Tabarruk Ngalap Berkah Orang Saleh, Menurut Ulama’ Salaf

Salikun.comTabarruk Ngalap Berkah, Menurut Para Ulama’ Salaf

Pengertian dan Batasan Tabarruk

Tabarruk berasal dari kata barokah, yang substansinya adalah bertambah dan berkembang. Tabarruk secara bahasa adalah mengharap bertambahnya berkah dengan sesuatu baik melalui orang lain atau dengan benda tertentu. Semua ini dilakukan dengan harapan agar amal atau permintaan kita mendapat ridho Allah ta’ala.

Batasan dari tabarruk (ngalap berkah) ini adalah tetap menjaga tauhid dan meyakini bahwa Allah sajalah yang memberikan sesuatu dan ridhoNya, bukan makhluknya. Tetap meyakini bahwa Allah sajalah yang memberi manfaat dan menolak madharat. Adapun orang atau benda yang diharapkan barokahnya adalah bentuk amal shalih tersendiri yang pernah disebutkan dalam hadist Nabi, amalan sahabat dan perkataan ulama’.

Baca Juga : Sangat Hebat, Ini Kelebihan 4 dzikir setelah shalat

Dalil Tabarruk dari Al Quran

Menurut para ulama’ salah satu dalil tersirat dari tabarruk ini adalah asbabbun nuzul surat Al Baqarah 125. Yaitu menjadikan tempat pijak Nabi Ibrahim sebagai tempat shalat untuk mendapat barokah. Hal ini disebutkan dalam tafsri Ibnu Katsir.

Abu Hatim dan Ibnu mardawaih meriwayatkan, ketika Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam thawaf di Makkah. Berkatalah Umar bin Khattab kepada beliau, “Ini adalah maqom (tempat pijakan)[1] bapak kita Ibrahim.” Nabi bersabda, “Benar.” Maka Umar berkata, “apakah tidak sebaiknya kita menjadikannya tempat untuk shalat ?” Maka Allah subaanah menurunkan ayat 125 dari surat Al Baqarah.

Dalil dari Quran lainnya adalah surat Yusuf ayat 93, yaitu kisah baju Nabi Yusuf yang diberikan kepada bapaknya dan dengan izin Allah sembuhlah kebutaan Nabi Ya’qub yang telah lama menanti anaknya tersebut.

Baca juga : Keberkahan dalam Pesta Nikah Walimatul Ursy

Dalil dan Contoh Tabarruk di Masa Nabi

Seluruh ulama’ sepakat bahwa tabarruk dengan Nabi atau bagian anggota tubuh Nabi adalah dibolehkan dan tidak ada satupun yang berbeda pendapat akan hal ini.

Tabarruk dengan Rambut Nabi

Pertama, dalil tabarruk kepada Nabi ini adalah apa yang dilakukan Khalid dengan rambut Nabi. Suatu ketika Khalid bin Walid kehilangan peci/topi miliknya saat perang Yarmuk. Maka ia meminta pasukannya untuk mencarinya, namun tidak didapatinya. Maka Khalid bin Walid menyuruh lagi untuk mencarikan pecinya itu sehingga didapatinya hal itu. Ternyata ia hanya sebuah peci yang lusuh.

Maka Khalid berkata, “Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam pernah umrah kemudian beliau mencukur rambutnya, maka banyak orang berkerumun mengambil rambut beliau. Maka aku berhasil mendapatkan rambut bagian ubun-ubunnya dan kutaruh di topiku ini. ” kemudian ia berkata

فَلَمْ أَشْهَدْ قِتَالًا وَهِيَ مَعِي إِلَّا رُزِقْتُ النَّصْرَ

“Maka aku tidak pernah bertempur sedangkan topiku (didalamnya ada rambut nabi) ini bersamaku, kecuali aku diberi kemenangan.” (HR Hakim, Tabrani, Abu Ya’la)[2]

Kedua, adalah Nabi membagikan rambutnya kepada para sahabat. Hadist ini disebutkan oleh Imam Muslim dalam riwayat Anas bin Malik. Bahwa Nabi sallallahu’alaihiwasallam datang di Mina kemudian melempar jumrah, kemudian beliau menyembelih hewan qurban. Setelah itu beliau menyuruh tukang cukur untuk mencukur bagian kanan dan kiri rambut beliau.

ثم جعل يعطيه الناس

Kemudian beliau membagikannya kepada manusia.[3]

Tabarruk dengan Ludah Nabi

Ketiga, bahwa di Madinah ada sumur bidhoah dan nabi pernah meludah hingga berbau wangilah sumur itu dan sahabat memakai air sumur itu untuk mengambil berkah. Hadist ini disebutkan oleh Imam Tabrani dengan sanad hadist tsiqat dinukil dari Majmu’ zawaid wa manbaul fawaid karya Al Hafidz Nuruddin Ali bin Abi Bakar al haitsami.

Tabarruk Ngalap Berkah, Menurut Para Ulama’ Salaf

Keempat, dalam hadist shahih riwayat Ahmad disebutkan bahwa para sahabat berebut ludah dan air bekas wudhu Nabi.

فَوَاللهِ مَا تَنَخَّمَ رَسُولُ اللهِ نُخَامَةً إِلَّا وَقَعَت فِي كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ وَإِذَا أَمَرَهُمْ ابْتَدَرُوا أَمْرَهُ، وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُو يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ

“Demi Allah, tidaklah Nabi meludah kecuali jatuh pada telapak tangan salah seorang sahabat, kemudian diusapkan ke wajah dan badan mereka. Jika beliau memerintah para sahabat, maka mereka bergegas menjawabnya. Dan jika ia berwudhu, hampir-hampir mereka saling berperang (karena berebutan) dengan sisa wudhu Nabi” (HR Ahmad)

Ngalap Berkah dengan Keringat Nabi

Kelima, Imam Muslim menyebutkan bahwa Anas mengatakan ketika Nabi masuk rumah beliau lalu tidur siang. Lalu berkeringatlah beliau saat itu. Kemudian Ummu Sulaim mengambil botol dan memasukkan keringat Nabi ke dalamnya. Kemudian Nabi bangun dan bertanya apa itu wahai Ummu Sulaim? Maka dijawab oleh Ummu Sulaim

نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا. فَقَالَ: أَصَبْتِ

Kami mencari berkahnya untuk putra-putra kami, maka Nabi bersabda, “Engkau Benar”

Ngalap Berkah dengan Makam Nabi

Keenam, tabarruk yang dilakukan Abu Ayyub al Ansari di makam Nabi, dan dinilai sebagai shahih isnadnya menurut Al Hakim.

Suatu ketika Marwan datang di makam Nabi dan melihat ada seorang yang meletakkan kepadalanya di atas kubur Nabi. Maka Marwan menarik baju orang tersebut dan ternyata orang yang ditarik bajunya itu Abu Ayyub al Ansari radhiyallahu’anhu. Maka ia berkata

جئت رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم آت الحجر

“Aku datang kepada Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam dan bukan datang pada sebongkah batu.”[4]

Ketujuh, Imamahlussunnah wal jamaah, yaitu Ahmad bin Hanbal membolehkan meminta berkah dengan mengusap mimbar atau kuburan Nabi. Hal ini disebutkan dalam kitab Al Ilal wa ma’rifati rijal milik Imam Ahmad dan juga disebut dalam Mu’jam syuyukh. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan

سألتُه -يعني: أباه- عن الرَّجُلِ يمَسُّ مِنبرَ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ويتبرُّك بمَسِّه، ويُقبِّلُه، ويَفعل بالقَبر مِثلَ ذلك أو نحوَ هذا؛ يُريد بذلك التقرُّبَ إلى اللهِ جلَّ وعزَّ؟! فقال: لا بأسَ بذلك

 Aku bertanya kepada bapak (Ahmad bin Hanbal) tentang seorang yang mengusap dan mencium mimbar Nabi sallallahu’alaihiwasallam dan mengharap berkah dengannya, dan melakukan hal yang sama di kuburan Nabi seperti hal itu. Juga dengan maksud mendekat kepada Allah ta’ala. Maka Imam Ahmad mengatakan, “Tidaklah mengapa”

Ngalap Berkah Sahabat dengan Tangan dan Kaki

Kedelapan, Seorang Tabiin, Tsabit al Bunani mencium tangan sahabat yang pernah menyentuh Nabi, untuk mendapatkan barokah. Dalam Adabul Mufrad, Imam Bukhari menyebutkan

عَنِ ابْنِ جُدْعَانَ، قَالَ ثَابِتٌ لأَنَسٍ‏:‏ أَمَسَسْتَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بِيَدِكَ‏؟‏ قَالَ‏:‏ نَعَمْ، فَقَبَّلَهَا‏

Dari Ibnu Jud’an, Tsabit al Bunani berkata kepada Anas, “Apakah tanganmu pernah menyentuh Nabi sallallahu’alaihiwasallam? Ia berkata, “Ya” maka Tsabit mencium tangannya.”

Kesembilan, Ketika Wazi’ bin Amir datang di Madinah, maka ada yang berkata itu Rosulullah.

فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَرجله

Maka kami mencium tangan dan kaki Nabi sallallahu’alaihiwasallam.[5]

Mencium kaki nabi disini tentunya berbeda dengan bersujud kepada Nabi. Mencium kaki sebagai penghormatan juga pernah dilakukan oleh Sahabat Ali kepada Abbas bin Abdul Muttalib yang juga pamannya.

Dan merupakan adat dari sebagian masyarakat hari ini juga mencium kaki orang tuanya, hal ini dibolehkan oleh para ulama’ diantaranya Imam Tirmidzi, Baihaqi, al Mubarakfuri dan Ibnu Utsaimin.

Begitu juga Imam Muslim saat bertanya tentang hadist mu’allal[6] dan dijawab mudah oleh Imam Bukhari, maka Imam Muslim mencium kaki gurunya tersebut

دعني حتى أقبل رجليك يا أستاذ الأستاذين وسيد المحدثين وطبيب الحديث في علله

Biarkan aku mencium kakimu wahai mahaguru, pemimpin ahli hadist, dan pakar hadis dalam hal ilal.

Dan dalil tentang tabarruk kepada Nabi lainnya masih banyak, bahkan ada hadits bahwa sahabat Nabi meminum darah Nabi yaitu Abdullah bin Zubair bertabarruk agar menjadi kuat dan juga sahabiah yang meminum air seni Nabi. Tapi dalam hal ini ada khususiah hanya untuk Rosulullah sallallahu’alaihiwasallam dan dalil semua dari Nabi adalah suci, karena hakekatnya selain Nabi kedua hal itu adalah najis. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi dan diakui hadist itu hasan shahih riwayat Daruqutni.

وذلك كاف في الاحتجاج لكل الفضلات قياساً

Hadist tentang air seni nabi itu shahih diriwayatkan Daruqutni dan ia berkata Hasan Shahih. Dan itu hanya berlaku sebagai dalil akan kesucian segala sesuatu yang berasal dari Nabi.[7]

Tabarruk Ngalap Berkah, Menurut Para Ulama’ Salaf

Perkataan Para Ulama’ dan Contoh Tabarruk dengan Orang Saleh

Mengenai tabarruk dengan orang shalih karena diqiyaskan dengan perilaku Nabi, maka para ulama’ berbeda pendapat. Sebagian setuju dan memperbolehkan hal ini, tetapi sebagian lain tidak memperbolehkan dengan alasan hal itu hanya dikhususkan kepada Nabi bukan orang setelahnya.

Adapun argumen dan pendapat dimana dibolehkannya bertabarruk dengan orang shaleh adalah sebagaimana berikut

Nabi Bertabarruk dengan Air Wudhu Kaum Muslimin

Pertama, Dalam riwayat Ibnu Umar[8], bahwa Nabi pernah bertabarruk dengan air di tempat bersuci kaum muslimin,

فيؤتى بالماء فيشربه يرجو بركة أيدي المسلمين

“Beliau diberikan air itu kemudian meminumnya, mengharap barokah tangan-tangan kaum muslimin.” (HR Tabrani)

Tabarruk Imam Syaffi dengan Makam Imam Hanafi

Kedua, disebutkan dalam Tarikh Baghdad, bahwa Imam Syafii bertabarruk dan berdoa di makam Imam Hanafi ketika ada hajat. [9] hal ini dinukil dari Al Khatib al Baghdadi juz 1/123.

Tabarruk Imam Syafii dengan Baju Imam Ahmad

Ketiga, disebutkan dalam Al Adabu Syar’iyyah[10] bahwa Imam Syafii pernah menulis surat dari Mesir kemudian diberikan kepada Rabi’ bin Sulaiman. dan berkata, “kirimkan ini kepada Ahmad bin Hanbal dan berikan aku jawaban darinya.” Maka disampaikan surat itu kepada Imam Ahmad. Menangislah beliau membaca surat tersebut, diantara isinya adalah bahwa Imam syafii bermimpi bertemu Nabi dan mengatakan kepada Imam Syafii, “Tulislah kepada Ahmad bin Hanbal, dan sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya, “engkau (Imam Ahmad) akan diuji dan dipaksa mengatakan al Quran itu makhluk, maka jangan turuti itu. Allah akan meninggikan derajatmu dan menjadikan kamu panutan hingga hari kiamat.”

Setelah itu Imam Ahmad menjawab surat tersebut dan melepas baju yang menempel pada kulitnya. Baju itu diberikan untuk Rabi’. Kemudian Rabi’ pulang dengan membawa surat jawaban dan baju Imam Ahmad.  Maka Imam syafii berkata kepada Rabi’, “aku tidak mengambil baju yang diberikan kepadamu itu. Tapi basahi baju itu dan serahkan kepadaku sisa air cuciannya.” Maka Robi’ memasukkan air itu ke dalam botol untuk Imam syafii

وكنت أراه في كل يوم يأخذ منه فيمسح على وجهه تبركا بأحمد بن حنبل – رضي الله عنهما

Dan Aku (Robi’) melihatnya -Imam Syafii- setiap hari mengambil air itu dan membasuhkannya di wajahnya dalam rangka tabarruk dengan Imam Ahmad bin hanbal.[11]

Pendapat Ibnu Jauzi al Hanbali dan Muhammad al Jazari

Ibnul Jauzi termasuk ulama’ yang membolehkan tabarruk dengan orang-orang shaleh. Hal ini beliau ungkapkan dalam tulisannya di kitab Siffatu Safwah (2/410) saat menjelaskan biografi Ibrahim al Harbi.

Ibrahim al Harbi adalah orang shaleh yang wafat di tahun 285 H dan kuburannya banyak dikunjungi manusia dengan maksud bertabarruk agar diberi berkah oleh Allah ta’ala.

Syamsuddin Muhammad al Jazari dalam kitab Tashihul Masobih mengatakan, “Aku berziarah ke kuburan Imam Muslim di Naisabur (sekarang di Iran) dan aku baca sebagian riwayat dalam shahih muslim, agar mendapat berkah di dekatnya. Dan aku merasakan barokah itu ada setelahnya.”

Perkataan Imam Nawawi dan Ibnu Hajar

Keempat, perkataan Imam Nawawi bahwa minta berkah itu juga berlaku setelah Nabi wafat, yaitu terhadap orang-orang shalih. Saat mensyarah hadist shahih muslim

وكان النبي صلى الله عليه وسلم يلبَسُها فنحن نغسلها للمرضى نستشفي بها

“Adalah dahulu Nabi sallallahu’alaihiwasallam pernah memakai baju gamis, kemudian kami mencucinya dan dibuat untuk menyebuhkan orang yang sakit.”

Maka Imam Nawawi mengatakan

وفي هذا الحديث دليلٌ على استحباب التبرك بآثار الصالحين وثيابهم.

Hadist ini adalah dalil bolehnya tabarruk dengan bekas orang shalih dan baju mereka.[12]

Kelima, perkataan Ibnu Hajar dalam Fathul Baari saat mesyarah hadist Anas bin Malik

كانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَدِهِ وَفِي يَدِ أَبِي بَكْرٍ بَعْدَهُ وَفِي يَدِ عُمَرَ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ جَلَسَ عَلَى بِئْرِ أَرِيسَ قَالَ فَأَخْرَجَ الْخَاتَمَ فَجَعَلَ يَعْبَثُ بِهِ فَسَقَطَ قَالَ فَاخْتَلَفْنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مَعَ عُثْمَانَ فَنَزَحَ الْبِئْرَ فَلَمْ يَجِدْهُ

Bahwasannya cincin Nabi sallallahu’alaihiwasallam ada ditangan beliau, kemudian di tangan Abu Bakar, kemudian setelahnya ditangan Umar, kemudian ditangan Utsman. Seuatu ketika Utsman duduk di dekat sumur dan melepas cincin itu kemudian melihat-lihat cincin itu dan terjatuhlah cincin Nabi di sumur. Maka kami mencari cincin itu 3 hari dengan mengeluarkan air dalam sumur sedikit demi sedikit, tetapi tidak menemukannya.

Ibnu Hajar berkata,

وفيه استعمال آثار الصالحين ولباس ملابسهم على جهة التبرك والتيمن بها

Di dalamnya ada dalil memakai bekas orang shalih dan memakai baju mereka juga seperti itu. Dilakukan dalam rangka tabarruk.


[1] Maqom Ibrahim bukanlah makamnya Ibrahim, sebab beliau dimakamkan di Hebron Palestina. Adapun yang dimaksud Maqom Ibrahim disini adalah batu pijakan Nabi Ibrahim saat membangun ka’bah. Awalnya batu ini ada di dekat ka’bah, namun pada era kholifah Umar bin Khottob batu ini dipindahkan beberapa meter dari Ka’bah.

[2] Ibnu Hajar al haitsami menyebut perawi-perawi hadist ini memenuhi kriteria shahih.

[3] Shahih Muslim

[4] HR Tabrani, Hakim, Ahmad. Hakim, Ahmad, Adz Zahabi dan As Subki menyebut isnadnya shahih, sementara Nasai menganggap dhoif

[5] HR Bukhari, dalam adabul mufrad

[6] Yaitu hadist yang di dalamnya terdapat ilal (cacat) sehingga membuat lemah hadist tersebut, padahal secara dzahir hadistnya tidak cacat. Illal kadang terjadi di sanad dan kadang di matan.

[7] Al majmu’ li Nawawi

[8] Ibnu Hajar al haitsami menyebut perawinya adalah orang-orang tsiqqah, satu riwayat menyebut Al Albani menghasankan hadist ini sementara riwayat lain menyebut dhaif.

[9] https://alsunna.org/2010-10-04-17-40-37.html#gsc.tab=0

[10] Karya Ibnu Muflih al hanbali

[11] Kisah ini ada 3 versi atau riwayat. Sanad pertama terdapat perowinya yang lemah, dan sanad 2 serta 3 terdapat rowi majhul. Dari beberapa jalur ini disimpulkan sanad hasan lighoirihi sebab ulama’ juga menukil hal ini dari masa ke masa. Kedhoifan berubah menjadi hasan lighoirihi ini karena perawinya tidak ada yang fasik atau dusta. Cerita ini disebutkan juga dalam manaqib Imam Ahmad.

[12] Al minhaj syarh shahih muslim