Uhibbuka Fillah, Ungkapan Cinta, Arti dan Konsekuensi

Uhibbuka Fillah, Ungkapan Cinta Arti dan Konsekuensi

Salikun.comUhibbuka Fillah, Aku Cinta Karena Allah

Dalam Islam ada ungkapan khusus jika kita menyayangi atau mencintai sesorang karena Allah. Ungkapan itu biasanya diucapkan karena ada sesorang yang kita sukai karena faktor keislamannya. Baik dari sisi akhlak, adab atau ibadahnya. Ungkapan itu adalah uhibbuka/uhibbuki fillah (arab –أحبك في الله )

Ana UhibbuKA Fillah Artinya Adalah

Makna dari ungkapan uhibbuka fillah (أحبكَ في الله) adalah saya mencintaimu (laki-laki/ikhwan) karena Allah. Cinta itu dikaitkan dengan lafadz Allah lantaran ada suatu perbuatan atau sifat yang dekat dengan Allah.

Dengan kalimat inilah, para sahabat terdahulu saling berucap dengan sahabat lain. Ukhuwah Islamiyah menjadi lebih erat antar sesama sahabat.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Abu Daud, Rosulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه : ( أَنَّ رَجُلًا كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! إِنِّي لَأُحِبُّ هَذَا . فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَعْلَمْتَهُ ؟ قَالَ : لَا . قَالَ : أَعْلِمْهُ . قَالَ : فَلَحِقَهُ فَقَالَ : إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ . فَقَالَ : أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang di dekat Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam kemudian ada seorang lain lewat dihadapannya. Maka seorang sahabat yang ada disisi Nabi ini berkata, “Ya Rosulullah, sungguh aku mencintai/menyayangi ini.” Maka Rosul bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Maka sahabat ini menjawab, “Tidak.” “Beritahukan itu,” Ucap Nabi. Kemudian sahabat ini bertemu dan mengatakan, “Inni Ukhibbuka fillah -Aku mencintaimu karena Allah ta’ala.” Maka sahabat ini menjawab, “Ahabbakalladzi ahbabtani lahu – Semoga Allah mencintaimu, Dzat yang menghadirkan cinta untukmu kepada diriku, karenaNya.” (HR Abu Daud, shahih)

Ana UhibbuKI Fillah Artinya Adalah

Jika arti dari uhibbuka fillah (أحبكِ في الله) adalah saya mencintaimu (untuk laki-laki/ikhwan) karena Allah. Maka arti dari uhibbuki fillah adalah saya mencintaimu (untuk perempuan/akhwat) karena Allah ta’ala.

Bila kita bedah artin tulisan per kata adalah

Saya = أنا
Saya mencitaimu = أحبك
karena Allah = في الله

Artinya seseorang mencintai orang lain (pr) karena Allah ta’ala. Mencintai ibunya, saudarinya, istrinya, anaknya karena Allah ta’ala.

Kecintaan itu lumrah milik manusia semuanya. Bahkan bisa bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah dan tidak melanggar batasan syariat Islam.

 Jadi perbedaannya ada pada kata Ka dan Ki. Jika Ka itu untuk laki-laki dan ki untuk perempuan. Jadilah uhibbuka fillah (أحبكَ في الله) untuk laki-laki dan uhibbuki fillah (أحبكِ في الله) untuk perempuan.

Uhibbuka Fillah, Ungkapan Cinta Arti dan Konsekuensi
contoh cinta istri dan

Contoh Kalimat Mahabbah dan Cara Penggunaan

Arti dari kata Mahabbah adalah cinta atau kecintaan. Dan contoh cara mengucapkannya untuk objek laki-laki adalah sebagaimana perkataan istri untuk suaminya.

Wahai zauji tersayang, Ana Uhibbuka Fillah.” Artinya, “Wahai suamiku tersayang, aku mencintaimu karena Allah ta’ala.”

Adapaun jika itu diucapkan oleh suami kepada istrinya adalah

Wahai zaujati yang cantik, Ana Uhibbuki Fillah.” Artinya, “Wahai istriku yang cantik, aku mencintaimu karena Allah ta’ala.”

Dan kedua kalimat (uhibbuka/uhibbuki fillah) itu juga bisa diungkapkan kepada seorang sahabat kepada sahabatnya yang lain. Landasan dari kata inilah yang menjadi saksi seseorang mencintai saudaranya karena Allah ta’ala.

Cara Menjawab Ucapan Ana Uhibbuki/Uhibbuka Fillah – إني أحبك في الله

Adapun cara menjawab dengan jawaban terbaik, bila ada orang mengungkapkan kalimat Inni uhibbuka/uhibbuki fillah (إني أحبك في الله) adalah akhabbakallah alladzi ahbabtani lahu أَحَبَّكَ الله الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Daud diatas. Jika Uhibbuka fillah berarti aku mencintaimu karena Allah ta’ala. Maka arti dari Akhabbakallah alladzi ahbabtani lahu adalah Semoga Allah mencintaimu, Dzat yang menghadirkan cintamu kepada diriku, karenaNya. Kata-kata itu adalah balasan terbaik, sebab mengaitkan lafal kata Allah azza wa jalla dengan cinta.

Rasa Cinta Nabi Kepada Istrinya Karena Iman

Rasa cinta ini juga dimiliki Nabi sallallahu’alaihi wasallam kepada istri-istrinya. Bahkan yang paling dicintai darinya adalah Khadijah al kubro. Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

“Sungguh Allah telah menganugrahuku kecintaan kepadanya (Khadijah).” (HR Muslim, shahih)

Cinta Nabi kepada Khadijah ini karena iman khadijah yang tinggi dan pengorbanan yang besar untuk Islam. Nabi bersabda

مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

“Allah tidak memberi ganti yang lebih baik darinya (Khadijah). Sungguh ia telah beriman saat kebanyakan manusia kufur, ia membenarkanku sebagai seorang Nabi ketika manusia mendustakanku. Ia juga mengorbankan hartanya saat orang lain menahan harta mereka. Allah ta’ala juga memberikan keturunan melaluinya saat wanita-wanita yang lain tidak.”

Dari hadits diatas menunjukkan bahwa rasa cinta Nabi kepada istripun juga karena Iman. Pengorabanan besar seorang Khadijah untuk kejayaan Islam adalah yang paling disorot Nabi. Visi dan misinya jelas dan sama yaitu menyebarkan Islam. Sehingga Allah berkahi keluarga Nabi sekaligus menjadi contoh untuk umatnya.

Siap berkorban, siap diuji dan siap membuktikan diri karena cinta diatas landasan iman itu butuh perjuangan dan tidak sekedar dari lisan.

Uhibbuka Fillah, Ungkapan Cinta Arti dan Konsekuensi

Sunnah Mengucapkan Kalimat Uhibbuka Fillah

Begitu perhatiannya Islam atas kedamaian dan kecintaan, sehingga ungkapan mahabbah (cinta) itu disunnahkan untuk diucapkan. Salah satu ibrahnya adalah agar tumbuh kedamaian antar sesama manusia. Saling cinta diantara mereka lantaran suatu hal yang diridhai Allah ta’ala.

Bahkan Nabi menyuruh sahabatnya untuk mengungkapkan kasih sayang di jalan Allah ini kepada saudaranya yang lainnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rasa senang terhadap saudaranya adalah bentuk pahala dan mengungkapkannya adalah tambahan pahala yang lebih sempurna.

Dalam shahih Bukhari disebutkan, bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam

إذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ أَحَبَّهُ

“Jika salah seorang diantara kalian mencintai saudaranya, maka hendaklah diungkapkan kepada saudaranya itu.” (HR Bukhari, shahih)

Buah dari Cinta Karena Allah

Ketika seseorang mencintai orang lain karena Allah ta’ala atau untuk mencari ridho Allah ta’ala maka itulah ikatan iman yang paling kuat.

Dalam sebuah hadits hasan, dari Barra’ bin Azib radhiyallahu’anhu, Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda.

إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ: أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللهِ

“Sesungguhnya ikatan Iman yang paling kuat adalah, engkau mencintai sesuatu karena Allah dan membenci sesuatu karena Allah ta’ala.” (HR Ahmad, hadits hasan)

Bahkan kuatnya keimanan para sahabat itu juga karena kuatnya rasa cinta mereka hingga berani berkorban di jalan Allah untuk membantu yang lainnya. Rela mengalah untuk saudaranya, meskipun di satu sisi mereka butuh akan dunia tersebut.

Ibnu Abbas mengatakan

من أحب في الله، وأبغض في الله، ووالى في الله، وعادى في الله، فإنما تنال ولاية الله بذلك، ولن يجد عبد طعم الإيمان وإن كثرت صلاته وصومه حتى يكون كذلك. وقد صارت عامة مؤاخاة الناس على أمر الدنيا، وذلك لا يجدي على أهله شيئا

Barangsiap yang cinta karena Allah, benci karena Allah, berteman karena Allah, memusuhi karena Allah, maka sungguh pertolongan Allah itu diperoleh dengan hal itu. Dan tidak akan mungkin seorang hambi bisa merasakan lezatnya iman meskipun dia banyak sholat dan puasa hingga dia mendapat mahabbah itu. Sungguh cinta dan persahabatan dari manusia itu kebanyakan lantaran hal dunai. Maka persahabatan itu tidaklah bermanfaat sama sekali.[1]

Setelah Mahabbah (Uhibbuka Fillah) adalah Saling Menasehati

Setelah seorang mengungkapkan cinta dan mencintai saudaranya karena Allah. Maka hamba itu pasti akan saling menasehati. Sebab ia tidak ingin saudara/saudari nya terjerumus kepada ma’siat.

Sebab inti dari agama ini adalah nasehat. Nasehat untuk orang beriman, nasehat untuk manusia semuanya agar tunduk kepada Allah ta’ala.

Salah seorang tabiin, Hasan al Basri rahimahullah mengatakan

إنَّ أحبَّ عبادِ الله إلى الله الذين يُحببون الله إلى عباده ويُحببون عباد الله إلى الله ، ويسعون في الأرض بالنصيحة

“Sungguh manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah mereka yang mencintai Allah melalui hamba-hambaNya dan mencintainya karena Allah ta’ala. Kemudian di dunia mereka saling menasehati diantara mereka.”[2]

Ketika Uhibbuka Fillah Bukan Hanya Sekedar di Lisan

Ketika seorang manusia telah menyatakan cinta karena Allah, maka ia tidak akan memperhitungkan kondisi fisik seseorang. Sebab pandangannya adalah karena ridho Allah, sementara Allah ta’ala tidak memperihitungkan jasad seseorang, tetapi melihat dari dalamnya amal sholih.

Umar bin Khattab meriwayatkan, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالَى قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوْا بِرُوْحِ اللهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللهِ إِنَّ وُجُوْهَهُمْ لَنُوْرٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُوْرٍ لَا يَخَافُوْنَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلَا يَحْزَنُوْنَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هٰذِهِ الْآيَةَ ( أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sesungguhnya diantara sekian hamba Allah ada orang-orang yang mereka bukan Nabi, dan juga para Syuhada’. Tetapi para Nabi dan syuhada’ iri terhadap kedudukan mereka di hadapan Allah.” Maka para sahabat berkata, “Beritahu kami siapa mereka ya Rosulullah” maka Nabi bersabda, “Mereka adalah kaum yang mencintai karena Allah bukan karena nasab dan bukan karena harta. Sungguh di wajah mereka ada cahaya, dan mereka tidak takut saat manusia takut, mereka juga tidak bersedih saat manusia bersedih.” Kemudian Nabi membaca firman Allah surat Yunus 62, “Ketahuilah sesungguhnya wali wali Allah itu tidak akan khawatir dan tidak pula bersedih hati.” (HR Abu Daud, hadits shahih)

mahabbah

Batasan Ungkapan Mahabbah

Setiap ada perintah atau anjuran atas sesuatu biasanya ada konskwensi berupa batasan dari sesuatu tersebut. Maka dalam ungkapan mahabbah ini tidak selayaknya dipakai untuk mengumbar hawa nafsu yang diharamkan.

Sebagai contoh mengungkapkan rasa cinta kepada wanita yang bukan mahramnya (pacarnya). Maka jelas ungkapan yang demikian ini bukan karena Allah. Sebab Allah ta’ala sendiri yang melarang seseorang untuk mendekati unsur-unsur cinta yang menabrak syariat.

Allah ta’ala berfirman dalam surat Al Isra’ 32

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ إِنَّهُ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

 “Janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya hal itu adalah keji dan suatu jalan yang buruk.”

Dan mengungkapkan perasaan kepada orang yang bukan mahram atau pacar maka tidak diperkenankan dalam syariat. Justru ungkapan mahabbah karena Allah ini bertolak belakang dari perbuata mendekati zina.

Begitu pula seorang perempuan hendaknya menjaga diri dari lawan jenis yang bukan mahram. Sebab tabiat dasar yang harus dimiliki wanita adalah tidak melembut-lembutkan suara di hadapan laki-laki non mahram, apalagi mengumbar perasaan.

Allah ta’ala berfirman dalam surat Al Ahzab 32

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Wahai istri Nabi, kalian bukanlah sebagaimana perempuan yang lainnya jika kamu bertaqwa. Maka janganlah menundukkan (melembut-lembutkan) perkataan sehingga orang-orang yang memiliki penyakit hati bangkit rasa tama’/nafsunya. Dan berkatalah dengan perkataan yang ma’ruf (baik).” (QS Al Ahzab ayat 32)

Menurut para ulama’, ayat ini juga berlaku bagi wanita muslimah yang lainnya. Yaitu tidak boleh melirih-lirihkan tutur kata sehingga membuat fikiran orang lain terpengaruh.

Ketika Perkataan Uhibbuka Fillah Justru Berlawanan dengan Syariat

Ada saat dimana sebuah ucapan yang baik justru digunakan dalam hal yang kurang baik atau berkebalikan dari tujuan aslinya.

Salah satu contohnya adalah mengucapkan uhibbuki fillah kepada pacarnya yang belum diatas jalinan pernikahan. Maka hukum mengucapkannya adalah dibenci dalam syariat.

Salah seorang mufti dari Arab Saudi yaitu Syaikh Shalih al Munajjid menganalogikan ungkapan mahabbah ini dengan menjawab salam menurut ulama’ madzhab salaf.

Jika ada wanita yang berpotensi menimbulkan fitnah diantara ikhwan, kemudian ia memberi salam, maka makruh hukumnya menjawab salam itu. Sebab dikhawatirkan ada fitnah dalam ucapan tersebut. Para ulama’ dalam madzhab Maliki, Syafii dan Hanbali sepakat dengan yang demikian.

Adapun jika tidak ada fitnah seperti seorang murid wanita yang mengucapkan uhibbuka fillah kepada gurunya yang sudah tua. Dan tidak dikhawatirkan ada fitnah maka hukumnya adalah sebagaimana hukum awal, yaitu dibolehkan.


[1] Disebutkan oleh Ibnu Jarir At Thabari.

[2] Disebutkan oleh Ibnu Rajab al Hanbali dalam Jamiul Ulum wal Hikam, syarah arbain nawawi.

Add a Comment

Your email address will not be published.