yang beragama kafir kristen. “Lalu aku melarikan diri dengan menaiki keledai dan membawa seekor kuda. Mereka mengejarku dan aku merasa ketakutan, tiba-tiba kudaku terlepas”. Lalu aku berkata, “Hai Muhammad bin Abdullah kalau kudaku kembali kepadaku, aku akan beriman kepadamu.”

Ternyata kuda itu menyusul di dekatnya dan Simon memegangnya. Lalu ia datang ke sultan al Kamil dan masuk islam kemudian ikut berjihad bersama kaum muslimin. Simon akhirnya meninggal dalam keadaan husnul khotimah dan mendapat berkah dari penyebutan nama Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam.

Kalimat Solawat Nariah 6; Hujan Turun dengan Berkah Nabi

ويستسقى الغمام بوجهه الكريم

Dan hujan diturunkan (oleh Allah ta’ala) melalui wajahnya yang Mulia

Maksudnya adalah melalui berkah Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam hujan diturunkan oleh Allah ta’ala. Dan ini adalah keuntungan bagi manusia secara umum.

Pada masa Nabi bersama pamannya, Abu Thalib pernah terjadi kekeringan dahsyat. Lalu Abu Thalib dan penduduk Makkah melakukan doa minta hujan dengan membawa Nabi. Dan hujan diturunkan atas sebab beliau.

عن ابن عمر أنه قال: ربما ذكرت قول الشاعر

وأنا أنظر إلى وجه النبي صلى الله عليه وسلم يستسقي

فما ينزل حتى يجيش كل ميزاب

وأبيض يستسقى الغمام بوجهه

ثمال اليتامى عصمة للأرامل

Dari Ibnu Umar bahwa dia berkata, Terkadang aku teringat perkataan seorang penyair,”ketika melihat wajah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam memohon turunnya hujan, lalu ia tidak turun dari mimbar sehingga air hujan bercucuran dari semua talang. Seorang yang putih dengan keberkahan wajahnya air hujan dapat dirurunkan. Ia penolong anak yatim dan pelindung para janda.” Syair ini adalah perkataan Abu Thalib.[5]

Jadi dengan sebab dan berkah doa Nabi itu, Allah ta’ala turunkan hujan dari langitnya sehingga masyarakat Makkah tidak kekeringan lagi.

Fadhilah dan Keutamaan Solawat Nariah

Jika dilihar dari sudut pandang lain, sebenarnya sholawat nariyah ini berisi tentang sholawat dan permohonan untuk diberikan hajat melalui tabarruk dan tawasul Nabi.

Para ulama’ sepakat bahwa hal itu dibolehkan dalam Islam saat Nabi masih hidup. Adapun saat beliau wafat, maka sebagian kecil tidak memperbolehkan tawasul dengan Nabi tetapi jumhur ulama’ memperboleh hal itu, dan kami merajihkan pendapat jumhur.

Berikut fadhilah dan keutamaan sholawat menurut Ibnul Qoyyim al Jauziah dalam jalaul afham dan juga al Hafidz as Sakhawi dalam Al Qoulul Badi’

  • Memperoleh shalawat dari Allah ta’ala
  • Mendapat sholawat dari malaikat
  • Memperoleh shalawat dari Rosulullah
  • Menghapus dosa-dosa
  • Mengangkat derajat
  • Dimudahkan urusan dunia dan akhirat
  • Mendapatkan syafaat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam
  • Memperberat tibangan amal kebaikan
  • Mendatangi telaga kautsar
  • Lolos melewati jemabatan shirat
  • Menjadi sebab terkabulnya hajat
  • Dan masih banyak lainnya bisa merujuk di kitab Ibnul Qoyyim dan al Hafidz as Sakhawi

[1] Disebutkan juga oleh Ibnu Hajar dalam al ishobah fi tamyizi sohabah (1/434) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh

[2] Disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam al wafa’, Ibnu Nu’man dalam misbahudz dzolam, Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ fatawa dan AL Muqrizi dalam Imtaul Asma’. Ibnu Hajar dalam Fathul Baari menyebut sanad hadits ini kuat.

[3] Hadits ini juga disebutkan oleh Imam Al Baihaqi. Dan dinyatakan shohih oleh Ibnu Khuzaimah, Tirmidzi, Hakim dan lainnya.

[4] Hadits ini juga disebutkan oleh Ibnu Atsir dalam usudul ghabah dengan riwayat shohih. Dan juga di dalam kitab I’lamus sunan, Imam at Tahanawi.

[5] Riwayat tentang ini dijelaskan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya. (1009)

Add a Comment

Your email address will not be published.