Khitbah dalam Islam; Arti, Hukum dan Doanya

khitbah lamaran

Salikun.comKhitbah dalam Islam; Arti, Hukum, Doa dan Tata Caranya Sesuai Sunnah

Islam sebagai syariat abadi yang memiliki ajaran-ajaran yang mudah dan benar, telah meletakkan kaidah yang harus ditaati ketika seseorang hendak melamar calon istrinya.

Jika para pemuda dan kaum muslimin secara umum, menjalankan kaidah ini ketika memilih calon pendamping, maka akan menghasilkan khitbah yang tepat dan pernikahan yang bahagia.

Bahkan akan melahirkan cinta yang luar biasa antar suami dan istri. Semua akan hidup di bawah kehidupan suami-istri yang menyenangkan, didasari rasa saling memahami yang sempurna.

Arti Khitbah

Pernahkah kamu mendengar istilah khitbah? Apa itu khitbah? Dan apa artinya khitbah?

Khitbah itu beda dengan khutbah lho ya…. Kalau khutbah itu biasanya seorang penceramah yang menyampaikan nasehatnya di atas podium atau mimbar. Nah sangat beda sekali dengan khitbah ini.

Berikut ini, pengertian khitbah dan arti kata khitbah, menurut definisi ulama’ Islam dan Keumuman masyarakat.

Baca juga : Walimatul ursy dalam pandangan syariat Islam dan tata caranya

Menurut Syaikh Nasih Ulwan, khitbah adalah saat dimana lelaki peminang mengambil sikap yang tegas (sebelum menjalin akad nikah) antara melanjutkan pernikahan atau membatalkannya.

Menurut keumuman masyarak Indonesia, khitbah artinya lamaran, yaitu pernyataan lelaki peminang kepada keluarga calon istri untuk menikahinya.

Beda Lamaran dengan Tunangan

Ada beberapa istilah yang dimaknai salah oleh sebagai orang. Bahwa khitbah itu tunangan, berarti sudah pasti diterima dong… Eits, jangan salah sangka ya….

Dalam Islam, khitbah itu masih tapahapan pengajuan lamaran kepada pihak wanita. Pengajuan ini belum tentu diterima atau ditolak. Pihak wanita tetap bisa menerimanya atau menolaknya.

Jika wanita tersebut menerima khitbahnya, maka pada proses itu ia disebut sebagai wanita makhtubah yaitu yang sudah dilamar atau dipertunangkan. Dan tidak boleh ada yang melamarnya lagi.

Tetapi jika khitbah itu ditolak secara halus atau jelas, berarti wanita itu terbebas dari status wanita yang sedang dilamar. Kemudian ia boleh memilih calon lainnya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits bukhari dan muslim, Nabi bersabda

ولا يخطب الرجل على خطبة اخيه حتى ينكح او يترك

Dan jangalah seorang mengkhitbah (melamar) seseorang yang telah dilamar saudaranya sampai lelaki pertama (setuju) menikah atau mengundurkan diri (menolak). (HR Muttafaq ‘alaih)

Hukum Khitbah

Menurut jumhur ulama’ khitbah adalah seseuatu yang mubah dan tidak termasuk dari syarat sah pernikahan. Artinya seandainya ada orang yang hendak menikah tanpa proses khitbah karena mungkin sudah kenal dan cukup tentang kabar dari pihak ketiga yang dipercayai maka langsung nikah pun juga tidak ada masalah.

Namun menurut madzhab Syafii, khitbah ini termasuk dari sunnah Nabi. Hal ini karena Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu juga melakukan khitbah saat menikahi Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar radhiyallahu anhum ajmain.

Hal demikian juga ditegaskan oleh Imam Nawawi, dalam kitabnya Al Adzkar. Dan ini merupakan pendapat yang paling masyhur dan muktamad dari Syafiiyah. Madzhabnya mayoritas masyarakat Indonesia.

Doa Khitbah

Adapun tentang doa khusus untuk khitbah sebenarnya dengan doa apapun boleh. Namun yang biasa dibaca sebelum proses khitab atau sebelum menikahi seseorang adalah membaca doa istikharah.

Doa istikharah adalah doa minta dipilihkan yang terbaik antara 2 hal. Jika dalam proses ingin menikah berarti minta kepada Allah agar dipilihkan untuk tetap menikahi fulan/fulanah atau mengganti pilihan ke yang lainnya.

Permintaan tersebut tercermin dalam doa

اللهم إنك تقدر ولا أقدر وتعلم ولا أعلم وأنت علام الغيوب اللهم إن كنت تعلم أن …… خير لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري فاقدرها لي ، ويسره لي ، ثم بارك لي فيه

Doa Latin

Allahumma innaka taqdir wa laa aqdir, wa ta’lam wa laa a’lam, wa anta ‘allamul ghuyub. Allahuma in kunta ta’lam anna ….. khoirun lii fii diini wa ma’asyi wa ‘aqibati amri faqdurhu lii wa yassirhu lii tsumma baarik lii fihi

Artinya

Ya Allah Engkaulah yang Maha Mampu sementara aku tidak mampu dan Engkau Maha Mengetahui sementara aku tidak tahu, Engkaulah yang mengetahui hal-hal ghaib.

Ya Allah jika si ,,,,,, baik untukku, untuk agamaku, kehidupanku dan akhir dari perkaraku maka taqdirkanlah ia untukku, permudahlah dan berkahilah di dalam perkara ini.

Tata Cara Khitbah

Lalu bagaimana tata cara khitbah, sesuai dengan syariat, dan tidak salah dalam melangkah?

  • Mengumpulkan Informasi detail tentang calon suami dan istri. Artinya sebelum seseorang memutuskan menuju proses khitbah, hendaklah ia memantabkan dirinya untuk mengumpulkan berbagai informasi yang cukup mengenai calon istri yang hendak ia lamar.

Informasi itu bisa ia gali sendiri atau melalui keluarga dan saudara yang ia percaya sehingga gambaran sifat dan perilaku istrinya betul-betul sesuai dengan harapannya.

Dalam Islam, tidak ada istilah pacaran, namun yang ada adalah prosesi taaruf melalui pihak ketiga. Hal ini dilakukan agar antara lelaki dan wanita tidak obral janji, selain itu peluang membuka pintu syetan di dalamnya.

  • Setelah itu adalah proses nadzor (melihat) calon istri.

Islam membenarkan pria pelamar melihat wanita yang hendak ia nikahi agar kedua belah pihak benar-benar berada di atas kelejalasan.

Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Al Bukhari, Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

انظر إليها فإنه أحرى أن يؤدم بينكما

“Lihatlah dia, karena hal itu lebih membuka peluang langgengnya pernikahan kalian berdua.” (HR Bukhari dan Tirmidzi)

Maknanya dengan melihat itu cinta dan keharomonisan bisa berlangsung lebih langgeng. Dan proses pernikahan lebih memantabkan dan menenangkan seseorang.

arti khitbah
  • Setelah mantab hati seseorang, maka ia lanjut pada tahap taaruf khitbah nikah. Taaruf syari adalah dengan melibatkan pihak ketiga baik itu melalui teman atau keluarga mahrom.

Titik tekannya adalah menjaga agar tidak terjadi berduaan yang justru memancing fitnah syetan.

Selain itu, taaruf juga bisa dilakukan berhadapan selagi ada pihak ketiga dengan menjaga jarak. Atau juga bisa dilakukan dibalik tabir, jika sudah melakukan tahap nadzor sebelumnya.

  • Khitbah

Setelah mantab hati untuk melanjutkan proses menuju nikah, maka lanjut pada proses khitbah.

Nah dalam proses melamar ini, seorang lelaki datang ke keluarga istri untuk meminaang wanita yang akan dinikahinya.

Meskipun sudah proses khitbah ini, pihak keluarga tetap boleh menolak atau mensetujui hal ini.

Bila setuju maka inilah yang disebut telah melamar dan tidak boleh ada orang lain masuk dalam proses melamar wanita itu, hingga si lelaki pertama mundur atau mengizinkan orang lain.

Rule-rule aturan ini bisa berubah ubah asalkan masih dalam koredor syariat. Hal-hal ini dibuat agar hubungan komunikasi langsung antara lelaki dan perempuan calon suami istri bisa dijaga dengan baik.

Karena betapa banyak orang yang melanggar syariat dan salah dalam hal komunikasi sehingga berujung sakit hati dan putusnya silaturahmi.

Tujuan Lamaran

Syaikh Nasih Ulwan dalam bukunya tentang nikah dan adabnya menyebuth bahwa diantara tujuan dari khitbah adalah sebagai berikut

  1. Memasuki gerbang pernikahan atas dasar ilmu dan petunjuk.
  2. Sebagai ikhtiar dalam menghindari masalah yang diperkirakan timbul dalam kehidupan rumah tangga nantinya.
  3. Saling menguatkan ikatan kekeluargaan antara suami, istri, anak dan kaum kerabat.

Melamar Wanita yang Sudah Dilamar Orang

Ketika ada lelaki yang baik dalam agama dan akhlaknya mengkhitbah seorang wanita, lalu pihak wanita merasa cocok dengannya, maka lelaki lain tidak boleh masuk melamar wanita tersebut hingga pihak laki-laki mengundurkan diri atau mengizinkan orang lain melamar.

Hal ini karena, potensi munculnya bibit permusuhan dan kebencian akan hadir jika tidak dihalangi. Selain itu fitnah perpecahan dan adu domba akan semakin merunyamkan permasalahan.

Sebagian madzhab Maliki, diantaranya Ibnul Qasim dan Ibnul Arabi menyebut bahwa jika melamar pertama adalah orang fasik (pelaku dosa besar) maka boleh dilamar oleh orang lain meskipun masih proses.

Hal ini karena kerusakan dari calon suami fasik jauh lebih besar daripada hanya membatalkan lamaran. Pendapat sebagian ulama’ ini didasarkan dalam kaidah ushul fiqih berikut.

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada datangnya maslahat.

Sebab, siapakah yang ingin menyerahkan anak perempuannya dinikahi oleh orang fasik yang tidak punya akhlak dan tidak mau bertaubat dari perbuatannya?