Ahmad Surkati, Pendiri Al Irsyad yang Dihormati Bung Karno

Salikun.comAhmad Surkati, Pendiri Al Irsyad dan Tokoh Pemercepat Kemerdekaan.

“Almarhum (Ahmad Surkati) telah ikut mempercepat lahirnya gerakan kemerdekaan bangsa Indonesia,” demikian kesaksian langsung Bung Karno atas tokoh yang merupakan pendiri Al Irsyad itu.

Lahirnya Ahmad Surkati Hingga Perkembangannya Menjadi Ulama

Ahmad Surkati berasal dari Sudan. Beliau lahir di Desa Udfu, Jazirah Arqu, Dongula, Sudan pada tahun 1875. Ia diyakini masih punya hubungan keturunan dari Jabir bin Abdullah al Anshari, Sahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dari golongan Anshar.

Surkati tumbuh berkembang di dalam keluarga terpelajar dalam ilmu agama Islam. Ayahnya, Muhammad Surkati, lulusan Universitas Al Azhar Mesir. Ia dikenal sebagai pribadi yang cerdas sedari kecil dan telah hafal Al Quran dalam usia belia.

Baca juga : Syaikh Nawawi al Bantani, Ulama Indonesia yang Mengajar di Makkah

Ia pernah belajar di Mahad Sharqi Nawi, pesantren besar di Sudan pada masa itu. Setelah lulus memuaskan. Ayahnya mengingini Ahmad Surkati melanjutkan ke Al Azhar Mesir.

Namun pemerintah yang berkuasa di Sudan saat itu melarang warganya meninggalkan Sudan. Maka, keinginannya untuk mengikuti jejak sang ayah menjadi sarjana Al Azhar terkendala.

Setelah ayahnya wafat, beliau meninggalkan negara Sudan. Dia berangkat ke Madinah dan Makkah, belajar agama. Di Mekkah, pada tahun 1364 H dia sempat memperoleh gelar Al ‘Allamah yang prestisius waktu itu dari Majelis Ulama Makkah.

Kemudian Ahmad Surkati mendirikan sekolah di Mekkah dan mengajar tetap di Masjidil Haram. Di Makkah, dia rutin berhubungan dengan ulama-ulama Al Azhar lewat surat-menyurat.

Surkati dan Jamiat Khair

Suatu ketika, datang utusan Jamiatul Khair dari Indonesia untuk mencari guru. Ulama’ Al Azhar langsung menunjuk Syekh Ahmad Surkati. Kemudian beliau menyanggupi dan datang ke Indonesia.

Di Indonesia ia termasuk ulama yang menyebarkan ide-ide baru. Dia pun diangkat sebagai pemilik sekolah di sejumlah sekolah milik Jamiat al Khair di Jakarta dan Bogor.

Dalam setahun, sekolah sekolah tersebut berkembang pesat. Sayang, beliau hanya bertahan tiga tahun di Jamiat al Khair. Penyebabnya adalah perbedaan paham yang cukup prinsipil antara dirinya dengan para petinggi Jamiat al Khair yang umumnya keturunan Arab sayyid alawiyin.

Diantara perbedaan pandangan keagamaan mereka adalah menyangkut persamaan derajat. Para pemuka Jamiat Khari dengan keras menentang fatwa Syekh Ahmad Surkati tentang kafaah (persamaan derajat).

Surkati mundur dari Jami’at Khair pada 6 September 1914 (15 Syawal 1332 H) dan di hari itu juga dia bersama beberapa sahabatnya dari golongan non-alawi mendirikan Madrasah Al Irsyad Al Islamiyyah, serta organisasi untuk menaunginya yaitu Jam’iyyat al Ishlah wal Irsyad al Arabiyyah (kemudian berganti nama menjadi Jam’iyyat al Ishlah wal Irsyad al Islamiyyah).

Buku dan Tulisan Syaikh Ahmad Surkati

Selain aktif sebagai pengajar di sekolah, Ahmad Surkati juga rajin menulis. Inilah sebagian dari judul-judul karya tulisnya.

  1. Surat Al Jawab (1915). Risalah ini merupakan jawaban Ahmad Surkati terhadap permintaan pemimpin koran Suluh India, HOS Tjokroaminoto sehubungan dengan makin luasnya pembicaraan tentang kafa’ah.
  2. Risalah Tawjih Al Quran ila Adab Al Quran (1917). Karya ini lebih menajamkan isi yang terkandung dalam Surat Al Jawab. Intinya antaara lain kedekatan seorang pada Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai Rasulullah bukan didasarkan keturunannya, namun atas dasar ketekunan dan kesungguhan dalam mengikuti jejak dan dakwahnya.
  3. Ad Dakhirah al Islamiyah (1923). Ini adalah majalah bulanan yang dikelola Surkati bersama saudaranya, Muhammad Nur al Anshari. Melalui majalah ini, Beliau membongkar praktik-praktik beragama yang dianggap keliru, menulis tentang Islam yang cocok untuk segala bangsa dan di segala waktu dan tentang persatuan umat.
  4. Al Masail at Thalas (1925). Di dalamnya berisi pandangan Syaikh tentang ijtihad dan taqlid, sunnah dan bidah serta tentang ziarah kubur dan tawasul.
murid dan sahabat ahmad surkati

Pengakuan Sahabat dan Murid Syekh Ahmad Surkati

Banyak dari ahli sejarah yang mengakui peran Syaikh Ahmad Surkati yang besar dalam pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Howard M Federspiel, profesor emeritus bidang Islamic Studies, menyebut beliau sebagai “Penasehat awal pemikiran Islam Fundamental di Indonesia.”

A Hassan, tokoh PERSIS dan seorang penulis yang produktif, mencatat bahwa Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Haji Zamzam (pendiri PERSIS) adalah termasuk diantara murid-murid beliau.

“Mereka itu -Dahlan dan Zamzam- tidak menerima pelajaran dengan teratur. Namun, Ahmad Surkati membuka pikiran mereka sehingga berani membuang prinsip-prinsip lama. Mereka lalu menjadi pemimpin-peminmpin organisasi yang bergerak berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah.”

Pujian untuk Syekh Surkati juga datang dari DR. H. Abdul Karim Amrullah (Ayah HAMKA). Suatu ketika, HAMKA bertanya kepada sang ayah tentang seseorang yang bisa dipandang sebagai ulama besar di Jawa. Maka sang ayah menjawab, “Hanya Ahmad Surkati.”

HAMKA lalu bertanya lagi, “tentang apanya?” Lalu, dijawab sang ayah, “Dialah yang teguh pendiriannya. Walaupun kedua belah matanya telah buta, masih tetap mempertahankan agama dan menyatakannya dengan terus terang, terutama terhadap pemerintah Jepang. Ilmunya sangat mendalam, pahamnya sangat luas dan hatinya begitu tawadhu.”

Murid beliau tak sedikit. Banyak pemuka Islam yang selain merupakan sahabat erat Ahmad Surkati, juga sempat menimba ilmu darinya. Mereka antara lain KH Mas Mansur dan H Fachruddin (pemuka Muhammadiyah). Begitu pula KH Abdul Halim, pemuka Persyarikatan Ulama yang kemudian menjadi PUI (Persatuan Umat Islam).

Syaikh juga menjadi “guru spiritual” aktivis Jong Ismieten Bond (JIB). Para aktivis JIB seperti Muhammad Natsir dan Kasman Singodimedjo juga sering belajar kepada Syaikh Surkati.

Selain murid, beliau juga punya banyak sahabat. Salah satunya adalah pendiri Persatuan Islam (PERSIS) yaitu Muhammad Yunus termasuk diantara sahabat karib Ahmad Surkati.

Bung Karno juga termasuk dari sahabat Ahmad Surkati. Melalui A Hassan lah beliau mengenal Soekarno, ketika Bung Karno berada dalam pembuangan di Ende. Yaitu dengan cara mengirimkan buku-buku dan tulisan-tulisan kecil karya Surkati. Kelak setelah bebas dari Ende, Bung Karno sering bertamu ke rumah Ahmad Surkati.

Beliau adalah orang yang kaya dan dermawan, dan termasuk diantara tokoh PAN ISLAMISME. Ia banyak membantu keluarga Digulis, orang-orang yang dibuang ke Digul, dan tak menghiraukan agama mereka.

Wafat dan Makamnya

Pada tanggal 6 September 1943 tepat 29 tahun setelah mendirikan Al Irsyad, Ahmad Surkati wafat di Jakarta. Kita rasakan, jasanya sangat banyak. Kiprahnya tak hanya bisa menginspirasi di zaman lalu tapi juga di masa kini melalui tulisan dan organisasi yang telah ia bentuk.