Munculnya Corona Virus dan Belajar dari Para Salaf Menghentikan Tho’un

Munculnya Corona Virus dan Belajar dari Para Salaf Menghentikan Tho’un

Salikun.comMunculnya Corona Virus dan Belajar dari Para Salaf Menghentikan Tho’un

Sekilas Tentang Corona Virus

Bergejolaknya wabah corona virus akhir-akhir ini cukup membuat panik banyak orang, terutama masyarakat Indonesia. Peningkatan drastis korban hingga kematian yang bertambah menjadikan sebagian wilayah harus lockdown dari aktivitas harian. Bahkan metode sosial distance juga digaungkan untuk menghindari virus yang berasal dari Wuhan China tersebut.

Penulis mencatat per tanggal 19 maret 2020, telah terdapat 220 ribu lebih korban virus corona. Sementara angka kematian seluruh dunia tercatat lebih dari 9000 jiwa. Virus yang “baru berumur” 3 bulan ini juga telah menggrogoti sendi perekonomian China, Italia, Spanyol dan negara-negara lainnya.

Saking cepatnya penyebaran, penularan virus ini juga mencapai ke negara-negara muslim. Hubungan antara orang asing dengan penduduk lokal juga menjadi sebab terkena penyakit. Malaysia contohnya, terkena corona virus hingga 900 orang. Qatar 456 orang, Indonesia 311 orang, Pakistan 307 orang dan Saudi Arabia 238 orang.

Sekilas Wabah Thoun yang Menimpa Manusia, Apa Sama dengan Corona Virus ?

Dalam sejarah wabah yang menimpa umat manusia juga dikenal dengan istilah wabah tho’un. Yaitu wabah penyakit yang menular hingga mematikan manusia secara masal. Sebagian ulama’ seperti Ibnul Qayyim al Jauziyah menyebut bahwa Thoun adalah pembengkakan kronis dan ganas, sifatnya panas dan nyeri di kulit. Bagian yang terkena akan menghitam, hijau dan bernanah.

Sementara ulama’ lain menyebut bahwa tho’un adalah semacam penyakit kolera yang mematikan dan belum ada obat yang mujarab untuk menyembuhkannya pada masa itu. Penyebarannya sangat cepat sehingga orang yang terkena dilarang keluar daerah, dan orang yang belum terkena dilarang mendekati daerah pandemi tersebut.

Sebenarnya wabah tho’un ini bukanlah mengenai umat Muhammad pertama kalinya. Namun orang-orang bani Israel lah yang terkena pertama kali. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid, Nabi sallallahu’alaihiwasallam bersabda

هو عذاب أو رجز أرسله الله على طائفة من بني إسرائيل أو ناس كانوا قبلكم، فإذا سمعتم به بأرض فلا تدخلوها عليه، وإذا دخلها عليكم فلا تخرجوا منها فراراً

Sesungguhnya wabah thoun itu adalah azab yang ditimpakan pada sekelompok orang dari bani Israel atau orang-orang sebelum kalian. Jika thoun itu menimpa suatu tempat, maka janganlah kalian masuk ke tempat itu. Dan jika thoun itu datang dan menimpa kalian, maka jangan keluar darinya untuk melarikan diri. (HR Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan, Rosulullah mengatakan, thoun ini adalah penyakit yang masih tersisa yang menimpa orang terdahulu, namun kadangkala ia muncul dan kadang hilang.

Rahmat bagi Orang Beriman dan Adzab Bagi Orang Kafir

Dalam riwayat Al Bukhari, Aisyah radhiyallahu’anha bertanya kepada Nabi Muhammad sallallahu’alaihiwasallam tentang wabah tho’un. Lalu Nabi bersabda

عذاب يبعثه الله على من يشاء، وأن الله جعله رحمة للمؤمنين، ليس من أحدٍ يقعُ الطاعونُ فيمكث في بلده صابراً محتسباً، يعلم أنه لا يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر شهيد

“Itu adalah adzab yang ditimpakan kepada yang Allah kehendaki. Dan sungguh Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah salah seorang mukmin menderita tho’un kemudian ia bersabar dan tetap menetap di dalamnya, serta ia meneguhkan dalam hatinya bahwa tidak ada yang akan menimpanya kecuali apa yang Allah tuliskan kepadanya, kecuali ia akan diberi pahala seperti orang yang syahid.” (HR Al Bukhari)

Karena penyakit Thoun ini jugalah, sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah dan Muadz bin Jabal menemui syahidnya. Mereka bersabar bersama dengan para sahabat dan tabiin di negri Syam karena terkepung wabah. Bahkan disebutkan jumlah kaum muslimin yang meninggal akibat thoun pada zaman Umar ini mencapai 30.000 orang.

Wabah thoun atau penyakit massal ini juga pernah terjadi di Mesir sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al asqalani. Kemudian wabah mematikan juga terjadi di Eropa abad 14, yaitu wabah yang dikenal dengan black death dan membunuh 75 juta jiwa. Sementara di Inggris akibat wabah itu populasi berkurang dari 3,7 juta menjadi 2,2 juta jiwa. Dan seterusnya wabah yang berkepanjangan muncul dan menghilang bersamaan dengan waktu. Dan di tahun ini muncullah wabah corona covid 19 yang dalam 2 bulan telah membunuh 8ribuan manusia.

Resep Pencegahan dalam Sejarah Islam, Bisa dipakai Saat Corona Virus?

Dalam hadits dan sejarah Islam, setidaknya ada 3 model bagaimana dan kapan wabah itu bisa terangkat dengan izin Allah.

Yang pertama adalah himbauan dari Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wasallam terkait hal ini, kemudia cara yang diterapkan oleh Amr bin Ash pada masa kholifah Umar radhiyalluhanhuma, dan yang ketiga adalah menghilang seiring berjalannya waktu sebagaimana pengamatan Ibnu Hajar al asqalani rahimahullah tentang kejadian tho’un.

Himbauan Nabi Jika ada Wabah Masal

Untuk mencegah dan mematikan wabah ini, sebenarnya Islam telah memberi petunjuk agar yang pandemi ini tidak menyebar meluas sebagaimana yang terjadi hari ini dan menimpa 119 negara dunia.

Jauh hari sekitar 1400 tahun yang lalu, sebenarnya Nabi Muhammad sallallahu’alaihiwasallam telah memberi petunjuk agar wabah tidak menyebar ke berbagai daerah dengan melakukan 2 hal. Yaitu bagi yang belum terkena penyakit hendaklah tidak memasuki area wabah, sementara bagi yang sudah terkena atau berada di daerah wabah hendaknya diam tidak keluar dari daerah itu.

Nabi sallallahu’alaihi wasallam bersabda

فإذا سمعتم به بأرض فلا تدخلوها عليه، وإذا دخلها عليكم فلا تخرجوا منها

Jika kalian mendengar thoun itu menimpa suatu tempat, maka jangan masuk tempat tersebut. Dan jika thoun itu menimpa diri kalian, maka jangan keluar darinya.

Kedua hal diatas adalah bentuk dasar pencegahan agar tidak menyebar ke berbagai dunia yang dalam istilah sekarang disebut lockdown. Yaitu situasi dimana pemerintah melarang warga untuk masuk ke suatu tempat karena kondisi darurat. Sementara negara lain juga menutup aksesnya dari masuknya orang lain.

Cara dan resep dari Nabi ini menjadi dasar agar penyakit tidak tersebar dengan cepat ke beberapa negara. Dengan menutup perbatasan negara atau daerah yang terkena pandemi.

corona virus dan thaun
ilustrasi virus

Cara Amr bin Ash Mengurangi Korban dan Memutus Thoun

Setelah umat Islam kehilangan 30ribu orang akibat mengganasnya thoun, maka muncullah kebijakan baru dari gubernur Amr bin Ash.  Yaitu agar masyarakat Syam menyingkir ke pegunungan uzlah dari perkotaan dan berpencar di temapt masing-masing.

Amr bin Ash berpidato kepada manusia pada saat itu,

يُّها الناس! إِنَّ هذا الوجع إِذا وقع إِنما يشتعل اشتعال النَّار، فتجنَّبوا منه في الجبال، فخرج، وخرج النّاس، فتفرقوا حتّى رفعه الله عنهم،

Wahai manusia, sungguh penyakit ini jika menimpa maka ia akan menyerang laksana api, maka menyingkirlah kalian ke pegunungan, -maka Amr bin ash dan kaum muslimin pergi ke gunung- dan berpencarlah hingga Allah ta’ala mengangkat wabah ini.

Mengetahui hal itu Umar bin Khattab mendiamkan tanda menyetujui cara ikhtiar Amr bin Ash. Dan akhirnya dengan izin Allah, diangkatlah wabah besar yang menghilangkan nyawa ribuan orang ini.

Metode yang dimulai oleh Amr bin Ash radhiyallahu’anhu ini dalam istilah modern disebut dengan sosial distance, dan disebut bisa efektif memperkecil penyebaran wabah.

Wabah Thaun Menghilang Seiring Pergantian Musim

Jamaluddin Yusuf at Taghri menyebutkan dalam an Nujum Zahirah fi Muluk bahwa Ibnu Hajar al asqalani mengatakan wabah itu bisa terangkat dengan pergantian musim di suatu tempat. Hal ini adalah pengamatan Ibnu Hajar al asqalani dalam beberapa kasus thaun.

قال الحافظ ابن حجر العسقلاني: و كانت الطواعين الماضية تقع في فصل الربيع , بعد انقضاء الشتاء , و ترتفع في أول الصيف

Adalah wabah-wabah tha’un terdahulu terjadi di musim semi, setelah musim dingin, dan hilang diangkat wabah itu saat musim panas.

Perkataan Ibnu Hajar al asqalani ini juga dijumpai dalam kitab beliau yaitu Badzlul maa’un fie fadli tha’un halaman 369.

Kesimpulan Menghentikan Tha’un dan Corona Virus

Secara ringkas bisa dikatakan bahwa ini adalah perulangan dari wabah-wabah yang mirip sebelumnya, dan penanganannya hampir-hampir sama. Hanya pelaku sejarah sajalah yang berbeda. Maka dengan mengikuti petunjuk Nabi dan para salaf terkait kejadian ini, InsyaAllah hati menjadi tenang dan penyakit bisa di halau dengan izin Allah ta’ala.

Adapun bagi orang beriman, penyakit dan kematian bagi mereka adalah rahmat dan berujung dengan ridha Allah selama mereka bersabar -insyaa Allah-. Adapaun bagi orang-orang kafir itu sebagai bentuk adzab untuk mereka, dan Allah adalah sebaik-baik pengaduan dan pemberi makar.

Semoga Allah segera mengangkat wabah ini dari wilayah kaum mukminin dan menyelamatkan mereka darinya. Rahmat Allah beserta mereka para syuhada’ akhirah dan memberi kebaikan bagi orang-orang beriman setelahnya.