Perkara Yang Membatalkan Wudhu Menurut 4 Madzhab

yang membatalkan wudhu

Salikun.com – Berikut Penjelasan tentang perkara yang membatalkan Wudhu menurut para ulama’ 4 Madzhab.

Wudhu merupakan suatu ibadah yang mengiringi shalat. Ketika wudhu seseorang benar, maka hal itu akan mempermudah jalan diterimanya shalat seseorang. Namun jika wudhunya salah, maka akan ada dampak yang salah dalam shalatnya.

Wudhu adalah penyuci dari hadats dan najis yang menempel di badan. Jika seseorang yang ingin shalat tidak membersihkan diri dari hadast maka batallah shalatnya.

Dalam bab fiqih dijelaskan pula, beberapa pembatal wudhu. Perkara ini perlu diketahui oleh seorang muslim yang hendak melaksanakan shalat. Sebab menjadi penentu sah atau tidaknya shalat seseorang nantinya.

Para ulama’ umumnya berbeda pendapat mengenai jumlah pembatal wudhu. Sebagian menyebutkan ada 4 hal, sebagian lagi menyebut ada 5 hal dan seterusnya.

Berikut beberapa pembatal wudhu yang harus dipelajari seorang muslim.

Keluarnya sesuatu dari salah satu dua jalan/jalur

Keluarnya sesuatu dari dua jalan itu bisa berbentuk cair, gas atau padat. Adapun yang dimaksud dari dua jalan itu adalah qubul (kemaluan) dan dubur (pantat).

Baca juga : Inilah 10 Syarat Wudhu yang Wajib Diketahui

Sesuatu Yang Keluar dari Qubul (Kemaluan)

Contoh yang biasa keluar dari qubul dan membatalkan wudhu adalah air kencing[1], madzi, dan wadi.

Madzi adalah air bening dan lengket, yang keluar dari kemaluan seseorang karena syahwat yang muncul pada dirinya. Hadirnya syahwat itu bisa karena bercumbu antara suami dengan istri atau karena memikirkan/membayangkan sesuatu.

Adapun wadi adalah cairan kental yang keluar dari kemaluan seseorang karena kelelahan, atau keluar setelah mengeluarkan air kencing. Hukumnya adalah najis.

Ketiga hal diatas (air kencing, madzi dan wadi) telah disepakati oleh ulama’ sebagai benda najis. Orang yang mengeluarkannya berarti dihukumi sebagai orang yang berhadas.

Adapun air mani[2], maka di kalangan para ulama’ timbul perbedaan pendapat. Madzhab syafii umumnya menyebut bahwa air mani itu tidak najis, namun sebagian ulama’ madzhab lainnya menganggap itu adalah najis.

Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai kenajisan air mani (sperma) namun para ulama’ sepakat bahwa orang yang mengeluarkannya adalah orang yang berhadas besar. Wajib baginya mandi besar untuk menghilangkannya.

Dalil dari perkara ini adalah sebagaimana yang disebutkan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dalam fiqih sunnah

الْمَنِىُّ وَالْمَذْىُ وَالْوَدْىُ ، أَمَّا الْمَنِىُّ فَهُوَ الَّذِى مِنْهُ الْغُسْلُ ، وَأَمَّا الْوَدْىُ وَالْمَذْىُ فَقَالَ : اغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ

Mani, madzi dan wadi. Adapun mani itu mewajibkan seseorang mandi janabah, adapun jika wadi dan madzi maka Ibnu Abbas menyebutkan, hendaklah engkau mencuci kemaluanmu kemudian berwudhulah sebagaimana wudhu untuk shalat. (HR Baihaqi)

Sesuatu Yang Keluar dari Dubur (Pantat)

Adapun contoh yang biasa keluar dari dubur (pantat) adalah kentut, kotoran tinja, dan lainnya.

Kedua hal yang keluar dari dubur ini disepakati oleh para ulama’ sebagai benda najis, dan orang yang mengeluarkannya adalah berhadas, sehingga termasuk pembatal wudhu.

Dalil dari Al Quran tentang hal ini adalah surat Al Maidah ayat 6

أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ

Atau kembali dari tempat buang air (toilet atau kakus)…. (QS Al Maidah 6)

Dalam ayat diatas terdapat kalimat, Al Ghooith, yang artinya secara bahasa adalah tanah yang rendah. Namun seringkali dipakai dalam arti tempat buang air (jamban).

Hilangnya Akal atau Tak Sadarkan Diri

Termasuk diantara hal yang membatalkan wudhu adalah hilangnya kesadaran seseorang. Tidak sadarkan diri ini bisa berarti tidur, pingsan atau karena gangguan jiwa (gila).

Tidur yang termasuk membatalkan wudhu ini ada beberapa kondisi dan perbedaan ulama di dalamnya. Yaitu sebagai berikut.

  • Tidur yang terlalu lama dan tak sadarkan diri. Jenis tidur ini dihukumi oleh madzhab Maliki dan Hanbali sebagai pembatal wudhu. Dalilnya adalah perkataan Abu Hurairah kepada para sahabat.

مَنِ اسْتَحَقَّ النَّوْمَ فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ

Barangsiapa yang terlanjur tidur, maka wajib berwudhu lagi. (HR Al Baihaqi dan Abdurrazaq)

  • Tidur terlentang atau menempelkan lambungnya di tanah. Jenis tidur ini termasuk hal yang membatalkan wudhu menurut ulama’ Hanafi, Dzahiri dan Syafii.

Hal ini disandarkan dalam sebuah riwayat yang dhaif

لَيْسَ عَلَى النَّائِمِ جَالِسًا وُضُوْءٌ حَتَّى يَضَعُ جَنْبَهُ

Bagi yang tidur dengan duduk, maka wudhunya tidak batal hingga ia tidur dengan meletakkan lambungnya.

  • Sebagian ulama’ ada yang menggabungkan 2 pendapat di atas, yaitu bahwa tidur yang membatalkan wudhu itu adalah yang lama atau tidur dengan posisi terlentang.
  • Sementara itu menurut ulama’ yang lain, tidur bukan menjadi pembatal shalat sama sekali. Hanya saja, jika seseorang itu terlalu pulas tidur sehingga kentutnya pun tidak bisa dirasakan, maka yang demikian tentu membatalkan wudhu.

Adapun tentang pingsan, maka para ulama’ menyatakan termasuk pembatal wudhu. Meskipun pingsannya hanya sebentar saja. Bahkan Ibnu Mundzir mengklaim bahwa perkara pingsan sebagai pembatal wudhu ini telah disepakati para ulama.

Begiru juga dengan gila. Barangsiapa yang dalam keadaan suci, kemudian atas suatu sebab ternyata hilang ingatan atau gila, maka wudhunya batal dengan sendirinya. Jika setelah beberapa saat kembali lagi ingatannya, maka wajib baginya berwudhu jika hendak shalat.[3]

Bersentuhan antara laki-laki dan perempuan

Untuk perkara yang membatalkan wudhu selanjutnya adalah bersentuhan kulit antara laki dan perempuan. Namun para ulama’ berbeda pendapat mengenai makna menyentuh itu.

Dalam hal ini ada beberapa perbedaan pendapat, diantaranya adalah.

  1. Ibnu Masud, Ibnu Umar, Imam Syafii dan Ibnu Hazm al Dzhairi menyebut bahwa menyentuh perempuan itu termasuk pembatal wudhu meskipun sentuhan tidak disengaja, baik itu dengan adanya syahwat ataupun tidak bersyahwat.
  2. Ibnu Abbas, Hasan Al Basri, Abu Hanifah dan Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu sama sekali. Adapun yang membatalkan wudhu adalah jika bersentuhan itu bermakna jima’ antara suami dan istri.
  3. Imam Malik, Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa menyentuh wanita itu batal wudhunya jika dengan syahwat. Adapun jika tanpa syahwat maka tidak membatalkan wudhu.

Perbedaan para ulama’ dalam bab ini karena beda sudut pandang dan menafsirkan ayat 6 dari surat Al Maidah.

أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ

Atau menyentuh wanita… (QS Al Maidah 6)

Menyentuh kelamin atau dubur

Menyentuh kelamin atau dubur adalah termasuk yang membatalkan wudhu. Diantara yang berpendapat demikian adalah ulama’ malikiyah, syafiiyah, hanabilah dan dzahiri. Dalil dari hal ini adalah Hadits shahih riwayat Abu Daud dan Tirmidzi. Nabi bersabda

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Barangsiapa yang memegang kemaluannya, maka hendaklah ia berwudhu. (HR Tirmidzi, shahih)

Namun demikian, tidak sepenuhnya ulama’ sepakat akan hal ini. Diantanya Abu hanifah dan salah satu riwayat dari Malik menyebutkan bawah menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu.

Ulama’ hanafiyah berdalil dengan hadits hasan riwayat Ahmad

الرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِى الصَّلاَةِ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ قَالَ « لاَ إِنَّمَا هُوَ مِنْكَ

Jika ada seorang memegang kemaluannya, apakah ia diharuskan berwudhu? Maka Nabi bersabda, “Tidak, sebab hal itu termasuk bagian dari dirimu.” (HR Ahmad, hasan)

Kemudian sebagian kecil ulama’ ada yang berusaha menggabungkan dua pendapat diatas dengan memunculkan pendapat ketiga. Yaitu bahwa yang membatalkan wudhu itu ketika menyentuh kemaluan dengan syahwat. Adapun bila tidak, maka tidak membatalkan wudhu. Inilah pendapat dari Syaikh Al Albani dan satu riwayat dari Malik.

Empat perkara pembatal wudhu diatas adalah perkara yang juga membatalkan tayamum. Sebab kedudukan tayamum adalah pengganti wudhu, sehingga hal-hal yang membatalkan wudhu juga berlaku bagi tayamum.


[1] Dikecualikan dalam kasus ini adalah orang yang memiliki penyakit salsalatul baul (sering kencing). Orang yang sakit seperti ini wajib membersihkan diri di setiap waktu shalat. Adapun jika saat shalat, maka ada keringanan tidak membatalkan wudhu atau shalatnya. Hal ini adalah sebagai bentuk rukhsah.

[2] Mani adalah air sperma, cirinya adalah berwarna putih dan keluar dari kemaluan dengan memancar. Keluarnya air mani ini diiringi dengan syahwat yang bergolak. Orang yang telah mengeluarkannya biasanya merasa lelah atau capek dan mudah tertidur pulas.

[3] Al Majmu’, Imam Nawawi (2/25)