Syafruddin Prawiranegara, Presiden Kedua dan Dai Islam

syafruddin prawiranegara

Salikun.comSyafruddin Prawiranegara, Presiden Kedua dan Dai yang Istiqomah

Rata-rata orang salah saat diminta menyebut nama Presiden Indonesia yang kedua. Hampir semuanya akan menjawab dengan lugas: Soeharto! Padahal, yang tepat adalah Syafruddin Prawiranegara. Tokoh satu ini memiliki catatan perjuangan yang panjang plus jejak dakwah yang mempesona.

Peran dan Kiprah Besar Syafruddin Prawiranegara

Siapa Syafruddin Prawiranegara? Dia lahir pada 28 Februari 1911. Dia pernah diamanahi sejumlah jabatan tinggi, antara lain: Menteri Keuangan (1946), Menteri Kemakmuran (1947), Perdana Menteri RI (1948), Presiden Pemerintah Darurat RI (1948-1949), Wakil Perdana Menteri RI (1949), Menteri Keuangan (1949-1950) dan Gubernur Bank Sentral atau Bank Indonesia (1951).

Baca juga : Haji Agus Salim, Berperawakan Kecil Tapi Bernyali Besar dalam Menghadapi Penjajah

Jasa terbesarnya adalah ketika dia menjadi presiden pada 22 Desember 1948 sampai 13 Juli 1949. Ketika Soekarno-Hatta ditawan Belanda lewat Agresi Militer II nya, Syafrudin memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dari Bukittinggi. Pada masa itu, bisa dibilang Syafruddin Prawiranegara telah berhasil menyelamatkan republik ini.

Karena atas usaha PDRI inilah, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia. Perjanjian Roem Royen mengakhiri mimpi Belanda, kemudian ditandai dengan pembebasan Soekarno Hatta.

Kemudian, pada 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta, seta sejumlah menteri kedua kabinet. Serah terima pengembalian mandat dari PDRI secara resmi terjadi pada 14 Juli 1949 di Jakarta.

Sjafruddin Prawiranegara, Tetap Jujur dan Sederhana Meski Berpangkat Tinggi

Siapa Syafruddin Prawiranegara? Mengambil momentum satu abad Syafrudin, pada 28 Februari 2011 terbit buku berjudul Presiden Prawiranegara: Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia. Ditulis oleh Akmal Nasery Basral dan berformat novel.

Buku itu berbasis riset ilmiah, Fakta-fakta dalam buku tersebut juga didapat dari wawancara dengan keluarga atau ahli waris Syafruddin dan orang-orang dekatnya seperti Ajip Rosidi yang merupakan anak angkat Syafruddin. Buku itu juga berdasakan napak tilas keempat tempat utama ibukota PDRI, artefak-artefak sejarah yang masih ada dan terstimoni dari warga sekitar tempat-tempat penting itu.

Siapa Syafruddin Prawiranegara? Lihatlah “deskripsi” istri Syafruddin, saat sang suami menjabat Menteri Keuangan pada era pemerintahan Soekarno. Keluarga ini tak mampu membeli grita (kain pembebat dan perut) untuk bayi yang baru lahir.

“Ayahmu Menteri Keuangan, Icah” Lyly menyeka matanya yang basah. “Ayah mengurusi uang negara, tetapi tidak punya uang untuk membeli grita bagi adikmu, Khalid, yang baru lahir. Kalau Ibu tidak alami sendiri kejadian itu, Ibu pasti bilang itu khayalan pengarang saja. Tapi, ini nyata. Ayahmu sama sekali tak tergoda memakai uang negara, meski hanya untuk membeli sepotong gurita.”

gambar syafruddin prawiranegara tengah dengan baju hitam

Kalimat diatas merupakan ucapan Teungku Halimah atau biasa dipanggil Lily, istri dari Syafruddin Prawiranegara. Ucapan itu disampaikan Lily kepada Isyah atau Icah, putri pertama Syarifudin dan dimuat di lembar pertama dari buku Presiden Prawiranegara itu.

Di bagian lain, dituliskan juga, bahwa kondisi ekonomi Syafruddin ternyata lebih miskin lagi setelah menjadi Menteri Keuangan dan tinggal di Yogyakarta jika dibandingkan saat menjabat sebagai Inspektur Pajak di Kediri.

Selain persoalan tidak mampu membeli grita bayi yang baru lahir, buku itu juga menyingkap rahasia bahwa Lily, istri Syafruddin, harus berjualan sukun goreng untuk menghidupi empat anaknya yang masih kecil yaitu Icah, Pipi, Khalid dan Farid.

Perjuangan hidup yang berat itu, dijalani Lily selama suaminya berada di Sumatera menjalankan tugas-tugas negara. Saat berjualan sukun itu, ada potes kecil dari Icah. “Kenapa kita tidak minta bantuan saja pada Presiden Om Karno dan Wakil Presiden Om Hatta serta Om Hengky,” tanya Icah. (catatan, Nama yang disebut terakhir yaitu Om Hengky, yang dimaksud adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX).

“Ayahmu sering mengatakan kepada Ibu agar kita jangan bergantung kepada orang lain, Icah. Kalau tidak penting sekali jangan pernah meminjam uang, jangan pernah berhutang.” Kata Lily.

“Tapi apa Ibu tidak malu? Ayah orang hebat, keluarga ayah dan ibu juga orang-orang hebat,” kata Icah.

“Iya, Sayang. Ibu mengerti, tapi dengarkan ya. Yang membuat kita boleh malu adalah kalau kita melakukan hal-hal yang salah seperti mengambil milik orang lain yang bukan hak kita, atau mengambil uang negara. Itu pencuri namanya. Orang-orang mungkin tidak tahu, tapi Allah tahu,” kata Lily, memberi penjelasan pada anak sulungnya itu.

Syafruddin Prawiranegara, Seorang Dai yang Istiqamah

Siapa Syafruddin Prawiranegara? Beliau aktif di Masyumi. Ketika Masyumi dipaksa bubak oleh rezim Orde Lama dan para aktivisnya lalu membentuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Syafruddin pun semakin istiqamah dalam berdakwah.

Tentang kiprak dakwah Syafrddin, pada 2012 di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sriyanto membuat karya tulis berjudul “Pemikiran Dakwah Mr. Syafruddin Prawiranegara”. Berikut ini petikan dari karya tulis Sriyanto yang dimuat di website UMS diakses pada April 2015.

Kata Sriyanto, Syafruddin Prawiranegara termasuk dai yang hebat. Pemikirannya selalu berlandaskan kepada iman. Ketegasannya terlihat ketika dia menjadi ketua aktif  Korps Muballigh Indonesia. Dia mengajurkan agar para da’i tidak sekadar menjadi “jaksa” yang hanya menyalahkan, namun berdakwah hendakya mencerahkan, memahamkan menuju pada penyadaran dan bertaubat.

Sriyanto menegaskan lagi, bahwa Syafruddin Prawiranegara merupakan muballigh yang hebat. Dia adalah tipikal Muslim sejati. Selama Orde Lama dan di masa Orde Baru peran Syafruddin sering dihalang-halangi.

Syafruddin pernah diperiksa berkaitan dengan isi khutbahnya pada Hari Raya Idul Firei 1404 H di Masjid Al A’raf, Tanjung Priok Jakarta. Ketika itu Syarifudin Prawiranegara berpidato yang berisi, “Saya ingin mati di dalam Islam. Dan ingin menyadarkan bahwa kita tidak perlu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada Allah.”

Wafatnya Sang Presiden yang Terlupakan

Syafruddin Prawiranegara meninggal dunia pada 15 Februari 1989. Lelaki sederhana itu telah pergi. Dai yang teguh dalam berdakwah itu telah tiada. Tapi bagi kita, dua spirit itu -sederhana dan teguh dalam berdakwah- tak boleh pergi dan apalagi tiada, selama kita masih hidup di dunia ini.

Selamat jalan sang Presiden dan Dai yang terus menyuarakan kebaikan, semoga Allah meridhaimu dan memasukkanmu kedalam JannahNya. Amiin..