Isa Anshori, Singa Podium yang Getol Suarakan Syariat

isa anshori

Salikun.comIsa Anshori, Singa Podium yang Getol Menyuarakan Tegaknya Syariat Islam melalui Parlemen.

Dalam berdakwah sebaiknya “Lisan dan tulisan berjalan seiring,” tulis H.M Isa Anshari. Pidato dan pena harus bergerak serermpak, tegas dia dalam buku karyanya yang berjudul “Mujahid Dakwah”. Seperti itukah sosok Isa Ansori sendiri, lisan dan tulisannya kuat.

Isa Anshori, Jago Pidato dan Menulis

“Dengan kuasa dan kekuatan lisan yang dimilikinya, para orator berhasil menegakkan kembali kepala bangsanya yang sudah terbenam dalam lumpur kehinaan dan kerendahan.” Dan  “Para Nabi dan Rasul yang dikirim ke dunia pada umumnya adalah ahli padato yang ulung, juru dakwah yang bijak, muballigh yang tangkas,” tulis Isa Anshari.

“Tulisan dan jejak pena seorang pengarang, menjadi pelopor dari suatu pemikiran, pandangan dan keyakinan, idea dan cita. Revolusi-revolusi besar di dunia selalu didahului oleh jejak pena dari seorang pengarang,” lanjut Isa Ansori.

Siapakah Isa Anshari? Tersebab keahliannya berpidato, dia bergelar Singa Podium. Jika dia berorasi, performanya mampu mengobarkan semangat setiap orang yang mendengarnya. Pidato dia bisa mempengaruhi massa.

Baca juga : Biografi HOS Tjokroaminoto, Sang Guru Bangsa

Memang, kiprahnya di bidang politik mampu menarik perhatian massa. Kapan pun dia berpidato, hampir dapat dipastikan bahwa acara itu dipenuhi massa yang ingin mendengarnya. Massa yang hadir pun bukan hanya dari kalangan yang sepaham dengan garis politiknya (yaitu Partai Masyumi), tapi juga dari masyarakat umum.

Isa Ansari dikarunia talenta yang lengkap. Selain cakap berpidato, dia terampul juga menulis. Kemampuan dia menulis setara dengan kecakapannya dalam berorasi. Terkait tulis-menulis, Isa Ansori pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Aliran Muda dan Laskar Islam. Dia pernah menjadi pembantu tetap Peltia Andalas Medan dan beberapa penerbitan di Bandung.

Diantara karya tulis dari Isa Ansori adalah sebagai berikut

  1. Islam dan Demokrasi (1938)
  2. Tuntunan Puasa (1940)
  3. Islam dan Kolektivisme (1941)
  4. Pegangan Melawan Fasisme Jepang (1942)
  5. Barat dan Timur (1948)
  6. Falsafah Perjuangan Islam (1949)
  7. Sebuah Manifesto (1952)
  8. Umat Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953)
  9. Inilah Partai Masyumi (1954)
  10. Islam dan Nasionalisme (1953)
  11. Partai Komunis Indonesia (PKI), Pembela Negara Asing (1955)
  12. Bahaya Merah Indonesia (1956)
  13. Islam Menentang Komunisme (1956)
  14. Manives Perjuangan Persatuan Islam (1958)
  15. Bukan Komunisto Fobi tapi Keyakinan Islam (1960)
  16. Ke Depan dengan Wajah Baru (1960)
  17. Pesan Perjuangan (1961)
  18. Umat Islam Menentukan Nasibnya (1961)
  19. Mujahid Dakwah (1966)
  20. Tugas dan Peranan Generasi Muda Islam dalam Pembinaan Orde Baru (1966)

Tampak, dengan dua kecakapannya itu Isa Anshari dapat memenuhi ajaran mulia ini : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS An Nahl 125)

Dengan kekuatan lisan dan tulisan yang dimilikinya, Isa Ansari dapat menunaikan amanat Allah, yaitu menyampaikan hikmah dan pelajaran. Lewat lisan dan tulisan, Isa Ansori secara tegas dan benar menyuarakan kebenaran sedemikian rupa pendengar dan pembacanya dapat membedakan antara yang haq dengan yang batil.

isa ansori

Isa Anshori, Tokoh PERSIS yang Menyuarakan Syariat Islam

Sekali lagi, siapa Isa Anshari? Muhammad Isa Anshari adalah nama lengkap dari lelaki yang lahir di Maninjau, Agam, Sumatra Barat pada 1 Juli 1916 itu. Dia dikenal sebagai muballigh dan dai yang sangat handal. Sangat mungkin, kecakapan yang dimilikinya itu adalah buah yang patut dipetik karena sejak kecil dia memang dididik dalam lingkungan yang religius.

Di samping mempelajari dari kedua orangtuanya, dia juga menimba ilmu di surau. Ketika remaja ia aktif berbagai organisasi keislaman, diantaranya Muhammadiyah, Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia dan Indonesia Berparlemen.

Pada usia 16 tahun, setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Islam, dia ke Bandung untuk mengikuti berbagai kursus ilmu pengetahuan umum. Di Bandung pula, ia memperluas cakrawala keislamannya dalam organisasi Persatuan Islam (PERSIS). Di kemudian hari, tahun 1953 hingga 1960 dia terpilih menjadi ketua umum Pimpinan Pusat PERSIS.

Isa Anshori yang dikenal sebagai penulis yang tajam termasuk salah seorang perancang Qanun Asasi PERSIS yang telah diterima secara bulat oleh Muktamar V PERSIS (1953) dan disempurnakan pada Muktamar VIII PERSIS (1967).

Dalam sikap jihadnya, Isa Ansori menganggap perjuangan PERSIS sungguh vital dan kompleks, karena menyangkut berbagai bidang kehidupan umat. Dalam bidang pembinaan kader, Isa Anshori menekankan pentingnya sebuah madrasah, tempat membina kader-kader muda PERSIS.

Semangat Isa Anshari dalam pembinaan kader tidak pernah padam meskipun saat dia harus mendekam dalam tahanan rezim Orde Lama di Madiun. Saat itu dia tetap mencoba menghidupkan semangat para kadernya dalam usaha mengembangkan serta menyebarkan agama Islam.

Apapun resikonya, jangan pernah menyerah. Sebab, “Juru Dakwah adalah lisan Ketuhanan yang berbicara kepada manusia dengan istilah-istilah manusia itu sendiri,” Kata Isa Anshari. Terkait hal ini, dia pun telah memberikan bukti lewat perjalanan dakwahnya yang konsisten.

Maka, tak aneh jika Isa Ansari tercatat sebagai salah satu tokoh Islam dan politisi Islam terkemuka masa itu. Selain pernah menjabat sebagai ketua umum PERSIS dan juru bicara Partai Masyumi pada era 1950an, dia pun pernah menjadi anggota Konstituante.

Dalam memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia, Isa Anshari memilih berjuang melalui parlemen. Lewat Partai Masyumi, dia konsisten memperjuangkan Syariat Islam menjadi dasar negara.

Wafatnya sang Singa Podium

Isa Anshari tidak mengenal lelah. Hingga menjelang akhir hayatnya dia tetap bekerja untuk umat. Beliau meninggal dunia di Bandung pada 11 Desember 1969, saat berumur 53 tahun.

“Dunia dan manusia jangan dibiarkan hanya mendengarkan kebohongan dan kepalsuan,” Kata H. Muhammad Isa Anshari. Untuk itu, berdakwahlah ! Gunakan lisan dantulisan sebagai senjata ampuh dalam membela Islam.

Add a Comment

Your email address will not be published.