Sumber Sumber Hukum Islam, Apa Hanya Quran Sunnah?

Sumber sumber hukum Islam

Salikun.comSumber sumber hukum Islam

Ketika Allah subhaanahu wata’ala menciptakan manusia dan alam, maka Allah ta’ala jualah yang menciptakan aturannya. Aturan Allah ta’ala itu ada yang sifatnya kauni, yang beradar di alam ini. Juga ada aturan Allah yang diperuntukkan untuk Manusia. Aturan itu ada yang dijelaskan global, tetapi juga ada yang diperinci spesifik.

Sejak Nabi Adam hingga Nabi terakhir, Muhammad sallallahu’alaihiwasallam, masing-masing punya aturan yang ditetapkan. Aturan dari sumber hukum itu turun secara berkala kepada para Rosul untuk umatnya. Semua itu agar manusia mencapai tujuan ia diciptakan di muka bumi, yaitu beribadah kepada Nya. Pandai dalam mengelola bumi dan alam sebagai khalifah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah” (QS Adz Dzariat 56)

Baca juga : keistimewaan bagi mereka yang bersabar berdzikir setelah shalat fardhu

Sumber-sumber hukum pokok dalam Islam bagi semua Nabi adalah wahyu dari Allah ta’ala. Aqidahnya sama, meskipun cara ibadahnya berbeda di setiap umat.

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS Al Maidah 48)

Dan dalam syariat untuk umat Nabi Muhammad, sumber hukum pokoknya ada 2 yaitu Al Quran dan Al Hadist. Sementara sumber hukum Islam turunannya ada 8 macam, sebagian disepakati dan sebagian diperdebatkan.

Sumber-sumber Hukum Islam

Sumber hukum Islam merupakan rujukan utama dalam pengambilan hukum bagi umat Islam. Terbentuknya hukum ini tidak semata dari akal fikiran manusia saja, namun ada sinergitas antara kehendak dari Allah ta’ala dan ciptaanNya yaitu akal.

Sebagai ajaran yang memiliki pondasi kokoh, seluruh ulama’ sepakat bahwa pondasi sumber hukum Islam adalah Al Quran dan Hadist. Atau dalam istilah lainnya disebut sebagai dalil syar’I, argumen dari syariat.

Sumber Hukum Islam Bukan Hanya Al Quran dan Al Hadits

Sebagian kalangan menilai bahwa hukum itu hanya terbatas pada Al Quran dan Al Hadits saja. Padahal jika kita lihat perkataan para ulama’ terdahulu, justru mereka bersepakat bahwa dalil atau sumber hukum Islam itu tidak hanya 2 itu. Tetapi turunannya masih ada 8 yang lainnya seperti Ijma’, qiyas, ‘amal ahli madinah, urf, istihsan, istishlah, masalih mursalah dan sadd dzariah.

Baca juga : Sudah Tahukah Kamu Tentang Rukun Wudhu dan Syarat Wudhu ?

Dilihat dari segi kesepakatan para ulama’ dalil atau sumber hukum yang disepakati ada 4 yaitu Al Quran, Al Hadist, Ijma’ dan Qiyas. Sementara dalil yang mukhtalaf (diperselisihkan) adalah urf, ‘amal ahli madinah, urf, istihsan, istishlah, masalih mursalah dan sadd dzariah.

 Saat membahas tentang hukum yang disepakati yaitu Al Quran, Al Hadist, Ijma’ dan Qiyas. Para ulama’ tidak hanya berhenti disitu saja sebagaimana ungkapan Badrudin az Zarkasi, ulama’ abad 8 H.

وكان الأئمة أجمعوا على أن الأدلة لا تنحصر فيها، وأنه ثم دليل شرعي غيرها…

Para Imam-imam madzhab telah bersepakat bahwa dalil-dalil syari itu tidak terbatas dengannya (Al Quran, al hadist, ijma’, qiyas). Tetapi ada dalil syar’I selain itu.

Sumber sumber Hukum Islam Selain Al Quran dan As Sunnah

Ijtihad dari para ulama’ adalah hal yang sangat penting ketika memutuskan suatu perkara. Sebab wilayah kaum muslimin semakin berkembang, sementara permasalahan juga semakin meluas. Tentu peran ulama’ sebagai pewaris nabi, mutlak diperlukan. Sebab merekalah yang mempelajari isi Al Quran dan Al Hadist.

Pemikiran bahwa dalil hanya terbatas pada 2 hal itu justru berbahaya, yang hal ini pernah terjadi di masa sahabat. Dimana sekte khawarij adalah kelompok yang menolak ijtihad sahabat Nabi dalam permasalahan yang sebenarnya ada ruang ijtihad di dalamnya. Kaum khawarij punya jargon, “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah.” Kalimatnya tentu tidak salah tetapi mereka menempatkan tidak di tempatnya. Hingga sahabat Ali mengatakan

كلمة حق أريد بها باطل

Kalimat haqq tetapi ditujukan untuk perkara batil.

Kemudian juga ada kelompok yang mengaku sebagai qur’aniyyun, yaitu sekte yang menganggap sumber hukum hanya Al Quran saja dan tidak ada yang lainnya. Atau faham ini lebih menjurus kepada sekte inkar sunnah (menolak sunnah Nabi). Padahal tafsir daripada Al Quran itu ada di dalam hadist. Dan istilah-istilah asing dalam Al Quran juga diberi keterangan dari Sunnah atau perkataan Nabi sallalahu’alaihiwasallam.

Berikut, penjelasan singkat tentang sumber sumber hukum Islam.

Al Quran

Secara bahasa Al Quran berasal dari kata Qo Ro Aa (قرأ) yang berarti adalah membaca. Sementara menurut istilah, sebagian ulama’ mendefinisikan dengan

كلامُ اللهِ المُنزّلُ على مُحمّد بِلفْظِهِ العربيِ والمنْقُولُ بِالتّواتُر ويُتحدّى بِهِ العربُ والمُتعبّدُ بِتِلاوتِهِ

Perkataan Allah yang diturunkan kepada Muhammad dengan lafadz arab, sampai dengan kita dengan riwayat mutawatir (sangat banyak sehingga jauh dari dusta), yang dengan ayat itu Allah menantang orang arab untuk membuat tandingan semisalnya, dan membacanya dinilai sebagai ibadah.

Al Quran adalah sumber hukum utama dan pertama. Semua umat Islam sepakat akan hal ini dan tidak satupun dari mereka baik ulama’nya dan ummatnya yang mengingkari hal ini.

Legitimasi Al Quran sebagai hukum ini, disebutkan didalamnya dalam surat An Nisa 105

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

“Sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab dengan kebenaran agar kamu menghukumi manusia dengan apa yang Allah wahyukan kepadamu dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.”

Al Hadits

Menurut para ulama’, hadist atau sunnah adalah semua perkataan, perbuatan, taqrir, sifat, tabiaat dan sirah Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut para ulama’ hadist adalah sumber hukum islam yang disepakati selain Al Quran.

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟

“Apa yang datang dari Rosul kepada kalian, maka ambillah itu, dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah.” (QS Al Hasyr 7)

Berbeda dengan Al Quran yang sifatnya adalah mutawatir. Dalam pembahasan hadist ada istilah hadist yang shahih dan dhoif kemudian ada mutawatir, masyhur dan ahad. Masing-masing memiliki rincian dan jenis sesuai tingkatannya.

Sumber sumber hukum Islam

Ijma’

Ijma’ adalah kesepakatan sahabat atau ulama’ dalam memutuskan suatu perkara. Ijma’ disimpulkan karena hukumnya tidak disebutkan dalam Al Quran atau sunnah. Dasar kehujjahan ijma’ ini disebutkan dalam surat An Nisa 59

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rosul dan ulil amri diantara kalian.” (QS An Nisa 59)

Ibnu Abbas menafsirkan kata ulil amri adalah para ulama. Jika mereka telah bersepakat akan sesuatu maka itu adalah dalil terkuat.

Ijma’ terbagi menjadi 2 yaitu sharih dan sukuti. Ijma’ sharih adalah kesepakatan para ulama’ mujtahid terhadap suatu perkara yang diketahui semuanya dan disepakati hukumnya tidak ada yang menolaknya. Adapun ijma’ sukuty adalah ucapan sebagian ulama’ yang diketahui ulama’ lainnya tetapi hukumnya tidak ditolak oleh yang tidak mengajukan pendapat.

Contoh dari ijma’ adalah kesepakatan para sahabat bahwa Al Quran dibukukan karena banyak meninggalnya sahabat yang ahli dalam bacaan quran.

Qiyas

Sumber hukum yang disepakati selain ijma’ adalah qiyas. Qiyas artinya mengukur sesuatu perkara yang tidak ada nashnya dengan sesuatu perkara yang ada nashnya dengan dilihat illat atau sebabnya.

Rukun qiyas ada 4 hal

  • Al Ashl yaitu sesuatu yang hukumnya ada dalam nash
  • Al far’u yaitu sesuatu yang hukumnya belum ada dalam nash
  • Hukum yaitu hukum yang ada pada nash dan mengenai al ashl yang nanti digunakan juga untuk al far’u
  • Al illat yaitu sesuatu yang menjadi sebab dasar hukum itu ada.

Contoh dari qiyas adalah haramnya narkotika atau sabu untuk dikonsumsi diqiyaskan dengan khomr yang sudah ada nashnya yaitu AL Maidah ayat 90, illatnya (sebabnya) adalah memabukkan.

Urf

Urf adalah mengetahui atau suatu hal yang telah diketahui banyak orang dan dianggap sebagai tradisi. Urf terbagi menjadi 2 yaitu urf shalih dan urf fasid. Urf shalih adalah kebiasaan yang tidak bertentangan dengan nash. Sedangkan urf fasid adalah kebiasaan yang bertentangan dengan nash.

Contoh dari urf adalah kebiasaan saling mengunjungi pada hari raya iedul fitri atau dalam istilah di Indonesia adalah mudik. Dalam hal ini kebiasaan tersebut tidak bertentangan syariat maka diperbolehkan.

Sumber sumber hukum Islam

Qoul Shohabi

Qoul shohabi adalah perkataan para sahabat Nabi. Hal ini dilandaskan sebab mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan Nabi. Generasi terbaik dari umat ini. Mereka adalah manusia yang paling dekat dengan nabi dan mengikuti petunjuk Nabi.

Yang paling utama dari sahabat adalah 4 khulafaurrasidiin. Kemudian 10 sahabat yang telah dijamin masuk surga oleh Nabi. Kemudian sahabat diluar 10 itu yang disebut Nabi secara langsung untuk masuk surga. Kemudian yang ikut perang badar dan uhud. Kemudian merkea yang berbaiat dibawah pohon.

Ucapan mereka lebih selamat, bila dibangingkan ucapan orang sesudahnya. Mereka adalah orang-orang yang diridhai oleh Allah ta’ala.

Saddu Dzariah

Saddu dzariah adalah menghindari suatu perkara agar tidak menimbulkan mafsadat. Secara konsep dan ‘amal Imam Malik dan Ahmad menganggap saddu dzariah adalah dalil syar’i.

Contoh dari saddu dzariah adalah seorang yang meninggalkan berjabat tangan karena sedang sakit menular pada tangannya. Jika ia tetap berjabat tangan dikhawatirkan mengenai orang lain dan menular ke mereka.

Istihsan

Istihsan adalah menganggap baik sesuatu. Secara istilah ialah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan kepada hukum lainnya pada suatu peristiwa/waktu karena ada dalil syara’ yang mengikutinya. Istihsan adalah dalil yang diperdebatkan ulama’, secara teori Imam Syafii termasuk ulama’ yang menolak istihsan.

Contohnya adalah dilarang mendekati zinah, termasuk di dalamnya memandang wanita. Namun pada saat khithbah diperbolehkan memandang wanita yang dikhitbah untuk mengekalkan perjodohan. Maka dalam hal ini Istihsannya adalah mengambil hukum yang kedua.

Istishab

Istishab adalah menetapi atau menuntut kebersamaan. Menurut istilah istishab adalah penetapan hukum pada suatu perkara di masa yang akan datang dengan dasar bahwa hukum itu telah ada dan berlaku sebelumnya. Karena tidak ada hal yang menjadikan hukum itu berubah.

Contoh dari istishab adalah apabila seseorang telah jelas memiliki barang karena ada bukti terjadi kepemilikan baik itu dari pembelian atau warisan, maka kepemilikan tersebut terus ada pada dirinya hingga ada bukti lain yang memalingkannya dari hukum itu.

Maslahah Mursalah

Maslahah berarti manfaat atau terlepas dari kerusakan. Secara istilah berarti suatu kemaslahatan yang diambil, karena tidak disebutkan dalil perkaranya.

Contoh dari Maslahah Mursalah ini adalah dirumuskannya aturan lalu lintas demi kemaslahatan orang-orang yang berkendara. Hal itu tidak ada dalilnya dari quran atau sunnah tetapi diambilkan untuk kemaslahatan kaum muslimin.

Add a Comment

Your email address will not be published.