Fiqih, Definisi dan Sejarah Perkembangannya

Fiqih, Definisi dan Sejarah Perkembangannya

Salikun.com – Fiqih, Definisi dan Sejarah Perkembangannya

Pengertian Fiqih

Secara bahasa fiqih berarti tahu atau faham. Sementara secara istilah arti dari fiqih ini berubah dan berkembang dalam beberapa masa.

Diantara artinya adalah ilmu yang mempelajari tentang hukum-hukum syara’ tentang perbuatan manusia yang diambilkan dari dalil-dalil agama. Orang yang memahami fiqih disebut faqih, jama’nya adalah fuqoha’.

Periodesasi Umum Fiqih

Periode Pertama

Fiqih pada periode ini dimaknai sebagai faham terhadap seluruh pengetahuan agama. Baik itu memahami persoalan aqidah, fikih (yang hari ini kita fahami) ibadah, muamalah, dan fadhail ‘amal. Semua ini difahami sebagai materi fiqh, oleh karenanya Rosulullah bersabda

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah beroleh kebaikan, maka ia akan difahamkan (dijadikan ahli fiqih) dalam masalah agama.” (HR Al Bukhari)

Dan pemahaman umum bahwa fiqih adalah agama ini berlangsung sejak risalah kenabian hingga periode sahabat atau abad pertama.

Baca juga : Dzikir Setelah Sholat Ini Punya Keutamaan Dahsyat

Periode Kedua

Pada periode kedua fiqih dimaknai sebagai seluruh bidang agama Islam kecuali Aqidah. Jadi bahasan tentang fadhoil ‘amal, adab akhlaq masuk dalam bingkai fiqih. Sementara bab aqidah ada di pembahasan lainnya.

Meskipun masih ada yang mencampurkan aqidah dalam pembahasan fiqih seperti yang di lakukan Imam Abu Hanifah tetapi sudah banyak yang memisahkannya. Periode kedua Ini terjadi di abad kedua hijrah.

Periode Ketiga

Kemudian pada periode ketiga, fiqih diartikan sebagai bidang agama yang membahas perihal Ibadah dan Muamalah. Adapaun masalah aqidah ada dalam pembahasan lain, begitupun adab dan akhlak di pembahasan lainnya.

Di periode ini juga dihasilakan pembagian hukum fiqih menjadi 5 hal. Yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, haram. Hal ini dilakukan setelah kompleksnya permasalahan sehingga ulama’ berijtihad dalam pembagian hukumnya, agar lebih mudah memecahkan masalah.

Baca juga : Syariat, Hakekat, Tarekat dan Makrifat, Apa Bedanya ?

Pada periode ini juga, ijtihad terbuka lebar dan berkembang pesat karena munculnya beragam masalah. Dukungan kuat dari sektor pemerintah dan keciantaan mereka terhadap ilmu juga menjadi bagian penting tumbuhnya ilmu islam.

Sementara itu perkumpulan dari seluruh bidang-bidang kajian seperti aqidah, fiqih, adab akhlaq, fadhoil ‘amal diistilahkan sebagai syariah.

ilustrasi kitab fiqih

Sejarah Perkembangan Fiqih

Sementara menurut ahli fiqih dan ushul fiqh modern, Dr Abdul Wahab Khallaf membagi periode fiqih menjadi 5 masa. Pembagian ini bersifat lebih terperinci lagi dibandingkan penjelasan di awal. Yaitu periode risalah kenabian, periode sahabat, periode kodifikasi atau pembukuan, periode keemasan, periode taqlid dan periode gerakan tasyri’ kontemporer.

Masa Risalah

Masa ini berlangsung selama kurang lebih 22 tahun. Yaitu dengan diutusnya Nabi Muhammad sebagai Rosul di umur 40 tahun hingga 63 tahun. Sumber hukum utama juga muncul di periode ini yaitu Al Quran dan Al Hadist. Masa ini terbagi menjadi 2 periode yaitu periode Makkah selama 12 tahun dan periode Madinah selama 10 tahun.

Selama di Makkah penekanan pada aqidah begitu kuat, sebab dakwah tentang tauhid menjadi pondasi awal periode ini. 13 tahun lamanya Rosulullah berhasil mengislamkan puluhan orang, sebelum nanti beliau hijrah ke Madinah. Meskipun juga ditemukan bab Ibadah, hukum dan penguatan ruhiah tetapi itu untuk menopang aqidah.

Setelah itu, Nabi dan para sahabat hijrah ke Madinah dan dimulailah periode kedua ini selama 10 tahun. Dalil-dalil dari permasalahan hukum banyak yang turun di periode ini. Baik itu mencakup ibadah maupun muamalah.

Pada masa ini, permasalahan langsung dikonsultasikan kepada Rosulullah sallallahu ’alahiwasallam sebagai pemimpin dan penyampai wahyu Allah ta’ala.

Masa Sahabat

Setelah Nabi wafat, maka estafet kepemimpinan dan hukum ada pada sisi sahabat. Pada fase ini terbukalah pintu istnabath hukum syar’I dan ijtihad para sahabat terhadap hal-hal yang belum ada di zaman Nabi. Diantara ribuan sahabat yang ada di masa ini, menurut Ibnul Qayyim hanya seratusan sahabat yang disebut sebagai ulama’ sahabat.

Sumber hukum yang awalnya hanya Al Quran dan Hadist, kini bertambah menjadi ijtihad sahabat. Dan sumber cabang yang lainnya juga dianalisa dalam ijtihad sahabat.

Pada masa ini tasyri’ berkembang namun juga ada efeknya hingga menjadi catatan penting. Diantaranya pembukuan Al Quran, Penafsiran Al Quran, fatwa-fatwa para sahabat dan perpecahan di kalangan kaum Muslimin hingga terbagi menjadi Jumhur umat Islam (ahlussunnah), khawarij dan syiah.

Fiqih, Definisi dan Sejarah Perkembangannya
ilustrasi kitab fiqih

Masa Pembukuan Kitab Fiqih

Pada periode ini muncullah banyak mujtahid dikalangan tabiin dan tabiut tabiin. Fiqih mulai dibukukan agar bisa dipelajari generasi setelahnya. Muncul juga tentang ilmu ushul fiqih, dasar-dasar mengolah hukum hingga menghasilkan fikih. Sehingga dapat dibilang inilah masa keemasan bidang fiqih.

Hal ini terjadi karena semakin meluasnya pemerintahan Islam, yang membentang dari perbatasan China hingga Spanyol.  Munculnya beragam permasalahan yang dihadapi ditambah kurangnya jumlah ulama’ di daerah setempat.  Sehingga pembukuan ilmu-ilmu islam (aqidah, fiqih, tafsir, hadist dll) menjadi sangat penting dan mendesak untuk disebarkan.

Kodifikasi permasalahan fiqih ini juga penting untuk dipelajari, agar umat di masa setelah itu tidak lagi bingung jika berhadapan dengan masalah yang sama. Tidak perlu lagi berijtihad jika permasalahan telah ada di zaman sahabat dan tabiin.

Pada masa ini, kebijakan pembukuan hadist juga dimulai saat Umar bin Abdul Aziz memegang tampuk khilafah. Hal ini dilakukan karena sahabat dan tabiin semakin sedikit jumlahnya. Kitab-kitab hadist muncul juga di periode ini.

Muncul juga para imam madzhab dalam fikih seperti Sufyan ats Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Abu Hanifah, Malik, Syafii, Ahmad dan lainnya. Namun dari sekian itu yang memiliki murid banyak dan dibukukan tulisannya adalah imam madzhab yang empat.

sumber hukum juga telah berkembang, yang disepakati adalah al quran, al hadits, ijma’ dan qiyas. Sementara sumber lainnya menjadi bahan diskusi para ulama’ seperti ‘amal ahli madinah, istihsan, urf dan lainnya.

Masa Taqlid Fiqih

Era ini dimulai pada abad 4 hijriah, dimana pada saat itu kaum muslimin disibukkan dengan permasalahan politik. Sementara ijtihad semakin melemah dan hanya bergantung pada ijtihad ulama’ sebelumnya.

Diantara permasalahan yang muncul adalah, adanya rasa ta’assub madzhabi yang kuat di setiap madzhab, sehingga adab antar ‘ulama yang ada menjadi berkurang. Terbaginya khilafah islam menjadi daulah-daulah karena politik yang ada sehingga ajakan untuk hidup zuhud bermunculan.

Era ini juga didominasi dengan banyaknya buku-buku murid para imam madzhab dan penerusnya. Sehingga kemudahan belajar dari satu madzhab bisa dirasakan dan dilihat oleh masa setelahnya.

Para mujtahid yang ada membagi darajat ijtihad menjadi beberapa tingkatan. Mujtahid madzhab, mujtahid muqoyyad, mujtahid takhrij, mujtahid tarjih dan mujtahid fatwa.

Masa Aktivitas Fiqih Tasyri’ Kontemporer

Salah satu kekhasan dari masa ini adalah adanya produk fiqih yang direkomendasikan oleh pemerintah Islam. Hal ini terlihat di era Turki Utsmani, dimana ulil amri punya kewenangan mutlak atas penetapan hukum fikih. Madzhab Hanafi dipilih menjadi madzhab pemerintahan, sehingga penyebarannya sangat massif di seluruh wilayah Daulah Utsmaniyah.

Masa setelahnya juga muncul pembelajaran tentang fiqih perbandingan madzhab karena banyaknya warisan fiqih dari masa sebelumnya. Pembelajaran tentang ini menjadi penting, sebab beraneka ragamnya masyarakat di dunia dan tersebarnya kaum muslimin di seluruh negara.

Add a Comment

Your email address will not be published.