Biografi 4 Imam Madzhab Fiqih

Biografi 4 Imam Madzhab Fiqih

Salikun.comBiografi 4 Imam Madzhab Fiqih

Setelah wafatnya Nabi terkahir, Muhammad sallallahu’alaihiwasallam, maka otomatis sumber dalil utama yaitu Al Quran dan Al Hadist telah selesai. Namun seiring perjalanan waktu, permasalahan kaum Muslimin juga semakin komplek dengan luasnya wilayah.

Para sahabat dan ulama’ setelahnya harus menghadapi permasalahan itu dengan konsep turunan dari 2 sumber utama tersebut. Muncullan mujtahid-mujtahid yang kompeten dari kalangan sahabat, tabiin dan generasi setelahnya.

Baca juga : Henna atau Pacar Kuku Bagaimana Hukumnya ?

Namun dari sekian banyak ulama’ itu, yang terbukukan literaturnya dengan rapi dan memiliki jumlah murid ribuan adalah 4 imam madzhab. Mereka lahir dari berbagai macam negara yang telah dikuasai kaum Muslimin. Metodologi fiqihnya banyak dipelajari dan dikembangkan generasi setelahnya. Dengan itu banyak dari permasalahan kontemporer terjawab.

Berikut biografi singkat 4 Imam Madzhab dalam bidang fiqih.

Hanafi, Madzhab Fiqih Tertua dari 4 Imam Madzhab

Madzhab Hanafi adalah salah satu madzhab fiqih yang paling tua diantara madzhab fiqih lainnya. Disebut madzhab hanafi, sebab yang dijadikan Imam pada madzhab ini adalah Abu Hanifah, Nu’man bin Tsabit rahimahullah. Beliau lahir pada tahun 80 H di kota Kufah (Iraq) dan meninggal pada tahun 150 H.

Karakteristik dari madzhab ini adalah kuat dalam bidang dalil ‘aqliyah sehingga juga disebut madzhab ahli ra’yi wal qiyas. Kecerdasan Imam Abu Hanifah dalam menyampaikan argumen banyak diakui oleh ulama’ pada masanya. Bahkan murid-muridnya pun terkenal cerdas saat menjelaskan dalil qiyas.

Baca juga : Keutamaan Dzikir Setelah Shalat Fardhu, Subhaanallah Alhamdulillah Allahu Akbar

Abu Hanifah adalah ulama’ yang zuhud, shalih dan jujur dalam perilakunya. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau termasuk ulama’ tabi’in murid dari sahabat Nabi, karena bertemu dengan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu.

Pada masa kejayaan fiqihnya, Abu Hanifah pernah ditawari jabatan Hakim Agung dalam pemerintahan Abu Ja’far al Mansur. Namun beliau menolaknya dan memilih hidup dengan cara berdagang. Madzhab fiqihnya mulai berkembang pesat saat dijadikan madzhab resmi pemerintahan Abbasiyah, era Harun ar Rasyid.

Maliki, Madzhabnya Ahli Madinah Pertama

Madzhab Maliki didirikan oleh Malik bin Annas rahimahullah. Beliau adalah ulama’ dari Madinah yang lahir di tahun 93 H dan meninggal 179 H. Beliau memiliki kekuatan hafalan yang luar biasa dan banyak meriwayatkan hadist Nabi sallallahu’alaihiwasallam.

Madzhab Maliki juga disebut sebagai madzhab ahli hadist. Di masa beliau hidup, beliau membuat satu dalil syar’I yang diakui banyak ulama’ ahli fiqh yakni ‘amal ahli Madinah. Dalam metode fiqihnya, perbuatan penduduk Madinah lebih diutamakan daripada hadist Ahad meskipun shahih derajatnya. Sebab masih banyak tabiin yang hidup di masa beliau, bahkan sahabat pun juga masih ada sehingga hampir mustahil jika bertentangan dengan hadist Nabi.

Kitab Muwatta’ menjadi kitab hadist yang diakui pemerintah bani Abbasiyah. Bahkan kitab tersebut telah banyak diteliti ulama’ hadist pada masanya. Madzhab Maliki awalnya berkembang di kota Madinah dan Makkah, sebagai pusat peradaban Islam. Namun seiring berjalannya waktu Madzhab ini juga berkembang hingga Afrika Utara dan sebagian Eropa. Perkembangan itu terjadi dengan dibawanya metodologi beliau oleh murid-muridnya ketika wilayah Islam berkembang.

Biografi 4 Imam Madzhab Fiqih

Syafii, Penggabungan Metodologi Fiqih 4 Imam Madzhab

Dinamakan Madzhab Syafii, karena penyusun metodologi fiqihnya adalah Muhammad bin Idris as Syafii al Quroisy. Pengikutnya disebut sebagai Syafiiyah. Beliau rahimahullah lahir di Gaza, Palestina pada tahun 150 H dan meninggal di tahun 204 H.

Saat masih muda beliau dikenal sangat cinta ilmu. Beliau hijrah ke Madinah untuk belajar ilmu kepada Ulama’ senior Madinah yaitu Malik bin Annas (pendiri madzhab Maliki). Imam Syafii banyak belajar cara gurunya itu menyampaikan hadist sekaligus mengambil istinbath hukum dari suatu dalil. Kecerdasan beliau diakui oleh gurunya itu, dengan bukti ia telah menghafal kitab Muwatta’ yang berisi ribuan hadist.

Setelah menyelesaikan mulazamahnya dengan Imam Malik, beliau pergi ke Iraq dan mengambil ilmu dari ahli ra’yi di Iraq, Muhammad bin Hasan as Saibani. Imam Syafii banyak mengambil pelajaran dalil ‘aqli dari murid senior Imam Hanafi tersebut.

Setelah banyak belajar dari kedua Imam tersebut, beliau akhirnya menggabungkan metode istinbath hukumnya dari ahli ra’yi dan ahli hadist. Metodologi tersebut dituangkan dalam buku beliau berjudul ar Risalah. Kaedah-kaedah fiqih diramu dan dijabarkan oleh beliau. Dari pengalamannya itulah tertuang ilmu Ushul Fiqih. Beliau juga dijuluki sebagai Nashiru Sunnah karena metodenya menghidupkan sunnah Nabi.

Setelah dari Iraq, beliau hijrah ke Mesir dan meninggal di negeri tersebut. Perkembangan madzhab fiqihnya yang paling besar ada di Mesir kemudian setelah itu banyak dari muridnya yang mengembangkan kitab beliau dan tersebar hingga ke kawasan Asia Tenggara.

Hambali, Madzhabnya Ahli Hadist

Madzhab Hambali diambil dari nama Ahmad bin Hambal as Syaibani. Ia lahir di Baghdad tahun 164 H dan wafat pada tahun 248 H. Beliau adalah murid paling disayangi Imam Syafii. Imam Ahmad banyak belajar dan mengambil manfaat dari Imam Syafii beberapa tahun.

Madzhab beliau juga disebut sebagai madzhab ahli hadist, sebab bab-bab fiqih yang beliau bahas di dalam kitabnya langsung diberi hadist Nabi sallallahu’alaihiwasallam. Beliau juga menentukan kaidah bahwa hadist yang lemah pun masih bisa dipakai, paling tidak dalam urusan fadhilah ‘amal.

Beliau adalah ulama’ yang cerdas dalam hafalan. Satu juta hadist telah beliau hafal, dan diseleksi menjadi 30.000an hadist yang beliau tuangkan dalam kitab musnad Ahmad bin Hanbal. Orang yang paling banyak meriwayatkan beliau adalah putranya sendiri bernama Abdullah bin Ahmad bin Hanbal.

Beliau adalah ulama’ yang sangat teguh dalam mempertahankan ‘aqidah. Pada masa-masa fitnah kholqul quran, ia adalah ulama’ yang terdepan dalam menentang bidah yang disokong pemerintahan masa itu. Dengan tegas beliau menolak kholqul quran bahwa al quran adalah makhluk, sehingga beliau harus dicambuk oleh pemerintahan yang beraliran Mu’tazilah. Setelah kejadian itu banyak ulama’ yang menggelarinya sebagai ulama’ ahlussunnah wal jamaah, karena kuatnya beliau dalam memegang aqidah ahlussunnah.

Madzhab fiqihnya banyak tersebar di Irak, karena beliau jarang keluar dari negeri tersebut. Dan saat ini banyak dikembangkan di wilayah Jazirah Arabia.

Add a Comment

Your email address will not be published.