Kewajiban Suami dan Hak Istri Menurut Islam

kewajiban suami hak istri

Salikun.com – 5 Kewajiban Suami dan Merupakan Hak Istri dalam Islam

Islam telah menggariskan sebuah metide yang lengkap dan mutlak kebenarannya tentang hak-hak suami yang harus ditunaikan istri, hak-hak istri yang harus ditunaikan suami dan hak bersama mereka berdua.

Kewajiban suami kepada istrinya ini, bisa juga diterjemahkan sebagai hak-hak istri dari suaminya. Keduanya saling terkait satu sama lainnya. Secara umum kewajiban suami atas istrinya ini begitu diperhatikan dalam Islam dan menyeluruh dari lahir dan batin.

Menurut Syaikh Nasih Ulwan, jika suami istri begitu menikah konsisten menjalankan metode Islam tentang hak dan kewajiban suami istri, keduanya akan hidup di bawah naungan rumah tangga yang teduh, bahagia, aman dan sentausa.

Tidak akan dirisaukan oleh datangnya berbagai problematika dan peristiwa yang terjadi. Sebab manusia itu pasti memiliki problem dan masalah tersendiri, tinggal bagaimana mereka menghadapinya secara dewasa.

Berikut Ini 5 kewajiban suami yang Merupakan hak istri.

Kewajiban Suami Memberikan Mahar Kepada Istri

Seorang suami wajib memberikan mahar kepada istrinya secara sempurna. Maksud sempurna disini adalah sebaik-baiknya untuk calon istrinya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah subhaanahu wa ta’ala dalam Al Quran surat An Nisa ayat 4

وآتوا النساء صدقاتهن نحلةً فإن طبن لكم عن شيءٍ منه نفسًا فكلوه هنيئًا مريئًا

“Dan berikanlah kepada istri-istri itu sodaqoh (mahar) sebagai pemberian yang penuh dengan kerelaan. Kemudian jika setelah itu mereka menyerahkan kepadamu sebagian maskawin itu dengan sukarela, maka bolehlah kalian memakannya (mengambilnya) sebagai makanan yang sedap lagi baik.” (QS An Nisa 4)

Dari ayat itu dapat disimpulkan bahwa suami wajib memberikan maharnya kepada istrinya. Karena dalam awal ayat itu ada perintah khusus, dan asal dari perintah adalah wajib.

Baca juga : Walimatul Ursy, Walimatul Urus atau Walimatul Urs, Mana yang benar dalam bahasa arab ?

Hal ini sesuai dengan kaedah ushul fiqih tentang perintah

الاصل في الامر للوجوب

“Asal dari perintah itu adalah untuk mewajibkan.”

Kemudian, kesimpulan fiqih yang lainnya adalah tidak boleh mengambil kembali mahar itu, baik oleh suaminya, ayahnya, saudaranya dst kecuali istrinya sendiri yang memutuskannya secara sukarela, tanpa paksaan dan desakan.

Hal ini diperkuat dengan ayat Al Quran surat An Nisa’ 20

وإن أردتم استبدال زوج مكان زوج وآتيتم إحداهن قنطارا فلا تأخذوا منه شيئا أتأخذونه بهتانا وإثما مبينا

“Dan jika kalian ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain (menceraikan istri, kemudian nikah lagi) sementara kamu telah memberinya pemberian (mahar, nafkah dan lainnya) yang banyak, maka janganlah kalian mengambilnya lagi sedikitpun. Apakah kalian hendak mengambinya kembali dengan jalan tuduhan dan dosa yang jelas?” (QS An Nisa 20)

Syaikh Muhammad bin Shalih asy Syawi menjelaskan bahwa jika bahtera rumah tangga sudah rusak dan sulit diperbaiki, dan tidak ada solusi kecuali mentalak istri maka itu diperbolehkan. Namun tetap tidak boleh mengambil maskawin dan pemberian yang telah diberikan. Termasuk juga tidak mengungkit-ungkit pemberian itu karena termasuk hal yang menyakitkan.

Suami Wajib Memberi Nafkah Kepada Istri

Termasuk diantara kewajiban suami terhadap istrinya adalah memeberinya nafkah berupa biaya makan, pakaian, rumah tempat tinggal, pengobatan dan lainnya. Hal ini sesuai dengan ayat Al Quran surat Al Baqarah 233 tentang kewajiban suami atas istrinya.

وعلى المولود له رزقهن وكسوتهن بالمعروف

“Dan kewajiban seorang ayah adalah memberikannya rizki (makan) dan pakaian dengan cara yang ma’ruf (baik)…” (QS Al Baqarah 233)

Dalam Tafsir Al Muyassar disebutkan bahwa pemberian nafkah ini wajib bagi suami atas istrinya. Baik itu dalam keadaan normal ataupun saat dalam status perceraian atau masa iddah, berupa makanan dan pakaian tanpa berlebihan atau kekurangan. Sebab Allah ta’ala tidak menghendaki sesuatu yang menyusahkan manusia.

Kewajiban suami kepada Istrinya ini juga dilandaskan dalam sebuah hadits shahih riwayat Muslim. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

اتقوا الله في النساء فإنكم أخذتموهن بأمان الله واستحللتهم فروجهن بكلمة الله، ولهنَّ عليكم رزقُهن وكسوتُهن بالمعروف

“Betaqwalah kalian kepada Allah tentang urusan wanita-wanita kalian, karena sesungguhnya kalian telah mengambil mereka (menikahi mereka) dengan amanah Allah, dan kalian dihalalkan atas farji mereka dengan kalimat Allah. Dan wajib bagi kalian untuk memebrinya rezeki dan pakaian dengan jalan yang baik.”

Kewajiban Suami Bergaul dengan Istri Secara Baik

Bergaul dan memperlakukan istri dengan cara baik adalah termasuk dari kewajiban suami atas istrinya. Hal tersebut adalah pengamalan dari firman Allah tabaaroka wa ta’ala dalam surat An Nisa’ ayat 19

وعاشروهن بالمعروف فان كرهتموهن فعسى ان تكرهوا شيئا ويجعل الله فيه خيرا كثيرا

“Dan pergaulilah mereka (istri-istri) dengan cara yang baik, kemudian jika ada hal yang tidak kalian sukai dari mereka, (maka bersabarlah) karena bisa jadi ada sesuatu yang kalian benci darinya, padahal Allah telah menjadikan baginya kebaikan yang banyak.” (QS An Nisa 19)

Mempergauli mereka dapat dilakukan dengan banyak cara yaitu

  1. Menambah jatah belanja istri atau memberi mereka gaji mereka, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat At Thalaq ayat 7
  2. Mengajaknya bermusyawarah dalam mengurus rumah tangga, termasuk menerima lamaran anak perempuannya jika telah besar.
  3. Bercanda dengan istri serta bersendau gurau dengannya.
  4. Mengabaikan kekurangan yang ia miliki, dan fokus pada kelebihan dan kebaikannya yang banyak.
  5. Memperhatikan penampilan di hadapannya, sebab seorang wanita suka jika suaminya berdandan seperti sukanya suami jika istrinya bersolek cantik.
  6. Membantu istri mengerjakan kegiatan rumah tangga, apalagi jika ia sedang sakit dan banyak kesibukan.
  7. Tidak membicorkan rahasianya dan menyerbarluaskan kata-katanya kepada orang lain.

Membentengi Istri dan Keluarga dari Hal yang Menjerumuskan ke Neraka

Seorang suami berkewajiban menjaga keluarganya dari hal-hal yang diharamkan Allah dan RosulNya. Ia bertanggung jawab untuk saling menasehati dalam kebaikan. Karena inti dari dijalinnya hubungan keluarga adalah bersama-sama menuju hal yang diridhoi Allah ta’ala.

Seorang Istri berhak menerima arahan kebaikan dari suaminya, selama sesuai dengan norma-norma agama Islam. Ketaatan istri kepada suami dalam kebaikan itu mutlak, selama bukan dalam kemaksiatan terhadap Allah dan Rosulullah.

Tanggung jawab suami atas istrinya untuk mendidiknya agar tidak terjerumus dalam neraka ini termaktub dalam surat at Tahrim ayat 6.

يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا

Artinya

“Wahai orang-orang yag beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata mengomentari ayat diatas, “Didiklah mereka dan ajarilah mereka.”

Qatadah rahimahullah berkata, “Perintahkan mereka menaati Allah, cegahlah mereka dari maksiat kepadaNya. Uruslah mereka sesuai perintah Allah, kalian suruh dan bantu mereka melaksanakannya. Dan jika kalian meliahat kemaksiatan pada diri mereka maka halangilah dan cegahlah mereka.”

Cemburu dalam Hal Agama dan Kehormatannya

Cemburu dalam hal kehormatan maksudnya adalah melindungi istri dari segala gangguan pandangan mata, kata-kata atau sentuhan. Sebab cemburu adalah sifat paling utama dari seorang lelaki sejati.

Kuatnya kecemburuan seorang lelaki menunjukkan kehormatan dan tingginya kedudukan laki-laki. Sikap cemburu itu juga bersamaan dengan sikap mengayomi suami atas istrinya.

Sebaliknya, sikap acuh dan tidak cemburu adalah sifat lemah seorang lelaki sejati. Sebab sikap ini tidak akan disandang kecuali orang rendahan yang tidak memiliki harga diri.

Islam telah mengatur urusan cemburu dengan aturan yang lurus sesuai dengan kodrat manusia. Dan wajib hukumnya bagi suami untuk cemburu dan menjaga kehormatan istrinya. Dan tanpa itu, kehidupan rumah tangga akan gampang terkoyak.

5 Kewajiban suami ini memiliki arti juga bahwa seorang perempuan boleh meminta haknya, karena ini merupakan hak istri yang wajib dipenuhi suami.