Biografi Mohammad Natsir, Gigih Gaungkan Syariat Islam

mohammad natsir
foto mohammad natsir muda

Salikun.comBiografi dan Biodata Mohammad Natsir, Tokoh yang Gigih Perjuangkan Islam untuk Dasar Negara. Perjungan Politik dan Dakwah kepada masyarakat Indonesia

Kata Mohammad Natsir, “Satu-satunya yang diperlukan sang batil untuk mencapai kemenangannya adalah asal saja yang haq tinggal diam dan tak berbuat apa-apa.” Ungkapan tersebut sangat bisa menggambarkan siapa sejatinya M Natsir. Ia adalah seorang tokoh nasional, sang dai, pemikir dan negarawan sejati.

Gigih Menyuarakan Syariat Islam

Mohammad Natsir adalah tokoh yang teguh dalam memperjuangkan dan sekaligus mempertahankan kebenaran Islam. Buku Islam Sebagai Dasar Negara menghimpun pidato M Natsir termasuk diantaranya saat ia ada pada sidang pleno Konstituante pada 12 November 1957. Di pidato itu Mohammad Natsir dengan brilian menyampaikan hujjah-hujjahnya mengenai Islam sebagai Dasar Negara.

Baca juga : KH Agus Salim, Mendapat ‘Hidayah’ Saat Menginteli Aktivis Syarikat Islam

Memang, bahwa Islam harus “dibawa” ke negara tampak menjadi inti perjuangan M Natsir. Lihatlah, saat berbicara tentang “Arti Agama dalam Negara”, Muhammad Natsir menyatakan bahwa untuk menjada supaya aturan Allah dan Rasulullah dapat “Berlaku dan berjalan sebagaimana mestinya, perlu dan tidak boleh tidak, harus ada suatu kekuatan dalam pergaulan hidup, berupa kekuasaan dalam negara sebagaimana telah diperingatkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam  kepada kaum Muslimin, ‘Sesungguhnya Allah memegang dengan kekuasaan penguasa yang tidak dapat dipelihara dan dipegang oleh Al Quran itu.’” (M. Natsir, 200:4)

Lebih jauh, kata M. Natsir, “Yang menjadi tujuan ialah kesempurnaan berlakunya undang-undang Ilahi, baik yang berkenaan dengan peri kehidupan manusia sendiri (sebagai individu) ataupun sebagai anggota dari masyarakat, baik yang berkenaan dengan kehidupan dunia yang fana ini, ataupun yang berhubungan dengan kehidupan kelak di alam baka.” (M. Natsir, 2000: 11)

Lahir dan Pendidikan M Natsir

Siapa M Natsir itu? Beliau lahir di Alahan Panjang, Sumatra Barat, 17 Juli 1908. Predikatnya banyak antara lain muballigh, pendidik, intelektual/pemikir, dan politisi. Ketokohannya tak hanya diakui di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam.

Muhammad Natsir adalah intelektual yang kedalaman ilmunya membuahkan penghargaan besar. Pada 1967 Universitas Islam Libanon memberinya gelar Doctor Honoris Causa bidang politik Islam. Pada 1991, gelar yang sama dianugerahkan Universitas Kebangsaan Malaysia.

Pada 1980, M Natsir menerima penghargaan internasional Jaizatul Malik Faisal Al Alamiyah atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam pada tahun 1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India, Syaikh Abul Hasan Ali An Nadawi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al Maududi. Oleh karena itulah, hingga akhir hayatnya tahun 1993 M, Mohammad Natsir masih menjabat sebagai wakil presiden Muktamar Alam Islami dan anggota Majlis Ta’sisi Rabithah ‘Alam Islami.

Mohammad Natsir pernah menjadi Perdana Menteri RI pertama, 1950-1951, setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI). Jasa M Natsir dalam terbentuknya NKRI sangatlah besar. Pada 3 April 1950, sebgai anggota parlemen, M Natsir mengajukan mosi dalam sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebgai “Mosi Integral Natsir”, yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. M Natsir juga berulang kali duduk sebgai menteri di sejumlah Kabinet NKRI.

m natsir
gambar m natsir

M Natsir adalah pribadi yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti dari belajar. Saat di SMA, di samping belajar sungguh-sungguh di sekolah umum, M Natsir terus mendalami ilmu agama. Dia sangat gemar membaca buku. Hal itu mendorongnya untuk menjadi anggota perpustakaan dengan bayaran tiga rupiah sebulan. Setiap ada buku baru yang datang, M Natsir selalu mendapatkan kiriman dari perpustakaan. Ada kesaksian hingga menjelang akhri hayatnya, M Natsir selalu mengkaji Tafsir Al Quran yaitu tafsir Fii Zhilalil Quran karya Sayyid Qutb, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Al Furqan karya A Hassan.

Kemampuan menulis adalah salah satu kelebihan yang dimiliki M Natsir, selain berorasi. Lewat kecakapannya itulah pemikiran M Natsir bisa lebih mudah tersebar luas. Dalam pandangan Adian Husaini, M Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap agama Islam terkhususnya.

Mohammad Natsir telah menulis lebih dari 35 judul buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam. Fiqhud Dakwah (Fikih Dakwah) adalah salah satu karyanya yang sangat menonjol dan berpengaruh. Sebagian buku-buku M Natsir telah diterbutkan dalam bahasa Arab. Selain dalam bentuk buku, banyak materi ceramah dan makalah M Natsir yang tersebar luas di tengah-tengah masyarakat.

Capita Selecta adalah karya M Natsir yang termasuk paling mudah diingat. Tapi menurut Anwar Ibrahim, “Tulisan Natsir yang paling tersebar luas di Malaysia ialah Fiqhud Dakwah. Saya selaku Presiden ABUM (Angkatan Belia Islam Malaysia) ketika itu telah mencetaknya, termasuk menerbitkannya ke dalam edisi Jawi dan menjadikannya teks usrah (halaqah) ataupun grub studi kami. Saya begitu terkesan oleh buku ini karena metode dakwahnya bersifat moderat dan berhikmah. Melalui metode ini, ABIM dapat melebarkan sayapnya hingga menjadi organisasi massa dan gerakan Islam yang bergaris sederhana.”

Pada November 2008, Gelar Pahlawan Nasional duanugrahkan Pemerintah Indonesia kepada almarhum Mohammad Natsir. Gelar itu wajar diterimanya, mengingat jasa-jasanya yang luar biasa kepada negeri ini.

M. Natsir adalah model pemimpin yang tak henti memikirkan nasib umat Islam. Lihatlah kesaksian HAMKA pada 13 November 1957, sehari setelah M Natsir menyampaikan pidato di Konstituante yang sebagian telah diungkap di atas, HAMKA menulis puisi berjudul “Kepada Saudaraku M. Natsir.” Petikannya sebagai berikut.

“Meskipun bersilang keris di leher/ Berkilat pedang di hadapan matamu/ Namun yang benar kau sebut juga benar/…. Jibril berdiri sebelah kananmu/ Mikail berdiri sebelah kiri/ Lindungan Ilahi memberimu tenaga/ Suka dan duka kita hadapi/ Suaramu wahai Natsir, suara kaummu.”

Wafatnya Mohammad Natsir

Mohammad Natsir wafat pada 5 Februari 1993 di Jakarta. Nyaris sepenuh perjalanan hidupnya dipenuhi oleh usaha-usahanya yang sangat serius dalam menegakkan dakwah Islam.

* Tulisan ini disadur dari buku berjudul 50 Pendakwah Pengubah Sejarah, karya M Anwar Djaelani.