Apa Hukum Melafadzkan Niat dalam Ibadah ?

Apa Hukum Melafadzkan Niat dalam Ibadah

Salikun.com Terkait pembahasan tentang hukum melafadzkan niat, maka para ulama’ terdahulu telah membahas hal ini secara detail, lengkap dengan dalil dan istidlalnya. Maka cukuplah kita sebagai penuntu ilmu membahas permasalahan ini secara mudah sesuai arahan para ulama.

Hukum Melafadzkan Niat

Adapun Tujuan kita membahas hal ini adalah agar terhindar waswas dalam ibadah dan tidak menyalahkan orang lain yang berbeda pendapat karena mereka juga memeliki sandaran hukum yang dianut.

Poin pertama adalah bahwa para ulama’ telah bersepakat bahwa niat yang ada di dalam hati itu adalah inti dari permasalahan niat itu sendiri. Adapun jika dilafazkan melalui ucapan maka itu adalah tambahan dan peneguhan yang hukum tentangnya dibolehkan menurut kebanyakan ulama.

Baca juga : Keutamaan 4 Dzikir Utama yang Anda Tidak Tahu

Jika terjadi perbedaan antara niat di dalam hati dengan yang di lisan, maka semua ulama sepakat bahwa yang digunakan adalah apa yang tertekan di hati.

Berikut pendapat para ulama’ salaf dan khalaf terkait melafalkan niat dalam ibadah, utamanya adalah sholat.

Madzhab Hanafi

Di dalam kitab Al Asybah wa An Nadzoir, imam ibnu Nujaim menyebutkan bahwa madzhabnya berpendapat tentang melafazkan niat ini adalah mustahab (disukai), dan tidak dilarang. Apalagi jika itu dibutuhkan untuk mempertegas apa yang ada di dalam hati.

وَالْمُخْتَارُ أَنَّهُ مُسْتَحَبٌّ وَخَرَجَ عَنْ هَذَا الْأَصْلِ مَسَائِلُ: مِنْهَا النَّذْرُ لَا تَكْفِي فِي إيجَابِهِ النِّيَّةُ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ التَّلَفُّظِ

“Dan yang dipilih (madzhab) ialah (melafadzkan niat itu) hukumnya mustahab (disukai), namun tidak berlaku dalam masalah nadzar. Karena nadzar justru tidak cukup melalui hati saja tapi harus diucapkan” (Al Asybah wa An Nazoir)

Baca juga : Hukum wanita memakai pacar kuku dan henna

Begitu juga yang disebutkan oleh al-Imam Fakhruddin ‘Utsman al-Hanafi bahwa melafalkan niat itu bukan syarat sah sholat, tetapi bagus untuk menguatkan apa yang ada dalam hati

Imam Fakhruddin mengatakan, “Adapun hukum melafadzkan niat adalah bukan termasuk syarat sah, tetapi hal ini bagus dilakukan untuk mengumpulkan ketetapan hati.” (Tabyin Haqoiq syarh kanzu Daqoiq)

Madzhab Maliki

Menurut madzhab maliki (diantaranya Imam al Dasuqi al Maliki) membahas tentang masalah ini adalah lebih baik jika tidak diucapkan, kecuali bagi mereka yang mudah ragu dan bimbang saat hendak melaksanakan ibadah. Maka dibolehkan untuk melafalkan agar terhindar dari waswas.

خِلَافِ الْأَوْلَى لَكِنْ يُسْتَثْنَى مِنْهُ الْمُوَسْوِسُ فَإِنَّهُ يُسْتَحَبُّ لَهُ التَّلَفُّظُ بِمَا يُفِيدُ النِّيَّةَ لِيَذْهَبَ عَنْهُ اللُّبْسُ

“(Melafadzkan niat) itu menyelisihi yang utama, tetapi dikecualikan jika ada waswas dalam hati maka yang demikian itu justru disukai untuk dilafalkan agar keraguan itu hilang”. (Hasyiyah Al Dasuqi)

Madzhab Syafii

Salah satu Ulama besar dalam madzhab syafii yaitu Imam Al-Syirbini dalam Mughni Al-Muhtaj menyebutkan bahwa melafalkan niat itu disunnahkan sebelum beribadah. Ini berguna untuk menghilangkan waswas dalam hati.

Imam Syarbini mengatakan, “Dan disunnahkan melafalkan niat sebelum takbir saat sholat, agar pelafalan itu membantu hati (dalam keyakinan) dan hal itu juga untuk menghindarkan rasa ragu-ragu.” (Mughni Al Muhtaj 1/150)

Berkata Imam an-Nawawi asy-Syafi’I di dalam al Majmu’

النية الواجبة في الوضوء هي النية بالقلب ولا يجب اللفظ باللسان معها، ولا يجزئ وحده وإن جمعهما فهو آكد وأفضل، هكذا قاله الأصحاب واتفقوا عليه

“Niat yang wajib saat berwudhu adalah niat melalui hati, adapun melalui lisan tidaklah wajib dan tidak sah bila di lisan tanpa hati. Adapun jika keduanya (hati dan lisan) melafalkan itu lebih utama dan baik, beginilah pendapat madzhab dan mereka bersepakt terkait ini” (Al Majmu’ Syarh al-Muhadzab)

Mazhab Hanbali

Imam al Mardawi menyebutkan dalam Al Inshof bahwa ada dua pendapat dalam madzhabnya, ada yang mensunnahkannya tetapi juga ada yang menganggap tidak sunnah.

لا يستحب التلفظ بالنية على أحد الوجهين وهو المنصوص عن أحمد

“Tidak disunnahkan melafalkan niat dari 2 pendapat yang berasal dari Imam Ahmad.” (Al-Inshof 1/110)

Semakna dengan itu adalah pendapat Ibnu Taimiyah, beliau mengatakan, “Akan tetapi masalah hukum melafadzkan niat, apakah itu sunnah atau tidak ? maka dalam pembahasn ini ada 2 pendapat menurut para ulama yang dikenal.” (majmu’ al fatawa)

Adapun pendapat Imam al-Buhuti al-Hanbali justru memilih mengucapkannya, “Mayoritas ulama mutaakhirin madzhab Hanbali sangat menyukai melafadzkan niat karena berfungsi untuk menyesuaikan antara hati dan lisan.” (Kisyaf al-Qina’ ‘an matni al-Iqna’)

Kesimpulan Hukum Melafadzkan Niat

  1. Mereka bersepakat bahwa niat itu pada dasarnya ada dalam hati.
  2. Jika ada perbedaan antara hati dan lisan, maka niat yang dipakai adalah apa yang ada dalam hati.
  3. Mayoritas membolehkan melafalkan niat, yang mana hal ini untu menghilangkan waswas dan ragu saat akan beribadah.
  4. Empat ulama’ madzhab tidak ada yang membidahkan masalah melafalkan niat, namun pendapat yang paling keras dari mereka adalah lebih baik ditinggalkan jika sudah hati itu telah tertata (pendapat maliki).

Add a Comment

Your email address will not be published.