Bolehkah Mengamalkan Hadits Dhaif ?

Salikun.comBolehkah Mengamalkan Hadits Dhaif?

Hadits Dhaif

Hadits dhaif adalah hadits yang lemah. Kelemahannya bisa disebabkan oleh banyak hal, terkadang disebabkan oleh terputusnya sanad atau adanya kelemahan dari perawi hadits.

Ibnu Shalah mendefinisikan hadist shahih sebagai hadits yang tidak terkumpul di dalamnya sifat-sifat shahih dan hasan.

مالم يجمع صفات الصحيح ولا صفات الحسن فهو ضعيف

Yang tidak terkumpul sifat-sifat hadits shahih dan hasan, disebut sebagai dhaif.[1]

Baca juga : Sholawat apakah termasuk dzikir setelah shalat fardhu?

Atau yang lebih singkat dari itu sebagaimana pengertian Imam Al Bayquni dalam madzumah baiquniyah, hadits dhaif adalah hadist yang levelnya dibawah tingkatan hasan.

Macam dan Tingkatan Hadits Dhaif

Ada banyak tingkatan atau macam dari hadits dhaif ini. Mulai dari yang lemah sifatnya ringan hingga lemah yang sifatnya parah.

Menurut Syaikh Mahmud Thahhan dalam Mabahits fie ulumil quran, dilihat dari segi terputusnya sanad (penyampai hadits) hadits dhaif terbagi menjadi 6. Yang terlihat (dhohir) ada 4 dan yang tersembunyi (khofi) ada 2.[2]

Berikut penjelasan mengenai hadits dhaif sesuai macamnya

  • Muallaq

Muallaq adalah hadist yang kedhaifannya karena tidak disebutkan perawi awalnya, baik satu orang atau lebih.

  • Mu’dhol

Mursal adalah hadits yang kedhaifannya karena tidak disebutkan 2 orang perawi berurutan.

  • Mursal

Mursal adalah hadits yang kedhaifannya karena tidak disebutkan nama sahabat.

  • Munqoti’

Munqoti’ adalah hadits yang kedhaifannya disebabkan terputus sanadnya dimanapun tempatnya.

  • Mudallas

Mudallas adalah hadits yang titik kelemahannya karena menyembunyikan rowi aslinya karena beberapa alasan. Mudallas terbagi menjadi 2 yaitu tadlis isnad dan syuyukh. Tadlis isnad adalah seorang perowi mendapatkan hadits dari orang lain, tetapi dia meriwayatkannya dengan atas nama gurunya. Karena gurunya lebih populer, agar hadits diterima.

Adapun tadlis syuyukh kebalikannya. Perowi menerima dari gurunya, tetapi ia menyebut gurunya itu dengan nama tidak populer, salah satu maksudnya adalah menutupi ketidak tsiqohan gurunya dan khawatir hadits tadi bermasalah.

  • Mursal Khofi

Mursal khofi adalah seorang perowi menerima hadits dari orang yang semasa dan pernah bertemu orang tersebut. Namun sebenarnya dia tidak mendengarkan langsung darinya, dia hanya merasa mendengar dan seolah-olah darinya.

Contoh Hadits Dhaif

Contoh dari hadits dhoif adalah

لا تفاضلوا بين الانبياء

“Janganlah engkau membandingkan antara para Nabi.”

Hadits ini diriwayatkan Al Bukhari dari Majisun dari Abdullah bin fadl dari Abi salamah dari Abu Hurairah dari Nabi sallallahu’alaihiwasallam.

Padahal Imam Bukhari tidak bertemu dengan Majisun. Dalam hal ini hadits ini tergolong hadits muallaq.

Boleh Mengamalkan Hadits Dhaif

Para ulama’ berbedapa pendapat tentang kebolehan mengamalkan hadits dhoif. Mayoritas jumhur berpendapat bahwa hadits dhaif masih bisa dipakai dalam hal fadhilah ‘amal (keutamaan ‘amal).

Boleh Diamalkan dalam Fadhilah Amal

Imam Ahmad termasuk ulama’ yang membolehkan pemakaian hadits dhaif untuk memotifasi ibadah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Abu Ya’la

إذا روينا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: فِي الحلال والحرام شددنا فِي الأسانيد ، وإذا روينا عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي فضائل الأعمال ومالا يضع حكما ولا يرفعه تساهلنا في الأسانيد

“Jika kita meriwayatkan dari Rosulillah sallallahu’alaihiwasallam dalam hal halal dan haram maka kami memperketat seleksi sanadnya. Dan jika dalam hal fadhilah ‘amal (keutamaan amal) dan tidak bersinggungan dengan hukum maka kami melonggarkan seleksi sanadnya.”[3]

Boleh Diamalkan dalam Fiqih, Jika Tidak ada Dalil yang Mendukung

Penegasan kebolehan memakai hadits dhaif ini disebutkan oleh Ibnul Qoyyim al Jauziyah

 قد ذكر ابن القيم ان الامام احمد قد يأخذ بالضعيف والمرسل في الفقه اذالم يكن في الباب مايدفعه, واذاكان يسير الضعيف

Telah disebutkan dari Ibnul Qoyyim bahwa Imam Ahmad terkadang mengambil hadist dhoif dan mursal untuk bab fiqih, jika tidak ada penguat dalil dalam hal itu. Itupun dengan syarat dhoifnya tidak parah.

Boleh Diamalkan dalam Hal Janji, Ancaman dan Israiliyat

Pendapat tentang kebolehan mengamalkan hadits dhaif berkaitan dengan israiliyat disebutkan oleh Ibnu Taimiyah, dalam pendapat yang terakhir. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Imam Ahmad

والعمل به بمعنى : أن النفس ترجو ذلك الثواب أو تخاف ذلك العقاب …… ومثال ذلك كالترغيب والترهيب بالإسرائيليات ; والمنامات وكلمات السلف والعلماء ; ووقائع العلماء ونحو ذلك مما لا يجوز بمجرده إثبات حكم شرعي ; لا استحباب ولا غيره ولكن يجوز أن يذكر في الترغيب والترهيب

Mengamalkannya dalam artian bahwa jiwa ini mengharapkan pahala atau takut dari adzab,…. Contohnya dalam hal targhib dan tarhib dengan kisah israiliyat, mimpi-mimpi, perkataan salaf dan ulama, dan realita hari ini atau hal semisal yang tidak terkait dengan hukum syari. Bukan dalam hukum sunnah, wajib atau lainnya. Namun yang dibolehkan dalam motivasi amal.[4]

Tidak Boleh Mengamalkan Hadits Dhaif

Tidak Diamalkan Jika Tentang Halal Haram

Banyak diantara ulama’ yang memakai hadist dhaif untuk motifasi beramal sholih. Namun bila tentan halal haram mereka menyeleksi dengan ketat

والذي قطع به غير واحد ممن صنف في علوم الحديث حكاية عن العلماء أنه يعمل بالحديث الضعيف في ما ليس فيه تحليل ولا تحريم كالفضائل، وعن الإمام أحمد ما يوافق هذا

Pendapat yang dikemukakan oleh banyak ahli hadits, mengutip dari para ulama’ bahwa mereka mengamalkan hadits dhaif dalam fadhilah ‘amal, dan bukan dalam hal halal haram. Imam Ahmad juga berpendapat demikian.[5]

Tidak Diamalkan dalam Bab Aqidah

Selain dalam bab halal haram, hadits dhaif juga tidak diamalkan jika berbicara tentang aqidah. Hal ini dijelaskan oleh Syaikh mustafa Hamdu ulayyan al hanbali

فالاحاديث التي تروى الحلال والحرام وماهو اعظم كالعقائد لا يتساهل فيها ولا يقبل فيها الضعيف

Dan hadits-hadits yang diriwayatkan dalam bab halal dan haram atau yang lebih dari itu seperti bidang aqidah, maka tidak boleh dilonggarkan seleksi sanadnya dan tidak diterima hadits dhoif itu.[6]


[1] As San’ani dalam Taudhih al Afkar, hal 246

[2] Mahmud thahan dalam mabahits fie ulumil hadits, hal 116

[3] Disebutkan dalam Thobaqot Hanabilah hal 425.

[4] Al adab syariyah, ibnu Muflih al hanbaly

[5] idem

[6] Mustafa Hamdu dalam assadah al hanabilah wa ikhtilafuhum ma’a salafiyah muasiroh hal 539