Pacaran Dalam Timbangan Syariat

Salikun.comPacaran, Dalam Timbangan Syariat. Benarkah ada model pacaran islami ?

Arti Pacaran

Secara pengertian, pacaran adalah prosesi perkenalan antara laki-laki dengan perempuan dengan maksud menjalin kedekatan antar satu dengan yang lainnya. Ajang saling kenal itu biasanya dimaksudkan untuk mencari kecocokan menuju pernikahan.

Dalam KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) disebutkan bahwa pacar itu identik dengan kekasih atau teman lawan jenis yang disukai.

Tradisi pacaran ini telah banyak merebak di kalangan kawula muda sejak zaman dahulu hingga saat ini dengan bermacam-macam variasinya.

Perbedaan tradisi ini terjadi karena seiring bertambahnya waktu budaya malu mulai terkikis di masyarakat dan penggunaan teknologi yang semakin marak dan digunakan untuk hal yang bersifat senang-senang antar satu orang dengan orang yang lainnya.

Namun bagaimanakah Islam memandang hal yang demikian ? Apa hukumnya pacaran secara umum ? Adakah aturan Islam memberi kelonggaran dalam masalah pacaran ini ?

Hukum Pacaran dalam Islam

Meskipun di masyarakat, pacaran ini dianggap biasa saja oleh sebagian orang, tetapi dalam Islam jelas bahwa pacaran ini memiliki banyak sisi negatif yang dicela agama apapun.

Sebab kenyataannya, orang yang pacaran itu akan sulit terhindar dari berdua-duaan antar lawan jenis bukan mahrom. Kemudian akan mempermudah jalan setan untuk menggoda 2 anak adam untuk saling menyentuh satu dengan yang lainnya.

Perbuatan ini jelas haram di dalam agama Islam. Bahkan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam secara tegas dalam sabdanya menganggap semua yang menuju pada pacaran ini dengan sebutan zina.

“Allah ta’ala telah menulis bagian dari manusia itu sebagai zina dan hal ini pasti tidak dapat dihindarkan. Zinanya mata adalah dengan melihat, zinanya kedua telinga adalah mendengar, zinanya lisan adalah dengan berbicara, zinanya tangan adalah dengan meraba, zinanya kaki adalah saat dilangkahkan, sementara hati itu membayangkan dan menginginkan. Kemudian kemaluannyalah yang akan membenarkan itu atau mengingkarinya.”

Jadi hubungan antara pria dengan wanita itu haram ketika minimal hatinya saling terpaut dan berbicara satu sama lainnya. Membahas masalah cinta, kasih sayang dan hubungan yang lebih dekat tanpa ada perantara akan memantik suatu perzinahan, minimal zina hati dan lisan.

Bahkan fitnah pacaran yang berawal dari wanita yang menggoda itu termasuk fitnah yang paling berat menimpa anak adam.

Dalam hadits shahih, Nabi sebutkan dalam sabdanya,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak tinggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki dibandingkan fitnah perempuan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Keharaman pacaran dalam islam itu juga berlaku dalam pacaran beda agama, yaitu seorang muslim dengan non muslim. Sebab keduanya sama-sama menjerumuskan kepada perilaku zina yang dilarang Allah dan RosulNya.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

“Dan janganlah kalian mendekati zina karena sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk” (QS Al Isra’ 32)

Ayat diatas adalah dalil diharamkannya semua hal yang menuju kepada perzinahan. Baik itu dilakukan suka sama suka atau yang berbentuk paksaan. Semua itu dilarang dalam syariat.

Pacaran, Dalam Timbangan Syariat

Model Berpacaran Jaman Now

Perkembangan teknologi jika dimanfaatkan untuk kebaikan niscaya akan berdampak kepada kebaikan pula. Namun tak jarang teknologi juga dimanfaatkan untuk hal-hal yang sifatnya negatif.

Salah satu contohnya adalah tentang  masalah pacaran jaman now (zaman sekarang). Banyak hal yang membuat kita sampai geleng kepala melihat perkembangan hubungan lawan jenis non halal ini.

Sebagian orang bahkan secara terang-terangan menampilkan pacarnya melalui sosial media baik itu facebook, twitter, instagram dan lainnya. Mengumbar foto dan kemesraan di ranah publik sosmed dengan kekasih yang belum halal.

Bahkan ada juga yang model berpacarannya dengan balutan islami, yang sesungguhnya justru dapat ‘memperburuk’ citra islam. Misalnya saling memanggil dengan panggilan abi dan ummi.

Atau ada juga sebagian orang yang berani mengucapkan kepada kekasihnya lawan jenis dengan ana uhibbuki fillah (aku mencintaimu karena Allah). Seolah hal ini berbau agamis, padahal justru mencoreng citra agama itu sendiri.

Sementara pacaran jaman now di barat justru lebih gila lagi. Yaitu telah lumrah memperagakan adegan ciuman di ranah publik.

Apapun motif pacaran itu, jika kedua belah pihak (pria dan wanita) belum melangsungkan akad nikah tetaplah haram. Sebab hal-hal yang demikian mengarah kepada perbuatan zina. Andaikan tidak jatuh pada zina fisik, maka minimal adalah zina hati, penglihatan dan pendengaran.

Merebak Slogan Indonesia Tanpa Pacaran

Maraknya pacaran saat ini, menjadikan sebagian orang merasa risih dan terguguah untuk menggaungkan gerakan “Indonesia Tanpa Pacaran” atau ITP.

ITP adalah gerakan yang muncul karena dorongan hati para pelajar dan masyarakat secara umum yang prihatin dengan korban pacaran yang semakin menjadi akhir ini.

Program Indonesia Tanpa Pacaran ini bahkan menyadarkan para blogger, penulis, lembaga dakwah dan organisasi di Indonesia.

Secara resmi, gerakan ITP berdiri pada tahun 2015 dengan penggagas idenya ialah La Ode Munafar, seorang penulis dan motivator.

Gerakan ini memancing para pemuda untuk nikah lebih dini daripada harus menjadi korban pacaran. Sebab dalam syariat pun, jika seseorang telah mapan dan takut terjerumus dalam kemaksiatan maka menikah muda itu bisa menjadi solusi.

Masifnya gerakan Indonesia Tanpa Pacaran ini bahkan follower Instagram mencapai 1 juta pengikut. Sementara di Facebook jumlah pengikutnya mencapai ½ juta follower, belum dengan yang ada di grub FB nya.

Gerakan ITJ ini juga muncul untuk menandingi slogan buruk dari pacaran jaman now yang semakin mengkhawatirkan para orang tua. Tidak terkontrol dan merusak moral pemuda saat ini.

Pacaran

Jalan Keluar dari Perzinaan

Ketika Islam melarang pacaran dan perbuatan zina, maka Islam juga telah memberikan solusi praktis yang bisa diamalkan oleh seorang muslim.

Hal ini tersirat dalam sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ؛ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda, siapa saja yang telah mampu maka hendaklah ia menikah, karena hal itu bisa menjaga pandangan dan kemaluan. Namun siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena dalam puasa ada pengendalian.” (Muttafaq ‘alaihi)

Jadi solusi dari seorang adalah menikah dan memampukan diri untuk bertanggung jawab kepada pasangannya.

Andaikan seorang itu belum mampu menikah, maka dalam islam ada syariat berpuasa sunnah. Melaparkan diri di siang hari, agar hati itu menjadi lunak, nafsu dan syahwat tidak liar.

Itulah Islam yang memberi solusi dari problem kemanusiaan, dan Allah ta’ala memberi jalan kepada manusia. Memberi ujian sesuai dengan kadar manusia tersebut.

Wallahu a’lam