Biografi dan Perjuangan Abdul Karim Amrullah

abdul karim amrullah

Salikun.comBiografi dan Perjuangan lengkap dari Kyai Haji Abdul Karim Amrullah.

Abdul Karim Amrullah merupakan salah satu ulama besar pada awal abad 20. Dia termasuk ulama pembaharu yang kegigihannya dalam berdakwah seperti mewarisi sang guru, Syaikh Ahmad Khatib al Mingkabawi (al Minangkabawi).

Kelahiran dan Pendidikan Abdul Karim Amrullah

Abdul Karim Amrullah lahir pada tanggal 10 Januari 1879 di Maninjau Sumatra Barat. Abdul Karim Amrullah di masa kecilnya diberi nama Muhammad Rasul.

Di masa awal, dia belaja bahasa Arab ke ayahnya sendiri yaitu Syaikh Muhammad Amrullah yang saat itu dikenal sebagai Syaikh dari Tarekat Naqsabandiyah. Setelah itu dia belajar tafsir dan fikih kepada Sultan Muhammad Yusuf, salah satu tokoh agama di Sungai Rotan, Pariaman.

Pada 1894 – pada usia 15 tahun – ia pergi ke Mekkah, berhaji dan tinggal di sana selama 7 tahun untuk belajar. Di tanah suci, pelajaran agama Islam didapatkannya dari seorang ulama asal Minangkabau bernama Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi yang waktu itu menjadi guru dan Imam di Masjidil Haram.

Baca juga : Biografi Nawawi al Bantani, Bapak Kitab Kuning Indonesia

Saat belajar di Makkah, dia seangkatan dengan Muhammad Jamil Jambek, juga dari Sumatra Barat, yang di kemudian hari nanti dikenal sebagai ahli ilmu falak.

Selain kepada Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi, ia juga berguru kepada sejumlah ulama terkenal lainnya seperti Syaikh Abdullah Jamidin, Syaikh Usman Serawak, Syaikh Umar Bajened, dan Syaikh Saleh Bafadal.

Perbedaan Pendapat Abdul Karim Amrullah dengan Sang Ayah

Pada tahun 1901 Abdul Karim Amrullah pulang dan mengajar di Sungai Batang Maninjau. Pengaruh sang guru – yaitu Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi – membuatnya menjadi seorang yang kritis terhadap adat Minangkabau dan kepada tarekat-tarekat di Sumatra Barat, khususnya Tarekat Naqsabandiyah.

Ia mencoba meluruskan praktik tarekat yang menurutnya tidak ada dasarnya dalam agama Islam. Upaya itu tidaklah mudah. Pertama, ulama yang sepaham dengan dia tidaklah banyak saat itu. Kedua, dia harus menghadapi ulama-ulama lain yang tak lain adalah pengikur ayahnya sendiri, seorang Syaikh dari Tarekat Naqsabandiyah.

Pertentangan paham antara anak dan ayah pun tak dapat dihindarkan. Meski demikian, beliau tetap berusaha menjaga hubungan baik dan tetap berbakti kepada sang ayah. Sebaliknya, timbul rasa bangga pada si ayah ketika mengetahui kegigihan atas prinsip dan pendirian sang anak. Ayahnya pun bangga bahwa si anak menjadi seorang yang pemberani dalam hal menyampaikan argumen secara ilmiah.

Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Mekkah untuk menimba ilmu lagi. Niat tersebut kurang disepakati oleh sang guru, Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi. Alasannya, dia dinilai justru sudah layak menjadi seorang guru atau ustadz. Anjuran tersebut dipatuhi oleh Abdul Karim Amrullah. Dia pun membuka “kelas” di rumahnya di Mekkah. Murid Abdul Karim Amrullah makin lama makin banyak.

Pada tahun 1906 dia pulang kembali ke Indonesia. Sebagaimana kepulangannya yang pertama, kali ini dia langsung melakukan kegiatan mengajar di Sungai Batang. Oleh karena pikiran-pikiran pembaharuannya dipandang “beda”, maka tak mengherankan jika banyak pihak yang menentangnya. Hal itu justru malah menyebabkan namanya menjadi lebih cepat dikenal.

abdul karim amrullah dan ahmad dahlan
abdul karim amrullah dan ahmad dahlan

Dakwah Melalui Majalah dan Organisasi

Selain dengan mengajar, untuk lebih mempercepat tersosialisasikannya gagasan-gagasan barunya, pada tahun 1912 Abdul Karim Amrullah lalu bergabung dengan Syaikh Abdullah Ahmad untuk mengelola Majalah Al Munir. Itulah, Majalah Islam pertama di Indonesia yang diterbitkan kali pertama pada 1911.

Ia masih merasa belum cukup bila ide-idenya hanya disebarkan melalui forum-forum pengajian, ceramah-ceramah dan tulisan-tulisannya di Al Munir. Untuk itu dia kemudian mendirikan lembaga pendidikan modern, Sumatera Thawalib pada tahun 1918. Sumatra Thawalib adalah sekolah Islam modern pertama yang ada di Indonesia.

Pada tahun yang sama, untuk lebih menunjang keberhasilan lembaga tersebut, beliau mendirikan Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) bersama dengan Syaikh Abdullah Ahmad.

Mengingat keberhasilannya di bidang pembaharuan dan aspek pendidikan agama khususnya, kedua tokoh – yaitu Abdul Karim Amrullah dan Abdullah Amad – dianugrahi gelar Dr (HC) oleh Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 1926. Prestasi itu sangat membanggakan karena tercatat sebagai orang Indonesia terawal yang memperoleh gelar doktor kehormatan dari universitas paling terkemuka dan tertua di dunia.

Pada tahun-tahun itu pula, ia mengadakan perjalalan ke Jawa dan sempat bertemu dengan HOS Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan. Mereka lantas saling bertukar pikiran satu sama lain. Dari pertemuan itu, dia menangkap kesan yang mendalam dan dibawanya ke Sumatera Barat bahwa Islam perlu diperjuangkan dengan sebauah wadah organisasi yang baik. Maka, dia pun mengubah perkumpulannya, Sendi Aman menjadi cabang Muhammadiyah di Sungai Batang, kampung halamannya sendiri.

Peran Perjuangan Abdul Karim Amrullah Melawan Penjajah

Sejak tahun 1926 M, di samping aktif mengajar, Abdul Karim Amrullah juga dikenal sebagai penulis buku-buku Islam yang produktif. Selain itu, dia dikenal krits kepada penjajah yang hukumnya tak adil dan peraturannya sewenang-wenang.

Kesemua aktifitas beliau -terutama yang suka mengkritisi penjajah – oleh Pemerintah Belanda dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya bagi keberlangsungan politik kolonialisme. Maka pada tahun 1941 Abdul Karim Amrullah ditahan di Bukittinggi, dan pada tahun yang sama dipindahkan ke Sukabumi Jawa Barat.

Jika kepada penjajah Belanda di berbagai kesempatan dia selalu melontarkan kecaman terhadap hukum dan aturannya yang zalim, maka kepada penjajah Jepang dia tegas menolak keharusan membungkukkan badan ke arah timur laut untuk menghormati Tenno Haika. Menurut dia, bagi pemeluk agama Islam, tidak ada yang harus disembah selain dari Allah subhaanahu wa ta’ala.

Buku dan Karya Tulisnya

Diantara buku yang telah ia tulis adalah Amdatul Kalam fi ilmil Kalam, diterbitkan pada tahun 1908. Buku ini membahas tentang 20 sifat wajib Allah.

Selain itu beliau juga mengarang buku berjudul Qottiu Riqobil Mulhidin pada tahun 1910, Sullamul Ushul tahun 1914, Aiqazun Niam tahun 1916, Syamsul Hidayah dan buku Cermin Terus. Serta beberapa buku lainnya yang masih banyak.

Wafat dan Makam Abdul Karim Amrullah

Abdul Karim Amrullah – ulama kharismatik itu – di masa masa akhir hidupnya memilih untuk tinggal di Jawa.

Dia sering kali mengadakan pengajian-pengajian umum di Jakarta dan Sukabumi yang selalu dihadiri banyak jamaah.

Pada tanggal 2 Juni 1945 Abdul Karim Amrullah wafat dalam usia 66 tahun dan dikebumikan di Jakarta.

Anak yang Melanjutkan Estafet Dakwah

Insya Allah dia termasuk ayah yang berbahagia karena putranya, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah (yang lebih terkenal dengan sebutan HAMKA) juga menjadi seorang ulama besar, melanjutkan dakwah sang ayah di bumi Indonesia ini.

Add a Comment

Your email address will not be published.