Biografi Lengkap Syekh Nawawi al Bantani

Salikun.com – Biografi Syekh Nawawi al Bantani. Ulama’ asal Nusantara yang memiliki banyak gelar dan penanda kedalaman Ilmunya.

Julukan Syeikh Nawawi al Bantani

Ada yang menjuluki Syaikh Muhammad Nawawi al Bantani sebagai Sayyidul Ulama’ Hijaz atau Tuannya Ulama’ Hijaz.

Ada juga yang menyebutnya sebagai “Nawawi Kedua” karena kefakihannya dalam agama Islam mirip dengan sosok Imam Nawawi, sang ulama’ besar madzhab Syafii yang telah menorehkan segudang karya seperti Riyadhus Shalihin, Arbain Nawawi, Majmu’ Syarah Muhadzab dan lainnya.

Di atas, telah disebutkan dua predikat yang pernah dilekatkan orang kepada Nawawi al Bantani. Selain itu, masih ada gelarnya yang lain semisal Al Imam wal Fahmul Mudaqqiq (Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam). Gelar itu berasal dari kalangan intelektual yang sezaman dengan Imam Nawawi al Bantani. Sementara banyak ulama Indonesia yang menggelarinya sebagai “Bapak Kitab Kuning Indonesia”.

Lahir dan Masa Kecil Imam Nawawi al Bantani

Tak pelak lagi, aneka gelar itu mengabarkan kepada kita bahwa sang pemilik adalah ulama yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Memang, Imam Nawawi al Bantani adalah ulama asli Indonesia yang ternama di banyak kawasan. Nama belakang dia al Bantani dinisbatkan kepada kota tempat dia lahir, Banten. Dia lahir pada tahun 1814 M.

Sejak kecil Nawawi memang dikenal cerdas. Ayah Nawawi, Umar bin Arabi adalah seorang ulama di Banten. Saat kanak-kanak, dia dididik langsung oleh ayahnya. Lalau Nawawi juga belajar ke sejumlah ulama lainnya antara lain KH Sahal Banten dan KH Yusuf di Purwakarta.

Pada 1830, Nawawi berhaji dan lalu belajar di Makkah. Setelah tiga tahun, Nawawi kembali ke Indonesia. Melihat dan merasakan alam penjajahan, gelora jihad Nawawi mengemuka. Dia berkeliling Banten untuk mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajah. Tentu saja, pemerintah Belanda tak suka dengan apa yang dilakukan Nawawi. Mereka lalu membatasi gerak-geriknya. Bahkan dia dilarang berkhutbah di masjid-masjid.

Nawawi yang tak senang dengan situasi ini, segera kemabali ke Makkah dan berkonsentrasi mendalami ilmu agama Islam. Sejak saat itu dia mukim di Mekkah dan tak pernah pulang lagi ke Indonesia.dia tekun belajar selama 30 tahun, terhitung sejak awal ke Mekkah pada tahun 1830.

Namanya mulai masyhur ketika menetap di Syiib Ali, Makkah. Dia mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula muridnya hanya puluhan, tapi makin lama makin banyak. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Maka, Nawawi pun dikenal sebagai ulama yang sangat mendalam dalam ilmu keislaman, terutama dalam bidang tauhid, fikih, tafsir dan tasawwuf. Kemasyhurannya sebagai ulama besar tidak hanya di lingkup kota Makkah dan Madinah saja, tetapi juga sampai ke Mesir, di Afrika Utara.

Namanya semakin harum ketika diunjuk menjadi pengganti salah seorang Imam Masjidil Haram. Terutama sejak itulah dia lalu dikenal dengan nama resmi Syaikh Nawawi al Bantani al Jawi, yang artinya Syaikh Nawawi dari Banten Jawa.

Sejumlah ulama besar pada level madzhab atau hujjatul islam diketahui turut mempengaruhi pemikiran Nawawi. Misal dalam fikih, Nawawi memilih mengikuti madzhab Syafii. Hal ini terlihat dari karayanya dalam bidang ilmu fiqih. Pada aspek yang lain, tulisan dan karya dari Imam Ghazali termasuk yang banyak mempengaruhi ajaran tasawuf dari Nawawi.

foto nawawi al bantani
foto syekh nawawi al bantani

Kitab Karangan Syekh Nawawi al Bantani

Sebagai ulama, Nawawi sangat giat menulis. Kitab Tafsir Munir (yang menerangi jalan siapa saja yang ingin memahami firman Allah), kitab fikih Kasifah as Saja (yang mengurai hukum Islam secara lugas) dan kita tasawufnya berjudul Nasoihul Ibad (berisi ratusan nasehat untuk hamba Allah) merupakan tiga juddul dari sekitar 115 kitab yang telah ia tuliskan dan hingga kini terus diajarkan di berbagai pesantren di Indonesia serta di mancanegara.

Kembali ke Tafsir al Munir dan Kasyifa as Saja. Tafsirnya ini tergolong sangat monumental. Sementara, Kasifah as Sajamerupakan syarah penjelan terhadap kitab fikih Safinatun Naja tulisan Syaikh Salim bin Sumair al Hadrami. Para pakar menyebut bahwa karya Nawawi ini lebih praktis daripada matan yang dikomentarinya.

Karya tulis Nawawi yang lebih dari seratus itu mengupas berbagai cabang ilmu Islam. Kecuali tiga juful yang telah disebut di atas, diantara karya tulis Nawawi lainnya yang terkenal adalah Atsimar al Yaniyyah fir Riyadhoh al Badi’ah, Nurudz Dzalam, AL Futuhat al Madaniah, Tanqihul Qaul, Sullamul Munajah, Nihayah Zain, Salalim Fudhala. Bidayah al Hidayah, Al Aqdu Salim, Futuhus Samad dan masih banyak karyanya yang lain.

Karya tulis Nawawi beredar di banyak negara. Tercatat, Universitas Al Azhar Mesir pernah mengundangnya karena karyanya disukai banyak kalangan akademisi. Sementara di Indonesia, karya Nawawi banyak dipelajari di pesantren-pesantren Islam.

Karya Imam Nawawi al Bantani juga dipelajari di sejumlah madrasah Pattani, Yala, Satun dan Narathiwat yang kesemuanya ada di wilayah Thailand Selatan. Juga dipelajari di madrasah di wilayah Mindanau, Filiphina Selatan. Selain di Asia Tenggara juga tersebar di wilayah Timur Tengah saat ini, seperti Saudi Arabia, Mesir, Yaman, Libanon, Suriah dan lain-lain.

Nawawi al Bantani dan Kontribusi Melawan Penjajah

Nawawi memang mukim di Makkah. Tapi, dia tetap berkontribusi terhadap perjuangan melawan penajajah yang merampas kemerdekaan Nusantara. Bagaimana ceranya? Kepada para muridnya yang berasal dari Indonesia dan bisa biasa berkumpul di perkampungan jawa di Makkah, Nawawi mengobarkan semangat perlawanan kepada muridnya itu.

Lalu, siapa saja diantara murid Syaikh Nawawi al Bantani yang dari Indonesia? Mereka antara lain adalah KH Muhammad Khalil Bangkalan (ulama’ besar yang murdnya banyak dan dikenal masyhur di Indonesia), Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Hasyim Asyari (pendiri Nahdlatul Ulama’), Asnawi Kudus, TB Bakrie Purwakarta dan lainnya.

Tahun Wafat dan Makam Syekh Nawawi al Bantani

Syekh Nawawi al Bantani wafat di Makkah pada tahun 1897 M. rasanya untuk waktu yang masih akan sangat lama dia akan tetap masyhur karena meninggalkan banyak buku yang tersebar di berbagai kawasan.

Karya ilmiah dan buku-bukunya itu menjadi warisan yang sungguh tak ternilai dan membuat sang penulis “abadi” melalui karyanya.

Disadur dari kumpulan biografi ulama’ nusantara, 50 Pendakwah Pengubah Sejarah, karya M Anwar Djaelani.

Add a Comment

Your email address will not be published.