Isbal, Benarkah Mutlak Haram?

Isbal, Benarkah Mutlak Haram?

Salikun.comIsbal, Persoalan Fiqih yang Masih Diperdebatkan

Isbal secara bahasa artinya memanjangkan. Secara istilah adalah memanjangkan atau menjulurkan pakaian hingga melebihi batas mata kaki. Sementara orang yang isbal bisa disebut sebagai musbil.

Kita akan nukilkan dalil berikut pendapat ulama’ tentang hal itu. Mengapa kita tidak memahami hadist secara langsung dengan fikiran kita ? Jawabannya, sebab para ulama’ lah yang faham dengan hadist Nabi. Mereka memiliki perangkat ilmu yang telah lengkap dibandingkan para pencari ilmu dan orang awwam.

Baca juga : Dzikir dan doa setelah shalat

Dan yang tak kalah pentingnya, perlu digarisbawahi adalah bahwa perihal isbal ini masuk dalam ranah fikih. Yang tentunya banyak dari bab ini yang sudah tidak asing lagi bila ditemukan banyak perbedaan pendapat.

Berikut dalil dan pendapat mereka mengenai isbal.

Dalil Isbal

Sebenarnya banyak sekali hadist tentang isbal ini, tetapi kita akan cukupkan dalam 2 hadist yang nanti para ulama’ akan mengambil istinbat hukum yang berbeda pada hadist ini.

Hadist pertama adalah hadist umum yang bersifat hadist mutlaq[1] tentang isbal. Dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah sallallahu’alaihiwasallam bersabda

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزار فَفِي النَّار

“Kain apa saja yang melebihi dari dua mata kaki, maka dia di neraka.” (HR Bukhari)

Hadist kedua yang lebih detil lagi tentang musbil adalah bila dilakukan dengan sombong atau dalam istilah hadist disebut hadist muqoyyad[2]. Imam Bukhori meriwayatkan, Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam bersabda

من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة ، فقال أبو بكر: يا رسول الله! إن إزاري يسترخي إلا أن أتعاهده، فقال له الرسول ﷺ: إنك لست ممن يفعله خيلاء

“Barangsiapa yang memanjangkan kainnya (melebihi mata kaki) karena sombong, maka Allah ta’ala tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Maka Abu Bakar berkata, “Ya Rosulullah sesungguhnya kainku sering turun hingga aku pegang ia.” Maka Nabi bersabda, “Sesungguhnya engkau bukan termasuk yang melakukannya karena kesombongan.” (HR Bukhari)

Isbal, Benarkah Mutlak Haram?
ilustrasi tidak isbal

Hal yang Disepakati dan Diperdebatkan dalam Isbal

Semua ulama’ sepakat jika isbal itu disertai sifat sombong maka ia adalah haram. Sebab di zaman Nabi, salah satu bentuk menyombongkan diri dari orang kaya adalah dengan menjulurkannya melebihi mata kaki.

Dan hal ini secara jelas diancam dengan hadist riwayat Abu Hurairah.

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزار فَفِي النَّار

“Kain apa saja yang melebihi dari dua mata kaki, maka dia di neraka.” (HR Bukhari)

Adapun hal yang diperdebatkan saat ini adalah, bila isbal tanpa ada kesombongan dalam dirinya. Maka ulama’ terbagi menjadi 3 pendapat yang masyhur. Sebagian berpendapat haram, sebagian makruh dan sebagiannya lagi berpendapat mubah.

Hukum Isbal Jika Tidak Disertai Sombong

Isbal Haram Mutlak

Ulama’ yang menganggap mutlak haram adalah Ibnu Hajar al asqolani, Imam Dzahabi, Syaikh Utsaimin[3], dan Syaikh Bin Baz[4].

Ibnu Hajar al asqolani mengatakan dalam fathul bari (10/263).

وحاصل ذلك أن الإسبال يستلزم جر الثوب وجر الثوب استلزم الخيلاء ولو لم يقصده اللابس

Dan hasilnya bahwa isbal itu mengharuskan menjulukan kain hingga menyeretnya, dan menjulukan kain itu menyebabkan kesombongan, meskipun orang yang melakukan tidak bermaksud sombong.

Imam Dzahabi juga berpendapat bahwa menjulurkan kain itu haram dan hal ini beliau cantumkan dalam buku-buku dosa besar yang ia tulis.

ilustrasi isbal
ilustrasi isbal

Isbal Hukumnya Makruh

Ulama’ yang berpendapat bahwa isbal itu makruh adalah Imam Syafii, Imam Nawawi asy syafii, Ibnu Qudamah al hanbali[5], Ibnu Abdil Baar al maliki[6].

Ibnu Hajar menukil pendapat Imam Nawawi dan Syaffi saat membahas tentang makruhnya Isbal bila tidak sombong.[7]

وقال النووي الإسبال تحت الكعبين للخيلاء فإن كان لغيرها فهو مكروه وهكذا نص الشافعي على الفرق بين الجر للخيلاء ولغير الخيلاء

Imam Nawawi berkata, “isbal dibawah batas mata kaki karena sombong (terlarang), adapun jika tidak sombong maka itu makruh, beginilah yang disebutkan Imam Syafii saat membedakan antara yang menjulurkan sebab sombong dan tidak sombong.”

Isbal Hukumnya Boleh

Ulama’ yang berpendapat bahwa menjulurkan kain dibawah mata kaki itu boleh jika tidak sombong adalah Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah dan Asy Syaukani.

Dalam satu riwayat Imam Ahmad mengatakan, sebagaimana dinukil dari Ibnu Muflih dalam al-Adab asy-Syar’iyah (3/521).

جرّ الإزار إذا لم يرد الخيلاء فلا بأس به، وظاهر هذا كلام غير واحد من الأصحاب رحمهم الله

“Menjulurkan kain jika tidak disertai kesombongan maka tidaklah mengapa, dan ini bukanlah perkataan seorang saja tetapi banyak dari ashab Hanbali.”

Kesimpulan

Bahwa isbal itu masuk dalam ranah fiqih yang sifatnya ada yang disepakati dan ada yang diperdebatkan.

Ranah yang disepakati oleh para ulama’ adalah jika ada kesombongan dalam diri seseorang ketika berpakaian, maka ini hukumnya adalah haram mutlak.

Namun jika sifat simbong itu tidak ada, maka para ulama’ terdahulu berbeda pendapat akannya. Hal itu disebabkan ada hadist yang sifatnya umum dan ada yang sifatnya khusus. Perbedaan itu terbagi dalam hukum haram, makruh dan mubah.


[1] Mutlaq adalah semua lafadz quran atau hadist yang meliputi semua hal secara umum dan tidak dibatasi tertentu.

[2] Muqoyyadh adalah lafadz quran atau hadist yang menunjukkan suatu hal dengan batasan tertentu.

[3] Pendapat syaikh utsimin terkait hal ini disebutkan dalam Syarhul Mumti’, Juz 2, hal 154

[4] Pendapat keharaman ini disebutkan oleh Ibnu Baz dalam Majalatul Buhuts al-Islamiyah, juz 33, hal 113

[5] Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (1/418)

[6] Ibnu Hajar melalui syarah al bukhari, Fathul Bari (10/263)

[7] idem